Sorry, Soal Intimidasi Itu

1293 Words
Sekitar jam 8.45 malam Ben keluar dari kamarnya, ia berjalan ke dapur. Mengambil gelas dan menuang segelas air putih. Ia meneguknya dengan cepat. Lalu ia membuka pintu rak yang menempel dinding. Perutnya keroncongan karena belum diisi makanan apa pun selain secangkir kopi segar hangat tadi pagi bersama Melanie. Ben memungut sebungkus potato chips, menutup rak itu dengan kakinya sambil membuka bungkusan potato chipsnya. Ia pun melahap isinya sambil duduk di meja dapur. Duduk di meja dapur adalah kebiasaannya jika sedang menunggu Melanie memasak untuknya. Kakinya bergelantungan menciptakan gerakan kecil yang berirama. Mbok Jah masuk dari pintu belakang, perempuan tua itu baru saja membuang sampah keluar. Ia sedikit terkejut oleh sesosok tubuh yang duduk di meja, "Aduh, Den Ruben bikin mbok Jah kaget aja!" serunya "Den Ruben ngapain di sini?" "Laper, Mbok!" jawabnya sambil mengunyah. "Tadi Mbok Jah ketuk-ketuk pintu nggak dibukain, padahal kan Mbok bikinin makanan khusus buat Den Ruben. Sekarang sudah dingin to!" "Mbok aja ngetuknya kurang kenceng!" "Sekarang mau Mbok bikinin apa, Den?" "Nggak usah, Mbok istiahat aja!" tolaknya sambil melompat dari meja, menaruh makanan ringan yang ada di tangannya ke meja. Berjalan ke lemari es dan membukanya, ia mengambil sekotak besar s**u cair segar, membiarkan kulkasnya tetap terbuka. Ia menuangkan isinya ke gelas bekas minumnya tadi. Menaruh kotaknya di atas meja dan meneguk s**u segarnya. Setelah selesai ia menaruh gelas itu di meja dan keluar dapur. Mbok Jah yang harus membereskannya lagi deh. Ben tidak kembali ke kamarnya melainkan berjalan menuju pianonya. Perlahan ia duduk di sana, membuka buku musiknya mencari sesuatu. Hingga ia berhenti di satu halaman, ia memang mencari Moonlight, lagu kesukaan Melanie. Kalau dirinya sendiri banyak yang disukai. Ia mulai memencet tut pianonya, memainkan lagu itu dengan sangat indah dan sempurna. Sebenarnya ia juga punya gaya sendiri dalam membawakan setiap lagu, mungkin ia juga seorang calon maestro. Permainan pianonya mengundang Erika yang sedang ngobrol dengan suaminya keluar dari ruang kerja. Ia berjalan pelan mendekati putra bungsunya, menikmati lagu itu. Erika duduk di samping Ben, membuat Ben menoleh sejenak, agak terkejut sih tapi tak mempengaruhi permainannya. Selesai Moonlight Ben membuka satu halaman lagi, itu masih Beethoven, simfoni 9. Ia memainkan lagu itu sekarang. "Permainanmu semakin bagus?" puji Erika. "Tetap saja hanya buat menghibur diri!" jawabnya menghentikan permainannya, tak sampai selesai. Ada nada kecewa dalam kalimatnya. "Ben kamu tahu kan kenapa papamu nggak mengijinkanmu masuk sekolah musik! Dan kamu sudah setuju kan?" "Ya. Aku tahu kok!" Erika memungut wajah putranya dengan kedua tangannya, menariknya agar berhadapan dengan dirinya. "Lihatlah, wajahmu jadi penuh luka begini. Balapan liar itu berbahaya, bisakah kamu berhenti lakukan itu?" pinta Erika. Ben hanya menelan ludah. "Sepertinya lukanya akan membekas!" khawatir Erika, "Luka di wajah itu kan keren!" tukasnya. Karena ia tahu maksud dari mamanya, pasti nanti ia akan disuruh operasi plastik biar wajahnya mulus lagi. Ben melepaskan diri dari tangan mamanya. Sebenarnya ia senang dengan situasi seperti ini. Sudah terlalu lama ia tak ngobrol dengan mamanya bahkan sampai dipegang wajahnya seperti itu. Sepertinya ia harus sering membuat wajahnya babak belur agar sering di perhatikan seperti itu! Ben kembali bermain piano. Kali ini ia memainkan Mozart, Erika menyingkir karena tahu nanti kalau terlalu lama ngobrol akhirnya akan bertengkar. Lagipula putranya sedang ingin bermain piano. Setidaknya dia sudah tidak mengurung diri di kamar. Malam itu Ben bermain piano selama berjam-jam. Itu biasa ia lakukan sebagai latihan. *** Vera duduk di ruang musik, Ben masuk. Berjalan perlahan dan menghampirinya, lalu duduk di depannya. Ben bahkan tak menyapanya, ia hanya diam menunggu Vera bicara lebih dulu. "Gue udah ngomong sama Papa, dan Papa sudah setuju untuk membatalkan perjodohan kita!" katanya memberitahu. "Baguslah. Ini yang gue mau!" jawabnya. "Lo udah nggak marah lagi sama gue kan?" harap Vera. "Sebenarnya gue nggak marah, cuma sebel aja!" "Jadi apa kita bisa balikan?" "Nggak!" jawabnya tegas. "Tapi, lo bilang ...," "Gue bilang mungkin, itu nggak berarti harus kan!" "Tapi gue masih sayang banget sama lo. Gue bakal ngelakuin apa pun Ben, asal kita bisa balikan lagi!" harapnya, ia sudah ingin menangis. "Hubungan kita udah berakhir!" "Ben!" "Gue udah punya pacar. Dan keknya kali ini serius!" Vera terdiam dengan jawaban Ruben, padahal ia berharap masih bisa bersama pemuda itu. Sekali lagi. "Ver, lo tahu. Gue nggak pernah jatuh cinta sama lo atau pun semua mantan gue. Dan menurut gue, lebih baik kita berteman saja. Gue juga nggak mau nyakitin lo sebenarnya. Kalau gue terima lo jadi pacar gue lagi, lo bakal lebih sakit hati!" jelasnya. Ben menghela nafas. "Sorry, soal intimidasi gue tempo hari. Gue nggak bermaksud membuat lo takut, tapi jika kita menikah mungkin itu memang bisa terjadi. So ... lebih baik begini kan! " lanjutnya. Ben diam sejenak. "Lo boleh benci gue kok setelah ini. Maafin gue Ver, kalau gue udah nyakitin lo!" katanya lalu bangkit dan pergi. Meninggalkan Vera yang masih termangu dan tertunduk lesu. Bagaimana gue bisa benci sama lo Ben, gue sayang banget sama lo! Saat Ben keluar dari ruang musik Ryo melihatnya dari kejauhan, tak lama dari itu ia juga melihat Vera keluar dari sana dengan wajah sedih. Ryo menghampirinya. "Ver, lo kenapa?" tapi Vera tak menjawab. "Ver, lo diapain sama Ruben?" "Itu bukan urusan lo!" jawab Vera dengan suara berat. "Lo tinggal bilang aja sama gue, biar gue yang kasih dia pelajaran!" geramnya. Vera menoleh, "Gue diputusin sama Ruben, puas lo!" serunya lalu berlari dari sana. Ryo mengejarnya, "Ver, Vera!" Pulangnya Ben meminta Tomi mengantar Melanie sementara dirinya pergi ke kampus Artika. Sudah beberapa hari ia tak bertemu dengan gadis itu. Rasanya kangen pingin lihat senyumnya. Seperti biasa Ben menunggunya di parkiran. Saat Tika berjalan ke arah parkiran, Ben langsung menghampirinya. "Hai!" sapanya. "Ruben!" Tika sedikit terkejut. "Jadi mau ikut main ke Master nggak?" tawarnya. "Sekarang?" "Tahun depan. Ya sekaranglah!" jawabnya. Tika menilik jam tangannya lalu berfikir sejenak, lalu ia mengangguk. Ben melambai ke arah dua teman Tika, "Jalan duluan ya!" Kedua teman Tika membalas lambaian Ruben. Ben dan Tika masuk ke mobil Ben dan langsung tancap gas. Sebelum ke sana Ben membeli banyak makanan, dan peralatan alat tulis. Ia bahkan membawa banyak pakaian dari rumah. Sudah lama ia tak datang ke sana, akhir-akhir ini ia sibuk dengan urusannya sendiri. Mereka sampai juga di sana. Saat keduanya turun, ada seorang anak yang melihatnya dan langsung berlari ke arahnya. Dia adalah Deo. Anak 11 tahun yang tempo hari ngamen di lampu merah. "Kak Ruben!" panggilnya. "Hai, mana teman-teman lo" "Sebagian lagi nyari duit, sebagian lagi belajar!" "Panggilin mereka gi, ada dikit hadiah!" suruh Ben. Deo berlari masuk dan memanggil teman-temannya yang sedang belajar di ruangan yang sempit. Mereka belajar secara bergilir karena tempat yang terbatas. Tapi terkadang ada juga anak nakal, yang sok jadi bos dan tak mau ikut belajar. Ben menurunkan barang bawaannya dan dibantu beberapa anak yang berhambur ke arahnya. Seorang anak bertanya padanya ketika melihat gadis yang bersama Ruben bukan Melanie. "Kak Ruben, Kak Melaniemya mana?" "KKak Melanie lagi sibuk, lain kali ke sininya ya!" jawabnya. "Kamu biasa ke sini bersamanya?" tanya Tika. "Ha!" seru Ben. "Melanie!" "Ya." "Sepertinya dia dekat sekali denganmu!" "Kami memang dekat!" aku Ben jujur. "Sebenarnya dia yang pertama kali ngajakin gue ke tempat ini. Dulu kami sering ke sini, cuma akhir-akhir ini kami sedikit sibuk dengan urusan pribadi!" ceritanya. Tika merasa ada yang lain dengan hubungan Melanie dan Ruben. Ia jadi tambah penasaran seperti apa Melanie. Bahkan Tika merasa sedikit cemburu ketika Ben bercerita tentang Melanie. "Dia pasti gadis yang baik!" "Dia nggak cuma baik, tapi sangat baik dan perhatian pada semua orang. Tapi ... terkadang dia cerewet kek nenek gue. Dan itu yang gue suka darinya!" Akhirnya Ben mengajak Tika melihat masuk dan ikut mengajari mereka. Itulah sisi lain kehidupan Ruben. Ia sering menghabiskan waktu dengan anak jalanan, bahkan begitu perhatian pada mereka. Dia anak pengusaha ternama dan berkelas internasional, tapi ia malah bergaul dengan banyak orang miskin. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD