Drtt....
Getar ponsel itu terdengar cukup kencang, memecah keheningan ruang makan. Seorang lelaki bertelanjang d**a yang duduk sambil memegang botol itu melirik ke ponsel. Terlihat satu pesan masuk, tapi dia lebih fokus melihat jam yang tertera. Masih pukul sebelas lebih tiga puluh, belum terlalu larut bagi seorang Ravin.
Ravin mengangkat minuman dan menegaknya dengan pelan. Dia lalu menatap depan dengan pandangan menerawang. Setelah pertemuan dengan papanya, hatinya selalu tidak tenang. Dia terbayang saat masih tinggal bersama papanya tapi seperti hidup sendiri.
Roish seorang pekerja keras. Dia berangkat pagi dan pulang selalu larut. Saat di rumahpun Roish masih menyempatkan waktu untuk memeriksa pekerjaannya. Bahkan saat sarapanpun sambil disambi dengan bekerja. Bahkan Ravin ingat, papanya tidak datang ke kamarnya saat dia ketakutan. Papanya justru duduk di ruang kerja dan terus bekerja.
Glek....
Ravin menegak minumannya dengan kasar. Dia menyugar rambut kemudian menunduk. Di pikirannya masih terbayang saat papanya tidak pernah datang saat penerimaan raport. Ah, bahkan saat kelulusan saja papanya tidak datang.
Drtt.... Getar ponsel itu kembali memecah keheningan, kali ini suaranya lebih panjang.
Perhatian Ravin seketika teralih. Dia melihat nama Griz muncul. Dia mengangkat panggilan itu. Namun, tidak bersuara.
"Halo, Ravin!" Suara Griz terdengar kencang. "Gue baru balik."
Ravin menegak minumannya lantas beranjak. Kali ini dia memilih berbaring di sofa panjang.
"Vin! Lo dengerin gue, kan?"
"Hmm...." Ravin menekan tombol loudspeaker kemudian meletakkan di atas d**a. Setelah itu dia memejamkan mata.
"Tadi gue makan-makan sama orang kantor," ujar Griz dengan suara agak pelan. "Andai gue bisa kabur pasti gue langsung nemuin lo."
Tidak ada respons. Ravin justru terbayang saat berbicara dengan papanya beberapa jam yang lalu. Dia ingat setiap ekspresi yang muncul di wajah papanya.
Di tempat lain, Griz berdiri di depan pagar sambil sesekali menoleh ke arah rumah. Dia sengaja menelepon Ravin di luar agar tidak menganggu Artari dan Arvin. Suasana di rumah sangat hening, dia tidak bisa teriak-teriak seperti saat di rumahnya sendiri.
"Ravin...." Griz mulai tidak sabaran. "Lo dengerin gue, kan?"
Tubuh Ravin berjingkat. Teriakan itu langsung memutus bayangan wajah papanya. Ravin mengambil ponsel lantas mengubah posisinya menjadi duduk. "Apa?"
"Akhirnya lo ngomong," ujar Griz lega. "Lo lagi ngapain, sih?"
"Tidur!"
Griz memutar bola mata. "Pantesan!" ujarnya sebal. "Sorry, tadi nggak bisa makan bareng."
Ravin menyugar rambut sambil memijit leher belakangnya yang terasa pegal. "Gue nggak serius sama yang tadi."
"Apa maksud lo?" Griz langsung berteriak. Dia memposisikan ponsel di depan bibir kemudian berteriak. "Lo cuma ngerjain gue?"
"Menurut lo?" Ravin memejamkan mata. Lelah.
Griz geleng-geleng. Dia juga salah karena menilai Ravin berubah secepat itu. "Lo nyebelin banget."
"Emang!"
"Gue nyesel tahu nggak? Ini pertama kalinya gue mau ngaku kalau gue nyesel!" ujar Griz penuh penekanan. "Tadi gue mikir biar nggak ikut makan malam kantor terus ketemu lo. Bahkan waktu acara udah selesai, gue mau ke tempat lo terus makan malam bareng. Dan ternyata lo cuma ngerjain gue?"
Mata Ravin seketika terbuka. Apa Griz bisa dipercaya? Apa Griz benar-benar akan menemuinya meski ada acara makan malam kantor? "Lo nggak perlu nemuin gue. Acara kantor lo lebih penting."
"Emang!" jawab Griz cepat. "Gue baru dapet kerjaan meski masih karyawan magang. Harusnya emang gue curahin pikiran gue ke kerjaan. Bukan cowok nyebelin kayak lo."
Mendengar omelan Griz, entah kenapa terdenger lucu di telinga Ravin. Bahunya bergetar lalu tawa itu keluar. "Haha...."
Griz mengernyit mendengar suara tawa. Dia menempelkan ponsel di telinga lalu bersandar di pagar. "Lo seneng banget lihat gue sengsara?"
"Menurut lo?" tanya Ravin dengan sisa tawanya. "Gue nggak minta lo berjuang buat gue, Griz. Lo nggak perlu repot-repot ngelakuin itu."
"Bener." Griz mengembuskan napas pelan. "Tapi sekalinya gue tertarik...."
"... lo selalu berusaha buat dapetin?" potong Ravin. "Kalau ternyata lo kecewa karena nggak sesuai ekspetasi?"
Griz tersenyum samar. "Mending gue nyesel udah ngelakuin daripada nyesel nggak pernah ngelakuin."
"Tipikal seorang Griz."
"Emang...." Griz bangga dengan hal itu. Menurutnya, asal pilihannya itu tidak merugikan, pasti dia akan kejar sampai dapat. "Lo nggak merasa bersalah ke gue?"
Ravin terdiam. Dia terbayang omelan Griz yang perlahan mulai dia percayai. "Sebagai gantinya besok."
"Gantinya apa?" Griz berdiri tegak dengan senyum merekah. Strategi untuk membuat Ravin luluh ternyata berhasil.
"Ya gantinya."
"Ganti apa, Ravin?" tanya Griz tidak sabaran. "Oke, gue tahu lo nggak akan mau ngomong secara langsung. Besok kita makan malam di restoran lo. Gimana?"
"Hmm...."
Griz mengangkat satu tangannya. "Ya udah. Sampai ketemu besok."
"Hmm...." Ravin hanya menggumam singkat. Dia mematikan loudspeaker kemudian meletakkan ponsel di atas meja. Dia melihat masih tersambung tapi Griz tidak bersuara.
Sedangkan Griz memang sengaja berdiam diri. Dia ingin mendengar suara Ravin. Namun, mengharapkan seseorang yang gengsinya tinggi dan tidak peka seperti berharap bintang jatuh ke tangan dengan sendirinya. "Bye!" ujarnya kemudian mematikan sambungan.
Ravin melihat panggilan itu berakhir. "Bye."
***
Tepat saat jam pulang kantor berakhir, Griz bergegas menuju restoran Ravin. Sekarang, dia sudah duduk di ruang privat. Bukan lagi di lantai bawah seperti waktu itu. Bahkan karyawan Ravin tadi tampak sopan kepadanya.
"Silakan." Seorang pelayan meletakkan secangkir caffe latte ke hadapan Griz.
Griz menatap karyawan yang tersenyum ramah, tidak seperti waktu itu. "Bos lo ngasih tahu sesuatu?"
"Maaf, Kak. Saya tidak bisa memberi tahu banyak." Pelayan itu bergerak mundur kemudian berjalan menjauh.
"Ck! Pasti disuruh Ravin!" Griz mengambil minumannya dan menyesapnya pelan.
Dap... Dap... Dap.... Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki.
Griz mengangkat wajah dan melihat Ravin berjalan masuk. Dia tersenyum karena lelaki itu menepati janji. "Gue sempet ngira bakal nunggu."
Ravin melirik ke ujung bibir Griz yang terdapat cairan berwarna putih. Dia berjalan mendekat kemudian menggerakkan dagu. "Cemong."
"Ha?" Griz refleks menyentuh bibirnya. Dia merasakan ada sesuatu yang basah di sana. Saat hendak mengambil tisu, Griz terpikirkan sesuatu. Dia melipat kedua tangan di atas meja kemudian mencondongkan tubuh.
Satu alis Ravin tertarik ke atas melihat Griz yang memanyunkan bibirnya itu. "Ngapain?"
"Bersihin. Gue nggak bawa tisu!" jawab Griz sambil memejamkan mata.
Ravin melirik ke arah meja tapi tidak mendapati tisu. "Usap sendiri."
"Nggak mau! Bersihin!" Griz semakin mencondongkan tubuh. "Kesusahan?" Dia berdiri dan membungkuk ke Ravin.
Perhatian Ravin kini tertuju ke wanita dengan bibir manyun di depannya. Wajah Griz tampak menggemaskan dengan mata terpejam. Sayangnya, dia tidak akan menuruti permintaan itu. Ravin seketika menggerakkan dasinya dan menempelkan ke bibir itu dengan kasar.
Wajah Griz terdorong ke belakang. Dia membuka mata dan melihat lelaki itu membersihkan dengan dasi. "Ck! Lo bersihin pakai dasi? Kan, kotor!"
"Dasi gue juga kotor!" Ravin mengusap bekas putih di dasinya yang berwarna navy. Dia lalu melepas dasi itu dan melipatnya asal. "Harus gue buang."
"Jangan!" Griz langsung merebut dasi itu. "Sayang tahu. Siapa tahu lo kangen gue, lo tinggal cium dasi ini dan seolah-olah lagi ciuman sama gue."
"Cewek Gila!"