25-Penuh Tipu Muslihat

1140 Words
"Cewek Gila!" Revin geleng-geleng melihat tingkah Griz. Baru kali ini dia bertemu dengan wanita yang begitu agresif, terlalu percaya diri dan sangat keras kepala seperti Griz. Serta baru kali ini pula dia bertemu dengan wanita secantik Griz. Meski dia enggan terang-terangan mengakui. Melihat Ravin yang tidak mau menuruti permintaannya, Griz segera mundur. Dia mengambil tisu kemudian mengusapkannya ke sudut bibir. Saat mengangkat wajah, dia melihat Ravin yang menatapnya tajam. Refleks dia menunjukkan bekas tisu yang masih dia pegang. "Gue emang bawa tisu. Kenapa?" "Modus!" jawab Ravin begitu sebal. "Sana pesen makan." "Kok gue yang pesen? Lo, dong!" perintah Griz. "Pesen yang istimewa ya, Sayang." Ravin lelah mendengar godaan Griz. Dia mengangkat tangan kemudian seorang pelayan datang menghampiri. "Menu spesial." "Baik, Pak." Setelahnya pelayan itu berjalan menjauh. Griz tampak puas karena Ravin memesankan makanan spesial untuknya. Setelah itu dia mengedarkan pandang karena ruang privat itu tidak dihias apapun. "Nggak ada balon, pita atau bunga gitu?" "Nggak usah minta macem-macem," jawab Ravin. "Untung-untung gue mau makan sama lo!" "Eh! Ati-ati ya kalau ngomong!" Griz menunjuk Ravin. "Kemarin siapa yang nyetujuin buat makan malem? Lo!" "Lo yang maksa." "Enggak!" "Iya!" Wajah Griz memerah karena perdebatan itu. Dia memajukan tubuh lalu menggerakkan jari telunjuk, meminta Ravin mendekat. Tentu saja Ravin tidak menurut, dia justru membuang muka. Griz mengembuskan napas lelah. "Oke gue nggak mau berdebat dan bikin mood gue buruk." "Baguslah." Tidak lama kemudian, pesanan mereka datang. Ravin mendekatkan sepiring udang ke arahnya. Saat hendak memotong, perhatiannya tertuju ke Griz yang masih bertopang dagu. "Nggak makan?" Griz duduk tegak dengan wajah masam. "Gue pikir malam ini bakal romantis." "Lo terlalu banyak berharap." Ravin menyantap udang yang terasa gurih dan gemuk itu. Griz tidak langsung makan. Dia menatap Ravin yang lebih dulu makan tanpa mengajaknya. Seharusnya lelaki itu sadar jika Griz tadi menunggu. Seharusnya pula Ravin tahu apa yang harus dilakukan. Merasa masih diperhatikan, Ravin mengangkat wajah. Dia mengernyit melihat Griz yang menatapnya datar dengan sudut bibir sedikit turun ke bawah itu. "Apa lagi?" "Lo langsung makan tanpa ajak gue. Padahal gue udah nunggu lo." Griz mengambil garpu dan menusuk udang paling besar. Setelah itu dia menyantapnya dengan kasar. "Itu cuma ada di drama." "Bener." Griz mengangguk sambil terus menyantap udangnya. Setelah selesai, dia memperhatikan Ravin. "Lo nggak nyiapin bunga setangkaipun?" "Griz!" "Iya-iya, gue terlalu banyak berharap." Griz mendengus lantas memilih diam. *** Usai makan malam, Ravin memutuskan pulang dan Griz ikut bersamanya. Lelaki itu mengemudi dengan satu tangan sedangkan tangan satunya berada di dekat pelipis. Dia tampak menikmati jalan raya yang tidak terlalu macet. Ravin sesekali melirik wanita yang duduk di sampingnya. Griz sejak tadi memilih diam dan hanya merespons dengan anggukkan. Sebenarnya kondisi seperti ini membuatnya tenang, tapi dia tetap merasa aneh karena tidak biasanya Griz berdiam diri. "Ngambek?" Griz melirik sekilas. Dia kembali menatap depan, melihat mobil sport di depannya yang dikemudikan seseorang yang masih remaja. Di kursi kemudi terlihat seorang gadis berambut pendek yang membawa boneka. "Lo bilang hal manis cuma ada di drama, kan?" "Masih bahas soal itu?" "Tuh lihat depan!" Perhatian Ravin sekarang tertuju ke mobil biru di depannya. Dia melihat tangan si lelaki mengusap puncak kepala wanita. Kemudian si wanita mendekat dan menyandarkan kepala. Ravin heran, mengapa dua orang itu bisa bermesraan saat sedang mengemudi. Bahkan dengan atap mobil yang dibiarkan terbuka. "Bahaya," ujarnya. "Lo nggak tahu tingkat kecelakaan setiap tahunnya berapa?" "Emang nggak tahu!" jawab Griz apa adanya. "Tinggi!" Sulit memang membuat seorang Ravin menjadi perhatian. Lelaki itu masih saja tidak peka padahal Griz sudah memberi tahu apa yang diinginkan. "Turunin gue di depan." "Ke apartemen dulu. Masih ada barang lo yang teringgal." "Pasti gue ambil kok. Tapi nggak sekarang." Griz menyandarkan sisi kepala di jendela. Kemudian dia membenturkan kepalanya dengan pelan. "Turunin gue di depan." "Iya...." Ravin langsung menekan tombol sen dan menepikan mobil di bahu jalan. Dia duduk menyerong, melihat wanita itu masih duduk bersandar. "Nggak turun?" Griz melepas sabuk pengaman. Setelah itu dia turun tanpa mengucapkan sepatah kata. Ravin masih diam memperhatikan. "Dia beneran ngambek?" tanyanya kurang yakin. Dia tahu Griz gampang marah, tapi cara marah wanita itu kali ini sedikit terbeda. "Ck! Buat apa gue ngurusin dia?" Ravin kembali menghadap kemudi dan melajukan mobilnya. Brum.... Griz segera berbalik. Dia melihat mobil hitam Ravin menjauh. "Cowok nggak peka! Sialan!" Tidak disangka, Ravin masih melirik ke spion tengah. Dia melihat Griz yang menggerakkan tangan ke arahnya sambil menghentakkan kaki. Ravin tersenyum samar dan tetap melajukan kendaraannya. Di trotoar, Griz memilih berjalan dengan tampang lesu. Saat ada tiang listrik, dia memilih berdiri di sampingnya dan menyandarkan kepala. "Usaha gue buat ngambek ternyata gagal. Dia nggak sepeka itu." Ya, Griz sengaja ngambek untuk mengetes apakah Ravin peka atau tidak. Sungguh, andai bisa donor kepekaan Griz ingin menyeret Ravin sesegera mungkin. Tin... Tin.... Griz berdiri tegak saat tiba-tiba ada mobil yang berhenti di depannya. Dia menunduk, melihat siapa yang duduk di balik kemudi. Tanpa sadar, Griz tersenyum. "Naik!" perintah Ravin tanpa menoleh sedikitpun. "Ck! Masih saja caranya kayak gitu." Griz menggerutu lalu membuang muka. Dia memilih tidak menghiraukan Ravin meski sebenarnya ingin berlari ke mobil itu. Ravin menoleh saat tidak mendapati tanggapan. Dia menunduk, melihat Griz berdiri di samping tiang listrik sama sekali tidak meliriknya. "Nih cewek bener-bener!" geramnya. "Ya udah kalau nggak mau naik." Griz tetap tidak mau menoleh meski sangat penasaran apa yang akan dilakukan Ravin. Tidak ingin menunjukkan jika dia gampang terbujuk. Enak aja! Usaha gue nggak akan gue sia-siain gitu aja. Melihat Griz yang masih tidak merespons, Ravin mulai kehilangan kesabaran. Dia menatap depan dan kembali melajukan mobil. Namun, hanya satu kali injakan gas dia memilih memundurkan mobil hingga sejajar dengan Griz. Diam-diam Griz menahan senyuman. Dia mengangkat dagu dan tetap tidak peduli. Saat ekor matanya mendapati Ravin dia semakin mengubah ekspresinya menjadi dingin. Ravin turun dari mobil. Dia berdiri menghalangi arah pandang Griz, tapi wanita itu langsung berbalik memunggunginya. "Lo beneran ngambek?" NGGAK USAH TANYA! "Heran kenapa lo ngambek ke sesuatu nggak penting." BUAT LO NGGAK PENTING? LO BENER-BENER, YA! "Huh...." Ravin mengembuskan napas melihat Griz yang masih tidak merespons. "Mau ikut atau enggak?" Griz hanya mengangkat bahu dan tetap dalam mode ngambek. Ravin menyugar rambutnya ke belakang. Dia tidak bisa bersabar menghadapi Griz yang hanya terdiam. Dia langsung menarik wanita itu dan mengajaknya ke mobil. "Masuk...." Diam-diam Griz tersenyum. Saat duduk di bangku penumpang, dia tidak bisa membendung tawanya. "Hahaha." "Ngapain ketawa?" tanya Ravin setelah masuk mobil. Dia menatap Griz penuh selidik, tidak ada lagi ekspresi ngambek seperti beberapa menit yang lalu. "Lo ngerjain gue?" Griz menghadap Ravin lalu menarik bagian depan kemeja lelaki itu. Dia memiringkan wajah dan mengecup bibir Ravin. Setelah itu dia mengusap sisi kepala lelaki itu. "Pengen lihat aja apa lo peka atau enggak," ujarnya. "Ternyata sedikit peka." Ravin menjauhkan tangan Griz dari kepala lalu menghadap kemudi. Dia mulai menyesali keputusannya karena berputar arah dan menghampiri Griz. Harusnya dia sadar dari awal jika Griz penuh tipu muslihat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD