"Ini ke mana, sih?" Griz mengemudi mengikuti mobil hitam di depannya. Dia tahu di mobil itu ada Ravin.
Setelah tahu informasi dari Andrik, Griz langsung bergegas ke tempat party waktu itu. Dia berusaha mencari, tapi tidak ada Ravin. Hingga akhirnya dia memilih menunggu. Tak lama kemudian Ravin keluar bersama dua orang bodyguard.
Griz masih mengikuti mobil yang terus melaju itu. Entah mereka sebenarnya mau ke mana karena sejak tadi hanya berputar-putar. Griz tetap menjaga jarak dan dia yakin tidak menimbulkan kecurigaan.
"Ck!" Griz berdecak karena mobil hitam itu berbalik arah. Dia menekan lampu sen kemudian ikut berbalik.
Tiba-tiba, mobil itu berhenti di pinggir jalan. Griz terlihat bimbang apakah ikut berhenti atau lebih baik langsung lewat begitu saja. Akhirnya, dia memilih untuk melewati mobil itu.
"Loh...." Griz kebingungan karena mobil itu sekarang mengikutinya. "Ah! Sial!" Dia memukul kemudi kemudian mengacak rambut. Sekarang dia sadar, jika Ravin hanya mengerjainya.
Griz akhirnya menepikan mobil di bahu jalan. Jika ini terus dilanjut, pasti tidak akan selesai. Ravin pasti akan semakin puas menertawakannya.
"Udah puas?" Tiba-tiba suara Ravin terdengar.
Kedua tangan Griz mencengkeram kemudi. Dia menoleh, melihat Ravin yang berdiri di samping mobilnya. Lelaki itu terlihat tersenyum puas, membuat Griz kian marah.
Ravin menunduk, menyejajarkan wajahnya dengan Griz. "Nggak menyerah?" tanyanya sambil menyibak anak rambut Griz ke belakang.
Griz terdiam, fokus menatap lelaki tampan di depannya. Sebenarnya dia sangat marah, tapi rasa itu dikalahkan oleh keinginannya.
"Ngapain ngikutin saya?" tanya Ravin sambil berdiri tegak. "Anda pikir saya bodoh?"
"Kalau tahu kenapa nggak langsung berhenti?" Griz duduk bersandar sambil menatap langit bertabur bintang.
"Saya tadi berhenti."
"Terus ganti ngikutin." Griz mendorong lengan Ravin. "Nyebelin."
Ravin memperhatikan Griz yang sedang mengatur napas itu. Tangannya terangkat lalu menjitak kepala wanita itu.
"Aw!" Griz refleks duduk tegak. Dia melotot melihat Ravin yang tersenyum puas.
"Sana pulang. Jangan ngikutin saya!" Ravin mundur selangkah.
Tin....
Tubuh Ravin langsung berjingkat. Dia maju selangkah lalu menatap pengendara motor yang melaju cukup kencang. "Gara-gara Anda saya hampir tertabrak."
Griz menahan tawa. Dia sempat melihat seorang Ravin yang tampan bisa berjingkat kaget. "Nggak laper?"
"Nggak usah modus. Sana pulang!"
"Temenin makanan." Griz menarik tangan Ravin dan menatapnya dengan senyum manis.
Satu alis Ravin tertarik ke atas. Dia heran melihat tingkah Griz yang tiba-tiba menjadi manis itu. "Ah! Berusaha membujuk?"
Griz menarik tangan Ravin semakin dekat. Sayangnya, lelaki itu langsung menyentaknya begitu saja. Griz mendengus karena Ravin antipati. "Ya udah kalau nggak mau. Nggak usah kasar."
"Emang saya nggak mau," jawab Ravin sambil menahan tawa. "Sana pulang. Ngejar lelaki harus tahu diri."
Griz mendengus. Dia mulai menyalakan mesin mobil dan menekan klakson penuh. Setelah itu dia melajukan mobil meninggalkan Ravin.
Di posisinya, Ravin geleng-geleng melihat tindakan itu. Dia lantas berbalik dan kembali ke mobilnya. "Ingat baik-baik wajah wanita gila itu," pesannya ke dua bodyguard-nya. "Kalau dia muncul, kalian harus waspada."
"Baik, Pak."
Ravin duduk bersandar saat mobil kembali melaju. Dia memijit pelipis sambil menghela napas berat. Perjalanan pulang yang seharusnya ditempuh waktu tiga puluh menit, kini menjadi lebih dari satu jam. Itu semua karena wanita gila bernama Griz.