Ruben mengajak Melanie ke pantai malam itu, mereka menghabiskan sepanjang malam dengan duduk dan ngobrol. Sisa waktu yang ada mereka pergunakan untuk tidur di dalam mobil. Melanie berbaring di jok belakang, sementara Ruben tidur bersandar di kursi depan. Kakinya ia julurkan ke aras dashboard dengan posisi miring. Sinar matahari yang sudah menyembur menembus kaca mobil membuat Ruben terjaga. Putih sinarnya mengenai wajahnya, ia membuka mata perlahan. Menggeliat. Ketika matanya terbuka lebar ia sadar kalau dirinya tak bangun di tempat tidurnya yang empuk dan hangat. Ia ada di dalam mobilnya.
Oh iya, gue memang berada di sini sejak semalam.
Ben menoleh ke belakang, dilihatnya gadis itu masih meringkuk di bawah jacketnya. Ben ingat semalam Melanie kedinginan makanya ia memberikan jacketnya untuk gadis itu. Ben tak berniat membangunkannya. Melanie terlihat lelah karena mereka ngobrol hingga sekitar jam 3 dini hari. Ben keluar dari mobil, ia melihat jam di tangannya. Itu sudah menunjuk jam 8.20 pagi. Panas matahari sudah mulai terik. Ia merasa haus makanya ia berjalan mencari minuman hangat.
Erika membuka pintu kamar Ruben, ia masuk ke dalam. Memeriksa kamar mandi pula, tapi ia tak menemukan putranya. Ia pun keluar dari kamar Ben dan menemui Dennis yang sedang ngobrol di serambi belakang dengan Handy.
"Jadi semalam adikmu nggk pulang?" tanya Erika yang langsung duduk di kursi yang masih kosong.
"Aku nggak melihat mobilnya ada!" jawabnya.
"Anak itu, giliran kita di rumah dia yang nggak pulang!" seru Handy.
Dennis menelpon seseorang, ia menunggu orang itu menjawab.
"Bagaimana?" tanyanya pada orang itu. Ia tampak mendengarkan dengan kidmat, ada ekspresi terkejut dari wajahnya, "Kamu awasi terus!" suruhnya lalu menutup teleponnya.
Dennis menoleh ke orantuanya secara bergantian.
"Ruben sedang ada di pantai, bersama Melanie!"
"Melanie! Siapa dia?" tanya Erika.
"Kata Ruben. Mereka teman dekat!" jawab Dennis,
"Teman dekat?" Erika sedikit terkejut, "Itukah sebabnya Ben nggk mau dijodohkan dengan Vera, lalu kenapa dia nggak memberi tahu kami?"
"Karena gadis itu adalah penyanyi caffe."
"Apa!" seru Handy dan Erika hampir bersamaan. Handy menurunkan koran di tangannya yang sedang ia baca. Menatap Dennis dengan pandangan tak percaya. Handy menaruh korannya di atas meja setelah melipatnya lebih dulu.
"Kenapa kamu biarkan adikmu bergaul dengan wanita seperti itu? Dulu kamu diam saja adikmu bergaul dengan berandal jalanan. Sekarang wanita caffe!" seru Handy.
"Aku sudah melarang Pa, bahkan aku juga sudah memaksa wanita untuk meninggalkan Ruben!" jelas Dennis.
"Tapi mereka tetap berhubungan kan!" seru Erika.
"Wanita itu bilang padaku, selama Ruben masih mau dia di sisinya maka dia nggak akan meninggalkan Ben!"
"Apa, itu sungguh berani!" kesal Erika,
"Satu-satunya cara adalah kita membuat wanita itu nggak pantas di samping Ruben!" usul Dennis.
"Apa pun caranya, Mama nggak mau Ben berhubungan dengan wanita seperti itu!"
"Dennis, itu tugasmu untuk melakukan hal itu. Papa mau adikmu menikah dengan wanita yang sederajat dengan keluarga kita!"
"Mereka nggak pacaran Pa, tapi sepertinya lebih dari itu!"
"Apa maksudmu?" tanya Erika.
"Ini sulit dijelaskan, aku sendiri kurang paham dengan kejelasan hubungan mereka. Tapi Ben memperlakukannya lebih dari siapa pun!"
"Sudahlah, Papa nggak mau dengar lagi. Papa mau dalam waktu dekat wanita itu sudah pergi dari sisi Ben!" kata papanya lalu bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam.
***
Melanie membuka matanya, ia bangkit. Melihat seluruh isi mobil, Ben tak ada di sana. Ia mengusap matanya pelan dan membenarkan rambutnya yang sedikit berantakan. Ia pun keluar dari mobil, matahari sudah tinggi. Ia melihat beberapa orang berjalan tak ajuh darinya. Ada penjual kaki lima di kejauhan, juga sudah ada beberapa anak bermain ombak di tepi pantai.
Pandangan Melanie terkunci pada sesosok tubuh yang sedang berjalan ke arahnya. Itu Ben, di tangannya terdapat dua cup kopi segar hangat. Ben melihat Melanie yang sudah bersandar di samping mobilnya. Ia melihat rambut coklat gadis itu menari oleh angin. Jacket kulit warna hitamnya masih menyelimuti tubuhnya.
"Kenapa kamu nggak membangunkanku?" tanya Melanie.
"Tidur lo nyenyak banget, mana tega gue mengganggu!" jawabnya.
Ben menyodorkan salah satu cup kopi hangat itu ke arah Melanie, gadis itu menerimanya. Mereka masih bertatapan. Melanie tersenyum dan menunduk.
"Sejak semalem keknya kamu agak aneh?" tanyanya. Ben tak menjawab, ia berjalan maju dan berbalik. Ikut bersandar di mobil.
"Entahlah. Kaya'nya semalam emang lain?" mereka tertawa kecil. Melanie menyeruput kopinya.
"Orangtuamu pasti akan marah besar jika kamu pulang nanti!"
"Biarin aja, kerjaan mereka memang selalu marah!"
Sekarang mereka benar-benar seperti sedang pacaran.
"Apa orangtuamu tahu kita berteman?"
"Mungkin sekarang sudah tahu!"
"Mereka pasti nggak akan mengijinkanmu untuk berteman denganku!"
"Mereka nggak punya hak untuk ngelarang gue berhubungan dengan siapa pun!"
"Tapi Ben!"
"Mel, kamu takut?" pertanyaan Ruben membuatnya terdiam, "Aku nggak akan membiarkan mereka memisahkan kita!" janjinya.
Vera berbicara dengan papanya di ruang tamu, "Kenapa kamh nggak mau bertunangan dengan Ruben?" tanya Ferdi.
"Karena Vera udah putus sama Ruben!" jawabnya.
"Kalian bisa kembali lagi dengan pertunangan ini!"
"Pa, Vera mohon. Batalkan pertunangan ini jika Papa mau Vera bahagia!"
"Apa maksudmu?"
"Ben mencintai wanita lain, dan dia nggak akan mau dijodohkan dengan siapa pun!" katanya mengatakan seadanya. Padahal ia tak tahu alasan Ben menolak perjodohan ini.
"Cinta itu bisa datang kapan saja!"
"Pa, Papa nggak mengerti. Lagipula siapa tahu nanti Vera juga jatuh cinta dengan pria lain. Sebentar lagi kan Vera masuk kuliah. Dan akan bertemu lebih banyak orang!"
"Vera!"
"Pa, please. Vera mohon Papa ngerti!" pintanya sekali lagi. Pak Ferdi menghela nafas panjang.
Ben masuk ke rumahnya, ia berjalan menyelonong seperti biasanya. Ada papa dan mamanya di ruang tamu dan ia tak menyapa.
"Ben!" panggil Erika. Ben menghentikan langkahnya.
"Dari mana saja, kenapa semalam nggak pulang?"
"Kurasa Mama sudah tahu di mana aku semalam!" jawabnya sambil menoleh.
"Apa hubunganmu dengan gadis penyanyi caffe itu?" tanya Erika.
Saat itu Dennis turun dari tangga, Ben menoleh dan menatap kakaknya tajam.
Kak Dennis pasti bicara banyak dengan Papa dan Mama soal Melanie.
"Ben, jawab Mama!"
"Apa pun itu, kalian nggak akan mengerti!" jawabnya.
"Mama nggak suka. Mulai sekarang Mama minta jangan temui dia lagi!"
"Dia satu sekolah denganku, mana mungkin nggak bertemu dengannya!"
"Bisakah kamu menurut sekali saja!" Erika mulai emosi.
"Ma, Mama dan Papa nggak pernah melarang Kak Dennis berhubungan dengan siapa pun, tapi kenapa itu berlaku buat aku!" lantangnya.
"Dennis nggak pernah berhubungan dengan kalangan yang salah!" jawab Erika.
"Ya, di mata kalian Kak Dennis selalu benar, dan apa yang aku lakukan selalu salah. Punya teman pun salah!" jawabnya dengan lantang.
"Ruben!" seru Papanya yang masih duduk di tempatnya.
"Itu memang benar kan, kalian selalu pilih kasih!"
Plakk!
Sebuah tamparan mendarat di pipinya, membuatnya terdiam. Itu tangan Erika, mamanya yang baru saja menamparnya. Itu memang bukan tamparan yang pertama, dulu ia juga sering mendapatkannya. Bahkan jika ia berbuat kelasahan papanya tak hanya menamparnya, tapi juga mencambuknya dengan sabuk. Ben mengangkat wajahnya perlahan, menatap mamanya. Dalam. Kemudian tanpa sepatah kata pun ia berjalan naik tangga, di ujung tangga Dennis sempat meraih lengannya sambil berseru.
"Ben!"
Tapi Ruben tak menyahut dan malah melempar tangan kakaknya. Ia terus berjalan naik. Erika sadar apa yang baru saja ia lakukan pada putra bungsunya, ia melihat tangannya sejenak lalu mengejar Ben.
"Ben!" seru Erika menaiki tangga pula. Ben masuk ke kamar dan menguncinya, Erika mengetuk pintu kamar itu.
"Ben, Mama nggak bermasuk seperti itu. Maafkan Mama. Ben, buka pintunya, kita bicara lagi baik-baik!" rengek Erika.
Ben malah menutup telinganya dengan kedua telapak tangan dan membantingkan diri ke ranjang. Suara mamanya masih terdengar di telinganya, ia menutup matanya dengan geram.
Erika terdiam, tak ada gunanya ia mengetuk pintu kamar putranya, sudah pasti Ben tak akan membukanya. Ia memandangi pintu itu sejenak lalu berbalik dan kembali turun. Sesampainya di bawah.
"Nanti aku akan coba bicara dengannya, mungkin dengan sedikit lebih halus!" usulnya Dennis.
"Dennis, kamu tahu Mama sangat menyayangi adikmu, kan? Katakan padanya Mama nggak pernah pilih kasih!" tangisnya,
"Ben hanya salah paham, Ma. Sebenarnya ... dia hanya butuh perhatian lebih dari kita. Bukankah tahun-tahun belakangan ini kita memang nggak pernah ada untuknya!"
"Dia sendiri yang nggak mau tinggal di Amerika!" seru Handy.
"Pa, Ruben nggak suka tinggal di Amerika. Di rumah ini dia merasa lebih dekat dengan Nenek, itu sebabnya dia nggak mau pergi!"
"Mama bisa mengerti jika alasannya nenek kalian!"
Pembicaraan mereka berlangsung cukup lama, dan Ruben tetap mengurung diri di dalam kamar. Ia bahkan tidak keluar untuk makan siang atau pun makan malam. Entah apa yang dikerjakannya di dalam kamar. Biasanya ia hanya akan memandangi foto neneknya, atau menelpon teman-temannya, terutama Melanie. Tapi kali ini dia tak menelpon Melanie, ia malah tidur dengan nyenyak. Bermimpi bertemu neneknya.
***