Part 3. Penunggu Jok Belakang

1576 Words
"Salah apa gue, sampai-sampai gue punya cowok, tapi hobi banget ngebohongin gue?! Ngakunya nggak ada hubungan apa-apa sama si sundel Rinka, tapi kenapa tadi malah enak-enakan pelukan?! Dasar, laki somplak! Kang Selingkuh, Kang Boong, Kang Nggak Peka, Kang Sialan!" maki Lara panjang lebar. Detik ini gadis tersebut tengah mengemudikan roda empatnya dengan kesal sambil memaki-maki tak jelas. Sesekali Lara mengusap kasar air mata yang sedari tadi jatuh menghujani wajahnya. Lara merasa frustasi karena ia memiliki pacar seorang dokter berpredikat tampan di atas rata-rata, tetapi dalam hal kepekaan, Gibran justru nol besar. Sering kali pasangan muda itu bertengkar dan saling salah paham. Hal ini terkadang membuat Lara ingin menyerah dengan hubungan ini. Namun, karena rasa cintanya yang terlalu besar pada Gibran, Lara akhirnya mengalah dan memilih untuk tetap bertahan. Terkadang ia merasa heran dengan Gibran. Jelas saja Gibran ini tahu bahwa Lara adalah tipikal perempuan yang cemburuan. Tapi Gibran kerap kali melibatkan Rinka ke dalam hubungan mereka. Gibran selalu mengaku hanya sebatas berteman dengan Rinka. Sudah puluhan kali Lara mencoba untuk memercayai pacarnya itu, tetapi lagi-lagi kepercayaannya itu harus runtuh karena sikap Gibran yang tidak bisa menjaga perasaan Lara dengan baik. Melihat Gibran tadi enak-enakan memeluk Rinka, membuat Lara makin sadar kalau kata-kata pacarnya itu tidak bisa dipegang. Gadis dengan blouse ungu itu sekilas melirik ponselnya di jok sebelah. Benda pipih itu sedari tadi tampak sepi-sepi saja. Tidak ada panggilan, atau pesan satu pun dari sang kekasih. Air matanya kembali mengalir. Rasa kecewa pada benaknya tak mampu ia bendung. Lara sangat berharap kalau Gibran akan berusaha menghubunginya. Setidaknya hal kecil itu bisa membuat Lara yakin kalau Gibran ini tak ingin kehilangannya. "Kalau cewek lagi ngambek itu dikejar, dong! Udah dua tahun jalan bareng, masih nggak peka juga! Nyebelin ...!" Gadis itu memukul-mukul setir dengan kesal, membayangkan jika benda berwarna hitam dengan bentuk lingkaran itu adalah d**a Gibran--yang akan ia pukuli sesuka hati. Atau paling parah setir tersebut ia umpamakan sebagai wajah Gibran. Yang akan ia tonjok sampai berdarah-darah agar bisa membuat hatinya puas dan plong. Lara mengemudi dengan kecepatan sedang. Mobil sport merah miliknya itu mulai memasuki jalanan sepi. Tampak seperti tak ada kendaraan lain melintas di jalan ini selain roda empat miliknya. Lara mulai merasa perasaannya mendadak tak enak. Ia memilih menyalakan musik guna mengusir rasa jenuh bercampur takut. Lara tak sengaja melirik kaca spion depan. Di penglihatannya, terlihat seorang wanita memakai seragam perawat putih lusuh. Tengah duduk di jok belakang sembari menunduk. "Eh, s--siapa itu, ya?" tanya Lara terbata-bata. Siapakah gerangan wanita itu? Dari mana, dan sejak kapan ia duduk di situ? Pertanyaan membingungkan seketika muncul di kepala Lara. Hawa di dalam mobil mendadak menjadi makin dingin dari sebelumnya. Lara lalu mematikan AC. Namun, rasa dingin yang ia rasakan saat ini benar-benar berbeda dari yang tadi. Dingin bercampur mencekam. Seolah-olah ada yang sedang meniup-niupi tengkuknya. Gadis itu mulai mempercepat laju mobil. Berharap sampai rumah dengan selamat dan tidak ada gangguan sama sekali. Tanpa sepengetahuan Lara, wanita yang tengah duduk di jok belakang tersebut kini tengah menunjukkan wajah aslinya. Kepala wanita itu mulai bergerak-gerak. Mendongak, menampakkan sisi demi sisi wajah hancurnya. Wajah sang perawat terlihat berlumuran darah. Ada bulatan hitam mengelilingi kelopak mata. Salah satu dari netranya menjuntai keluar seakan ingin jatuh. Darah bercucuran menetes deras dari mulut. Hidung menyemburkan cairan seperti nanah, berbau busuk. Terdapat pula belatung menari di sekitar lubang pipinya. Wanita itu bergerak mendekati Lara yang tengah memaku di jok pengemudi. Bau busuk dan anyir tercium begitu menyengat. Sang gadis semakin panik. Berulang kali mobilnya oleng, hampir menabrak pohon. Napas seketika tercekat, saat kuku-kuku tajam wanita itu tiba-tiba mencekik leher jenjangnya. Lara terbatuk. Konsentrasi menyetir menjadi buyar. Tanpa disadari, ada sebuah mobil truk melaju cepat di depannya. Lara pun dengan sigap menginjak rem. Bukannya mobil ini berhenti otomatis, malah makin melaju dengan kecepatan tinggi. Lara berteriak histeris karena saking takut dan bingung. Mobil truk tersebut berada persis di depan mata. Sampai tabrakan naas itu seketika tak bisa dihindari. *** Sedari tadi siang, Gibran hanya berguling-guling di atas kasur. Rasa pening pada kepalanya jelas masih terasa. Terlebih, lehernya terasa sakit karena semalam ia merasa dicekik orang. Gibran mengingat kembali kejadian semalam. Saat kepalanya terkena pukul, ia mendadak pingsan. Ia ditemukan tadi pagi oleh petugas kebersihan rumah sakit dengan kondisi tengah pingsan di depan ruang laboratorium. Kemudian diantar pulang oleh sahabatnya untuk beristirahat. Gibran tak mengerti persis, siapa yang sudah memukul kepalanya. Ia hanya ingat akan wanita itu. Wanita yang ia dengar tengah menangis di ruang laboratorium, sampai detik ini suara tangisan sang wanita masih terngiang jelas. Pria itu membuang napas kasar. Memijit-mijit kepala yang masih terasa pening. Gibran kembali memikirkan kabar Lara yang tiba-tiba menghilang sejak semalam. Lelaki itu mencoba menghubungi nomor kekasihnya berkali-kali, tetapi tak membuahkan hasil. "Bener-bener ya, yang namanya perempuan kalau lagi ngambek itu, kadang kelakuannya suka ngadi-ngadi. Tiba-tiba hilang kabar gini. Bikin khawatir orang aja kamu, Ra, Ra."' Ponsel milik pria itu tiba-tiba berdering. Gibran menoleh cepat. Ia yakin panggilan itu berasal dari Lara. Gibran pun bergegas mengangkat telepon, tanpa melihat nama si penelepon terlebih dahulu. "Halo, Ay! Kamu di mana? Kenapa dari semalam nggak ada kabar? Kalau kamu masih marah, nggak perlu pake hilang kabar begini. Aku khawatir kali, Ay." "Buruan lo ke rumah sakit. Semalam Lara kecelakaan. Kondisinya cukup parah. Dia belum sadar malahan." Gibran mengecek layar ponsel dan ternyata yang menghubunginya adalah Rasya. Rasya ini adalah sahabat dekat Gibran, yang merupakan seorang dokter juga sama seperti Gibran. "Lara ...." Gibran sempat tak percaya dengan hal buruk yang menimpa pacarnya tersebut. Tak pikir panjang lagi, lelaki itu segera meraih kunci mobil pada nakas. Kemudian bergegas menuju rumah sakit. Setibanya di rumah sakit, Gibran berlarian sepanjang koridor demi mencari informasi tentang Lara. Banyak suster dan dokter bingung saat melihat tingkah paniknya. "Lara di mana?" tanya Gibran pada dua orang perawat yang tak sengaja berpapasan dengannya. Dua perawat itu kelihatan bingung. "Saya tanya, di mana Lara? Kalian dengar atau enggak, sih?!" Emosinya seketika meluap. "Maaf, Dok, yang dimaksud dengan Lara itu Lara siapa, ya?" Salah satu dari perawat itu memilih bertanya. "Lara pacar saya. Semalam dia mengalami kecelakaan mobil. Barangkali kalian tau dia dirawat di mana." "Kami kurang tau, Dok. Kami dapat shift pagi, jadi kami nggak tau siapa aja pasien yang datangnya tadi malam." "Gibran!" panggil Rinka dari kejauhan. Ia lalu bergerak menghampiri Gibran di koridor lantai tiga. Dua perawat itu pun memilih pamit ketika Rinka datang. "Rinka. Kamu tau Lara di mana? Tadi Rasya hubungin aku dan bilang kalau Lara kecelakaan?" tanya Gibran "Lara masih di ICU, Ran. Dari semalam dia belum sadar." Gibran mengusap wajahnya kasar. Ia merasa benar-benar bodoh menjadi seorang lelaki. Kalau saja semalam mereka tidak bertengkar, mungkin Lara tidak akan celaka seperti ini. Gibran beranggapan, salah satu penyebab Lara mengalami kecelakaan mungkin karena kurang fokus menyetir. Dan penyebabnya adalah Lara terlalu fokus memikirkan masalah mereka. "Ran, kamu yang tenang. Lara pasti akan baik-baik aja kok." Rinka mencoba menenangkan Gibran. "Gimana aku bisa tenang kalau Lara dirawat di ICU?! Dia pasti sakit hati banget pas lihat kita nggak sengaja lagi pelukan, Rin. Astaga ... persahabatan kita benar-benar bermasalah." Rinka tidak menyangka kalau Gibran main menyalahkan dirinya saja. Menganggap persahabatan mereka adalah biang masalah yang sering kali menyebabkan Gibran dan Lara bertengkar. Padahal, mereka sudah bersahabat jauh sebelum Gibran dan Lara pacaran. "Aku mau lihat kondisi Lara dulu." Gibran berlari kecil menuju ruang ICU. Dokter wanita itu menghela napas berat saat mendapati Gibran telah enyah dari pandangannya. Tampak jelas Gibran begitu mengkhawatirkan kondisi Lara. Hal itu terkadang membuat hati Rinka terasa nyeri, karena sebenarnya sudah lama ia menyimpan perasaan terhadap Gibran. Sebelum memasuki ruang ICU, Gibran berhenti di depan pintu sembari memakai seragam medis berwarna hijau daun. Tangannya bergerak memegang kenop pintu. Dari ujung mata, pria itu tak sengaja melihat bayangan seorang wanita tengah memperhatikan dirinya dari belakang. Gibran refleks menoleh, tetapi semua terlihat kosong dan senyap. Gibran mulai merasa aneh. Ia memicingkan mata, menatap sekeliling dengan saksama. Namun, tak sekali pun menemukan hal mencurigakan seperti dalam pikirannya. Pria itu pun bergegas membuka pintu. Memasuki ruang ICU tersebut. Menuju kamar nomor 3 yang menjadi tempat Lara dirawat. Gibran melangkah gontai memijak lantai putih ruangan itu. Di depannya, seorang gadis tengah tergolek lemah di atas ranjang pasien. Dibantu ventilator sebagai alat bantu pernapasan. Ada pun, infus menancap rapi di pergelangan tangan. Dan elektrokardiograf yang senantiasa mendeteksi detak jantung Lara. Pria berseragam medis berwarna hijau itu mendekat. Matanya nanar menatap beberapa perban pada kepala serta lengan Lara. Air mata Gibran seketika jatuh, tak dapat dibendung. Ia mendekap, lebih tepatnya ambruk memeluk tubuh sang kekasih dengan erat. Tak ada satu pun kata keluar dari mulut pria itu selain isak tangis. Ini pertama kali Gibran menangis di depan Lara. Ada perasaan menyesal terbesit dalam benak. Ia merasa telah gagal menjalankan amanah dari mendiang kedua orang tua pacarnya untuk menjaga Lara dengan baik. Tangisan dokter spesialis anak itu makin menjadi. Sesenggukan, sesak dalam d**a. Jika mengingat kembali kebodohannya semalam, lagi-lagi hanya penyesalan yang ia dapat saat ini. "Ay ... bangun, Ay. Maaf ... maafin aku ...." Gibran menatap hangat wajah kekasihnya yang tengah terlelap. Wajah yang selalu terlihat manis dan ceria, kini tampak pucat, bahkan penuh luka. Perlahan tangan dokter tampan itu membelai lembut rambut Lara, lalu mengecup kening gadis pujaannya dengan mesra. "Cepat bangun, Sayang. Maaf, atas semua kesalahanku semalam. Aku nggak sanggup kalau melihat kamu menderita seperti ini," ucapnya lirih. Tbc ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD