17-Parasit

750 Words
Jam makan siang, Griz duduk di salah satu kafe menunggu calon pembeli. Akhirnya, setelah beberapa hari tas Griz laku terjual. Risikonya memang harus bertemu untuk melihat barangnya. Membeli tas tidak semudah membeli pakaian yang langsung pesan dan beli. Beberapa pembeli ingin memastikan bahan tas dan kualitasnya. Griz menurunkan kacamata sambil mengedarkan pandang. Kafe tidak begitu ramai mungkin karena areanya tidak begitu dekat dengan perkantoran. Namun, suasana seperti itu justru membuatnya nyaman. Berbeda dengan kehidupannya dulu yang suka dengan keramaian. "Permisi." Seorang wanita dengan setelan kantor berwarna putih dan pink mendekat. Sontak Griz mengangkat wajah. Dia melepas kacamatanya dan memastikan lagi wanita yang berdiri di depannya itu. "Ah, jadi nama lo Azkia?" Azkia mengembuskan napas. Dia duduk di depan Griz lalu melirik ke kursi yang terdapat kantung. "Mana barangnya?" Griz tidak serta merta memberikan. Dia memajukan tubuh dan menatap Azkia penuh selidik. "Tahu dari siapa gue jualan? Sebelumnya kita nggak saling kenal." "Apa itu penting?" tanya Azkia lelah. "Mana barangnya!" "Pasti Ravin, kan?" "Barangnya mana? Kalau lama saya nggak jadi beli." "Nggak sabaran! Kayak bosnya." Griz mengambil kantong di sampingnya dan menyerahkan ke Azkia. "Belum pernah gue pakai. Jadi, barang masih bagus." "Hmm...." Griz memperhatikan Azkia yang sedang mengecek tas berwarna putih itu. Sayangnya, pikirannya tertuju ke Ravin. Dia yakin Azkia tahu dari Ravin. Ah, Griz jadi gemas sendiri dengan lelaki sok cuek itu. "Deal!" Azkia memasukkan tas itu kembali ke kantong. "Sesuai harga yang tertera, kan? Nomor rekening?" Griz merogoh ponsel kemudian menunjukkan notes. "Lihat sendiri." Azkia mulai mengetik nomor rekening yang tertera. Dia mengernyit saat melihat nama bosnya. Lantas dia menatap Griz penuh tanya. "Kenapa?" tanya Griz sambil menahan tawa. "Sebenarnya ini rahasia." "Nggak ambil dari Pak Ravin, kan?" Azkia waspada. Dia tahu wanita di depannya itu nekat. "Ini nggak bisa dibiarin! Kembaliin." "Gue udah pacaran sama bos lo." "Pasti bohong." "Ngapain juga gue bohong?" Griz terkekeh geli melihat raut Azkia. "Lo bisa tanya ke bos lo. Gue bahkan beberapa hari di apartemennya." Azkia masih tidak percaya. Dia tahu, bosnya itu tidak sembarangan mengajak seseorang ke apartemen. Terlebih Griz yang kerap kali berbuat onar. Diam-diam Griz menahan tawa melihat raut Azkia. "Lo ada perasaan sama pacar gue?" "Apaan!" Azkia seketika membuang muka. "Pasti ngancem Pak Ravin. Gue kenal bos gue kayak apa." "Buat apa gue ngancem?" tanya Griz. "Dia luluh karena pesona gue." Dia yakin jika Ravin mendengar kalimat itu pasti dia langsung dijitak. Azkia tetap tidak percaya dan menganggap Griz hanya membual. "Oke gue transfer sekarang." Dia kemudian sibuk dengan ponselnya. "Udah...." Griz melihat bukti transfer yang tertera di layar. "Thank you!" "Gue pergi." Azkia berdiri sambil membawa kantong berisi tas. "Tunggu...." Azkia melihat Griz yang ikut berdiri dan memakai kacamata. Wanita itu tetap terlihat keren, meski kondisi keuangan Griz berubah drastis. Sayangnya, Azkia enggan mengakui itu secara langsung. "Apa?" "Gue titip makanan buat pacar gue! Tunggu sini." Griz lalu berjalan menuju meja kasir. Perhatian Azkia tertuju ke Griz. Dari gelagat, sepertinya wanita itu memang pacar Ravin. "Nggak mungkin. Dia cewek gila yang nggak tahu malu." Azkia memilih pergi alih-alih menunggu. *** Griz berdiri di seberang kantor Ravin. Dia merogoh ponsel kemudian mencari nomor lelaki itu. Meski dia sebenarnya tidak yakin Ravin akan mengangkatnya. Tut... Tut... Tut.... Dugaan Griz terbukti, Ravin tidak mengangkat panggilannya. Tidak kekurangan akal, dia mencari nomor Azkia, berharap wanita itu setidaknya mau membantunya. "Halo...." Suara Azkia terdengar sebal. "Kenapa lo langsung pergi? Nggak sopan!" Griz langsung memarahi. "Gue titip makanan buat Ravin. Cepet keluar." Tut... Tut... Tut.... Azkia mematikan sambungan secara sepihak. "Nggak sopan!" gerutu Griz sambil memasukkan ponsel ke tas. Pandangan Griz tertuju ke gedung perkantoran di depannya. Dia melihat beberapa karyawan yang berjalan masuk setelah makan siang. Griz kemudian memutuskan menyeberang dan mendekati pos satpam. "Mohon maaf, Anda dilarang masuk!" Seorang satpam langsung mengenali Griz. Griz mendengus. Dia seperti seorang penjahat yang dilarang mendekat. "Saya cuma mau nitip ini ke Pak Ravin." Dia meletakkan kotak makan itu kemudian berbalik. "Thank you!" Satpam bertubuh tinggi itu menatap Griz dan kotak makan di depannya. Dia lalu menghubungi kepala bagian keamanan. "Dari Griz?" Azkia berdiri di samping pintu pos satpam. Dia sempat melihat Griz menyeberang jalan sebelum akhirnya menyetop taksi. "Iya, Bu. Ini." Satpam itu memberikan makanan itu ke Azkia. Azkia menerima makanan itu kemudian berbalik. Dia mengangkat kantong yang tercium ayam goreng itu. Dia tersenyum mengejek, tahu jika Ravin tidak suka makan makanan berminyak, apalagi jika membeli sembarangan. "Siang Bu Azkia." Langkah Azkia seketika terhenti. Dia melihat karyawan bawahannya yang berjalan dari arah samping. "Buat kamu. Bisa kamu bawa pulang atau makan sama temen-temenmu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD