14-Ada Apa dengan Ravin?

671 Words
Berjalan sambil mengenakan heels dan menggeret dua koper ternyata melelahkan. Terlebih, bagi Griz yang jarang berjalan jauh. Dia terbiasa dengan fasilitas mewah, tapi sekarang harus berjalan dan terkena debu jalanan. Brum.... Tiba-tiba ada mobil yang melaju kencang. "Nggak bisa pelan-pelan, ya, lo?" Griz memaki ke mobil berwarna putih tadi. Dia menghentikan langkah lalu menggerakkan kedua kakinya yang terasa pegal. Setelah itu dia memijit pundaknya yang terasa berat. Griz masih belum tahu harus ke mana. "Sial! Gue nggak pernah bayangin hidup gue kayak gini." Wajah Griz terlihat memerah, rasanya dia ingin protes ke keadaan. Ah tidak, lebih tepatnya ingin protes ke papanya yang meninggalkannya sendirian. Apa lelaki itu tega membiarkan Griz hidup sendiri tanpa ada persiapan? "Ah! Sial banget gue!" Griz berjongkok lalu membingkai kepala. Dia berharap ini hanya mimpi, tapi sayangnya dia menyadari ini semua nyata. Griz perlahan mendongak kemudian berdiri. Dia kembali memegang gagang koper dan mulai menyeretnya. Setelah dua langkah, dia merasa ujung jarinya terasa perih. Refleks dia menghentikan langkah dan melepas heels-nya. Kakinya yang biasanya mulus kini tampak sedikit kotor. Jari-jari kakinya memerah dan ada yang mengelupas. "Huh... Gue harus pergi ke mana lagi?" Griz menggeret koper dan berjalan lurus. Sejak tadi yang dia lakukan hanyalah mengikuti jalanan. Griz sebenarnya ingin datang ke alamat yang diberikan papanya. Namun, dia khawatir jika papanya menjebaknya lagi. Bisa jadi itu alamat orang jahat yang akan memanfaatkannya. "Ah! Gue harus ke mana sekarang?" Semakin melangkah, langkah Griz terasa berat. Dia mengedarkan pandang, melihat sebuah restoran yang mulai dipenuhi pengunjung. Refleks tangannya menyentuh perut. Dia belum sarapan. Biasanya dia memesan makanan dari restoran ternama. Glek.... Griz menelan ludah melihat seseorang yang memakan daging. Dulu, mudah baginya untuk memesan steak, bahkan yang paling mahal sekalipun. Namun, daging itu sekarang begitu mahal. "Ya ampun!" Griz membuang muka saat melihat seseorang keluar dari restoran. "Dia nggak boleh tahu keadaan gue." Dia kembali menggeret koper dan melangkah menjauh. Sebelumnya, Griz berusaha untuk bertemu dengan Ravin. Namun, sekarang mereka dipertemukan dengan sendirinya. Sayang, dia harus menghindar agar Ravin tidak mengetahui jika dirinya sekarang telah kacau. "Huh...." Griz mengembuskan napas lega setelah berhasil menjauh. Dia berbalik dan tidak mendapati Ravin. "Kenapa, sih, gue harus ketemu dia di saat gue kayak gini?" Griz melangkah gontai sambil berusaha menggeret koper yang terasa kian berat. Belum lagi kakinya mulai terasa pegal. Griz butuh berbaring di ranjang empuk kemudian makan makanan enak seperti sebelumnya. Tin... Tin.... Suara klakson yang tiba-tiba membuat tubuh Griz berjingkat. Dia menoleh, melihat seorang wanita yang duduk di bangku depan. Menyadari siapa wanita itu, Griz langsung membuang muka. Dia mengambil kacamata dari tasnya kemudian memakainya. Setelah itu dia melangkah seolah baik-baik saja. "Mau ke mana?" Azkia turun dari mobil dan melihat Griz yang berjalan menjauh. "Anda kenapa?" "Ck! Ngapain sih dia tanya-tanya!" Griz berusaha berjalan cepat, tapi kenyataannya dia berjalan sangat lambat. Azkia geleng-geleng melihat Griz yang masih keras kepala. Dia berlari mengejar kemudian menghadang. "Silakan masuk." Griz membuang muka dengan dagu terangkat. "Saya nggak butuh kamu." "Sebenarnya saya nggak mau bertemu Bu Griz, tapi Pak Ravin yang maminta." Azkia maju selangkah dan menarik satu koper dari Griz. "Mari." Tak.... Griz memukul tangan Azkia. Dia menarik kopernya kembali dan menatap Azkia tajam. "Dia mau menjelek-jelekan saya?" Azkia tersenyum samar. Di saat kondisi terpurukpun, Griz masih bisa sombong. "Nggak mau ikut? Ya udah." Setelah mengucapkan itu Azkia kembali ke mobil. Griz tampak bimbang. Dia ingin meminta bantuan Ravin, tapi dia tidak ingin lelaki itu memanfaatkan dirinya yang sedang lemah. "Ck! Harusnya gue minta makan aja." "Mau makan?" Tubuh Griz berjingkat mendengar pertanyaan itu. Dia menoleh, melihat Ravin duduk di bangku belakang dengan kaca yang terbuka sepenuhnya. Lelaki itu memperhatikan Griz dari ujung rambut hingga ujung kaki, kemudian tersenyum samar. "Enggak!" Griz membenarkan letak kacamatanya kemudian kembali melangkah. Ravin heran karena Griz masih jual mahal. Jelas sekali wanita itu lelah dengan wajah yang pucat. Ravin seketika turun dari mobil dan menarik Griz. "Ah! Apa-apaan, sih?" Griz tersentak karena Ravin langsung menariknya. "Koper gue!" "Ambil kopernya!" perintah Ravin ke sopirnya. Setelah itu dia mendorong Griz masuk mobil.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD