6-Dibuat Penasaran

570 Words
Ruang makan itu tampak sepi dan gelap, bahkan seluruh ruangan di lantai satu seperti itu. Namun, wanita dengan gaun tidur berwarna merah marun itu duduk di ruang makan. Dia terlihat tidak takut, justru tampak menikmati cokelat panasnya. "Harus pakai cara apa biar dia nemuin gue?" Griz bertopang dagu sambil memikirkan cara untuk bertemu Ravin. "Dari banyaknya lelaki yang gue temui, kenapa gue baru ketemu dia sekarang? Apa sebelumnya dia sembunyi?" Griz mengambil ponsel dan mengecek artikel tentang Ravin. Ravin lahir di Jakarta tanggal 3 Februari 1991. Lelaki itu sempat kuliah di Amerika kemudian kembali ke Jakarta dan membuka bisnis. Tidak banyak berita tentang percintaan Ravin. Sepertinya lelaki itu menutup rapat kehidupan pribadinya. "Dan gue semakin penasaran sama kehidupan dia." Griz tersenyum samar. Ketika seorang Grizelle penasaran, tidak ada seorangpun yang bisa menghentikan. Griz melihat artikel yang memberi tahu tentang daerah kantor Ravin. Dia tersenyum, membayangkan rencana esok hari akan seperti apa. *** Datang ke kantor lebih pagi dan pulang paling akhir adalah kebiasaan Ravin. Dia memang tidak mau kehilangan waktu sedikitpun. Baginya, waktu adalah sesuatu yang paling berharga, terlebih bagi seorang pebisnis. Sekarang masih pukul tujuh, tapi Ravin sudah duduk di balik meja kerjanya. Dia membuka kopi kemasan dan menyeruputnya pelan. Sebelum memulai bekerja, dia butuh asupan gula dan kafein apalagi di saat perutnya kosong. "Permisi Pak Ravin." Ravin mengangkat wajah, melihat seorang satpam yang berdiri di depan ruangan. "Di bawah ada wanita yang mencari Bapak." Tubuh Ravin seketika menegang. Tiba-tiba pikirannya tertuju ke satu nama, Griz. Ravin menggeleng, tidak yakin wanita itu benar-benar datang apalagi sekarang masih pagi. Di matanya, Griz adalah wanita pemalas yang sering bangun siang. "Pak. Apa Bapak bisa menemui?" tanya Satpam itu kala tidak mendapat jawaban. "Kalau dia tidak mau menemui biar saya yang menemui." Ravin refleks berdiri. Dia melihat wanita dengan setelan ungu muda dan memakai kacamata cokelat. Wanita itu melipat kedua tangan di depan d**a dengan gayanya yang khas. "Bu. Tadi saya minta menunggu di bawah!" Satpam itu mendekat hendak menarik Griz menjauh. Tangan Griz seketika terangkat. "Berani kamu pegang-pegang saya?" "Ck!" Ravin terdecak melihat tingkah Griz. "Biar saya yang urus!" Griz tersenyum puas. Dia memperhatikan Ravin yang berdiri di balik meja kayu. Dia mendekat hingga berdiri beberapa langkah dari lelaki itu. "Good morning," sapanya sambil melepas kacamatanya. Ravin hanya memiringkan kepala, ingin melihat apa yang diinginkan wanita itu. Dari gayanya, Griz tipe wanita yang tidak memiliki rasa malu. "Ruangan Anda luas dan nyaman." Griz mendekati Ravin sambil memperhatikan sekitar. "Ah, sayang sekali pemandangan sebagus itu harus dipunggungi." Ravin menarik tangan Griz saat wanita itu hendak mendekati jendela. "Ngapain?" Griz menunduk, melihat tangan besar yang mencengkeramnya. Dia menarik tangan Ravin tapi lelaki itu tidak serta merta melepaskan. "Saya ingin menemui Anda," ujarnya. "Ingat, kan, kalau saya tertarik dengan Anda?" Wajah Ravin mengeras. "Anda akan menyesal." Dia lalu menarik pinggang Griz mendekat. "Siap untuk menyesal?" "Saya lebih suka menyesal daripada dibuat penasaran." Griz menepuk pundak Ravin dengan pelan. Ravin memperhatikan wanita yang tidak ketakutan mendengar ancamannya itu. Padahal, nada suara yang agak dalamnya membuat orang lain langsung ketakutan. Entah, wanita di depannya memang berani atau hanya memiliki pertahanan yang bagus. "Saya bisa sakitin kamu," ujar Ravin sambil memajukan wajah. Griz tidak mundur sedikitpun. Dia bahkan bergerak pelan hingga hidungnya menyentuh hidung Ravin. Kemudian kedua tangannya melingkar ke leher lelaki itu. "Kamu sudah tahu siapa saya?" "Hmm...." Ravin semakin memajukan wajah. Dia melihat mata Griz mulai terpejam. Ravin memiringkan wajah kemudian tangannya terangkat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD