20-Kamu Sudah Tertarik

999 Words
"Gue bukan termasuk orang yang suka ungkapin perasaan gue!" Ravin menyentak tangan Griz lagi. Griz menatap Ravin dengan sisa tawanya. Dia memang sengaja menggoda, ingin tahu apakah lelaki itu peduli atau tidak. Jika Ravin tidak menginginkan kehadirannya, seharusnya lelaki itu langsung terlihat senang. Bukannya bertanya dan terdengar penasaran. Ravin lama-lama jengah karena Griz menatapnya menggoda. Dia duduk menghadap Griz lalu memiringkan kepala. "Ketawa aja terus." "Habisnya lucu. Lo itu sebenarnya udah tertarik, tapi nggak mau ngaku." Griz menepuk pipi Ravin dengan gemas. Tangan Ravin seketika terangkat menjauhkan Griz. "Sana pergi." "Tega banget ngusir." Griz mengambil kopi milik Ravin dan menyeruputnya. Dia terlihat biasa saja, meski Ravin menatapnya tidak terima. Ravin mengembuskan napas lalu beranjak. Dia mencari bahan makanan di kulkas kemudian memutuskan untuk membuat telur dan kentang rebus. "Gue mau, ya!" teriak Griz, padahal masih belum tahu apa yang dilakukan Ravin. Tidak ada respons dari Ravin. Dia membuat telur orak-arik dan merebus dua buah kentang berukuran besar. Dia sengaja tidak membuatkan untuk Griz. Tingkah wanita itu yang sok memerintah membuatnya sebal. Diam-diam, Griz memperhatikan. Ravin terlihat sempurna di matanya. Ravin pandai memasak dan tentu saja pandai berbisnis. "Vin. Kalau udah suka ke gue, kasih tahu ya!" Ravin sedang menuangkan garam ke telur itu tanpa sadar menuangkan begitu banyak. Dia lalu menatap Griz yang duduk sambil melipat kedua kaki. Wanita itu tersenyum dengan mata berbinar. Ravin kadang berpikir, hati Griz terbuat dari apa? Hidung Griz mengendus saat mencium bau gosong. Dia turun dari kursi dan melihat teflon di depan Ravin. "Ya ampun gosong!" Seketika Ravin menatap telur orak-ariknya yang berubah menjadi hitam. Dia segera mematikan kompor lalu melipat kedua tangan di belakang tengkuk. "Hahaha." "Nggak usah ketawa!" Ravin mengangkat teflon dan membuang telur itu ke tong sampah. Setelah itu dia mematikan kompor yang satunya. "Kentang rebusnya pasti nggak masalah." Griz mengambil garpu dan menusuk kentang yang terasa empuk itu. "Nih...." Dia menyodorkan ke Ravin. Ravin mendorong garpu itu kemudian berjalan menuju kamar. Dia mengambil dompet setelah itu keluar apartemen. Mood-nya tiba-tiba buruk. Lebih baik dia membeli makanan daripada gagal dan dipermalukan. "Ravin...." Seperti biasa, Griz mengikuti. Dia berlari hingga sejajar dengan Ravin, setelah itu melingkarkan tangan ke lengan lelaki itu. "Gue juga laper. Kita makan malem bareng?" "Gue nggak ngajak lo!" "Tapi gue ikut." Ravin menunduk, melihat Griz yang mendongak dengan senyum lebar itu. Tangannya lalu terangkat dan mengacak rambut wanita itu. Tindakan itu tentu membuat senyum Griz semakin lebar. Dia tahu, Ravin gemas kepadanya. *** Mobil Ravin berhenti di salah satu restoran steak ternama. Mata Griz berbinar, sudah lama dia tidak makan steak enak. "Yuk!" Griz turun dari mobil dan berjalan lebih dulu. Ravin keluar dan mengikuti. Sebenarnya dia ingin makan sendiri, tapi dia tahu Griz tidak mungkin berhenti mengikutinya. Saat Griz melangkah masuk, dia dikejutkan dengan beberapa temannya yang duduk di sudut ruangan. Di sana juga ada Andrik. Griz seketika menunduk, mencari kacamata dari tasnya. Setelah itu dia memakainya dan melanjutkan langkah. Diam-diam Ravin mengamati gerak-gerik Griz. Dia mengedarkan pandang dan melihat beberapa orang yang memadati meja pojok. Perhatiannya seketika tertuju ke lelaki yang malam itu bersama Griz. "Ah, itu Griz!" Salah seorang mengenali. Griz berhenti. Dia melihat Andik dan Sisya yang melambaikan tangan. Namun, beberapa orang lain menatap dengan senyum mengejek. "Bener kan orangtuanya bangkrut? Pantes dia nggak pernah ikut party," ujar seorang lelaki berambut merah. Andik melotot. Setelah itu dia kembali menatap Griz. "Sini, Griz gabung." "Dia bakal kayak dulu? Gue yakin enggak." Kedua tangan Griz terkepal. Dulu orang-orang itu berebut ingin dekat dengannya, sekarang mengejeknya. Griz sekarang paham jika uang bisa membeli kesetiaan. "Sorry, gue nggak mau gabung sama kalian." "Dia ngerasa udah nggak level sama kita!" "Hahaha...." Mata Griz menajam. Dia mengangkat dagu kemudian berjalan mendekat. "Kita emang nggak level," jawabnya. "Sejak dulu kalian mohon-mohon jadi temen gue tapi gue nggak mau. Gue nggak nyesel, kalian seburuk itu." "Hei! Apa lo juga baik?" Andrik seketika berdiri. Dia menyentuh pundak Griz dan hendak mengajak wanita itu pergi. Sayangnya, Griz menyentaknya. Griz menatap Andrik yang terlihat sok peduli itu. "Gue yakin lo juga ngetawain gue kalau nggak ada." Dia menarik tangan Andrik. "Bye!" Setelah mengucapkan itu Griz berbalik. Sial! Ravin sejak tadi memperhatikan dari kejauhan. Dia masih melihat Griz yang percaya diri. Namun, siapa yang tahu dengan mata Griz yang tertutup kacamata. Ravin seketika mendekat dan menahan tangan Griz. "Kita tetep makan." "Gue nggak mood makan!" Griz menarik tangannya. Sayangnya, genggaman itu terlalu erat. "Itu pacar Griz?" Sisya terdengar berbicara dengan temannya. "Nggak mungkin." Ravin menarik Griz sambil melirik ke meja pojok. Dia melangkah mendekati meja kasir kemudian menatap ke Andrik. "Saya ingin memesan tempat ini. Sekarang juga." "Tapi, Pak!" Petugas Kasir terlihat kebingungan. "Bilang ke manajer kamu, saya ingin pesan ruangan ini sekarang. Berapapun akan saya bayar," ujar Ravin dengan tajam. Griz kaget dengan kalimat itu. Dia yakin, Ravin sekarang sedang membantunya. Seketika Griz melepas genggaman Ravin dan menatap ke beberapa temannya. "Kenalin, pacar gue!" Ravin mengembuskan napas karena Griz harus mengenalkannya sebagai pacar. "Makasih, Sayang...." Griz melingkarkan tangan ke pinggang Ravin lalu menyandarkan kepala di d**a lelaki itu. "Nggak usah cari kesempatan," geram Ravin sambil menepuk puncak kepala Griz. Griz tersenyum. "Totalitas." *** Beberapa menit kemudian, restoran itu sepi. Ravin benar-benar memesan tempat itu dan membuat teman-teman Griz pergi. Dia merogoh kocek dalam untuk menyelamatkan harga diri Griz. Sungguh tidak masuk akal. Griz memotong daging sambil tersenyum menatap Ravin. Sungguh di luar dugaan lelaki itu mau membantunya bahkan begitu totalitas. "Tukar...." Griz mendorong hot plate-nya dan mengambil milik Ravin. Ravin melihat daging yang sudah dipotong, kemudian menatap Griz yang masih memakai kacamata. "Lain kali gue nggak akan bantu." "Iya ngerti." Griz memotong daging dengan tingkat kematangan well done itu kemudian melahapnya. "Mereka dulu berharap banget jadi temen gue. Ternyata busuk." "Hmm...." Ravin tahu bagaimana sikap teman Griz tadi. "Sekarang buka kacamata lo." Gerakan tangan Griz seketika terhenti. Dia menatap Ravin dari balik kacamatanya. "Buka, Griz!" ujar Ravin setengah membujuk. Griz menggeleng, tapi melihat wajah Ravin perlahan dia luluh. Dia melepas kacamatanya dan memperlihatkan sekitar matanya yang mengkilat. "Lo mau ngejek gue?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD