... Revalia baru saja akan menghidupkan mesin. Tangannya mendadak kaku, tak mampu memutar kunci kontak. Dia tak mungkin salah lihat, laki-laki yang tengah bermain hujan ditemani perempuan yang mendorong kursi rodanya itu sangat dikenalnya. Bahkan hampir di semua detil tubuh laki-laki itu. "Pak Ardi ...." Bibirnya bergetar ketika nama itu terlontar dari mulut. Gigi Revalia gemeletuk menahan amarah. Dia masih hidup, Revalia yakin waktu itu dia telah menghantam kepala laki-laki itu dengan sekuat tenaga. Darahnya bahkan berceceran di mana-mana. Laki-laki itu memang mengejar ketika Revalia mencoba kabur melewati pagar berduri. Dia bahkan menghantam lutut laki-laki itu dengan pecahan asbak yang masih dia pegang, tentunya dengan harapan laki-laki itu tak mampu lagi untuk bangkit. Revalia berh

