13-Bukan Lagi Seorang Ratu

809 Words
"Gimana perusahaan Pak Farizan?" Azkia menunjukkan tablet yang dia pegang. "Pak Farizan kabur dan mereka akan mengatur semuanya dari awal." Ravin menghela napas. Dia mengambil berkas di depannya dan melihat proposal kerja sama dari perusahaan Pak Farizan. Dia tahu, perusahaan Pak Farizan mengalami kebangkrutan, tapi dia tidak bisa melakukan kerja sama. Melakukan kerja sama dengan perusahaan yang hampir bangkrut jelas butuh pikir panjang. "Bu Griz kabarnya menangani sendiri," ujar Azkia sambil tersenyum samar. "Wanita itu." Ravin meletakkan berkas begitu saja. Dia terbayang Griz yang semalam mengikutinya. Sekarang, hidup wanita itu benar-benar berubah. Azkia mengambil tablet dan melihat foto dari salah satu temannya. "Ini Bu Griz, Pak." Ravin menatap tablet itu dan melihat Griz yang berdiri dengan wajah memerah. Wanita itu terlihat dikepung oleh karyawan yang menatapnya dengan berbagai ekspresi. Ravin kemudian menggerakkan tangan. "Saya permisi, Pak." Azkia lalu keluar dari ruangan. Pikiran Ravin berkelana saat dia datang ke kantor Farizan. Lelaki itu memohon untuk suntikan dana, tapi dia sangat selektif. Ravin tidak akan mau bekerja sama jika itu tidak menguntungkan. Dia tidak mau bekerja sama membuatnya semakin rugi. "Ravin...." Perhatian Ravin teralih. Dia melihat seorang lelaki berkemeja biru datang menghampiri. "Ya, Pa." "Perusahaan mereka bangkrut." Ravin mengangguk. "Azkia baru saja ngasih tahu," ujarnya. "Katanya Pak Farizan dan istrinya kabur? Jadi anaknya yang nanganin sendiri." Papa Ravin mengangguk dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak. *** Hidup Griz benar-benar terbalik sekarang. Biasanya dia akan sibuk di balik meja kerja, sekarang dia mengendarai mobil tanpa arah. Dia ingin pulang, tapi takut menghadapi kenyataan lagi. Ditambah, papanya tidak bisa dihubungi. Griz menepikan mobil kemudian mencari nomor papanya. Dia mencoba menghubungi dan berharap lelaki itu memberi tahu keberadaannya. "Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif." "Sial!" Griz memaki. Dia melempar benda itu ke bangku penumpang kemudian memukul kening. Sekarang, Griz tidak tahu harus ke mana dan mencari pelindungan kepada siapa. Semuanya terasa mengagetkan dan dia tidak siap menghadapi perubahan. Semalam tiba-tiba papanya memberi tahu jika bangkrut, lalu pagi ini tiba-tiba papanya menghilang. Griz menarik napas panjang kemudian memukul kemudi. Saat itulah dia melihat ada sesuatu yang menempel di ujung atas kemudi. Griz seketika menggapai benda berwarna putih itu. "Apaan, nih?" Dia membuka kertas itu dan mendapati tulisan papanya. Griz, maafin papa sama mama harus ninggalin kamu. Papa sama mama akan kembalikan keadaan, tapi kami harus pergi dulu ninggalin kamu. Maaf kalau ini terkesan mendadak. Papa punya kenalan seseorang yang bisa kamu mintai tolong. Hidup yang baik bersama mereka dan coba buat mandiri. Ini alamatnya. Griz meremas kertas itu tanpa membaca kelanjutan suratnya. Dadanya terasa sesak mengetahui papa dan mamanya pergi tanpa mengajaknya. "Apa gue nggak dianggap anak?" Napas Griz terasa tercekat. Dia memejamkan mata dengan kedua tangan terkepal. Setelah itu dia mengembuskan napas dengan kasar. "Sial!" Griz memukul kemudi dengan kencang, hingga tangannya memerah. *** Setelah seharian mengemudi tanpa arah, Griz memutuskan pulang. Papan yang tertempel di pagar rumahnya kembali mengejutkannya. Rumahnya disita oleh pihak bank. Griz lagi-lagi kembali dibuat sedih. "Permisi. Ada perlu apa?" Griz turun dari mobil dan mendekati lelaki yang bukan satpam rumahnya itu. "Ini rumah saya," ujarnya. "Saya harus meninggali rumah ini." "Maaf. Tapi rumah ini disita," ujar lelaki itu. "Anda hanya bisa mengambil barang keperluan Anda. Tapi tidak untuk barang-barang lainnya." Air mata Griz seketika turun. Kejutan buruk apa lagi ini? Semuanya meninggalkannya. "Mau masuk atau tidak?" Griz mengangguk pelan. Pandangannya lalu tertuju ke halaman yang dipenuhi dengan daun kering. Sepertinya tukang kebunnya dipecat tanpa sepengetahuannya. Tadi saat berangkat dia tidak menyadari hal itu. Saat melangkah masuk, barang-barang rumah Griz ditutup dengan kain putih. Rumahnya tampak semakin kosong dan dingin. Memang dari dulu rumah itu tidak pernah ramai, tapi rasanya berbeda, tidak sekosong sekarang. Griz sampai kamar dan melihat kain putih menutupi ranjangnya. Dia melangkah menuju lemari dan melihat pakaiannya yang masih menumpuk. Dia mengambil koper yang tergeletak di sudut kemudian mengemasi barang-barangnya. "Jika sudah silakan keluar!" Rahang Griz mengeras. Dia mendongak, melihat penjaga lain yang berdiri di depan pintu. "Ini rumah saya! Kalian nggak berhak kayak gini." "Tapi rumah ini disita!" "Awas ya kalian!" Griz menunjuk lelaki bertubuh kurus dengan mata memerah itu. Dia mengambil pakaiannya dan memasukkan ke koper. Setelah itu dia membawa dua kopernya. "Nggak ada yang mau bantuin apa?" geramnya melihat tiga lelaki yang hanya diam itu. Griz menggeleng pelan, tidak mungkin mereka langsung membantunya. Dia mendorong koper itu hingga menggelinding di tangga. Setelah itu dia menuruni tangga sambil menangis. "Kenapa sih hidup gue jadi gini?" Sampai di halaman, Griz terpaku melihat mobilnya menghilang. "Mana mobil gue?" tanyanya ke satpam penjaga. "Mana?" "Mobil Anda juga disita!" "Ash! Sial!" Griz menghentakkan kaki. "Si b******k itu benar-benar!" Griz semakin marah kepada orangtuanya. Sekarang, Griz benar-benar tidak tahu harus ke mana. Dia tidak memiliki uang dan mobil. "Terus gue harus ke mana?" Griz menggeret kopernya dengan langkah gontai. "Apa harus ke kenalan papa?" gumam Griz ragu. "Enggak! Pasti gue dijual. Pasti papa makin jebak gue!" Griz menggeleng tegas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD