Part 4. Kebencian Rinka

1188 Words
"Aku mengira kamu akan langsung mati, bukannya pakai acara koma seperti ini." Rinka tengah berada di samping kanan hospital bed yang tengah Lara tiduri. Ia diam-diam menemui Lara di ruang ICU ini. Wanita itu merasa jauh lebih senang kalau Lara akan langsung mati setelah kecelakaan semalam. Menurut yang ia tahu, luka yang Lara dapati akibat kecelakaan itu cukup parah. Namun, gadis tersebut nyatanya masih bertahan hidup meski harus mengalami koma seperti sekarang ini. Sedari dulu, Rinka tidak pernah menyukai kehadiran Lara. Baginya, gadis itu adalah perebut kebahagiaannya. Ia sudah lama menyukai Gibran, jauh sebelum Lara datang menghancurkan kedekatan mereka. Pun Gibran sendiri juga sudah tahu bagaimana perasaannya. Namun, Gibran justru lebih memilih untuk mengejar Lara ketimbang harus membalas perasaannya. Hal inilah yang membuat Rinka membenci Lara sampai sejauh ini. "Kalau kamu mati, aku kan jadi ada kesempatan lagi untuk deketin Gibran. Dari dulu aku yang selalu ada untuk Gibran. Tapi semenjak kamu datang, Gibran jadi berubah ke aku. Kalau aja membunuh itu diperbolehkan, aku pasti udah bunuh kamu dari dulu." Jika saja Rinka tak memikirkan bagaimana dampaknya, mungkin ia sudah melenyapkan Lara sejak dulu. Selama ini ia hanya sanggup menahan rasa cemburunya ketika melihat Gibran dan Lara bersama. "Dan gara-gara kamu juga, kedua orang tuaku berniat menjodohkan aku sama orang yang sama sekali nggak aku cinta. Coba kalau kamu nggak datang di kehidupan Gibran, Gibran pastinya akan lebih memilih untuk membalas perasaan aku, dan mungkin sekarang kita udah nikah." Rinka membuang napas kasar ketika lagi-lagi ia teringat dengan rencana kedua orang tuanya yang ingin menjodohkan dirinya dengan seorang pria yang sama sekali tidak ia kenal apalagi cinta. Selama ini, ia berbohong pada kedua orang tuanya bahwa Gibran adalah kekasihnya. Namun, tak sengaja ibu Rinka itu bertemu dengan ibu Gibran di acara arisan yang diselenggarakan di rumah ibu Gibran. Dan di sana ibu Gibran memperkenalkan Lara pada orang-orang sebagai calon menantu. Dari sinilah ibu Rinka merasa telah dibohongi oleh Rinka. Orang tua Rinka kemudian berencana menjodohkan Rinka dengan pria lain, karena mereka merasa marah atas ke kebohongan Rinka. "Aku janji aku akan berusaha merebut Gibran dari kamu. Semoga aja kamu koma terus, dan lama-kelamaan membuat Gibran jadi bosen sama kamu. Aku akan goda dia terus setiap hari. Aku yakin, laki-laki kalau terus-terusan digoda, lama-kelamaan dia akan berpaling dari pacarnya." Rinka tersenyum kecut. Ia lalu bergerak meninggalkan ruang ICU tersebut. Saat Rinka baru saja beberapa langkah meninggalkan ruang ICU, ia tiba-tiba menghentikan langkah ketika dirinya merasa ada seseorang yang tengah memperhatikan dari belakang. Refleks wanita itu menoleh ke belakang, tetapi sama sekali tidak ada siapa-siapa di sana. "Kamu mencariku? Aku di sini." Rinka refleks menoleh ke depan ketika terdengar suara wanita yang cukup asing di telinganya. "Aaa ...!" Rinka berteriak histeris kemudian refleks terjatuh karena saking terkejutnya. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri ada seorang wanita mengerikan dengan pakaian perawat tengah berdiri di depannya. Rinka memilih menutupi kedua matanya karena ia merasa sangat takut jika harus bertatap muka lagi dengan wanita berwajah hancur itu. "Siapa pun kamu, tolong pergi, jangan ganggu aku!" usir Rinka pada makhluk tak kasat mata tersebut. "Rin, kamu ngomong sama siapa?" Rinka menurunkan tangannya yang sejak tadi ia gunakan untuk menutupi kedua matanya. Tatapannya kini beralih pada seorang dokter pria yang kebetulan masih sahabat Rinka. Rinka mencari-cari keberadaan hantu wanita menyeramkan tadi. Ia dapat bernapas lega karena makhluk tersebut tampaknya sudah menghilang. "Biasa, Sya, penampakan," jawab Rinka, dan ia mengulurkan tangan pada Rasya--meminta bantuan pria itu untuk membantunya berdiri. Rasya memilih mengedarkan pandangan. Ia langsung menemukan keberadaan hantu wanita yang baru saja diceritakan oleh Rinka tadi. Wanita mengerikan dengan pakaian perawat tersebut tengah berdiri di tengah-tengah koridor. Rasya bergerak mendekat, tetapi langkahnya tiba-tiba terhenti karena ia merasa ada yang tidak beres. Hantu wanita itu seperti memiliki aura yang sangat negatif. Ketika Rasya berniat melakukan komunikasi lewat batin dengan hantu perawat tersebut, tiba-tiba saja si hantu mengerikan itu lenyap. Dan meninggalkan bau busuk yang hanya Rasya saja yang dapat merasakannya. "Duh, perutku jadi mual banget, ya? Hueek." Rasya menutupi mulutnya karena ia nyaris muntah. Ia lalu meninggalkan Rinka seorang diri di sini, dan bergegas mencari toilet. "Sya, tungguin kali, Sya. Aku takut." Rinka berlari kecil menyusul Rasya. *** "Lara akan aku jadikan tumbal ...." "Lara akan aku jadikan tumbal ...." "Lara akan aku jadikan tumbal ...." Kalimat itu terdengar begitu menggema dan memekik di telinga. Gibran tengah berada di tempat yang asing. Nyaris seperti gua. Gelap, pekat, hanya lampu obor di sana yang menjadi penerangnya saat ini. Entah sejak kapan, tubuh lelaki itu terlilit ikatan rantai yang sangat kuat. Gibran hanya mampu menggeram, bergerak membebaskan diri. Sembari mencari asal suara wanita yang baru saja ia dengar. Seorang wanita dengan pakaian perawat di ujung sana tengah menatap tajam. Tetesan darah berbau busuk sedari tadi luruh dari kedua mata. Sang perawat menyeringai. Senyum penuh kebencian tersungging jelas. Iris matanya hitam pekat. Menyimpan kabut dendam yang mendalam. Di sampingnya, berdiri seorang gadis dengan kedua tangan terikat rantai. Gadis tersebut adalah Lara. Wajahnya lebam penuh luka pukulan. Terdapat goresan-goresan kuku tajam pada kedua pipi. Ia tengah menangis pilu. Menahan sakit. Berharap ada seseorang datang menolong. Gibran mencoba berontak minta dibebaskan. Ia ingin sekali menolong Lara dan segera membawa sang kekasih pergi dari tempat ini. Namun, untuk bebas dari lilitan rantai itu, Gibran rasa-rasanya sangat sulit. Semakin ia berontak, justru rantai tersebut makin kuat melilit tubuhnya. "Gibran, tolong ...." Lara mengiba, menangis, berharap Gibran mampu membebaskannya dari ikatan rantai menyakitkan itu. "Lara, bertahan Lara ...!" Gibran menggerak-gerakkan badannya. Semakin bergerak, semakin terasa sakit. Lilitan rantai itu makin menghimpit tubuhnya saja. "Lara akan tetap ada di sini, sampai aku puas menyiksanya, hahaha ...!" Wanita itu bergerak menjambak kasar rambut gadis di sampingnya. Lara pun memekik kesakitan. "Akh, sakittt ...!" "Lepasin Lara ...! Argh ...!" bentak Gibran dengan geraman dari mulutnya. Lilitan rantai itu makin menyempitkan ruang pernapasannya. Membuat dirinya terbatuk-batuk, menahan sesak. "Aku tidak akan melepaskannya begitu saja. Dia harus menukar nyawaku dengan membunuh orang-orang yang kalian sayangi!" Gibran tidak mengerti apa yang baru saja si perawat katakan. Semakin ia berpikir, rasa pening pada kepalanya makin bertambah. Sampai pria itu tak sadar gadis pujaannya kini tengah dalam bahaya. "Akh, sakittt ...! Gibran ...!" Lara tiba-tiba menjerit. Histeris. Meringis kesakitan saat kuku-kuku tajam wanita itu menggores kulit lengannya. Darah segar mengucur deras. Menodai gaun putih yang ia kenakan. Hantu perawat itu dengan rakus menjilati setiap tetesan darah yang mengalir dari lengan Lara. Lara menjerit sekuat tenaga. Rasa sakit serta panas tak mampu ia gambarkan dengan apa pun. Baginya, jilatan lidah wanita itu bagai lahar panas menjalar di sekujur tubuh. "Gibran, tolong ...." Gibran tak sanggup menatap wajah malang kekasihnya. Ia makin berontak, berteriak. Membebaskan diri sekuat tenaga. "Jangan sakiti, Lara! Biadab!" "Gibran, sakit, Gibran ...." Wanita itu kini makin beringas. Darah segar gadis di sebelahnya benar-benar membuat dirinya lapar. Tanpa sadar, ia mengoyak daging lengan Lara sampai kulit putih sang gadis mengelupas. Lara makin memekik. Menahan sakit yang tiada tara. Air matanya nyaris terkuras. Gibran menggeleng-gelengkan kepala. Tak sanggup menyaksikan kekejaman yang tengah dilakukan wanita itu terhadap kekasihnya. Ia pun ikut menangis. Tak tahu harus berbuat apa. "Argh ... jangan sakiti Lara ...! Lepasin Lara! Lepas!" Tbc ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD