8-Modal Nekat

811 Words
Rooftop salah satu hotel itu seperti sengaja di booking khusus untuk acara ulang tahun. Melihat beberapa wanita dan pria yang berpakaian rapi, jelas itu bukan ulang tahun sembarang orang. Ditambah, hadiah yang berjajar dengan merek ternama. Malam ini, Ravin menghadiri ulang tahun salah satu kliennya. Sebenarnya dia terlalu malas menghadiri acara ulang tahun, tapi dia ingat dengan bisnis yang berjalan baik dengan kliennya itu. Karena itulah sekarang dia duduk bersama klien lainnya. "Pak Ravin mau minum?" Azkia menatap atasannya yang sejak tadi terdiam itu. Ravin menggeser gelasnya ke Azkia. Setelah itu mendengarkan cerita kliennya yang ingin melebarkan bisnisnya hingga ke luar negeri. Ravin ingin menyela, tapi dia jauh lebih muda daripada klien yang lain. "Silakan, Pak." Azkia meletakkan gelas berisi cairan berwarna merah gelap itu. Tanpa suara, Ravin menyeruput minumannya. Dia menatap ke arah panggung, melihat si pembawa acara yang mengenakan setelan rapi berwarna abu-abu. "Selamat malam semuanya." Suasana yang sebelumnya sedikit ramai kini mendadak hening. Para tamu undangan menatap ke arah panggung. "Saya Andrik, malam ini saya berugas pemandu acara." Ravin menatap ke arah lain. Dia sedang mencari celah untuk pergi tanpa harus menyapa kliennya yang lain. Dia menatap ke pintu dan melihat beberapa tamu undangan yang berdatangan. Hingga dia melihat seorang wanita dengan setelan kantor berwarna ungu. "Sial!" Ravin membuang muka. "Dia diundang juga?" Azkia menoleh mendengar gerutuan bosnya itu. "Ada yang bisa saya bantu, Pak?" Tangan Ravin terangkat meminta sekretarisnya ituntidak banyak bertanya. Dia menoleh ke arah kiri dan melihat seseorang itu mengobrol. Ravin kemudian melihat beberapa kliennya fokus menatap panggung. Perlahan Ravin berdiri dan berjalan menuju pintu. Dia sengaja tidak menoleh ke tempat Griz. Dia yakin, wanita itu pasti akan mendekatinya. "Huh...." Ravin mengembuskan napas lega setelah berhasil keluar. Dia berjalan menuju lift dengan langkah lebar. "Anda juga di sini?" Langkah Ravin seketika terhenti. Dia berbalik, melihat wanita dengan setelan ungu berdiri di dekat pintu. Ravin segera berbalik dan mempercepat langkah. Azkia yang melihat Griz langsung mendekat. "Mohon maaf." Griz menatap Azkia yang menghalangi langkahnya itu. Dia berbalik, pura-pura kembali tapi dia segera menerobos Azkia dan berlari mengejar Ravin. "Tunggu, Ravin." Mendengar suara itu, Ravin menekan tombol tutup. Dia berharap pintu itu tertutup sebelum kedatangan Griz. Dewi Fortuna berpihak ke Ravin. Pintu lift tertutup sebelum Griz berhasil mencegah. Namun, dia sempat melihat Ravin yang tersenyum puas. "Dia emang beda." "Tolong jangan ganggu Pak Ravin." Griz seketika menoleh. Dia mendapati wanita yang kemarin menemuinya di restoran. Perlahan Griz mendekat kemudian berdiri di depan Azkia. "Asistennya?" Azkia merasa aura Griz memang mengancam, tapi dia tidak ingin terlihat kalah. "Saya Azkia. Sekretaris Pak Ravin." Kemudian dia mengulurkan tangan. Respons Griz hanya melirik tangan itu. "Baguslah. Kamu bukan siapa-siapanya Ravin." Setelah mengucapkan itu dia berbalik dan memencet tombol lift. Ternyata menghadapi Griz semenyebalkan ini. Azkia menghentakkan kaki kemudian mendekati lift. Griz berjalan masuk dan berdiri di sebelah kiri. "Sial harus ketemu dia di saat penampilan gue kayak gini." Azkia melihat pantulan dirinya dan Griz di pintu lift. Wanita itu masih terlihat cantik dengan setelan berwarna ungu muda. Kaki Griz terlihat jenjang karena rok span di atas paha. Belum lagi rambut Griz masih terlihat rapi. "Makanan favorit bosmu?" Griz bertanya, tapi terkesan acuh tak acuh. Dia tidak ingin terlalu memperlihatkan jika dia penasaran. Sudut bibir Azkia tertarik ke atas. "Saya tidak tahu." "Berarti kamu asisten yang kurang perhatian ke bosnya." Griz menatap Azkia dengan senyum lebar. Setelah itu dia menatap depan dengan dagu terangkat. "Beneran nggak tahu?" "Kalaupun saya tahu, saya tidak akan memberi tahu Anda." Azkia menatap Griz dengan senyum mengejek. Griz berdiri tegak lalu mengibaskan rambutnya ke belakang. "Saya nggak benar-benar tanya. Saya cuma ngetes kamu." Azkia membuang muka sambil menahan tawa. Tindakan itu ternyata tidak luput dari pandangan Griz. Dia bersyukur karena pintu lift yang mengkilat itu. "Kenapa Anda tiba-tiba mendekati bos saya?" tanya Azkia sambil menatap Griz penasaran. Griz menghadap Azkia. Senyumnya kembali mengembang dan matanya sedikit berbinar. "Karena bos kamu bikin saya penasaran." "Cuma itu?" selidik Azkia. "Jangan permainkan bos saya." "Ya ampun!" Griz menutup mulut dengan jemari letiknya. Setelah itu dia menggeleng pelan sambil menggerakkan jari telunjuk. "Kamu terlihat tidak perhatian ke bosmu tapi tiba-tiba sok perhatian. Kepribadianmu yang mana?" "Saya perhatian ke bos saya." "Masa?" tanya Griz tidak percaya. "Kamu terlihat tidak perhatian. Lebih tepatnya kamu hanya menjalankan perintah." Kedua tangan Azkia terkepal. Sekarang dia tahu mengapa banyak perempuan yang tidak menyukai Griz, karena wanita itu bermulut pedas. Dia heran saja mengapa banyak lelaki yang mengidam-idamkan wanita di depannya. "Kenapa diam? Saya benar, kan?" Griz terlihat sangat puas. Tring.... Griz menepuk pundak Azkia kemudian melangkah lebih dulu. Azkia ikut berjalan keluar. Dia melihat postur tubuh Griz yang seperti model. Bahkan cara jalan wanita itu seolah-olah sedang di catwalk. "Saya benar-benar perhatian ke bos saya!" "What ever!" Griz hanya menggerakkan tangan sambil terus melangkah. Griz tersenyum kecil. Merasa, semesta dengan sendirinya mempertemukannya dengan Ravin. Griz yakin, apa yang menjadi keinginannya pasti akan terwujud.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD