16-Semua Orang Mencurigakan

714 Words
"Jadi, Tante tahu papa di mana?" Griz menatap Artari penuh selidik. "Enggak, Griz." Bahu Griz merosot. Apa yang sebenarnya ada di kepala papanya sampai tega menitipkan anaknya ke orang lain? Griz yakin, hidupnya akan semakin berat. Belum lagi para penagih utang akan mencarinya. "Kamu bisa tinggal di sini sama Tante." Artari tersenyum. "Tante bukan orang jahat, Griz." "Dia mau tinggal di sini, Ma?" Griz dan Artari menoleh ke sumber suara. Mereka melihat lelaki berkemeja putih yang berdiri di pintu penghubung ruang tengah dengan halaman samping itu. "Iya, Vin. Sama mama." Artari menatap anaknya itu. "Kenalin Griz, itu anak Tante. Namanya Arvin." Arvin menatap wanita yang duduk di samping mamanya. Dia mendekat lalu mengulurkan tangan. "Arvin." "Griz." Griz membalas jabatan tangan itu kemudian buru-buru menariknya. "Jadi, boleh saya tinggal di sini?" tanyanya ke Artari. "Ya boleh. Tante bakal khawatir kalau kamu nggak tinggal di sini." Artari membelai rambut Griz dengan sayang. Griz tersenyum samar. Dia merasa sangat lega. Dia lalu menatap Arvin yang tersenyum lembut kepadanya. Dia berharap keluarga Artari tidak menyembunyikan sesuatu yang menyakitkan. Griz tidak tahu lagi harus menghadapinya bagaimana jika hal itu terjadi. *** Setelah tadi sempat berjalan kaki, kini Griz bisa berbaring di ranjang empuk. Dia menatap langit-langit kamar sambil menikmati embusan AC yang mendinginkan tubuhnya. Rasanya sangat nyaman dan perlahan rasa lelahnya menghilang. Sambil berbaring, Griz mengedarkan pandang. Kamar tamu yang dia tempati sebenarnya tidak luas. Di kamar itu hanya terdapat lemari berukuran sedang dan meja rias kecil. Berbeda dengan kamarnya yang memiliki walking closet dengan lemari yang lebar dan tinggi. Tok... Tok... Tok.... "Iya, Tan!" Griz langsung berdiri. Dia membuka pintu dan melihat Artari yang menyodorkan nampan berisi makanan dan buah. "Makan. Tante lihat kamu kecapekan banget." Griz tersentuh dengan perhatian itu. Dia menerima nampan itu sambil tersenyum. "Makasih, Tan." "Lanjut istirahat. Anggap aja rumah sendiri." Setelah mengucapkan itu Artari berjalan menjauh. Griz kembali menutup pintu dan membawa makanan itu ke ranjang. Dia mengambil melon yang dipotong kecil-kecil dan memakannya. "Seger banget!" Dia geleng-geleng merasakan air dari melon itu. Padahal sebelum-sebelumnya, dia biasa-biasa saja saat memakan buah. Wanita itu kemudian melahap nasi dengan lauk rendang, padahal sebelum datang dia sudah makan bersama Ravin. Untuk sekarang Griz sepertinya tidak peduli, asal ada makanan dia pasti akan makan. Dia tidak tahu, apakah esok hari bisa makan atau tidak. "Gue sekarang tahu betapa berharganya sebuah makanan." Griz menatap dengan sorot sendu. Dia terbayang hidup mewahnya yang terkesan tidak menghargai makanan. *** Pukul sembilan, Ravin baru keluar dari kantor. Dia mengedarkan pandang menyadari suasana basement sangat hening. Dia bergegas ke mobil kemudian melajukannya menuju apartemen yang sebenarnya tidak jauh. Saat mengemudi, Ravin tiba-tiba ingat kejadian kemarin saat Griz mengikutinya. Tidak disangka, hari ini wanita itu berjalan kaki dan tidak lagi mengendarai mobil mewah. Perubahan raut Griz terlihat jelas, meski ditutupi dengan wajah jutek. Tiba-tiba Ravin teringat saat pertemuannya dengan Papa Griz waktu itu. Dia datang ke kantor lebih pagi karena jadwalnya sangat padat. Namun, dia justru menyesal menemui Papa Griz. "Tolong, Pak Ravin. Bantu saya." Saat itu Papa Griz menatap Ravin dengan memohon. Ravin menatap lelaki di depannya dengan bosan. Dia sebenarnya tidak suka dengan cara seperti itu. Jika ingin bekerja sama seharusnya mengusahakan kinerja bukan tentang memohon. Apalagi dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin. "Pak Ravin." "Saya tidak bisa menolong. Urusan bisnis sama menolong itu berbeda." Ravin seketika berdiri, tapi Farizan menahan lengannya. Ravin menoleh, melihat lelaki itu berkaca-kaca yang justru membuatnya semakin muak. "Perusahaan saya benar-benar diambang kehancuran. Saya nggak bisa biarkan anak saya menderita." Ravin menarik tangan Farizan kemudian berjalan menjauh. Dia menggerakkan tangan meminta bodyguard-nya menghentikan tindakan Farizan. Sedangkan dia bergegas menuju lift. "Pak Ravin!" Samar-sama Ravin masih mendengar jeritan Farizan. Dia tidak menghiraukan jeritan itu. Kemudian dia melihat dua bodyguard-nya masuk dan segera memencet tombol lift. Ravin sempat melihat wajah Farizan sebelum pintu lift itu benar-benar tertutup. Tring.... Pintu lift terbuka dan dua bodyguard Ravin keluar lebih dulu. Ravin hendak melangkah, tapi ada wanita yang menghalangi. Dia memperhatikan wanita yang sebenarnya tidak asing itu. Beberapa kali dia melihatnya di party yang diadakan koleganya. Seorang Grizelle Azfira. "Ck!" Ravin memukul kemudi kala ingat kejadian itu. Dia benar-benar apes hari itu, apalagi setelah itu Griz sering mengikutinya. Dia heran mengapa wanita itu begitu gencar mendekatinya. Meski sekarang dia tahu, pasti Griz hendak membujuknya untuk bekerja sama dengan perusahaannya
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD