Ravin baru melihat seorang wanita yang menyantap makanan dengan lahap bahkan hingga belepotan. Dia yakin, sebelumnya wanita itu pasti akan menjaga image dan memilih-milih makanan. Namun, keadaan membalikkan semuanya.
"Ah! Kenyang." Griz meletakkan gelas berisi lemon tea yang tersisa sedikit. Dia duduk bersandar lalu mengusap perut.
"Saya tahu apa yang menimpa keluargamu," ujar Ravin dengan suara pelan.
Raut Griz kembali sendu padahal dia tampak bahagia saat makan. Dia lalu membuang muka. "Terus Anda mau ngejek? Boleh aja." Dia menarik kacamata dari atas kepala dan memakainya.
Ravin sedikit sebal melihat gaya wanita di depannya. Memangnya apa yang mau dibanggakan Griz setelah semuanya hilang? "Terus apa rencanamu?"
"Saya harus menemui seseorang." Griz menatap Ravin. "Saya boleh pinjam beberapa uang? Tenang saja pasti saya bayar."
Tanpa menjawab, Ravin mengeluarkan beberapa lembar uang. "Nggak perlu diganti."
"Saya nggak mau punya utang budi." Griz menarik uang yang disodorkan ke arahnya. "Saya akan bayar semua makanan ini."
"Oke, terserah kamu." Ravin seketika berdiri dan berjalan menjauh.
Griz buru-buru berdiri dan berlari mengejar. "Saya harus ambil koper!"
Ravin menggerakkan tangan, melihat koper Griz yang sudah berada di samping mobilnya. "Silakan ambil sendiri."
"Ck!" Griz berdecak melihat kelakukan Ravin. Dia berjalan menuju mobil dan kembali menggeret kopernya. "Saya pergi."
Perhatian Ravin masih tertuju ke Griz. Wanita itu berbeda dengan wanita kemarin yang glamor dengan makeup sempurna. Hanya satu yang masih sama, keras kepala Griz. Lihat saja, wanita itu bahkan tidak mengucapkan terima kasih.
Tanpa diketahui, Griz mencoba melangkah sambil menahan rasa perih di kakinya. Dia tidak ingin menunjukkan kelemahannya di depan orang lain. Terlebih kepada Ravin. Dia merasa malu karena sebelumnya bisa begitu percaya diri, tapi sekarang tidak lagi.
***
Taksi itu berhenti di sebuah rumah berpagar putih. Rumah itu terlihat rapi dan terawat. Semoga saja rumah itu tidak ditinggali oleh orang-orang jahat.
"Jadi turun nggak, Mbak?"
Griz tersentak kaget. Dia menyerahkan beberapa lembar ke sopir taksi kemudian turun dari mobil. Dia berdecak, saat sopir taksi itu tidak membantunya untuk menurunkan koper. "Sial! Ini pertama kalinya gue nurunin koper!"
Setelah menurunkan koper, Griz melangkah menuju gerbang. Dia menunduk, berharap melihat seseorang. Namun, rumah itu tampak sepi. "Gue nggak dijebak, kan ini?" gumamnya waspada. Griz mendongak, memperhatikan rumah berlantai dua itu sekali lagi.
"Siapa?"
Griz tersentak. Dia menunduk, melihat wanita berdaster melangkah ke arahnya. "Ah, bisa saya bertemu dengan pemilik rumah?"
"Dengan siapa?"
"Emm...." Griz bingung harus mengenalkan dirinya sebagai apa. Dia tidak pernah bertemu dengan pemilik rumah, tapi tiba-tiba langsung meminta bantuan. Sungguh, memalukan sekali. "Papa saya sahabat dari si pemilik rumah."
Wanita berdaster itu tampak tidak percaya. "Tunggu sini." Kemudian dia kembali ke dalam rumah.
Griz menggerakkan kaki dengan gelisah. Semua keputusan ada di depannya. Bisa jadi saat dia masuk ke rumah itu dia tidak akan pernah bisa keluar. Namun, bisa jadi itu tempat yang hangat untuknya. "Apa gue kabur aja?" gumamnya sambil bergerak mundur. "Ah enggak! Gue mau kabur ke mana lagi?"
"Siapa?" Tiba-tiba terdengar suara berat.
Napas Griz tercekat melihat seorang lelaki berkemeja putih berjalan ke arahnya. Tanpa sadar Griz menggeleng, takut lelaki itu akan menyakitinya.
"Hei. Mau cari siapa? Lo siapa?"
Griz memegang gagang koper dengan erat. Dia menelan ludah sambil menatap lelaki tampan di depannya. Dari gayanya, sepertinya lelaki itu seorang pengusaha. Wajahnya tampan dan hidungnya mancung. Namun zaman sekarang semuanya bisa menipu. Bisa jadi dia berdarah dingin.
"Mau masuk atau gue usir?" tanya lelaki itu tidak sabaran.
Griz membulatkan mata. Belum apa-apa lelaki itu sudah menunjukkan karakternya. Sepertinya dia salah datang. Dia refleks bergerak mundur dan kembali menggeret koper.
"Itu kamu Griz?" Sayangnya ada suara lembut yang kemudian terdengar.
Langkah Griz seketika terhenti. Dia menatap ke gerbang dan melihat seorang wanita dengan terusan hijau muda. Griz terdiam, memperhatikan dengan saksama. Dari wajahnya, wanita itu terlihat hangat. Tapi bisa jadi itu nipu.
"Griz. Ayo masuk!" Wanita itu membuka gerbang dan menggerakkan tangan meminta Griz mendekat. "Bantuin angkat koper, dong!"
Lelaki berkemeja putih itu langsung mengambil alih koper Griz. Awalnya, Griz berusaha mempertahankan, tapi lelaki itu langsung menariknya. Griz masih terlihat bimbang. Namun, dia belum bisa memutuskan.
"Ini Tante Artari. Kamu lupa sama Tante?" Wanita bernama Artari itu menarik tangan Griz. "Kamu pasti kesulitan cari rumah Tante."
Griz melangkah tanpa banyak bicara. Dia masih syok karena wanita itu langsung mengenalinya. Sayangnya, dia lupa dengan wanita itu.
"Tante baru aja denger kabar keluargamu. Kamu yang sabar ya, Griz." Artari mengusap lengan Griz.
Perhatian Griz seketika tertuju ke lengannya. Setelah itu dia menatap wanita di sampingnya. Ini pertama kalinya ada seseorang yang memberinya semangat sambil mengusap lengan, padahal mereka belum saling kenal.
"Kamu kenapa, Griz?" tanya Artari karena Griz hanya diam. "Kamu takut?"
Griz mengangguk samar. Dia menatap depan kemudian mengedarkan pandang. "Sebenarnya Tante siapa?"
"Ayo masuk! Tante jelaskan di dalam." Artari menggenggam tangan Griz dan mengajaknya ke ruang tengah. "Kamu mau minum apa?"
"Terserah, Tan," jawab Griz sambil memperhatikan ruang tengah yang didominasi warna putih. Dia menghela napas lega, karena rumah itu terlihat rapi. Dia sempat was-was di dalam rumah itu hanya berisi gudang.
Griz diam-diam juga mengamati ruang sekitar. Tepat di belakangnya ada halaman samping dan kolam renang. Dia mendapati lelaki berkemeja putih itu tampak makan di ruangan yang menghadap ke kolam. Kemudian dia menatap ke arah lain, mencari kopernya yang entah berada di mana.
"Tante sahabatan sama papa mamamu, Griz."
Perhatian Griz seketika teralih. Dia melihat Artari membawa nampan berisi minuman berwarna orange. "Makasih, Tante."
Artari tersenyum. Dia lalu mendekati bufet dan mengeluarkan album foto di antara tumpukan buku besar. "Ini, kalau kamu nggak percaya." Artari duduk di samping Griz dan menunjukkan album foto itu.
Griz terdiam, melihat foto mamanya dan Artari saat masih memakai alamater. Kemudian dia melihat empat pemuda yang berlibur di puncak. Griz tersenyum, melihat foto masa remaja papa dan mamanya.
"Dulu papamu sempet bilang, kalau dia ada apa-apa dia mau nitipin kamu." Artari memandang Griz yang terlihat cantik, meski rambutnya berantakan itu. "Tante sedih, waktu tahu perusahaan papamu bangkrut."
Mata Griz mulai berkaca-kaca. Dia membuang muka kemudian menghapus air matanya. "Apa Tante tahu papa sekarang di mana?"
Artari menutup album di pangkuannya. Dia menarik tangan Griz dan menggenggamnya erat. "Papamu sempat pamit ke tante. Dia janji bakal nemuin kamu."
"Jadi, Tante tahu papa di mana?" Griz menatap Artari penuh selidik.