19-Demi Rahasia

912 Words
Sebelumnya Griz bekerja di sebuah perusahaan otomotif dan sekarang bekerja di kantor apalikasi game. Griz mempelajari apa saja prodak-prodak yang dijual berserta seluk beluknya. Dia baru tahu, jika game cukup menjanjikan. Apalagi game yang dirilis kantor Arvin rata-rata digunakan lebih dari jutaan pengguna. "Bu Griz. Ada kesulitan?" Griz mengangkat wajah, menatap seorang wanita berambut pendek dengan poni tipis itu. "Tidak Bu Eka. Saya pelajari dulu." Kemudian dia menunduk dan membaca buku tebal itu. Dulu, saat di kantor tingkah Griz memang seenaknya sendiri tapi soal pekerjaan dia tidak pernah main-main. "Gimana calon karyawan baru? Merasa kesusahan?" Perhatian Griz teralih. Dia melihat Arvin berdiri di tengah ruangan sambil membawa dua cangkir berbahan plastik. "Tidak!" "Tidak, Pak." Calon karyawan baru dibagian grafis ikut menjawab. Arvin mengangguk pelan. Dia mengedarkan pandang dan melihat Griz duduk di meja sebelah kiri. Setelah itu dia menatap ke kanan, melihat beberapa programer andalannya yang tampak sibuk. Dia kemudian berjalan mendekat dan meletakkan kopi ke calon pegawainya yang duduk di paling pojok. "Selamat bekerja." Griz yang masih memperhatikan Arvin tersenyum kecil. Lelaki itu ternyata cukup perhatian kepada karyawan. Dia menunduk saat Arvin berbalik dan berjalan ke arahnya. Sudut bibir Arvin tertarik ke atas melihat Griz duduk membelakanginya. Dia maju selangkah kemudian tangannya terulur ke meja kerja Griz. "Selamat bekerja." "Makasih Pak Bos." Arvin mengedarkan pandang, melihat karyawannya yang sibuk sendiri. Seketika dia menunduk hingga kepalanya sejajar dengan kepala Griz. "Nanti makan siang bareng." Setelah mengucapkan itu dia berdiri tegak dan menepuk lengan Griz. Griz ingin menjawab, tapi Arvin lebih dulu pergi. Kemudian dia menatap depan dan dibuat kaget dengan Eka yang tengah memperhatikannya. "Apa?" Eka menggerakkan dagu ke arah Arvin. "Beneran pacarnya Pak Arvin?" tanyanya. "Bu Griz langsung menarik perhatian loh setelah kedatangan waktu itu." "Apaan, sih!" Griz mengibaskan tangan kemudian melanjutkan mempelajari buku di depannya. Gini ya jadi karyawan? Griz tahu, beberapa karyawan memang suka bergosip. Bahkan ada yang membuat grup di w******p yang kebanyakan membahas tentang karyawan lain. Dulu, dia tidak pernah masuk grup seperti itu, jelas karena dia berada di jajaran teratas. Selain itu dia juga enggan membicarakan karyawan lain. Karena menurutnya, tidak ada yang lebih keren darinya. *** Bip.... Ravin mendorong pintu di depannya dengan kaki. Setelah itu dia terdiam sambil menatap depan. Dia sedang memastikan jika tidak ada Griz. Satu menit kemudian, Ravin berjalan masuk. Dia melangkah menuju kamar tamu kemudian membukanya dengan pelan. Dia mengintip dari celah pintu dan tidak mendapati Griz. "Baguslah kalau dia nggak ada." Ravin berjalan menuju kamar dengan langkah santai. Dia lalu menuju walking closet dan mendapati tempat itu sepi. Pandangannya seketika tertuju ke deretan tas yang tergeletak di sofa. Besar kemungkinan Griz akan kembali. "Gue pikir hidup gue bakal tenang!" Ravin lalu berjalan menuju kamar mandi. Beberapa menit kemudian, Griz datang. Dia ingin mengambil beberapa tas untuk dia pakai. Tidak mungkin dia bekerja dan hanya mengenakan tas-tas itu saja. Bip.... Griz tidak langsung masuk. Perhatiannya tertuju ke sepasang sepatu yang tergeletak di samping rak. Terakhir bertemu Ravin kemarin pagi, rasanya Griz tidak sabar ingin menggoda lelaki itu. Sampai di kamar dan Griz tidak mendapati lelaki itu. Dia berjalan menuju walking closet dan mendengar gemercik air. Griz tersenyum samar, menebak jika Ravin pasti akan kaget dengan kehadirannya. Griz memilih duduk di sofa sambil memilih tas yang akan dipakai. Sesekali dia melirik ke pintu, menunggu kedatangan Ravin. "Gue penasaran dia masih marah atau enggak. Awas aja kalau masih marah." Beberapa menit kemudian, Ravin keluar dengan handuk yang melilit pinggang. Dia menggosok rambut basah dengan tangan kemudian berjalan menuju walking closet. Saat itulah dia dibuat kaget dengan seorang wanita yang duduk sambil melipat kedua tangan di depan d**a. "Hai, Sayang." Griz melambaikan tangan. Ravin tidak merespons. Dia berjalan menuju lemari dan mengambil pakaian dengan asal. Setelah itu dia kembali menuju kamar mandi. Griz beranjak dan berdiri tidak jauh dari pintu kamar mandi. Saat pintu itu terbuka dia tersenyum. "Gue nggak lama. Cuma ambil beberapa tas." "Hmm...." Ravin melewati Griz begitu saja. "Kemarin gue ketemu sekretaris lo." Griz mengikuti Ravin yang berjalan menuju dapur. "Dia beli tas gue. Pasti lo yang ngasih tahu." "Gue nggak ngasih tahu." "Terus dia tahu dari mana?" tanya Griz menantang. "Yah meski ada kemungkinan dia lihat dari sosial media gue." "Jelas kayak gitu." Ravin mengambil cangkir kemudian mulai membuat kopi. "Kemarin ke kantor?" Griz tersenyum karena akhirnya Ravin mau berbicara dengannya. Dia mendekat dan berdiri di samping Ravin. "Hmm. Gue juga bawain makanan." Ravin seketika teringat ucapan satpam tadi. Jadi benar jika Griz membawa makanan, tapi makanan itu tidak sampai kepadanya. "Nggak usah repot-repot." "Kan, sama pacar sendiri," jawab Griz sambil menepuk pipi Ravin. "Udah nggak marah?" Seketika Ravin menoleh. Dia memperhatikan Griz yang tersenyum manis itu. "Masih." "Tapi gue lihat udah nggak marah." Ravin mengangkat secangkir kopinya dan berjalan menjauh. Sayangnya, wanita itu terus mendekatinya. Bahkan sekarang duduk menyerong dan menatapnya sambil bertopang dagu. Griz terkekeh geli melihat raut sebal Ravin. "Gue nggak akan bikin lo marah lagi," ujarnya. "Mungkin akhir-akhir ini gue nggak akan sering-sering ketemu lo." "Ke mana?" "Hahaha!" Mata elang Ravin terlihat semakin menajam. Terlebih tawa Griz terdengar begitu puas. Dia membuang muka lalu menyeruput kopinya. "Hahaha...." Griz mendekat dan memeluk Ravin erat. "Artinya lo peduli." Ravin menunduk melihat tangan Griz yang berada di depan dadanya. Dia menyingkirkan tangan itu, tapi Griz kembali memeluk. "Gue nggak peduli. Justru gue bersyukur nggak ketemu lo." "Masa?" Griz menatap Ravin menggoda. "Tapi kenapa tadi kelihatan penasaran? Kalau suka harusnya langsung ungkapin." "Gue bukan termasuk orang yang suka ungkapin perasaan gue!" Ravin menyentak tangan Griz lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD