Levy Dan Claudia Lagi!?

1089 Words
Bukanlah sebuah keanehan bahwa Bank Platina bisa bertahan bahkan dengan jumlah nasabah yang sedikit. Itu dikarenakan nasabah-nasabah mereka adalah penggerak ekonomi negara. Dengan pelayanan yang luar biasa, terutama dalam hal keamanan dan kerahasiaan, bank ini menjadi pilihan banyak orang kaya, khususnya para miliarder ternama di negeri ini. Setelah Nanda berlari begitu jauh dan bertanya kepada beberapa orang di jalanan, dia akhirnya menemukan lokasi bank tersebut. Sungguh memalukan bila mengingat bagaimana orang-orang yang ditanyakan menatapnya seperti seorang yang gila. Dengan penampilan Nanda, tentu saja mereka tak habis pikir mengenai urusannya dengan Bank Platina. Sesampainya di hadapan pintu masuk Bank Platina, Nanda menghembuskan napas dan berjalan masuk. Baru dua langkah Nanda mendekati pintu bank tersebut, seorang penjaga keamanan menghentikannya di depan pintu. Penjaga keamanan tersebut mengerutkan kening dan menatapnya, ada kewaspadaan dan tatapan merendahkan dari pandangannya. "Ini adalah Bank Platina. Orang yang tidak berkepentingan dilarang masuk!" Nanda berkata dengan cepat, "Saya di sini karena ada urusan." “Urusan?” satpam itu memandang Nanda sambil tersenyum. “Apa kamu tahu Bank Platina itu bank macam apa?” pandangannya menyorot penampilan Nanda yang sangat tidak senonoh. “Kamu bisa ada urusan apa di sini?” Sebagai penjaga keamanan Bank Platina, pria itu telah melihat berbagai macam nasabah bank tersebut. Ada yang datang ke bank untuk melakukan setoran, melakukan transfer, dan banyak lagi. Kesamaan yang dimiliki orang-orang tersebut adalah … pakaian mereka yang glamor serta kendaraan mewah yang mereka pakai. Tak ada barang tak bermerek yang melekat di tubuh para nasabah itu. Lalu, bagaimana dengan Nanda? Nanda baru saja keluar dari lokasi konstruksi, seluruh tubuhnya kotor, rambutnya berlumuran abu semen dan wajahnya terlihat kusam. Lihat saja pakaiannya! Rompi putih terlihat termakan usia dan mulai menghitam, sepatu yang dia pakai saja sudah begitu usang! Kalau ada yang bilang Nanda adalah seorang pengemis, maka penjaga keamanan itu akan percaya! Lalu, bisakah orang semacam Nanda memiliki urusan dengan Bank Platina? “Nanda?” Pada saat ini, suara seorang wanita tiba-tiba terdengar di belakang Nanda. Mendengar suara ini, seluruh tubuh Nanda sekejap membeku. Tangannya bergetar ketika meresap ke dalam otaknya mengenai pemilik suara tersebut. Nanda menoleh perlahan, dan benar saja, itu adalah istr— mantan istrinya, Claudia. “Itu Claudia!? Sialan, kenapa ada dia di sini? Bisa-bisanya dia mempertontonkan adegan manja bersama Levy di hadapanku?” Sebaliknya, Claudia menatap Nanda dengan tatapan sinis. Terlihat tidak jauh dari sana, sebuah mobil mewah yang terlihat sangat baru berhenti di parkiran khusus. Seorang pria dan seorang wanita baru saja turun dari mobil tersebut. Penampilan wanita itu sangat cantik dengan riasan tipis yang menonjolkan fitur wajah rupawannya yang alami. Dia masuk melalui pintu belakang. Sementara itu, Claudia berjalan menghampiri pintu masuk Bank Platina sembari bergelayut manja pada lengan pria tampan di sebelahnya. Keduanya terlihat begitu intim! Melihat hal tersebut, Nanda merasa emosinya kembali menggebu-gebu. Sungguh luar biasa! Dari keintiman kedua orang itu, entah sudah berapa lama mereka berhubungan di belakangnya. ‘Tiga tahun menikah, tapi ujung jarimu saja tidak pernah kusentuh,’ batin Nanda dengan pahit. “Ini Nanda?” Pria tampan berpenampilan seperti seorang eksekutif itu menatap Nanda dengan senyum tipis, terlihat dia sedang merendahkannya. “Mantan suamimu?” “Hanya status saja,” Claudia mengerutkan bibirnya, menatap Nanda dengan jijik. “Dia bahkan tidak menyentuh jariku sekali pun, jangan terlalu banyak berpikir!” Setelah itu, Claudia melihat ke arah Nanda dan berkata, "Nanda, ini pacarku, Levy.” Dia tersenyum, “Kamu pasti sudah dengar, ‘kan?” Ya, Nanda memang pernah mendengar tentang orang ini. Levy Candra, putra dari seorang pengusaha kaya terkenal di Kota JC. Bahkan, sebelum dia sepenuhnya memegang kendali atas perusahaan ayahnya, nama Levy sendiri sudah mampu menggetarkan seisi Kota JC. Hanya saja, walau kebanyakan orang di Kota JC tahu reputasinya, tapi bukan reputasi positif yang tersebar di seantero kota. Yah, tahu sendiri, anak orang kaya biasanya suka semena-mena. Nanda tidak menyangka pacar baru Claudia adalah pria itu! Levy menatap Nanda sambil menyeringai, "Terima kasih telah membantuku menjaga Claudia selama tiga tahun terakhir." Claudia melengkungkan bibirnya dengan tidak senang, "Menjagaku? Apa yang bisa dia jaga untukku? Dalam satu bulan bekerja keras, tapi dia hanya bisa mendapatkan kurang lebih dua puluh juta. Beli tas saja tidak bisa! Kamu berkali-kali lipat lebih baik dari dia!" Sungguh tidak tahu malu! Nanda menundukkan kepalanya, tapi dia tidak bisa berkata apa-apa. Yang bisa dia lakukan adalah menahan emosi sambil mengertakkan giginya. “Tutup mulutmu! Kartu ini, kartu yang sedang kamu lihat, bisa membeli semua aset keluargamu dalam hitungan detik!” Ancaman Nanda menggema, semua terbelalak. Bagaimana mungkin seorang kuli bangunan bisa membeli semua aset keluarga kaya itu?! “Apa yang kamu lakukan di sini?” Claudia mengerutkan kening dan bertanya. "Ada urusan," jawab Nanda dengan tenang. "Hmm?!" Pada saat ini, Levy mencibir dan berkata, "Ada urusan? Memangnya kamu bisa masuk pintu ini?” “Tutup mulutmu sebelum aku beli semua aset keluargamu!” “Hey, hey, hey, jangan membual di tengah siang bolong seperti ini. Apa kamu nggak malu dilihatin semua orang? Dengan penampilan seperti itu, kamu mau nunjukin kalau kamu punya uang? Dih, jijik banget! Sumpah, punya pembantu seperti kamu saja aku tidak sudi. Malu-maluin keluarga!” Petugas keamanan langsung menyerobot dan membungkuk pada Levy. “Pak Levy, silakan masuk!” ucapnya seraya mempersilakan pemuda tersebut. Sungguh jauh berbeda pelayanan yang dia tawarkan untuk Nanda. Claudia melirik Nanda dengan tatapan menghina. Lalu, dia berjalan masuk ke bank dengan tangan masih menggandeng lengan Levy. Saat dirinya melewati Nanda, suara Levy bisa terdengar berucap, "Claudia, mobil mewah itu untukmu, hanya satu miliar. Cukup untuk menunjukkan ketulusanku, ‘kan?” tanyanya. “Aku tak ingin kamu pulang malam setiap hari.” Mendengar hal ini, Claudia tersenyum manja seraya menganggukkan kepalanya, “Ya.” Melihat adegan ini, tangan Nanda terkepal erat. Dia melirik penjaga keamanan itu dan berjalan menuju pintu masuk lagi. “Berhenti!” Penjaga keamanan itu melihat ke arah Nanda dan mengeluarkan tongkat listrik di tangannya. Dia menunjuk ke arah Nanda dan mengancam, “Pergi dari sini! Kamu tidak memenuhi syarat untuk masuk ke dalam tempat ini!” "Aku benar-benar di sini karena ada urusan!" ulang Nanda, tak lagi menggunakan bahasa sopan. Pada saat ini, di belakang mereka, suara dingin terdengar. “Tuan Levy, ada apa? Kenapa Anda marah-marah? Apa yang membuat Anda tidak nyaman sampai meninggikan suara seperti itu?” Clara bertanya halus. Nanda menoleh. Di belakangnya, entah sejak kapan, ada wanita tinggi dengan pakaian formal yang melekat di tubuhnya tengah berdiri. Wanita itu menatap Nanda dan kemudian ke penjaga keamanan, alisnya sedikit mengerutkan kening. Pada kemeja wanita cantik itu, terdapat sebuah tanda pengenal yang bertuliskan sebuah nama, “Clara Rusdianto”.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD