Sampai rumah, Griz bergegas berendam. Tubuhnya terasa lengket dan dia yakin banyak debu-debu yang menempel. Selain itu dia ingin membuat tubuhnya kembali fresh.
Rencananya untuk mengetahui tempat tinggal Ravin gagal total. Griz sebal mengapa tidak hati-hati dan membuat Ravin tersadar. Andai dia lebih hati-hati pasti dia tahu di mana tempat tinggal lelaki itu. Kemudian dia akan mendatangi Ravin dan kembali mengganggu.
"Ah. Tapi ini bukan akhir segalanya." Griz semakin menenggelamkan tubuhnya di bathtub. Matanya kemudian terpejam, tampak menikmati air hangat dengan sabun aroma anggur itu.
Tiba-tiba Griz teringat saat Ravin menunduk dan menyibak rambutnya ke belakang. Dia tersenyum, merasa jika lelaki itu sebenarnya perhatian hanya saja terlalu gengsi. Ditambah kalimat Ravin yang memintanya untuk pulang. Memang diucapkan dengan acuh tak acuh, tapi Griz merasa Ravin perhatian.
"Ah! Gue gila gara-gara Ravin." Griz seketika beranjak dan membasuh tubuhnya yang penuh dengan buih sabun.
Beberapa menit kemudian, Griz keluar dengan kimono motif bunga-bunga berwarna merah. Dia duduk di depan meja rias dan mengoleskan pelembab.
Tok... Tok... Tok....
Perhatian Griz teralih saat tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. "Masuk!"
Pintu terbuka dan memperlihatkan seorang wanita dengan rambut diikat asal. "Bapak nyariin, Non."
Griz mengernyit. Tidak biasanya papanya mencarinya, apalagi sekarang sudah tengah malam. Griz seketika berdiri dan berjalan menuju lantai bawah.
"Sini, Griz." Farizan menggerakkan tangan meminta anak satu-satunya itu mendekat.
"Apa, Pa?" Griz duduk di hadapan papanya. Dia lalu melihat beberapa map yang tertumpuk. "Kerjaan baru?"
Farizan terlihat menghela napas. "Papa mau jujur ke kamu."
Griz semakin tidak mengerti dengan keanehan papanya. "Pa, kalau urusan kerjaan bisa diomongin besok."
"Kita bangkrut, Griz." Farizan berucap cepat.
Bola mata Griz membulat. Dia memajukan tubuh dan menatap papanya butuh diyakinkan. "Papa ngerjain aku, kan?"
"Apa papa pernah bercanda?" tanya Farizan sambil menatap Griz. "Kamu ada uang berapa? Biar papa pakai buat bayar utang."
Napas Griz seketika tercekat. Papanya tidak pernah bercanda dan tidak pandai bercanda. Griz duduk bersandar sambil menatap papanya yang terlihat frustrasi. "Ada beberapa."
"Perhiasanmu masih ada?"
"Mau dijual juga?" tanya Griz tidak percaya. "Terus aku punya apa?"
Farizan mengusap wajah dengan lelah. "Papa bakal ganti rugi, nanti kalau kondisi perusahaan udah membaik."
Griz menggeleng tidak percaya. Apa benar papanya mengalami rugi? Tadi, dia masih bekerja dan tidak ada berita apapun. "Papa nyembunyiin ini semua?"
"Hmm...." Farizan mengangguk pelan. "Besok papa ngadain rapat buat bahas itu. Sekarang, kamu kemasi barang berhargamu."
Tubuh Griz terasa lemas. Dari kecil hingga sekarang, dia bergelimang harta. Dia tidak tahu bagaimana kehidupannya selanjutnya. "Pa. Semuanya bisa balik, kan?"
"Papa usahakan, Griz! Bisa kamu jangan banyak tanya?" sentak Farizan.
"Griz!"
Perhatian Griz teralih. Dia melihat mamanya berdiri di ujung tangga sambil membawa koper. Dia yakin, isi koper itu barang-barang berharga. Griz seketika berdiri dan mendekati mamanya. "Ma. Beneran kita bangkrut?"
Soraya mengangguk. Dia menarik anaknya ke dalam pelukan kemudian terisak. "Bener, Griz. Kita bangkrut," ujarnya. "Mama sama papa bakal usahain buat kembaliin semuanya."
Sekujur tubuh Griz terasa lemas. Berita ini benar-benar membuatnya ketakutan.
"Kami pinjam dulu barang-barangmu." Soraya melepas pelukan lalu menepuk lengan Griz. "Tolong, Griz."
Griz mengangguk. Dia menaiki tangga dengan langkah gontai. Pandangannya seketika tampak kosong. Dia khawatir, hidupnya benar-benar berubah dan semuanya hancur. Selama ini dia tidak pernah berpikir menjalani hidup yang berbeda.
Sampai di kamar, Griz membuka brankas yang berada di bagian bawah lemari. Dia membukanya dan melihat beberapa uang dan perhiasan yang dia gunakan untuk investasi. Kemudian dia mengambil beberapa buku tabungan dan melihat nominalnya.
"Ada, Griz?" Soraya berdiri di depan pintu dan melihat anaknya yang duduk dengan kepala tertunduk itu. "Nggak apa-apa, Griz. Semuanya pasti balik lagi kayak dulu."
Griz mengangkat brankasnya dan menyerahkan ke mamanya. "Beneran hidup kita bakal kayak sebelumnya, kan, Ma?"
"Mama sama papa pasti bakal usahain."
Kaki Griz seketika terasa lemas. Dia berjongkok kemudian memeluk tubuhnya sendiri.
Griz tidak bisa membayangkan hidupnya akan seperti apa. Apa mungkin dia masih bisa mengendarai mobil kesayangannya? Apa dia masih bisa fashionable dan selalu terlihat keren? Apa orang-orang akan tetap mengagumi Griz? Atau justru akan memaki karena penampilannya yang pasti berbeda?
"Gue nggak mau!" jerit Griz dengan kencang. "Kasih tahu kalau ini mimpi!"
***
Pagi ini Griz masih bisa mengendarai mobil sport-nya. Dia masih bisa memakai pakaian baru dan tas koleksi kesayangannya. Namun, itu tidak membuatnya tenang. Dia khawatir apa yang sudah dia miliki menjadi hilang.
Griz membelokkan mobil menuju kantor dengan tangan sedikit bergetar. Dia melihat bagian lobi lebih ramai dari biasanya. Kekhawatirannya semakin bertambah, dia takut akan terjadi kekacauan.
"Bu Griz...." Beberapa orang ada yang memanggilnya.
Griz memarkirkan mobil di basement kemudian segera menuju lobi. Dia melihat beberapa orang berpakaian serba hitam tampak berbincang dengan rekanya. Dia mengedarkan pandang, karena beberapa karyawan berumpul di sana.
"Bu Griz...." Seorang lelaki yang mengenakan kemeja putih mendekat.
Refleks Griz bergerak mundur. Firasatnya mengatakan jika orang itu akan memberinya kabar buruk. Dia berbalik ingin kabur, tapi ada banyak karyawan yang seperti mengepungnya.
"Di mana Pak Farizan?"
"Nggak tahu!" Griz menggeleng tegas. "Kalian sudah cek di ruangannya?"
"Ruangan Pak Farizan telah kosong."
Bola mata Griz membulat. Apa papanya kabur dan tidak mengajaknya? Griz menggeleng tegas, tidak ingin berpikiran seperti itu. "Anda siapa?" Griz berdiri tegak dan mencoba untuk terlihat percaya diri seperti sebelumnya.
"Lebih baik Ibu baca ini."
Griz melihat sebuah map putih yang disodorkan. Dia membuka berkas itu lalu matanya kembali membulat. Perusahaan papanya memiliki utang dan sudah jatuh tempo. Sekarang perusahaan itu akan diambil alih ke pemegang saham yang lain.
"Minggu depan saya akan mengadakan rapat untuk mengatur ulang sistem perusahaan."
"Nggak bisa!" Griz menutup berkasnya dengan kasar. "Ini perusahaan papa saya. Jangan seenaknya."
"Tapi bukan perusahaan papa Anda lagi. Baca perjanjian itu baik-baik."
Napas Griz tercekat. Dia mengedarkan pandang melihat para karyawan yang menatapnya itu. "Kalian tenang aja."
"Kerjaan kami gimana, Bu?" Para karyawan mulai protes.
Griz menarik napas panjang lalu menatap lelaki di depannya. "Tidak ada formasi ulang tentang karyawan, kan?"
Lelaki di depan Griz mengambil berkas lain. Setelah itu menunjukkan lagi. "Tidak ada. Tapi pengecualian pihak keluarga Pak Farizan."
"Apa-apaan!" Griz tidak terima. Itu artinya dia harus keluar dari perusahaan? Setega itu?
"Silakan bereskan barang-barang Ibu."
Griz menyugar rambutnya ke belakang. Mendadak kepalanya pening. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Sedangkan papanya tiba-tiba menghilang tanpa pesan apapun.