Satu jam Griz menunggu, tapi lelaki tampan itu belum juga muncul. Dia berdiri di depan jendela sambil tersenyum samar. Dari pantulan di kaca, dia mendapati para karyawan tengah memperhatikannya. Mereka tidak berani mengusir, setelah tahu dia seorang Griz. Sepertinya mereka takut jika Griz memberi review restoran dengan buruk. Ditambah, belum ada keputusan dari atasan mereka.
"Pak, kapan wanita itu pergi?" Beberapa karyawan terlihat takut dengan kedatangan Griz.
Griz berbalik dan membuat karyawan itu seketika terdiam. Dia menuju meja dekat kasir kemudian mengeluarkan ponsel. "Gimana kata bos kamu?"
Manajer Restoran tidak menjawab. Dia berada di dua pilihan, antara mengusir wanita itu atau membiarkannya saja. Namun, sejak tadi dia ingin mengusir wanita itu tapi belum mendapat aba-aba. Di satu sisi dia juga takut kepada Ravin yang sangat tegas itu.
"Siapa yang buat kekacauan?" Tiba-tiba terdengar suara dari pintu depan.
Sontak Griz berbalik. Dia mendapati wanita dengan terusan kuning pucat berdiri di depan pintu. Griz melongok, tapi tidak mendapati lelaki yang dia cari. "Ah! Dia benar-bener menguji kesabaran."
Azkia mendekat. Dia tersenyum sopan, tahu siapa Griz sebenarnya. "Maaf Bu Grizelle, jangan berbuat macam-macam di tempat ini."
"Kamu pikir saya preman?" Griz menunjuk dirinya sendiri. Tanpa dia ketahui, beberapa karyawan di belakangnya mengangguk.
Griz memasukkan ponsel di tas kemudian menyampirkan tas itu di pergelangan tangan. "Saya mau ketemu bos kamu."
"Tapi Pak Ravin tidak akan menemui Anda," jawab Azkia dengan tajam tapi tetap terdengar sopan. Dia sangat tahu Griz, anak dari perusahaan otomotif yang sering dibicarakan karena kesempurnaan fisiknya. Griz terlihat sangat percaya diri dan tidak peduli kata orang. Namun, menurut Azkia wanita itu selalu bertindak diluar kendali.
"Biar saya bicara sendiri dengan bos kamu." Griz menghadapkan telapak tangan ke atas, tapi dia justru membuang muka.
Azkia tersenyum samar. "Saya tidak akan membiarkan Anda tahu nomor bos saya."
"Hemmp...." Karyawan di belakang Griz menahan tawa.
Griz berbalik dan orang-orang itu langsung terdiam. Dia lalu menatap Azkia, merasa wanita itu sudah menginjak harga dirinya. "Saya bisa cari tahu sendiri tanpa bantuan kamu." Griz berdiri tegak kemudian melewati Azkia begitu saja.
Azkia tersenyum samar. Sedangkan karyawan lain langsung tersenyum lega. "Kalian nggak perlu takut ke dia," ujarnya sambil berjalan mendekat. "Kalau dia datang lagi, langsung usir saja."
"Baik, Bu." Semua karyawan tersenyum sopan.
Sedangkan di luar, Griz duduk di balik kemudi dengan wajah sebal. Dia tidak tahu siapa wanita tadi, tapi sepertinya wanita itu dididik untuk tangguh. Terbukti, dia tidak takut dengan wajah penuh ancaman Griz.
"Sial! Gue harus tahu tuh cowok tinggal di mana!" Griz mencengkeram kemudi kemudian melajukan mobil meninggalkan restoran.
***
Pukul sembilan malam, Ravin baru keluar dari kantor. Dia melihat mobil hitamnya telah menunggu di depan lobi. Kemudian ada seseorang yang menyerahkan kunci mobilnya. Dia menerima benda itu kemudian masuk ke bangku kemudi.
Ravin terbiasa mengemudi saat berangkat atau pulang kantor. Jika, dia akan pergi meeting barulah dia mengajak sopir karena dia harus memeriksa berkas. Barulah saat dia merasa begitu lelah dia minta sopir mengantarkannya pulang.
Drtt.... Ponsel di saku jas Ravin bergetar. Dia merogoh saku kemudian mengeluarkan ponsel. Dia mendapati pesan Azkia yang memberi tahu jadwalnya untuk esok hari.
Ravin kemudian teringkat dengan wanita yang tiba-tiba datang ke restorannya. Dia menekan tombol hijau dan menghubungi.
"Selamat malam, Pak," suara Azkia terdengar lelah.
"Masalah di restoran gimana?" Ravin menekan tombol loudspeaker kemudian meletakkan ponsel di dashboard.
"Sudah saya tangani, Pak."
Ravin mengembuskan napas lega. "Apa yang sudah wanita itu perbuat?"
"Tidak banyak. Hanya menunggu kedatangan Pak Ravin."
"Gila," gumam Ravin. "Oke! Saya nggak mau lagi ada yang mengadu tentang wanita itu. Kamu harus atasi."
"Baik, Pak."
Ravin mengambil ponsel dan mematikan sambungan. Sudut bibirnya tertarik ke atas, ingat dengan wanita angkuh itu. Di luar sana banyak yang mengaku menjadi pacarnya, tapi dia tidak percaya wanita itu juga mengaku menjadi pacarnya juga.
Grizelle Zafira, nama itu sering terdengar di telinga Ravin. Terlebih saat berkumpul dengan teman-temannya. Banyak yang memuji kecantikan Griz. Wanita itu memang angkuh, tapi banyak yang bilang jika itulah pesonanya. Banyak lelaki yang berusaha mendekati Griz, tapi wanita itu pilih-pilih.
"Wanita yang kalian cinta ternyata tipe yang mengejar seorang lelaki, dengan cara tidak elegan," gumam Ravin dengan senyum samar.