Ancaman Ruben

1692 Words
Vera menghampiri Ruben yang sedang ngumpul di kantin bersama teman-temannya. "Ben!" sapanya. Ruben menoleh, dari ekspresi wajahnya. Ia terlihat kurang berkenan dengan kehadiran Vera. "Ada apa, Ver?" "Gue mau ngomong sebentar!" jawabnya, "Eh, gue pinjem Rubennya ya!" katanya meminta ijin dengan teman-temannya. "Ambil aja sono, siapa yang butuh!" kelakar Tomi sambil menyedot teh botol di tangannya. "Sialan lo ah!" timpal Ruben yang kemudian mengikuti Vera pergi. Mereka bicara di taman sekolah, duduk berdampingan. "Ben, kemarin lo ke mana sih? Gue telepon puluhan kali tapi nggak pernah lo angkat. Dan loe juga nggak nelpon gue balik. Lo pergi ke mana sama Melanie?" "Gue pergi ke mana itu bukan urusan lo!" "Tapi gue kan pacar lo!" kesal Vera dengan nada tinggi. "Terus ... harus jadi malasah buat gue, gitu?" Vera memandangnya aneh dan marah, sepertinya Ruben cuek sekali dengan hubungan mereka, dan belakangan terkesan menghindar. "Lo udah punya cewe lain?" Ruben tak menjawab, tapi kediamannya terkesan menjawab ya. "Ben, bokap gue bilang ... dia sudah bicara sama orangtua lo soal hubungan kita yang mungkin bisa dilanjutkan ke ... hubungan yang lebih serius!" Vera memilih kata-kata yang lebih baik agar pembicaraan ini terkesan lebih baik pula. Ekspresi Ruben tak menandakan terkejut atau apa pun, malah seperti marah. "Lo pasti cerita yang berlebihan ke ortu lo soal hubungan kita, itu sebabnya mereka menghubungi keluarga gue. Lo tahu, gue nggak suka itu!" tegasnya. "Jadi ... lo marah karena itu?" "Ya." "Tapi gue cuma bilang kita pacaran, dan gue sayang banget sama lo!" Ben menghadap Vera yang memang sudah menghadapnya, "Itulah kesalahan lo. Denger ya ... Kita putus sekarang!" "Pu-tus!" desis Vera. "Ya. Putus. Selesai!" jelas Ruben sambil berdiri tapi Vera menahan tangannya, membuat Ruben membatalkan langkah. "Ben, gue nggak mau putus dari lo!" "Sayangnya gue nggak bakalan ngerubah keputusan gue, gue kecewa sama perbuatan lo!" jawabnya melepaskan tangan Vera dengan kasar. "Gue minta maaf kalau lo kecewa soal itu, apa yang harus gue lakuin biar lo nggak marah lagi?" Ben berfikir sejenak, "Sebenarnya ada!" "Apa?" tanya Vera berdiri. "Orangtua gue sangat keras, dan nggak mungkin ngebatalin perjodohan itu. Maka ... lo yang harus batalin!" "Tapi Ben, itu ide orangtua gue sendiri!" "Bukannya itu mau lo?" ada nada cibiran di dalamnya. "Nggak Ben. Sumpah! Gue nggak minta perjodohan ini. Ini keputusan orangtua kita!" "Gue nggak mau tahu. Lo bilang ke orangtua lo kalau lo nggak mau dijodohin sama gue!" pinta Ruben. "Tapi mereka tahu kita pacaran!" "Kita udah nggak pacaran sekarang," potong Ben tegas, "Lo bener-bener mutusin gue?" Ben terlihat tidak terpengaruh dengan wajah Vera yang memelas. "Ben. Gue nggak mau putus!" rengeknya, "Lo nggak mau putus? Berarti udah jelas kan lo yang mau perjodohan ini!" Ben menatap langsung ke mata Vera yang mulai sembab dengan sorot menuduh, "Nggak!" Vera mulai menangis, "Kalau nggak, buktikan dong!" tuntut Ben, "Apa yang harus gue lakuin?" "Seperti yang gue bilang tadi. Kalau lo nggak mau, seumur hidup gue ... gue nggak akan maafin lo. Dan meskipun kita nikah nantinya, gue nggak bakalan sudi nyentuh lo sedikit pun!" geram Ruben menatap Vera dengan tatapan marah lalu ia melanjutkan kalimatnya, "Bahkan kalau perlu, gue bawa semua selingkuhan gue ke rumah kita dan tidur di kamar kita!" "Apa!" "Tapi kalau lo mau ngomong sama ortu lo, mungkin ... kita masih bisa temenan. Atau bahkan kita masih bisa pacaran lagi!" tawarnya. Ruben mengusap airmata Vera dengan tangannya dan membelai wajah basah itu, "Pikirin itu baik-baik. Gue nggak main-main dengan yang gue ucapin tadi!" katanya lalu menyingkir. Vera masih terdiam, Kenapa Ruben setega itu? Apa dia benar akan berbuat kek gitu kalau kami menikah nanti? Nggak, gue nggak mau tersiksa kek gitu jadi istrinya. Gue nggak mau .... Secara langsung Ruben memang sudah mengancamnya, dengan ancaman yang kejam. Itu sangat menyakitkan bagi Vera, disaat ia mulai memiliki harapan untuk bisa bersama Ruben selamanya ia malah mendapat penolakan yang tak terduga. Penolakan dengan sebuah ancaman yang akan membuatnya menderita seumur hidupnya. Tentunya ia tak mau itu terjadi. *** Malam itu Ruben dikejutkan dengan kedatangan orangtuanya saat memasuki rumah. "Ben!" panggil papanya. Ruben menoleh, "Papa, Mama!" desisnya. "Dari mana saja kamu, anak sekolah pulang malam!" seru papanya, Handy Winata seraya berjalan mendekati putra bungsunya. Tapi Ben tak menjawab. "Tiap hari selalu kelayapan, mau jadi apa kamu?" "Pa, sudahlah. Besok saja kita bicarakan, biarkan Ruben istirahat dulu!" bujuk Erika, istrinya. Lalu Erika menoleh ke putranya, "Ben, besok sepulang sekolah jangan ke mana-mana, langsung pulang. Kita perlu bicara!" katanya. Ben tak menyahut, ia hanya berjalan menuju kamarnya. Tumben Mama membelaku! "Anak itu sungguh keterlaluan!" kesal Handy. Saat itu Dennis juga baru pulang, tadi Erika sudah menelponnya dan dia menjawab sedang makan malam dengan Artika. Dennis memasuki ruang tengah. "Dennis, Papa mau bicara!" katanya memanggil putra sulungnya dan berjalan ke arah ruang kerjanya. Dennis mengikuti bersama Erika. Di ruang kerja, Dennis berdiri sementara orangtuanya duduk. "Apa saja yang kamu kerjakan? Papa menyuruhmu untuk mengatur adikmu, tapi sepertinya nggak ada perubahan apapun!" kesal papanya. "Dennis sudah mencobanya, Pa. Tapi semakin Dennis memaksa Ben semakin memberontak!" "Adikmu itu memang susah diatur!" tambahnya lagi, "Kamu sendiri, bagaimana dengan calon tunanganmu? Kalian sudah merasa cocok?" Dennis tersenyum, dan Handy bisa membaca itu. "Kalau begitu pertunangan kalian bisa dipercepat kan!" "Tapi Tika masih kuliah, Pa!" "Ini hanya tunangan, dia masih bisa melanjutkan kuliahnya kan!" "Terserah Papa saja!" Dennis memang lebih menurut ketimbang Ben, ia bahkan hampir tak pernah membantah orangtuanya. Berjalan beda dengan Ruben yang merasa memiliki dunianya sendiri. Esoknya Ben turun ke meja makan sekitar 7-an. Tapi di sana sepi, ia pun berteriak memanggil mbok Jah. "Mbok Jah ... Mbok ...!" Perempuan tua itu berlari kecil menghampiri orang yang memanggilnya. "Iya, Den. Mbok kan nggak b***k jangan teriak sekenceng itu!" "Mana semua orang?" "Tn. Sama Nyonya sudah pergi tadi pagi, Den!" "Kak Dennis?" "Udah pergi juga!" "Tuh kan, di rumah atau nggak. Nggak ada bedanya!" kesalnya sambil duduk, "Bikinin sarapan dong, laper!" pintanya. Perempuan tua itu pun membuatkan roti kesukaan Ruben, yaitu sandwich. Setelah selesai Ben langsung menggigit ujungnya dan mengunyahnya. Mbok Jah berjalan kembali ke dapur. "Eh, Mbok Jah mau ke mana?" perempuan tua itu memotong langkah, membalik tubuh. "Ke dapur, Den!" "Udah, sini aja!" "Masa', Den Ruben minta ditemenin kek dulu, kan sekarang udah gede bisa makan sendiri!" "Siapa yang minta disuapin, mbok Jah duduk di situ!" tunjuk Ben ke bangku di depannya. "Duduk, Den?" "Ya, ikut sarapan!" "Mbok sarapan di dapur saja, Den!" tolaknya, "Di sini!" tegasnya. "Tapi, Den. Kalau Tuan dan Nyonya tahu bisa marah Den!" "Mereka kan lagi pergi, nggak bakalan tahu. Mau nggak? Kalau nggak ... Ben nggak mau lagi makan masakannya Mbok Jah seumur hidup!" ancamnya. "Jangan, Dan. Kan di rumah ini cuma mbok Jah yang masak, kalau Den Ruben nggak mau makan masakannya Mbok Jah, Den Ruben makan apa!" "Nah ... tu pinter. Duduk gi!" suruhnya, akhirnya perempuan tua itu pun menurut saja. Di sekolah .... Vera menemui Ben lagi, kali ini mereka bicara di ruang OSIS. Masih diam, Ben menatap Vera, sisi tubuhnya menyender tembok dengan satu tangan masuk ke kantong celana. Menunggunya bicara. "Gue udah bilang sama orangtua gue, tapi ... mereka masih akan membicarakannya dengan orangtua lo!" "Berarti lo belum berhasil!" "Kasih gue waktu Ben, nggak mudah buat bujuk Mama dan Papa!" "Ok, lo temuin gue kalau lo udah berhasil!" katanya menyingkir. "Ben, lo beneran marah ya?" tanya Vera tapi Ruben tak menyahut. Pulangnya Ben mangantar Melanie ke caffe setelah itu langsung pulang ke rumah karena orangtuanya bilang mereka akan bicara. Dan ketika Ben masuk ke rumah ternyata benar orangtuanya sudah menunggu di ruang tengah. Ben duduk di sana tanpa ganti pakaian. "Papa pikir kamu nggak akan pulang cepat seperti yang Papa minta!" kata Handy. "Ada sesuatu yang penting?" tanyanya setengah acuh, "Begini Ben, sebenarnya kami pulang untuk membawamu ke Amerika!" "Apa!" "Kamu bisa kuliah di universitas yang terbaik di dunia, dan kita bisa tinggal bersama!" "Nggak, Ben nggak mau!" "Ben!" "Aku bilang nggak, aku nggak akan kuliah di Amerika!" ia tetap bersi keras, "Kalau kalian tetap memaksa aku akan pergi dari rumah, mencari sendiri kehidupanku!" "Ben, kamu itu yang akan mewarisi semua aset perusahaan dan kekayaan keluarga kita, kalau kamu pergi semua kerja keras papamu untuk apa?" tambah mamanya. "Kan ada Kak Dennis!" "Dennis sudah memegang perusahaannya sendiri!" "Kalau kalian nggak ingin aku pergi. Jangan pernah memaksaku untuk kuliah ke Amerika!" Ben jelas sangat serius dengan yang diucapkannya. "Baiklah, jika itu maumu. Kamu nggak perlu kuliah ke Amerika, tapi Papa juga nggak akan mengijinkanmu sekolah musik di Wina atau pun masuk ke IKJ, kamu harus tetap belajar bisnis!" papanya memberi syarat. "Ok!" jawabnya singkat. Kali ini tanpa pikir panjang. "Dan satu hal lagi, apa benar kamu pacaran dengan putri Pak Ferdi?" tanya papanya. "Kita sudah putus!" "Tapi ... beberapa hari lalu kamu makan malam di rumahnya!" seru mamanya. "Aku nggak menjalin hubungan terlalu lama sama cewe, bahkan ada yang satu hari putus!" entengnya, "Apa! Kamu ini. Apa maumu? Mau sok jadi playboy! Bagaimana kalau nanti banyak wanita datang ke rumah ini dan bilang mereka hamil anakmu, kamu akan menikahi mereka semua?" geram Handy berdiri, "Nggak akan ada yang hamil, aku nggak sebrengsek itu, Pa!" "Belum Ruben, belum. Jika kamu nggak merubah kelakuanmu itu bisa saja terjadi nanti!" tukas papanya. Ben merasa pembicaraan ini sudah tidak enak makanya ia berdiri. "Papa belum selesai bicara!" "Pa, jangan menjodohkanku dengan Vera. Dia akan menderita menikah denganku, kujamin itu!" katanya lalu masuk ke kamarnya. Perkataannya seperti menjelaskan jika ia menikahi gadis itu, ia akan sengaja membuatnya menderita. Handy mengepalkan tinjunya geram, "Kenapa anak itu semakin susah diatur?" kesalnya beranjak ke ruang kerja. Ben hanya mandi dan berganti pakaian, setelah itu ia keluar. Erika melihatnya hendak masuk mobil, makannya Erika memanggilnya. "Ben, kamu mau ke mana?" "Mau main sama temen-temen, Ma!" Erika melangkah maju lebih dekat, "Jangan keluyuran terus, dan jangan pulang terlalu malam!" pesannya. "Kenapa Mama jadi berubah, ada apa? " herannya, "Seharusnya kamu senang jika Mama bersikap lembut padamu!" "Bagaimana aku bisa senang jika itu Mama lakukan hanya pura-pura!" "Ben, Mama hanya berusaha berbuat lebih baik!" "Udah Ma, Ben udah ditunggu sama temen-temen!" katanya masuk ke dalam mobil dan tancap gas. Ben menemui Fredy di tempat tongkrongannya, ia juga menelpon Rico dan Tomi untuk datang ke sana pula. Hari itu mereka nge-trak. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD