10-Paling Keras Kepala

646 Words
Seharian, mood Griz tidak bagus. Jelas, ini semua karena Ravin. Lelaki itu benar-benar membuatnya marah. Dia tidak habis pikir, Ravin benar-benar menolaknya. "Aah! Sial!" Griz mengacak rambut frustrasi. Dia mengambil botol minuman dan menuangkan ke gelas kecil. Setelah itu meminumnya sambil memejamkan mata. "Ada masalah?" Griz membuka mata dan mendapati Andrik. Dia meletakkan gelas bening itu kemudian menyangga kepala. "Jangan ganggu gue!" Andrik menahan tawa. Dia mengambil botol di depannya dan menuangkannya ke gelas Griz. "Lo kelihatan patah hati," ujarnya. "Mantan pacar lo punya cewek lagi?" "Seorang Griz nggak pernah mikirin mantan." Griz menegak minumannya lalu melipat kedua tangan di depan d**a. Matanya menyorot tajam, menganggap di depannya ada seorang Ravin yang sok ganteng. "Terus? Apa yang bikin lo uring-uringan?" Andrik menatap rambut Griz yang mulai berantakan. Padahal, Griz selalu ingin tampil rapi. Jika hal itu terjadi, pasti Griz sedang memikirkan sesuatu hingga membuat frustrasi. Griz sedang memikirkan cara untuk membalas perbuatan Ravin. Lelaki itu sangat cerdik dan dia harus menggunakan cara cerdik pula. Mengancam Ravin jelas percuma, pasti lelaki itu akan mengancamnya balik. "Lo tahu, gue bisa diandalkan," ujar Andrik kala tidak mendapatkan jawaban. Refleks Griz menatap Andrik. Lelaki itu seorang influencer dan punya banyak kenalan. Kemudian dia ingat saat Andrik semalam juga mengisi salah satu acara ulang tahun kolega papanya. "Lo kenal Ravin?" tanyanya sambil memajukan tubuh. Andrik menahan napas karena tindakan tiba-tiba itu. Dia mencium aroma wangi yang menguar dari rambut berantakan Griz. Andrik memejamkan mata sejenak kemudian mulai menguasai diri. "Ravindra Axelle?" "Tahulah. Gue nggak tahu persis." Jelas Griz bohong. "Gue pernah ngisi cara ulang tahunnya." "Serius?" Ekspresi Griz kembali bersemangat. Dia menarik pundak Andrik dan meremasnya pelan. "Di mana? Lo tahu tempat tinggalnya?" Andrik mengernyit, terlebih ekspresi Griz berubah total. "Lo tertarik?" "Yang bener aja!" Griz mendorong pundak Andrik. Dia kembali menatap depan dan mencoba terlihat biasa saja. "Akhir-akhir ini gue denger namanya aja." "Oh...." Andrik terlihat percaya-percaya saja. "Gue nggak tahu rumah dia di mana. Dia tertutup soal itu." Kedua tangan Griz terkepal. "Tongkrongan dia?" "Tempat kita party kemarin," jawab Andrik. "Gue sering ketemu dia di situ." Sudut bibir Griz tertarik ke atas. Dia berdiri lalu menepuk pundak Andrik. "Gue harus balik. Habisin minuman gue." "Griz!" Andrik berusaha menahan tapi Griz tetap pergi. Griz kembali bersemangat setelah seharian murung. Dia kembali memiliki ide untuk mendekati Ravin. "Kalau gue lagi pengen sesuatu, nggak ada yang bisa hentiin keinginan gue selain gue sendiri." *** Ruangan temaram itu terasa tenang dengan musik instrumental. Seorang lelaki duduk menghadap tablet. Di mejanya penuh dengan beberapa cemilan dan minuman mahal. Namun, lelaki itu tampak tidak menikmati suasana dan tetap bekerja. "Ehm...." Ravin merasa tenggorokannya kering. Dia mengambil minuman berbotol hitam dan menegaknya pelan. Setelah itu bersandar dan mengedarkan pandang. Ruang VIP itu Ravin pesan sendiri. Musik pengiring yang seharusnya menghentak, dia ubah menjadi musik instrumental. Inilah cara Ravin untuk mengubah rasa suntuknya. Dia tidak bisa terlalu bersenang-senang sedangkan banyak pekerjaan yang menunggunya. Yah, bagi Ravin pekerjaan adalah hal utama. Ravin berdiri saat menyadari sudah berdiam diri terlalu lama. Dia membereskan pekerjaannya kemudian keluar dari ruangan. Dua orang bodyguard langsung mendampinginya keluar. "Kalian yang nyetir!" Ravin melempar kunci mobilnya yang langsung ditangkap oleh bodyguard-nya yang mengenakan kaus lengan panjang. Sampai mobil, Ravin duduk bangku belakang. Dia duduk bersandar sambil memejamkan mata. Hari ini terasa melelahkan, padahal dia menjalani rutinitas seperti biasa. Apa karena Ravin menghadapi wanita itu? Sepertinya iya. Ciit.... Ravin membuka mata karena mobil berhenti mendadak. Dia hendak protes tapi bodyguard-nya melajukan mobil cukup kencang. "Kenapa, sih?" sentaknya. Dia paling tidak suka jika si pengemudi seenaknya. "Sepertinya ada mobil yang mengikuti, Pak." Refleks Ravin menoleh ke belakang. Dia melihat mobil sport berwarna merah. Dia mengernyit, mencoba melihat si pengemudi. Setelah beberapa saat, Ravin menyadari si pelaku. "Jangan ke rumah! Putar-putar saja sesuka kalian." "Baik, Pak." Ravin kembali duduk dengan senyum mengembang. Griz tak gencar mendekatinya. Bahkan setelah dia menjelek-jelekan wanita itu. "Keras kepala."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD