Setelah bercengkrama cukup lama di rumah mertua, Irsyad mengajak istrinya untuk pulang.
"Pa, Ma. Kami harus kembali dulu," pamit Irsyad.
"Iya, besok jangan lupa berkunjung lagi ya. Dan kalian ini sudah dua tahun menikah sebaiknya segera memiliki anak. Kami sudah tidak sabar punya cucu."
"Iya, Pa," jawab Dinda agak merengut.
Dinda memang selalu merasa kurang nyaman ketika orang tuanya membahas tentang anak, begitu juga dengan Irsyad.
Pernikahan mereka berdua terasa hambar dan kurang b*******h. Apalagi jarang bertemu dan sama-sama sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
"Suamiku, mengenai anak. Bagaimana menurut kamu?" tanya Dinda setelah mereka di dalam mobil.
"Terserah kamu saja, bagaimana baiknya," jawab Irsyad.
"Aku masih belum siap, aku ingin fokus pada karir terlebih dahulu," balas Dinda.
"Tidak apa-apa, jangan dipaksakan kalau kamu belum siap."
"Terima kasih atas pengertiannya ya, kalau begitu antarkan aku ke kantor. Kamu sebaiknya istirahat di rumah dulu," pinta Dinda.
"Iya."
Irsyad segera mengantar istrinya, jika dipandang orang lain keduanya seperti pasangan yang sempurna dan begitu hebat. Tapi tidak ada yang tahu jika di dalam rumah tangga mereka tidak ada kebahagiaan.
Selepas istrinya keluar dari mobil, Irsyad langsung saja kembali ke rumah dan tiduran di dalam kamar. Tiba-tiba saja dia teringat dengan istri keduanya, yaitu Amanda.
Tanpa menunggu lama, panggilan teleponnya langsung diangkat oleh sang istri.
"Amanda, kamu sedang apa?" tanya Irsyad senyum-senyum sendiri.
"Ini baru saja menanam bibit sayur, Mas Irsyad sudah makan siang belum?"
"Iya sebentar lagi. Amanda, aku merindukanmu," ucap Irsyad sepenuh hati.
"Sama, makanya bekerja dengan semangat biar cepat selesai dan pulang," pinta Amanda.
"Iya," jawab Irsyad.
"Kalau begitu buruan makan sana, jangan sampai telat makan dan jaga kesehatan!"
"Baiklah, kamu juga jaga diri baik-baik ya."
Irsyad meletakkan ponselnya di balik bantal, ada rindu yang menggebu. Sesaat kemudian dia teringat Dinda, rasa itu berubah menjadi gelisah yang tidak berkesudahan.
"Aku memang lelaki pengecut dan b******k, tapi aku juga ingin bahagia," batin Irsyad pilu.
Irsyad begitu lelah, dia memejamkan matanya dan mencoba mengusir rasa bersalah yang kian menyiksanya.
Irsyad sebenarnya adalah lelaki yang baik, hanya saja dia tidak pernah bisa mencintai Dinda. Entah kenapa begitu sulit menerima istrinya yang sudah menemaninya selama dua tahun tersebut. Terkadang dia juga merasa jika Dinda menikah dengannya sebab terpaksa, buktinya Dinda hanya sibuk dengan pekerjaan dan jarang perhatian padanya.
Malam harinya Irsyad hendak tidur, dan betapa terkejutnya jika Dinda sudah memakai baju tidur yang transparan.
"Suamiku, apa kamu tidak merindukanku?" tanya Dinda.
"Dinda, kamu..."
Sebagai seorang lelaki normal tentu saja tubuhnya akan bereaksi ketika melihat kemolekan tubuh seroang wanita cantik. Hanya saja Irsyad dalam hatinya tidak ada gairah sedikitpun sebab sudah terlanjur jatuh cinta pada Amanda.
"Aku memang egois, setelah aku pikir-pikir tidak ada salahnya jika aku hamil. Kita sudah menikah lama dan memang sudah sewajarnya memberikan kebahagiaan untuk orang tua kita," bujuk Dinda sembari merangkul pundak Irsyad.
Irsyad bingung, tubuh dan pikirannya saling bertentangan. Akan tetapi jika menolak Dinda malam ini pasti istrinya akan tersinggung.
"Iya," jawab Irsyad.
Dinda mulai berinisiatif duluan untuk mengecup bibir Irsyad. Dia hanya memejamkan mata dan membalas ciuman Dinda.
"Dinda istriku juga, dia juga berhak atas kebahagiaannya," batin Irsyad.
Setelah puas bercinta, Dinda langsung tertidur.
Irsyad memandang wajah istrinya tersebut dengan rasa kasihan.
Dinda sebenarnya juga tak kalah cantik, bahkan penampilannya sangat modis. Hanya saja seperti ada jarak yang menghalangi Irsyad untuk memberikan hatinya. Entah itu apa Irsyad sendiri juga tidak tahu.
************************
Amanda tidur seroang diri di ranjang yang besar, hanya bantal guling yang menemani kesepiannya malam ini.
Dia begitu merindukan suaminya, sudah beberapa kali ditelepon tapi tidak diangkat juga.
"Mungkin masih sibuk," keluh Amanda.
Amanda merasa hatinya tidak enak, sesak dan gelisah sampai dia tidak bisa tidur.
Pikirannya hanya tertuju pada sang suami.
"Ternyata LDR an sangat tidak enak, tapi aku harus sabar. Karena beberapa hari lagi Mas Irsyad pasti pulang," batin Amanda.
Amanda begitu mempercayai Irsyad dan yakin jika suaminya tersebut akan selalu setia.
"Apa aku mencari pembantu saja ya, di rumah sendirian seperti ini juga menakutkan. Apalagi kalau malam hari begini jalanan sangat sepi sekali, dan rumah ini berjauhan dari rumah tetangga," batin Amanda.
Pada tengah malam, saat Amanda hampir terlelap ponselnya baru berbunyi. Melihat nama yang tertera di layar ponsel membuat Amanda langsung terjaga.
"Mas Irsyad, kenapa baru telepon tengah malam begini? Apa baru selesai bekerja?" tanya Amanda panik.
"Iya," jawab Irsyad dengan suara setengah berbisik.
"Pasti lelah sekali, buruan istirahat saja kalau begitu," balas Amanda pengertian.
"Sebentar lagi, aku masih ingin mengobrol denganmu."
"Mas, ternyata sendirian juga menakutkan. Besok aku mau mencari pembantu ya?" pinta Amanda dengan nada manja.
"Iya, makanya aku bilang apa. Soal itu biar aku yang urus. Akan aku Carikan pembantu yang setengah tua," jawab Irsyad.
"Kok malah nyari yang setengah tua?" tanya Amanda tak mengerti.
"Kalau mencari yang muda dan cantik aku takut kamu nanti cemburu," canda Irsyad.
"Apa-apaan... " sergah Amanda kesal tapi tersenyum senang.
"Besok biar aku telepon agent saja. Kamu tinggal duduk manis di rumah. Nanti pulangnya minta oleh-oleh apa?" tanya Irsyad perhatian.
"Apa saja boleh, yang terpenting Mas Irsyad pulang dengan sehat dan selamat itu sudah merupakan anugerah bagiku," jawab Amanda.
"Manis sekali kamu ini, membuat aku semakin rindu dan cepat ingin pulang."
"Ya sudah, sekarang mari istirahat karena sudah larut malam. Apalagi besok Mas Irsyad harus kerja lagi," bujuk Amanda.
"Iya."
Amanda mulai memejamkan matanya, bibirnya tersungging indah berharap malam ini bisa bertemu dengan sang suami di dalam mimpi.
Sosok pemuda yang tampan dan hangat, dengan senyuman yang merekah begitu manis.
Pagi harinya saat Amanda selesai memasak bel berbunyi, rupanya yang datang adalah calon pekerja di rumahnya.
Dalam hati Amanda ingin tertawa, sebab benar-benar mencari pekerja yang sudah tidak muda lagi.
"Benarkah ini kediaman Nyonya Amanda?" tanya wanita separuh baya tersebut.
"Iya, mari silahkan masuk," jawab Amanda ramah.
"Perkenalkan, nama saya Yanti. Panggil saja Bik Yanti."
"Iya, nama saya Amanda. Semoga betah bekerja di sini ya."