Kita Kek Lagi Pacaran Ya!

1432 Words
Ruben sudah siap di atas motornya, kali ini ia yang akan bertanding. Memang sudah lama sekali ia tak melakukan hal itu. Setiap kali orangtuanya di rumah malah ruang lingkupnya jadi semakin terbatas. Karena orangtuanya pasti akan selalu menyuruh orang untuk mengawasinya, selama ini sebenarnya ia memang selalu diawasi. Tapi tak pernah bermasalah, apalagi jika Dennis ada di rumah. Terkadang kakaknya itu akan sedikit membelanya di depan orangtuanya. Lawan Ruben kali ini adalah Fiki, mereka memang musuh lama. Selain dalam trak Fiki adalah kapten Klub basket di sekolah, dan memang ia tak pernah akur dengan Ruben. Dan selain Ryo, Fikilah yang selalu membuat ulah dengan Ben. Tapi Ryo masih belum ada apa-apanya dibanding Fiki dan klub basketnya. Mereka sudah bersiap di garis start, banyak orang menonton di sisi jalan yang berasal dari kedua gank. Selina, seorang gadis cantik nan seksi memegang sapu tangan warna merah bercampur biru sebagai aba-aba. Selina adalah pacar Fiki, tapi gadis itu bukan satu sekolah dengan mereka. Fiki mengacungkan jempol terbalik ke arah Ruben tanda mengejek, Fiki memang lebi banyak menang dari Ruben. Dia sering main curang di tengah pertandingan, dia tipe orang yang akan melakukan apa pun untuk menang. Gadis itu menghitung mundur dari four ke one dan melambaikan sapu tangan itu. Keduanya, baik Fiki maupun Ruben langsung tancap gas mengadu kecepatan. Mereka saling menyalib dan mendahului, awalnya Fiki berada di depan tapi akhirnya Ruben mampu menyusul dan mendahuluinya. Sekarang giliran Fiki yang mengejar, ia mampu mensejajarkan motornya tapi cukup sulit untuk mendahului Ben. Akhirnya ia mencoba menjatuhkan Ben dengan menendang motornya, Ben menghindar dari tendangan itu. Tapi Fiki tak menyerah, ia juga melayangkan tinju ke arah Ben, Ben melawannya. Di saat itu Fiki memiliki celah untuk menendang motor Ruben hingga Ben kehilangan keseimbangan dan terguling. Fiki menengok sejenak ke tempat lawannya terjerembat lalu melanjutkan laju motornya yang semakin kencang. Ben berhasil bangun dan kembali ke motornya sambil menahan rasa sakit. Ia pun mengejar Fiki dengan laju super cepat. Sementara di garis Finis yang juga garis start tadi. Semua sudah ramai menunggu, beberapa juga cemas. Dari kejauhan salah satu motor sudah mulai terlihat, dan satu lagi menyusul di belakang. Yang berada di belakang semakin cepat menyetarakan jarak. Tapi rasanya akan tetap sulit dikejar. Akhirnya sampai juga di garis finish, dan itu ternyata Fiki yang lebih dulu berada di garis finish, Ben menyusul hanya beberapa detik saja. Tapi tetap saja ia kalah. Mungkin sebenarnya ialah pemenangnya jika Fiki tak menjatuhkannya di tengah jalan tadi. Fiki turun dari motor dan langsung dikerubuti teman-temannya, merayakan kemenangan. Ben juga turun dari motornya, mereka bertanding tanpa mengenakan helmet. Fredy dan yang lainnya menghampiri Ben dan melihat ada luka di wajahnya akibat baretan aspal. "Apa yang terjadi?" tanya Fredy. Ben tak menjawab. "Fiki pasti berbuat curang!" kesal Rico. "Sudahlah, nggak usah dipermasalahin!" saran Ben. "Nggak bisa gitu dong, kalau dibiarin b******n itu makin seenaknya!" seru Fredy. "Fred. Gue nggak apa-apa kok!" seru Ben lagi. Ferdy tetap saja menghampiri Fiki diikuti beberapa orang. "Fiki!" panggilnya. Fiki menoleh, ia terlihat senang dengan kecurangannya. "Kali ini lo boleh senang, tapi lain kali kalau lo berbuat curang, lo langsung didiskualifikasi!" Fredy memberi klarifikasi. "Di dalam pertandingan, apa pun itu boleh dilakukan. Dan itu nggak bisa dianggap curang. Temen lo aja yang payah!" cibirnya. Rico hendak maju sambil mengepalkan tinju tapi Fredy menghalanginya. Fiki tersenyum, "Dia nggak cuma payah di sekolah tapi di arena balap pun dia nggak akan bisa ngalahin gue!" tambahnya lagi. Setelah itu mereka bubar dari sana. *** "Sorry ya, gue ngecewain lo semua!" seru Ben. "Lo ngomong apaan sih, udahlah. Fiki emang kaya' gitu. Dia bakal ngelakuin apa aja buat bisa menang!" timpal Fredy. "Ya. Dan itu bikin dia makin songong!" tambah Rico. "Eh, gue cabut dulu ya. Gue harus jemput Melanie nih!" katanya pamit. "Hei, kita ikut ya!" pinta Tomi. Mereka berpisah di sana. Ruben , Rico dan Tomi ke caffe. Saat itu Melanie lagi break. Ben memberi pesan kepada salah satu pelayan caffe kepada Melanie agar ia keluar menemuinya. Ben duduk sambil membuka jacketnya, ternyata lukanya tak hanya di pelipis dan hidungnya saja tapi di siku dan lengannya juga. Jacketnya memang sobek tapi sejak tadi Ben tak menampakan rasa sakit di lengannya. Melanie terkejut saat sampai di antara ketiganya. "Ya ampun Ben, kamu kenapa lagi?" paniknya. Melanie memegang wajah dan mengamati lukanya, lalu ia juga mengamati lengan kanan Ben yang juga terluka. Dari lukanya gadis itu tahu itu luka akibat goresan aspal. "Kamu nge-trak lagi ya?" tanyanya dengan nada yang sedikit marah. "Cuma luka kecil kok!" "Tapi bisa infeksi kalau nggak diobati!" katanya. Melanie mengambil kapas dari dalam ruang rias. Kemudian ia meminta anggur untuk mengguyur luka Ben. Ben sempat menjerit kesakitan saat diobati. Melanie mengomel selama proses membersihkan luka pria itu. "Kalian juga, kenapa ikut-ikutan. Bukannya melarang!" "Ya ... kita kan emang udah lama nggak main!" timpal Rico. "Tapi seharusnya kalian membantunya mengobati lukanya lebih dulu. Kalau infeksi bagaimana?" "Kan ada loe!" tukas Tomi. Ben terus memperhatikan wajah Melanie selama gadis itu mengobatinya. "Lebih baik biarkan saja terbuka biar cepat kering!" sarannya sudah seperti dokter saja selesai melakukan tugasnya. Ben menyadari sesuatu, ada debaran yang aneh di dadanya. Bahkan lebih dasyat dari apa yang ia rasakan saat dekat dengan Tika. Melanie membalas tatapan itu. "Kenapa kamu lihatin aku kek gitu?" Ben menjawab dengan sedikit senyum yang nakal, "Lo cantik kalau lagi marah!" "Nggak mempan!" cibirnya, "Lo pulang di jam biasa?" "Iya!" "Ntar kita jalan yuk!" ajaknya tiba-tiba. "Jalan!" Melanie sedikit terkejut, "Tumben, biasanya kan kamu langsung anterin aku pulang. Lagipula ... entar kamu dimarahin lagi karena pulang terlalu larut!" "Bodo' amat, gue lagi borong nih!" Melanie tak menjawab, tapi sepertinya ia mengiyakan ajakan itu. Setelah jam Melanie selesai, Rico dan Tomi langsung pulang saja. Ben sudah menunggu di parkiran. Menunggu Melanie berjalan ke arahnya dengan senyumannya yang manis. "Memangnya kita mau ke mana?" tanya gadis itu. "Eee ... gue juga belum tahu!" "Apa, jadi kita jalan tanpa tujuan?" tukasnya sambil masuk ke dalam mobil. Mereka melaju, diam untuk beberapa saat. "Hei, kita ke pantai aja yuk! Dah lama kan nggak ke sana. Emang sih pantainya udah nggak menyenangkan. Tapi udaranya masih enak!" usul Ben. Melanie tersenyum, "Kurasa itu ide yang bagus!" "Aduh ... gue laper nih. Keknya nggak bisa nunggu sampai nanti. Kita beli makan dulu ya!" ajak Ben. Ia memarkir mobilnya di halaman restoran cepat saji dan memesan makanan. Melanie menunggu di dalam mobil saja. Ben masuk dan menyodorkan milkshake ke arah wanita itu. "Kesukaan lo!" "Thanks!" Melanie menerima dengan senyuman. Ben membuka bungkusan burgernya lalu menggigit makanan itu. Mengunyah sambil menjalankan mobilnya kembali. Melanie malah asyik menyedoti milkshake kesukaannya sambil memunguti fries yang diletakan di antara keduanya. Ben meliriknya, "Kita lek lagi pacaran ya!" celetusnya. Itu membuat Melanie sedikit kesedak, tapi untung cepat terkendali. Pipi Melanie malahan jadi merah, ia menengok ke jendela untuk menyembunyikan itu. "Mel!" panggil Ben. "Hem ...," sahut Melanie, tanpa menoleh. "Sebenarnya gue lagi sebel sama Vera dan ortu gue!" "Apa hubungannya mereka?" "Tahu apa aja yang Vera omongin ke papanya. Om Ferdi itu teman bisnis Papa, jadi mereka mau ngejodohin gue sama Vera!" "Bagus dong!" "Bagus apanya?" "Kalau kamu dijodohin berarti kamu bakal berhenti jadi buaya!" "Tapi nggak sama Vera kali!" "Emang maunya sama siapa? Artika!" "Kalo boleh! Lagian gue udah putusin Vera!" "Karena masalah itu?" tanya Melanie menatapnya. Ben hanya mengangguk, "Dia pasti patah hati sekali!" "Itu kesalahannya!" Mereka akhirnya sampai di tempat tujuan. Mereka duduk menghadap lautan, bersebelahan. Memandang air laut yang terlihat hitam karena malam. Mereka senang menikmati suasana seperti itu. Duduk berdua, hanya mereka berdua. "Jadi orang tua lo ada di Jakarta sekarang?" "Tadinya mereka mau gue ke Amerika, tapi lo tahu kan gue nggak akan pernah mau!" "Kenapa?" "Lo masih nanya sih! Satu-satunya alasan gue kan lo. Gue nggak mau jauh dari lo!" "Sampai kek gitu aku buat kamu?" "Gue nggak bisa ngebayangin kalau harus pisah sama lo. Semangat gue tumbuh sejak gue ketemu lo!" "Tapi sampai saat ini kamu masih aja nakal, itu bikin aku sebel!" "Gue masih muda, hidup harus dinikmatin kan!" "Dasar!" maki Melanie. Mereka diam beberapa saat. "Gue pingin kaya' gini terus deh!" seru Ben. Melanie menoleh kembali. Ben juga menoleh, "Cuma kita berdua, cuma ada lo sama gue!" tambah Ruben. Aku juga mau cuma ada kita berdua, tanpa ada wanita lain. Meraka berpandangan penuh arti. Bertatapan seperti sepasang kekasih. Tapi Melanie langsung mengalihkan pandangan. Jika tidak mereka pasti akan ciuman lagi, dan itu akan membuatnya semakin tak bisa merelakan Ben bersama gadis lain. Ia menyadari posisinya sebagai teman, dan ia tak mau terlalu hanyut dalam situasi seperti ini. "Kita nggak akan di sini sampai pagi kan?" tanya Melanie. Ben membuyarkan lamunannya, "Besok kan libur!" ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD