Clara adalah direktur sekaligus pemimpin bank Platina cabang ibukota. Dia memiliki wewenang penuh mengatur keuangan seluruh miliarder negeri X dan berhak untuk mencabut keanggotaan keluarga terkaya apabila terbukti melanggar perjanjian.
Seperti yang diketahui di kalangan para miliarder, bank ini menetapkan aturan ketat bagi mereka yang ingin jadi nasabah. Tentu, setelah mereka menyetorkan bukti pajak dan laporan keuangan bulanan pada bank.
Bank juga mensyaratkan pemberian akses pada seluruh IP dan server keamanan perusahaan agar mereka bisa memantau adanya manipulasi dana atau mereka benar-benar murni menyetorkan data keuangan yang sudah mereka daftarkan di kantor pajak.
“Hmm, ada apa memangnya? Kenapa ada keributan di bank milikku?” Clara bertanya elegan. “Levy, Claudia, bukannya kalian tahu tentang aturan ketika masuk bank ini? Tidak boleh ada satu pun kebisingan yang mengganggu nasabah lain. Apa keanggotaan kalian mau dicabut karena melanggar aturan?”
"Orang ini mengatakan dia ada urusan," kata penjaga keamanan sambil menunjuk ke Nanda. "Namun, saya curiga dia merencanakan kejahatan, jadi saya tidak membiarkan dia masuk!"
Clara melirik Nanda, wajahnya juga menunjukkan sedikit kewaspadaan, tapi dia masih bertanya, "Anda bilang Anda di sini karena ada urusan, benar? Apa Anda ingin melakukan penyetoran, penarikan, atau sesuatu yang lain?" Dia masih mempertahankan sikap profesional.
“Lihat pria miskin ini... udah dekil, bau, compang-camping, pasti mau galang dana!” Levy menunjuk Nanda tepat di depan mukanya.
“Ohh, bukannya Anda suami Nona Claudia?” Clara bertanya singkat.
Keluarga Setiawan dan Keluarga Nayama merupakan nasabah tetap Bank Platina.
Dan, setiap nasabah, wajib meng-update seluruh anggota keluarganya, baik itu suami, anak angkat, hingga anak pungut sekalipun. Termasuk Nanda, identitasnya sudah dipalsukan oleh Martha dan Claudia.
“Heh, jaga mulutmu ya!” Claudia berdiri, menatap Clara dengan mata terbelalak.
“Siapa bilang dia suamiku? Aku sudah menceraikannya jauh-jauh hari. Misal kamu nggak percaya, aku bisa lihatin kesepakatan cerai kita! Mana mungkin gadis cantik Keluarga Setiawan mau menikahi seorang pekerja kasar, yang bahkan harta saja nggak punya!”
“Gaji dia sebulan cuma 18 juta, itu pun bekerja seharian penuh, tanpa pernah memperdulikan pekerjaannya di villa mewah Keluarga Setiawan.”
Nanda sudah bosan dengan makian itu. Apalagi, dia belum tidur semalaman. Marah dan membalas perlakuan Claudia hanya menguras energinya.
“Kenapa, Ndre? Kenapa kamu diam? Kamu nggak bisa bales, kan? Atau, kamu emang mengamini omonganku bahwa kamu memang suami yang nggak punya previllege apa-apa?”
“Memutar-balikkan fakta, hanya itu yang kamu bisa,” celetuk Nanda.
“Jaga mulutmu!?” Levy mendekati Nanda, seolah lupa, dia pernah dihajar Nanda sampai babak belur.
“Sayang, biarkan saja dia membual! Toh, orang seperti ini, sama sekali belum pernah menyentuh kulitku. Dasar dekil, bisa kudisan aku disentuh pria sepertinya!”
Menyakitkan!
Tapi, ujaran kebencian itu sudah jadi makanan Nanda sehari-hari.
Sesak? Tentu.
Nanda tidak bisa menyangkal itu. Kata-kata Claudia, semuanya benar. Selama menjadi suami kontrak, tidak sekalipun Nanda menyentuh Claudia, kecuali saat sedang adu mulut atau Claudia menamparnya.
Levy yang mendengar hal itu, hanya bisa tertawa. “Apalagi? Belum puas menghinakan keluarganya Claudia? Cih, modal tampan dan tubuh atletis aja nggak cukup, Bos!”
Mengeluarkan dompet dari tas kain hitam yang dia tenteng, Nanda dengan lantang mengucap, “aku ke sini, mau narik uang!”
Sontak, orang-orang kaya di sekitar mereka tertawa.
“Wah, wah, wah, bualan apalagi ini? Mau narik uang di Bank Platina? Jangan bercanda, deh! Bank ini khusus untuk nasabah dengan aset kekayaan minimal 20 miliar. Astaga, ini masih pagi, tapi sudah ada pelawak yang mau mengais recehan!”
Claudia mengernyitkan dahi, dia tidak ikut memaki Nanda karena malu.
Bagaimanapun juga, Nanda adalah mantan suaminya meskipun mereka sudah bercera. Nama Nanda juga pernah menjadi bagian dari Keluarga Setiawan.
Dan, kejadian ini, kembali membuat Claudia kehilangan muka di depan Clara dan beberapa miliarder yang ingin menarik uang.
“Ingat ya, kita udah nggak punya hubungan lagi? Sampai aku tahu kamu mantau aktivitasku, aku nggak segan lapor polisi. Biar kamu ditangkap, dipenjara, lalu disiksa di sana!?”
Nanda heran, kenapa orang-orang kaya begitu arrogan.
Dia, dengan santainya, mengulang ucapan yang tadi. “Tidak sama sekali. Buat apa aku membuntuti orang sepertimu, nggak ada manfaatnya. Sekali lagi aku katakan, aku ke sini untuk menarik uang!”
Levy Nayama menoleh ke arah Clara, lalu berujar halus. “Nona Clara, tolong jelaskan pada pengemis ini, apa syarat awal menjadi nasabah Bank Platina...”
“Untuk jadi nasabah di bank kami, minimal, Tuan harus punya aset sebesar 20 miliar. Dan, dana deposit awalnya, lima kali lipat dari aset yang Tuan miliki.”
Clara menjelaskan halus, dia seperti pegawai profesional, tidak membeda-bedakan nasabah. Tapi, dengan cepat, Claudia menyambar ucapan Clara.
“Denger, nggak? 100 miliar! Apa kamu tahu sebanyak apa uang 100 miliar? Cih, pasti otakmu nggak bisa nyerna uang sebanyak itu. Pegang dua puluh juta aja tanganmu udah gemetar!”
“Haduh, haduh, bisa-bisanya kamu punya mantan suami seperti ini?” Levy menggelengkan kepala.
Nanda tidak peduli.
Dia segera pergi ke teller bank yang ada di pojok karena nomor antriannya sudah dipanggil.
Sama seperti Levy, Claudia, dan Clara, teller bank itu menatap Nanda dengan tatapan malas. Tanpa bertanya apa-apa, teller bank segera mengecek kartu ATM yang baru saja diberikan Nanda, tanpa membaliknya lebih dulu.
Unidentified!
Tidak terdeteksi!
Teller bank melempar kartu itu ke wajah Nanda, sangat tidak ramah. “Jangan bercanda! Kartu milik Anda tidak terdeteksi di bank kami. Lihat, kamu bisa baca, kan? Apa jangan-jangan, kamu nggak bisa bahasa Inggris?”
Suara teller, kembali disambut gelak tawa seluruh nasabah.
“Duh, bikin malu aja! Lebih baik kamu pulang, deh, dari pada aku panggil satpam buat usir kamu!” Clara berkata seraya jalan mendekati teller bank.
Nanda belum sarapan pagi ini. Melawan cacian mereka terlalu menguras energi. Karena itulah, Nanda memelankan suara untuk menghemat energinya.
“Tolong, periksa ulang ATM itu! Aku yakin, di dalamnya, ada saldo tak terbatas. Kira-kira, bisa membeli seluruh aset bank ini.”
Byuh!
Levy menyemburkan minumannya begitu mendengar kata-kata Nanda.
“Hahahaha, dia bilang apa ... bisa beli aset Bank Platina? Sumpah, aku nggak mau komentar lagi. Dia benar-benar gila!”
Levy dan Claudia pergi menjauhi Nanda karena Levy punya urusan lain di perusahaan. Sedangkan, Nanda sendiri, tengah berhadap-hadapan dengan petugas keamanan yang sedari tadi melotot karena tidak suka dengan kehadiran Nanda.
Petugas keamanan yang sudah jengah melihat keributan yang ditimbulkan Nanda, segera menarik tangan pria itu, membuat ATM yang dipegang Nanda jatuh ke lantai.
Tapi, baru beberapa langkah keluar dari pintu, seseorang keluar dari ruangan yang ada di dekat kursi duduk teller pojok. Lalu, pria itu berkata, “hentikan, atau kalian semua dipecat!?”
Namun, pada saat ini, Clara sama sekali tidak memedulikan betapa kotornya kartu tersebut. Dia terbelalak dan membeku di tempat.
Dengan tergagap, Clara menatap kartu bank itu dan berkata, “B-berlian. Itu kartu berlian!”