3. Lelaki Berpoligami

1215 Words
Pagi harinya Amanda bangun lebih dulu dari suaminya, mungkin karena sejak kecil sudah terbiasa hidup disiplin jadi terbawa sampai saat dia menikah. Amanda segera mandi, setelah itu menyiapkan pakaian dan barang-barang yang sekiranya dibutuhkan. Tak hanya itu saja, dia juga membuatkan makanan untuk sarapan dan bekal. Setelah matahari mulai muncul Amanda membangunkan suaminya dengan kelembutan. “Mas, katanya mau berangkat kerja ke luar kota,” ucap Amanda sembari menyentuh pipi suami tampannya. Irsyad langsung tersenyum, tampak begitu jelas kebahagiaan dari kedua bola matanya. “Iya, aku mandi dulu,” jawab Irsyad bergegas ke kamar mandi. Amanda hanya tersenyum dan langsung merapikan kamar tidur. Setelah Irsyad selesai mandi tiba-tiba pemuda itu langsung memeluk Amanda dari belakang. “Sungguh, rasanya aku berat sekali mau meninggalkan istriku yang cantik ini,” bisik Irsyad pilu. “Loh, siapa yang semalam bilang harus semangat bekerja demi masa depan istri dan anak-anaknya ya?” sindir Amanda. “Apa kamu tidak merasa sedih aku tinggal sementara?” tanya Irsyad membalikkan tubuh istrinya. “Tentu saja sedih, tapi aku harus terbiasa karena memang inilah pekerjaan suamiku. Ayo sekarang aku bantu pakai kemeja dan darinya,” jawab Amanda tersenyum riang. “Kamu sungguh istri yang sangat pengertian. Amanda, aku semakin mencintaimu,” ucap Irsyad. “Iya… Iya, aku tahu,” jawab Amanda tertawa menggoda. “Eh, baju-baju aku sudah disiapkan?” tanya Irsyad kaget. “Iya, coba cek lagi ada yang kurang nggak?” tanya Amanda. “Aku yakin tidak, karena istriku ini selalu bisa tahu apa yang aku butuhkan,” jawab Irsyad begitu senang. “Yups, setelah ini mari kita sarapan. Aku juga sudah membuatkan dendeng sapi untuk bekal kamu nanti,” ujar Amanda. “Kamu sungguh istri yang sempurna, tak hanya cantik saja. Tapi perhatian, masakannya enak dan juga pandai di ranjang,” puji Irsyad. “Apaan sih,” sergah Amanda merasa malu. Irsyad hanya tertawa melihat sang istri tersipu begitu. Setelah sarapan Irsyad segera membuka dompetnya. “Ini ada dua juta kamu pegang buat belanja kebutuhan memasak. Dan ini ada kartu kredit, bisa kamu gunakan untuk belanja pakaian atau barang-barang lain di mall. Kamu bebas mau beli apa saja,” ucap Irsyad. “Wah, ini sangat kebanyakan,” pekik Amanda. “Di kota beda sama di kampung, di sini harga sayuran dan lain-lain lebih mahal. Untuk sementara ini kamu kalau bepergian naik taksi saja ya? Nanti setelah aku pulang aku akan mengajarimu nyetir mobil, biar saat aku tinggal kamu bisa bepergian sendiri dan aku akan memberikanmu mobil baru,” kata Irsyad lembut. “Ah, kenapa beli mobil segala? Beli motor saja sudah cukup,” sergah Amanda merasa sayang menghabiskan uang suaminya. “Kamu jangan khawatir, yang perlu kamu pikirkan hanyalah bagaimana cara menyenangkan aku saat aku pulang nanti,” jawab Irsyad mengedipkan sebelah matanya. “Ih, suamiku genit sekali,” balas Amanda kesal digoda terus. Setelah makan Amanda mengantarkan suaminya sampai ke depan rumah. “Sebentar, kita masuk ke rumah dulu,” ajak Isryad sembari menarik lengan istrinya. “Apa ada yang tertinggal?” tanya Amanda heran. “Iya,” jawab Irsyad langsung mendaratkan ciuman yang panas pada bibir sang istri. Amanda membalas dengan ciuman yang bergelora. Cukup lama mereka berciuman, tapi Irsyad belum merasa puas juga. “Cukup, kalau begini terus kapan kamu berangkat kerjanya?” pekik Amanda mendorong suaminya pelan. “Habisnya kamu enak sekali, bikin aku ketagihan terus,” jawab Irsyad tertawa. Sesampainya di mobil Irsyad melambaikan tangan dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tak lama kemudian air matanya menetes. “Amanda, maafkan aku karena sudah membohongimu selama ini. Tapi aku sangat mencintaimu dan tidak bisa melepaskanmu. Dalam seumur hidupku baru kali ini menemukan seseorang yang berbeda sepertimu,” gumam Irsyad. Satu setengah jam perjalanan Irsyad sudah sampai di sebuah rumah yang sangat mewah. Walaupun megah dan besar akan tetapi hati Irsyad terasa kosong. “Suamiku, akhirnya kamu datang juga. Ayo kita segera ke rumah mamaku. Sejak kemarin sudah ditanyakan terus dan aku sampai bingung mau menjawab apa,” sapa seorang wanita yang memiliki penampilan wanita sosialita. “Iya, Dinda. Maaf karena pekerjaanku baru saja selesai,” jawab Irsyad mencoba tersenyum. Irsyad langsung masuk ke dalam mobil bersama istri pertamanya. “Kenapa kamu murung? Apa sedang tidak enak badan?” tanya Dinda cemas. “Tidak, aku hanya kelelahan saja,” jawab Irsyad. “Oh,” balas Dinda sembari fokus menatap layar ponselnya lagi. Irsyad hanya menghembuskan napas berat. Selalu seperti ini, dua tahun menikah tapi hubungan mereka tidak bisa dikatakan dekat. Keduanya sama-sama sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Apalagi Irsyad yang sering ke luar kota dan juga Dinda merupakan direktur perusahaan yang sering lembur. Pernikahan mereka karena sebuah perjodohan, walaupun Irsyad tidak pernah mencintai Dinda tapi dia sudah berusaha menerima dan bertahan demi membalas budi orang tua angkatnya. Hanya saja kurangnya komunikasi membuat hubungan keduanya terasa hambar. Sampai suatu ketika Irsyad mendapat proyek di sebuah perkampungan yang berada di lereng gunung. Dia bertemu dengan seorang wanita polos dan lugu yang mampu menggetarkan hatinya, tak hanya itu. Senyuman juga lembutnya sikap Amanda membuat Isryad seolah memiliki gairah hidup yang selama ini hampir padam. Irsyad tahu apa yang dilakukannya kini hanya akan menyakiti Dinda dan Amanda. Tapi dia juga tidak bisa melepaskan Amanda yang juga mencintainya itu. Sedangkan di sisi lain dia juga tidak berani menceraikan Dinda karena orang tua angkatnya yang bersahabat baik dengan orang tua Dinda. “Aku lelaki egois, tapi salahkah aku untuk bahagia?” batin Irsyad pilu. “Suamiku, kenapa dari tadi kamu melamun terus?” tanya Dinda. “Aku hanya sedang berpikir, oleh-oleh apa yang disukai orang tuamu?” ujar Irsyad mencoba bersikap biasa. “Kamu kan yang lebih tahu sama selera orang tuaku,” goda Dinda. Irsyad tahu, jika kedua orang tua Dinda memiliki watak yang kolot. Sangat berbeda dengan Dinda karena istri pertamanya tersebut lama tinggal di luar negeri. “Kamu tunggu di sini dulu, aku akan membelikan oleh-oleh dulu,” ucap Irsyad. "Iya, aku juga malas mau keluar,” jawab Dinda santai. Tak lama kemudian Isyad kembali masuk ke mobilnya. Setelah sampai ke kediaman mertuanya, Isyad segera minta tolong pada pembantu untuk mengambilkan oleh-oleh yang diletakkan di bagasinya. “Wah, kamu bawa apa Irsyad? Katanya baru pulang dari luar kota ya?” sapa mamanya Dinda senang dengan perhatian menantunya. Irsyad terkejut sebab pembantu mertuanya juga membawa dendeng sapi yang diletakkan disebuah toples sedang. “Iya, ini oleh-oleh khas kampung wisata desa Makmur,” jawab Irsyad mendadak gugup. “Ini dendeng sapi, kesukaan papa kalian. Dinda sih mana perhatian sama kami,” sindir mamanya Dinda. “Mama sih, kalau aku bawakan oleh-oleh sering tidak cocok,” sergah Dinda manja. “Eh, tadi papa dengar ada yang menyebut dendeng sapi?” sela papanya Dinda yang baru saja datang. “Iya, ini coba dulu oleh-oleh dari menantu kita,” jawab Mamanya Dinda antusias. “Hmm… Ini adalah dendeng sapi terenak yang pernah aku makan. Bik, ambilkan aku nasi sepiring, aku jadi langsung lapar ini,” ujar papanya Dinda sangat senang. “Syukurlah kalau Papa dan Mama suka, jika nanti aku ke sana lagi akan aku bawakan,” jawab Irsyad mencoba bersikap akrab dan ramah. “Tentu saja harus bawakan lagi,” balas papanya Dinda bersemangat. Beginilah keadaanya yang membuat Irsyad tidak bisa berkutik. Kedua mertuanya sangat baik, apalagi di saat kedua orang tua angkatnya mengalami situasi hampir bangkrut kedua orang tua Dindalah yang membantu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD