Ruben menelpon Melanie karena dia tak ada di rumah.
"Lo di mana?" tanya Ruben setengah berteriak.
"Di caffe!" jawab Melanie pelan.
"Apa!" kaget Ruben,
"Lo bilang ... oh My!" umpat Ruben menutup teleponnya dan langsung berlari ke mobil, menjalankan mobilnya dengan laju super cepat. Melanie duduk lemas, ia tak mungkin memberitahukan Ruben bahwa Dennis mengintimidasi dirinya. Jika ia memberitahu Ben soal itu hubungan kedua kakak adik itu akan semakin buruk. Ben sangat berharap hubunganya dengan kakaknya akan seperti dulu. Kini Melanie tak tahu harus bicara apa, jika Ruben sampai di caffe nanti.
Melanie masih menunggu Ruben datang, tepat saat hendak ke panggung malah Ben datang dan langsung menariknya kembali ke ruang rias.
"Ben!" desisnya
"Kenapa lo bohong ke gue?" tanyanya dengan nada marah.
"Itu ... aku bisa jelasin tapi nggak sekarang!"
"Gue mau penjelasan lo sekarang!"
"Ben!"
"Sek-ka-rang!" geramnya.
Sepertinya cowo itu benar-benar marah. Akhirnya Melanie meminta menejer caffenya untuk menggantinya dengan Diana lebih dulu dan dia akan mengganti jam Diana nanti. Mereka bicara di lantai atas.
"Sekarang lo bisa jelasin, lo bilang lo nggak enak badan dan nggak ke sini, tapi lo bohong soal itu. Apa maksudnya itu?"
Melanie masih bingung mau menjawab apa.
"Mel!"
"Aku cuma nggak mau ganggu waktu kamu, kamu tahu sendiri kan sekarang jam malammu itu tertabas. Aku nggak mau kamu berantem terus sama Kak Dennis!"
"Kak Dennis," desis Ben kecut, "Apa itu ada hubungannya sama Kak Dennis?"
Melanie tertegun. Ia tahu Ben pasti mulai berfikir ke sana, "Nggak Ben, aku aja yang nggak mau memperburuk keadaan!"
"Lo bohong, lo tahu lo nggak ahli dalam berbohong. Apa Kak Dennis ngancem lo?"
"Nggak! Nggak ada hubungannya dengan Kak Dennis, Ben!"
Ben menggebrak meja dengan telapak tangannya, itu membuat Melanie tercekat. Matanya memancarkan kemarahan, Ben tak pernah semarah itu. Apalagi kepada Melanie.
"Ben, aku ...," airmatanya mengalir, ia tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Ia takut dengan kemarahan Ben, yang ia takutkan jika Ben akan mendatangi kakaknya dan berkelahi dengannya.
Ruben melihat ketakutan yang besar di mata gadis itu, ia tahu telah terjadi sesuatu. Dan Melanie mencoba menutupinya, tapi tak seharusnya ia membuatnya takut seperti itu. Ia pun meredam amarahnya perlahan. Mengepalkan tinju yang masih menempel meja, ia sedikit menunduk. Mengontrol emosinya. Ia mendengar nafas Melanie yang cukup berat dan terengah-engah. Gadis itu sedang ketakutan.
Ben berdiri dan menghampiri Melanie, meraih kepalanya dan memeluknya erat. Melanie menangis dalam dekapan Ruben, airmatanya membasahi pakaian pemuda itu di bagian perut.
"Maafin gue, gue nggak seharusnya bersikap seperti ini ke lo!" kali ini Ruben memeluknya sebagai seorang lelaki yang ingin melindungi wanita yang berarti dalam hidupnya.
Ben melepas pelukannya, ia menurunkan badannya agar sejajar dengan gadis itu dengan cara berlutut di hadapannya. Menghapus airmata yang membasahi pipi Melanie.
"Lo nggak perlu takut, gue nggak akan membiarkan siapa pun nyakitin lo, dan nggak ada seorang pun yang bisa misahin kita. Maut sekalipun!" janjinya. Seperti janji seorang kekasih.
Ben membelai wajah gadis itu, sekali lagi ada butiran bening yang jatuh dari kantung mata yang indah itu. Entah kenapa Ben merasa sakit melihat gadis itu menangis, apa perasaan itu sesungguhnya? Ia menarik Melanie lebih dekat dengannya, menangkap bibirnya dan menciumnya sekali lagi. Ciuman yang menenangkan. Dan apa arti ciuman itu? Bukankah mereka hanya teman? Lalu kenapa harus ada ciuman seperti itu? Hal itu membuat Melanie semakin tak tahu bagaimana harus bersikap. Ia ingin merelakan Ruben bersama wanita yang sedang dikejarnya tapi rasanya ia tak akan sanggup untuk itu. Apalagi dengan ciuman yang Ruben berikan membuatnya semakin mencintai pemuda itu.
Melanie membuka mata dan melihat Dennis dari kejauhan. Memandangnya dengan marah dan benci. Lalu Dennis pergi dari pandangannya. Ben melepaskan ciumannya karena Melanie tak bereaksi lagi. Melanie menunduk, Ben menatapnya.
"Kenapa?"
"Kita hanya teman kan? Nggak seharusnya ciuman ini ada!"
"Lo nyesel?"
"Ben, please! Jangan bikin aku tambah bingung dengan sikap dan perhatian kamu. Terkadang ini menyakitkan!" jelas Melanie.
Ben terdiam, mungkin memang benar ia tak seharusnya mencium Melanie, sahabatnya sendiri. Sementara ia tak pernah melakukan itu pada semua pacarnya.
"Gue anter lo pulang ya!" tawarnya.
"Aku harus gantiin jamnya Diana, kan aku tukeran sama dia!"
"Ntar gue yang tanggung jawab soal itu!"
"Tapi ...,"
"Udah, kita pulang sekarang!" paksanya.
Melanie mengikutinya saja. Dengan kejadian tadi Dennis pasti akan melakukan sesuatu yang bukan hanya sekedar ancaman. Tapi Melanie juga tak ingin mengecewakan Ruben. Ia pernah berjanji untuk tak pernah meninggalkannya. Maka ia pun tidak akan pergi, apa pun yang akan terjadi. Melanie hendak turun dari mobil tapi Ben menahan tangannya, membuatnya berhenti.
"Gue minta maaf soal tadi!"
"Nggak apa-apa kok, sampai besok di sekolah, jangan telat!" pesannya lalu turun.
Ben memandang gadis itu sampai masuk rumahnya. Ben menstater mobilnya, melaju ke rumah. Ia tak tahu apa yang akan ia lakukan. Melanie tak mengatakan apa-apa soal kak Dennis tapi Ben tahu pasti ada hubungannya. Tapi untuk saat ini Ruben memutuskan untuk tidak membahas itu pada kakaknya. Ia akan pura-pura tidak tahu. Ben masuk rumahnya seperti biasa tidak menyapa Dennis meski melewatinya di ruang tamu. Ia langsung masuk ke kamarnya. Dennis juga berharap Ben tidak tahu soal intimidasi yang ia lakukan terhadap Melanie.
Malam itu Melanie tak bisa memejamkan mata, ia memikirkan apa yang akan dilakukan Dennis terhadapnya setelah ini karena ia tak menuruti untuk menjauhi Ben. Dari tatapan Dennis terhadapnya tadi di caffe bisa ia lihat. Pria itu akan melakukan apa pun untuk memisahkannya dari Ben. Melanie mulai gelisah tapi ia tak boleh takut dan tak boleh menyerah.
Ben tak membuka pintu ketika Dennis mengetuk pintu kamarnya, ia bahkan menguncinya dari dalam dan menyalakan musik dengan keras. Ia berbaring di ranjang dengan memakai headphone agar tak ada yang menggangunya.
***
Keesokannya ....
Ketika Tika keluar dari gedung ia bukannya melihat Ruben tapi malah melihat Dennis keluar dari mobilnya. Entah kenapa ia jadi mengharapkan Ruben datang menjemputnya. Apakah karena kebaikan hati pemuda itu mulai mengusik hatinya?
Ruben dan Dennis sama-sama menawan tapi ada perbedaan sifat antara keduanya. Dennis jelas menampakan kelasnya sebagai seorang pengusaha kelas atas. Sedang Ruben malah bersikap seperti pemuda biasa dan bahkan tidak sombong, hanya dia suka seenaknya sebagai seorang remaja.
Tika menghampiri Dennis.
"Dennis, tumben kamu ke sini. Apa kamu nggak sibuk?"
"Aku sedang nggak sibuk, makanya aku menjemputmu!" jawabnya membuka pintu untuk Tika.
Tika pun masuk ke dalam. Dalam perjalanan.
"Tika, boleh aku bertanya?"
"Silahkan saja?"
"Aku ingin kamu jujur padaku, jika seandainya kita nggak dijodohkan dan kita bertemu secara kebetulan apa kamu mau menjalin hubungan denganku?" tanyanya tiba-tiba, membuat Tika terdiam sejenak.
"Kenapa kamu tanyakan itu?"
"Aku hanya ingin tahu!"
"Jika kita memang berjodoh, kita pasti akan dipertemukan!"
"Kamu benar!" sahut Dennis mengangguk kecil, Tika tersenyum.
"Aku punya seorang adik yang membuatku pusing, terkadang aku sendiri bingung bagaimana harus bersikap terhadapnya!" dia mulai curhat.
"Memangnya apa yang dia lakukan?"
"Banyak, dia masih ABG. Jadi masih banyak maunya!" katanya sedikit memijit pelipis,
"Kalau begitu biarkan saja, jika kamu berusaha semakin mengaturnya dia akan semakin memberontak!" saran calon tunangannya.
Dan Dennis sedikit membenarkan hal itu, selama ini semakin ia ingin mengatur adiknya maka semakin adiknya tak bisa diatur. Tapi orangtuanya mempercayakan hal itu padanya. Untuk bisa mengatur adiknya, membuatnya tak membantah orangtuanya lagi. Dennis jadi semakin bingung, apakah sebaiknya ia juga tak melarang hubungan Ruben dengan Melanie?
Ah ... itu nanti saja dipikirkan. Ia sedang ingin jalan berdua dengan calon istrinya maka ia tak mau memikirkan hal lain dulu atau nanti akan merusak acara mereka.
***
"Ben,"
Rico menghampirinya saat ia baru saja keluar dari mobil bersama Melanie.
"Ada apaan? Nyamprin gue ke parkiran, kangen lo!" herannya,
"Hih, najis!" umpatnya, "Tiap hari juga ketemu ampe mau muntah!"
Ben tertawa ringan.
"Mel, gue mau ngomong ama nih kadal. Urusan cowo ...," usirnya secar halus,
"Sejak kapan?" potong Ruben, "Biasanya juga ada Melanie lo main ceplos ajah!"
"Cck," Rico mendecak kesal,
"Iya, aku masuk dulu. Lagian ada piket!"
Setelah Melanie menjauh ....
"Apaan sih, Nyuk?" tanya Ruben,
"Ikut ajah, Yuk!" Rico berjalan lebih dulu. Ben terpaksa mengekori.
"Ngapain lo ngajakin gue ke gudang? Ngajak m***m, kurang lo dikasih sama Bella!"
"Anjing, gue nggak doyan buaya macam lo. Gue juga nggak nyimpang, najis!" umpat Rico.
Ben terkekeh, "Terus mau ngapain?" mereka memasuki gudang yang terletak di paling belakang gedung sekolah itu.
"Berduaan ama Melanie mulu jadi bawel kek nenek-nenek lo," cibir Rico.
Ben sedikit terkejut melihat Ryo dan ketiga temannya diikat menjadi satu di lantai.
"Ngapain si k*****t ama cecunguknya diiket kek bayem gitu?"
"Buat seneng-senenglah. Dah lama kan kita nggak ada mainan!" samber Tomi yang berdiri dari duduknya. Ia menyeret kursi bekas dudukkannya beberapa langkah.
"Gue males ngurusin kek beginian, lagi nggak mood gue!" ogahnya,
"Lo duduk ajah di sini, nyantai ok. Biar kita yang eksekusi si k*****t!" Tomi mempersilahkan Ben duduk di kursi yang tadi ia seret.
Ben duduk, menyandarkan punggung dan menaruh kaki kiri di atas kaki kanannya.
"Gue lupa bawa rokok nih, sepet mulut gue!" ucap Ben,
Tomi memungut sebungkus rokok dari saku celana, melolos sebatang dan menyodorkannya ke Ruben.
Ruben pun menerima, menyelipkan ke bibir. Tomi menyalakan korek, menyulut ujung rokok di mulut Ruben hingga menyala. Kepul asap pun mengudara.
"Boleh juga sih, lama nggak ada tontonan!"
Rico menyunggingkan senyum miring, "Tapi mau diapain ya?" menggaruk kepalanya,
"Lepasin gue, woii!" teriak Ryo, tapi tak dihiraukan.
"Tenang, gue udah siapin sesuatu," Tomi tersenyum penuh arti.
Enda tergopoh masuk, menyodorkan kotak kecil kepada Tomi.
"Dapet?" tanya Tomi memungut kotak itu lalu tersenyum melihat isinya,
"Tapi ... gue ...,"
"Tenang ... anggap ajah kejadian ini nggak pernah ada. Nih," Tomi menyodorkan 2 lembar uang kertas warna merah.
Enda memungutnya dengan senyum malu-malu, "Thanks ya Tom,"
"Hmm, cabut sono!" usirnya,
"Apaan Tom?" kepo Rico,
Tomi memungut lidi yang sudah tersedia di pinggir kotak, lalu menggunakan lidi itu untuk mengangat sesuatu.
Mata Rico dan Ruben melebar melihat ulat bulu yang menggeliat di ujung lidi. Tomi memasang senyum lebar yang nakal sambil melirik kedua temannya lalu ke arah Ryo dan komplotannya.
"Lihat joget tik-tok itu udah bosen, joget uler juga udah ketinggalan zaman. Tapi kalau joget ulet bulu, udah ada belum yak?" celetuknya memamerkan ulat bulu itu.
Ryo melotot.
"Wah, parah lo!" sekali lagi Ben menyesap rokoknya,
Tomi mendekat ke Ryo dan kelompoknya yang meronta agar ikatannya terlepas.
"Bangsad, lepasin gue!" teriak Ryo,
"Lo mau apa?" tanya Kai yang melihat Tomi memamerkan makhluk mungil itu.
"Udah nggak usah berisik, makhluk ini itu nggak bakal bikin muka kalian bonyok kek si Ben. Palingan ... bentol-bentol doang, haa ... haa ...."
"Santai, Pret. Bentar doang kok, ya ...," Tomi mendekatkan seekor ulat bulu ke arah Ryo.
"Anjing, monyet, jauhin dari gue!" seru Ryo.
"Eh, ini itu ulet. Bukan anjing atau monyet," timpal Tomi,
"Jangan berani lo ... arghhh ...," Ryo menjerit geli saat seekor ulat jatuh ke tengkuknya, "Argh ... b******n! Pungut nggak itu dari gue?" dia menggeliat-liat saat makhluk kecil itu bergerak di tubuhnya.
Tomi juga menaruh sisanya pada teman-teman Ryo. Keempat cowo itu berteriak memaki dan mengumpat seraya menggeliat-geliat. Sementara Ben hanya terkekeh sambil menikmati rokoknya.
Rico mengeluarkan hpnya, "Perlu diviralin nggak nih?"
"Boleh juga tuh!" timpal Tomi yang masih berdiri tak jauh dari Ryo.
"Don't!" cegah Ruben, "Lo tahu kan, Kak Dennis itu lagi ada di sini. Kalau gue sampai diangkut ke Amerika, lo mau tanggungjawab?"
"Cck, taii. Kakak lo nggak asik, sialan emang!" umpat Rico menyimpan hpnya kembali,
Ruben tersenyum ringan, "Kalau dia denger, gue jamin gigi lo bakal rontok semua!"
"Iyee ... gue tahu. Tapi lo kan nggak bakal ngadu!"
Ruben membuang nafas kasar sambil berdiri, membuang sisa rokok ke lantai lalu menginjaknya.
"Lepasin deh talinya, nggak tega gue!" suruhnya beranjak meninggalkan tempat itu.
"Nggak seru lo Ben!" seru Tomi, tapi ia mengeluarkan pisau lipat lalu memotong tali yang mengikat Ryo dan teman-temannya.
Seketika empat cowo itu berhambur melepas baju seragam mereka. Sementara Rico dan Tomi juga meninggalkan tempat itu.
"Setan! Monyet!" umpat Dodi membanting bajunya ke lantai, seekor ulat bulu yang hampir botak pun meluncur ke lantai. Dengan menggaruk punggungnya ia kembali mengoceh, "Awas ajah, pasti gue bales!"
Mereka berempat menggaruk hampir seluruh tubuh yang mulai merah dan bentol.
"Gue bilang juga apa?" kata Kai, "Kalau lo bertindak langsung kek kemarin, Yo. Kek gini jadinya!"
Ryo menggerutu kesal sambil menggaruki badannya. Membenarkan ucapan Kai.
***