7-Rencana Mengejar

756 Words
"Hmm...." Ravin semakin memajukan wajah. Dia melihat mata Griz mulai terpejam. Ravin memiringkan wajah kemudian tangannya terangkat. Pletak.... "Sialan!" Griz refleks mundur setelah mendapat jitakan kencang. Dia menutup kening dengan kedua tangan lalu menatap Ravin. Lelaki itu menatapnya dengan tajam tanpa senyum sedikitpun. Ravin memperhatikan Griz yang terlihat marah. Dia yakin, wanita itu pasti kesakitan dengan jitakannya. Dia sengaja melakukan itu agar Griz berhenti mengganggu. "Anda bisa pergi sekarang." Ravin menggerakkan tangan ke arah pintu. Griz tidak merespons. Dia tetap menatap Ravin dengan tatapan marah. Ini pertama kalinya ada seseorang yang menjitaknya. Dari kecil hingga dewasa, dia tidak pernah dipukul, dicubit atau apapun yang berhubungan dengan kekerasan fisik dari orang lain. "Sakit?" tanya Ravin kala Griz tetap diam. "Menurut Anda?" Griz mengusap kening kemudian mengambil kaca dari tas slempangnya. Dia melihat keningnya mulai memerah. Ravin terlihat puas melihat kening Griz yang memerah itu. Dia yakin, nanti malam kening itu pasti bengkak. "Saya minta ganti rugi!" ujar Griz setelah melihat keningnya benar-benar memerah. "Kirim tagihan dokter ke saya." Ravin kembali duduk dan menyeruput minumannya. Griz mendekat dan merebut minuman itu. Dia menatap tajam saat melihat Ravin hendak marah. "Anda pikir saya nggak mampu?" "Saya nggak bilang gitu." Ravin mendorong pinggang Griz. Namun, wanita itu selalu kembali berdiri di dekatnya. "Saya bisa bayar sendiri." "Baguslah." Kedua tangan Griz terkepal. Dia melirik ke meja kerja Ravin dan melihat ponsel lelaki itu yang tergeletak. Dia mengambil ponsel itu dan berlari menjauh. "Nggak sopan!" Ravin berdiri dan berlari mengejar. Griz menekan nomor ponselnya dan menekan tombol hijau. Saat mendengar nada sambung dia mematikan panggilan itu dan berbalik. Dia terdiam, melihat Ravin yang berdiri di depannya. Ravin mengambil ponsel yang diambil oleh Griz itu. "Nggak pernah diajari sopan santun?" "Enggak." Griz menjawab sambil menggeleng. Dia melirik dan menyadari posisinya yang bersandar di tembok. Sedangkan Ravin berdiri di depannya dan belum ada tanda-tanda lelaki itu akan menyingkir. Ravin terlihat mengecek ponsel dan melihat sebuah nomor di panggilan tertas. Dia lalu menatap Griz dengan tajam. "Berharap dapat nomor telepon saya?" "Apapun yang saya inginkan pasti terwujud," jawab Griz dengan santai. "Save." "Nggak akan!" Ravin mengantongi ponsel lalu tangannya terangkat. Griz refleks melindungi kepala. Dia tidak ingin Ravin menjitaknya lagi. "Sakitnya aja belum ilang. Mau tambahin?" Ravin memiringkan wajah. Dia menarik tangan Griz lalu mendorong kening itu hingga belakang kepala Griz membentur tembok. "Balasan atas tindakan lancangmu." Setelah mengucapkan itu Ravin kembali ke ruangan. "Sial...." Griz menyentuh belakang kepala. Pandangannya kemudian tertuju ke Ravin yang menutup pintu kaca itu dan menguncinya dari dalam. Griz tersenyum puas, setelah menyadari berhasil mendapatkan nomor telepon Ravin. Griz mengambil ponsel dan melihat panggilan tidak terjawab. Dia menekan nomor itu kemudian menyimpannya. Barulah setelah itu dia menghubungi. Drttt.... Ponsel di genggaman Ravin bergetar. Dia mengangkat benda itu kemudian berbalik. Di depan pintu, dia melihat Griz tengah memegang ponsel sambil melambaikan tangan. Ravin menghadapkan ponsel ke Griz lalu menolak panggilan itu. "Saya cuma mau bilang, saya mau pamit!" teriak Griz tapi tidak ditanggapi. "Bye, Ravin!" Setelah mengucapkan itu Griz berjalan menjauh. Ravin tetap menatap pintu hingga melihat wanita itu berbelok ke lorong. Dia berjalan menuju meja kerjanya kemudian memijit pelipis. Baru kali ini dia menyesal datang pagi. Apalagi bertemu dengan wanita gila itu. *** Griz: Biasanya nongkrong di mana? Griz mengirimkan pesan itu ke Ravin. Dia meletakkan ponsel lalu menyangga dagu. Perlahan bibirnya tertarik ke atas, puas telah mendapatkan nomor telepon Ravin. Usai dari kantor Ravin, Griz bergegas ke kantor. Dia mengecek pekerjaannya kemudian mengirimkan pesan ke Ravin. Entahlah, Griz senang saja mengirimi lelaki itu pesan. "Permisi Bu Griz." Perhatian Griz teralih. Dia melihat seorang wanita sambil mendekap berkas. Seketika Griz mengubah ekspresinya agar terlihat serius. "Ya...." "Ini ada berkas yang harus Ibu cek." "Thanks." Griz mengambil map merah itu dan mulai memeriksanya. Sudah empat tahun Griz bekerja di kantor papanya. Sekarang, dia mendapat posisi sebagai manager. Tentu awalnya dia tidak langsung mendapat tempat itu, meski sebenarnya dia bisa membujuk papanya agar menempati posisi tertinggi. Namun, dia ingin bekerja sesuai dengan kemampuannya. Setelah menyelesaikan studi magistranya barulah dia belajar untuk mengisi posisi manager. Baru beberapa bulan yang lalu dia menjadi seorang manager. Dia menjuluki dirinya sendiri sebagai manager cantik. Karena sebelum-sebelumnya posisi manager diisi seorang lelaki yang sudah cukup berumur. Drtt.... Fokus Griz seketika terpecah saat mendengar getar ponsel. Dia mengambil benda itu dan melihat pesan masuk dari grup party-nya. Griz mengembalikan ponsel tanpa membaca pesan yang sudah berisi ribuan itu. "Gue pikir dari Ravin," gumamnya sambil kembali mengecek pekerjaannya. "Gue masih penasaran ke lo Ravin. Gue bakal terus ganggu lo sampai gue bosen."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD