Sampai di apartemen, Griz bergegas ke kamar Ravin. Si pemilik kamar sampai geleng-geleng karena melihat tingkah Griz. Ravin terus mengikuti dan melihat Griz yang mengambil beberapa sepatu.
Griz mengangkat wedges berwarna pink dengan pita di bagian belakang. Kemudian dia mengambil heels berwarna krem. "Kayaknya ini cocok buat ke kantor."
"Nggak lo jual?"
"Enggak..." Griz berbalik dan mendapati Ravin berdiri di pintu penghubung. "Duit yang gue dapet lumayan bisa beli apartemen murah."
Ravin mengangguk samar. Tentu, jika semua koleksi fashion Griz dijual uangnya bisa membeli rumah. Kadang dia heran mengapa wanita mengeluarkan banyak biaya untuk penampilan. Belum lagi ada yang saling bersaing untuk mendapatkan barang keluaran terbaru.
"Kenapa diem?" tanya Griz sambil mendekat.
Ravin segera berbalik dan berjalan menjauh. "Lo boleh istirahat bentar."
"Gue numpang mandi, ya!"
"Ya!" jawab Ravin pelan. Dia tahu, meski tidak diizinkan Griz tetap melakukan apa yang dia mau.
Griz meletakkan dua sepatu yang dia pegang kemudian berjalan menuju kamar mandi. Tubuhnya mulai terasa lengket dan tidak nyaman.
Sedangkan di dapur, Ravin membuat segelas kopi. Saat melihat sebungkus teh hijau, dia langsung mengambil benda itu. Ravin mengambil cangkir dan membuatkan minum untuk Griz. Bukannya perhatian, dia tidak mau kopinya diminum oleh Griz seperti waktu itu.
Beberapa saat kemudian, Ravin duduk menghadap meja bar dengan dua cangkir putih di depannya. Dia mengaduk carian yang lebih pekat kemudian menyeruputnya. Perlahan, pikirannya mulai jernih.
Ravin tiba-tiba ingat dengan sepasang kekasih yang mengemudi di depannya. Dia juga teringat saat Griz ngambek dan meminta bunga. Ravin lantas mengeluarkan ponsel dan mencari toko bunga terdekat. Saat hendak menghubungi, Ravin diliputi keraguan. "Ngapain gue beliin dia bunga?"
Akhirnya Ravin menekan tombol power. Dia menyeruput kopinya lalu duduk menghadap depan. Saat itulah dia teringat ucapan Griz.
Ternyata sedikit peka.
"Sedikit?" Ravin ragu. Menurutnya, dia tidak pernah peka.
"Ravin!"
Ravin segera membuang muka dan pura-pura tidak terjadi apa-apa. Dia menyesap kopi dan tetap tidak menoleh ke wanita itu. Saat mencium aroma sabun, dia yakin Griz berada di sampingnya. "Udah selesai?"
Griz tidak menjawab. Perhatiannya tertuju ke secangkir teh di depannya. "Tumben bikinin gue minun?"
"Nggak suka tiba-tiba ada yang rebut kopi gue."
"Ah, gitu?" ujar Griz sambil menahan tawa. Dia mengambil cangkir putih itu dan mulai menyesapnya. "Emm. Enak."
Seketika Ravin menoleh. Dia melihat Griz yang meminum teh sambil menatapnya. "Lo bisa ambil teh itu. Gue nggak suka teh."
"Terus kenapa beli?"
"Dikasih Azkia."
"Prrtt...." Griz langsung menyemburkan teh yang di mulutnya. Dia lalu menatap Ravin yang duduk dengan posisi miring dengan mata terpejam. Kemudian perhatiannya tertuju ke lengan kemeja Ravin yang terdapat bintik-bintik basah.
"Ck!"
Griz mengambil tisu dan mengusapnya ke bibir. Setelah itu mengambil tisu lagi dan mengusapkannya ke lengan Ravin. "Lo ngagetin gue."
"Apa yang bikin lo kaget?" Ravin merebut tisu itu dan membersihkan kemejanya sendiri.
"Ternyata tehnya nggak enak!" Griz mendorong secangkir teh itu menjauh. "Hempp... Bener-bener nggak enak!" lanjutnya setelah menggerakkan lidah seperti menghilangkan rasa teh hijau itu.
Ravin mendengus melihat Griz yang ogah-ogahan. "Karena teh itu dari Azkia?"
"Mungkin," jawab Griz apa adanya. "Kayaknya apapun yang dari dia, gue nggak bakal suka."
"Kenapa lo benci Azkia?"
"Gue nggak benci!" Griz berkilah. "Dia yang iri ke gue."
Ravin tentu tidak percaya begitu saja. Dia lebih mengenal Azkia daripada Griz. Sejauh ini, Azkia tidak berbuat yang aneh-aneh. Sangat berbeda dengan wanita di depannya sekarang. "Apa kata lo," ujarnya kemudian beranjak.
Griz berbalik, melihat Ravin yang berjalan sambil melepas kemejanya. "Gue bentar lagi balik, lo anter, kan?"
Tidak ada respons dari Ravin. Namun, Griz menganggap lelaki itu menyanggupi.
"Ish! Kenapa nggak bilang itu teh dari Azkia? Bener-bener." Griz mengambil secangkir kopi milih Ravin dan memilih menghabiskannya.