Masih sore, sang surya bahkan belum segaris nirwarna. Tetapi Maya sudah bolak-balik mengurusi semua pekerja yang sibuk mendekorasi rumah. Maya sampai memanggil tukang untuk memasang wisteria di langit-langit rumahnya. Astaga, ini hanya pertemuan biasa. Tamu agung seperti apa yang akan jadi calon suaminya? Revalia memijit pelipis yang mendadak pening, mengingat perdebatan dengan Maya semalam. Ah, ibunya tetap pada keputusannya. Sama sekali tak ada celah untuknya menolak. "Mi, please deh, masa Rere harus nikah sekarang, sih?" Revalia mengeluh, tak suka. Mendengarnya saja sudah seperti terjangkit virus dan bakteri. "Lah, enggak papa, kan? Nikah mudah lagi zaman, loh. Dari pada bikin dosa." Maya menjawab santai, seraya mengecek daftar tamu yang akan dia undang. Revalia sampai menganga. Belu

