BAB 18

1563 Words
UNGKAPAN HATI NATA   "Setitik embun pun sulit untuk bertahan di tempatnya jatuh pada titik awal."   —Natalia Amanda—   ***                                                  Empat hari setelah pertemuan Rega dan Dante hari itu, Rega berubah menjadi manusia paling sensitif di jagat bumi. Sekali saja Anin menyebut nama Dante di hadapannya, muka lelaki itu langsung berubah masam. Detik itu juga dia akan meminta agar namanya saja yang disebut, karena itu akan merusak hari-harinya yang sudah dibuat sangat berwarna. Jujur, itu sebuah hal yang sangat membahagiakan, harapan seorang ayah terhadap anak akhirnya dapat terwujud. Rasa syukur acap kali Anin haturkan begitu Rega tersenyum manis kepadanya. Selain merasa bahagia, Anin juga merasa sedih terjebak dalam konflik Renata dan Nata. Apalagi malam itu Anin bersikeras kalau Nata menyembunyikan sesuatu darinya, perihal siapa peneror misterius yang sering mengirimkan surat dan hadiah mahal ke dalam lokernya. "Nin." Panggilan Rega membuat Anin menoleh, meninggalkan kegiatan kemas-berkemasnya sejenak karena tak mau mengabaikan pemuda itu. "Gue ke bawah sebentar, mau ngurus biaya rumah sakit." Anin mengangguk, Rega kemudian berlalu, hari ini ia tak banyak bicara, pikirannya dikacaukan oleh sosok misterius itu. Anin sudah mencatat beberapa petunjuk mengenai orang itu di buku hariannya, jadi ia hanya perlu waktu yang tepat untuk menyelidiki semuanya. Tak berselang lama, terdengar ketukan sepatu yang berbenturan dengan ubin perlahan mendekat. Anin dan Farel sontak bertatapan, penasaran siapa yang datang berkunjung setelah Farel diperbolehkan pulang oleh dokter. Setelah pintu ruangan terbuka lebar, Nata muncul dengan wajah tertekuk penuh sesal. Anin jadi merasa bersalah mendiamkan gadis itu berhari-hari. Masih berdiri lesu di ambang pintu, Nata berujar. "Anin, lo masih marah sama gue?" Suasana canggung itu menguasai tubuh Anin, dirinya dirundung risau meski terlihat acuh tak acuh. Tidak tahan melihat Anin mengabaikannya, Nata kembali berkata. "Gue minta maaf. Nggak seharusnya gue menghina Rega dan berdebat sama Renata malam itu, harusnya gue bisa mengendalikan emosi. Tapi gue bodoh karena terlalu menuruti amarah gue. Maaf, sekali lagi maaf, Nin," ungkap Nata sambil menatap Anin yang mematung di tempatnya. Ada Farel yang sedang berdiri di dekat jendela, berdiam diri seolah memberi ruang pada kakaknya. "Soal kecurigaan lo terhadap gue. Lo bener. Gue memang menyembunyikan sesuatu, tapi soal kecurigaan lo tentang gue yang melakukan semuanya, itu salah. Gue bukan orang yang lo maksud. Gue hanya mengambil sedikit peran, mempertahankan apa yang gue liat dari pengamatan gue, bersikeras mengatakan bahwa bukan Rega orangnya. Ada orang lain yang lebih membutuhkan lo, mengharapkan kepedulian lo disaat dia terkurung dalam keterpurukan. Menganggap lo lebih dari sekadar penyesalan, menjadikan lo sebagai tumpuan kehidupan." Nata sengaja menjeda kalimatnya. Hanya ingin memastikan apakah Anin akan memberinya sedikit kesempatan untuk memperbaiki diri. Kenyataannya cukup pahit, Anin tak memberi reaksi apa-apa selain menunduk membelakangi Nata. Setetes air mata berhasil lolos dari pertahanannya, Nata tak kuasa menahan diri untuk tidak meraung kencang. Tanpa sadar, Rega berdiri di belakang Nata. Mendengarkan sekaligus memikirkan, apa maksud semua ucapan gadis itu. "Gue ke sini juga atas permintaan dia. Perlu lo ketahui, Nin, gue suka sama dia. Sayangnya, dia lebih menyukai sahabat gue ketimbang gue yang hanya bisa menelan pahitnya mencintai dalam diam. Gue udah lama memendam perasaan." Ketika itu, Nata melihat Anin mengangkat kepala. Ia yakin gadis itu terkejut. "Untuk sekarang, gue mencoba untuk merelakan. Terlepas dari lo bakalan bersatu sama dia atau enggak, itu hak lo untuk memilih. Sekarang, tugas gue udah selesai. Setelah ini, gue nggak akan bantu dia lagi. Maafin gue, keegoisan gue menghancurkan segalanya, gue menjadi manusia egois hanya karena menginginkan orang yang gue sayang bahagia." Kedua tangan Anin mengepal kuat, lain halnya dengan Rega yang berdiri tegang di belakang, menampilkan raut kebingungan. Bertanya-tanya dalam hati apa yang sedang Nata jelaskan. Terlebih melihat Anin masih teguh pada keputusannya untuk tidak menghiraukan Nata. Helaan napas terdengar berat, Nata menertawakan nasibnya. "Gue tau lo masih marah sama gue. Orang seperti gue memang nggak pantas untuk dimaafkan, gue ngerti perasaan lo," katanya dengan suara parau. "Gue permisi." Mata indah Nata masih menyorot tubuh Anin yang kaku, setelah mendapat jawaban kalau Anin tidak akan memberinya maaf, barulah gadis itu berbalik dengan kepala tertunduk. Tangisnya tak lagi bisa ditahan, bahkan kehadiran Rega yang berdiri tepat di dekatnya tak sempat ia sadari. Nata begitu terluka, Anin tahu itu. Hatinya juga ikut berkecamuk ketika Nata pamit dari hadapannya. Anin juga ingin mencegah kepergian sahabatnya, namun untuk saat ini, sepertinya lebih baik tidak bertegur sapa. Persahabatannya terlalu rumit. Melihat Anin tak kunjung berbalik, Rega melangkah masuk. "Apa yang Nata omongin, kenapa gue ngerasa lo menyembunyikan sesuatu dari gue?" seru Rega sambil melirik Farel yang baru saja membalikkan badan. "Memang ada beberapa hal yang nggak perlu lo ketahui. Mengenai perkataan Nata, sepertinya cukup lo diemin. Nggak usah ikut campur urusan perempuan," jawab Anin sambil menyapu air matanya, lalu berbalik. "Kita pulang sekarang!" Tanpa berniat ingin membantah ataupun menyanggah, Rega langsung bergerak. Membawa barang-barang kemudian membawa Farel ke luar menuju parkiran rumah sakit. Setibanya dua laki-laki itu di dalam mobil, kesadarannya kembali. "Anin mana?" tanya Rega bingung. Seharusnya tadi Anin berjalan di belakangnya. "Kenapa nggak ada?" Tak bisa banyak bergerak karena lukanya belum kering, Farel hanya bisa menggeleng. "Mana gue tau, coba aja lo telpon," sahut Farel cuek. Jika anak itu tidak dalam keadaan sakit, tentu saja Rega sudah menjitak kepalanya agar tidak berkata seenaknya pada Rega. *** Sebelum Anin menginjak lantai dasar, di penghujung tangga ada seseorang yang membekap mulutnya dan menariknya menjauh dari Rega serta Farel. Begitu sampai di dekat lift, barulah orang itu melepas bekapannya dan meminta maaf berkali-kali pada Anin. "Kakak ngapain sih pake bekap-bekap segala, ngomong baik-baik juga bisa ‘kan?" sembur Anin kepalang marah melihat kelakuan kakak kelasnya. Lebih tepatnya sahabat Dante yang sering dipanggil Eros. Eros mengapit dua telapak tangannya, menghaturkan maaf karena tahu apa yang sedang ia lakukan memicu peperangan. "Maaf, Nin. Gue nggak bermaksud untuk bersikap buruk sama lo, kalau gue ngomong baik-baik juga pasti si Rega nggak bakal ngijinin. Satu-satunya cara yang bisa gue lakuin ya ini, menculik lo dari Rega," paparnya penuh kecemasan, gerakannya sangat tidak tenang. Akhirnya Anin memilih untuk menerima keadaan, mungkin keadaannya sedang genting. "Yaudah, kenapa nyulik gue?" tanyanya langsung pada inti percakapan. "Orangtua Dante resmi bercerai setelah Mama Dante kembali dari luar kota. " Anin langsung terdiam mendengarnya, namun berusaha untuk tetap bersikap seperti biasa. "Terus apa hubungannya sama gue?" Mata teduh Eros mengungkapkan sebuah harapan. "Tentu ada. Karena, cuma lo yang bisa menenangkan dia untuk saat ini. Gue sama Bonar bener-bener kewalahan menghadapi Dante yang sekarang, dia terlalu bersikap seperti hewan buas. Kita bener-bener nggak tau harus gimana lagi, apalagi setelah Dante tau mamanya bakalan nikah sama teman SMA-nya dulu." Mata Anin berair, pikirannya mendadak kacau, juga hatinya yang tiba-tiba saja ingin menemui laki-laki itu. "Di mana dia sekarang?" "Di jalanan, ngamuk-ngamuk kayak sapi kurban." *** Tidak peduli dengan kerumunan yang menghambat jalannya, setelah turun dari motor bebek Eros, Anin segera menerjang keramaian di depannya. Wajahnya memucat melihat dua laki-laki sedang beradu fisik dengan bersimbah darah dari hidung hingga sudut bibirnya. Luka-luka lebar juga mendominasi wajah keduanya, tak heran mengapa banyak pengguna jalan yang menyaksikan perkelahian ini. Setelah salah satunya berhasil tumbang, barulah mereka berhenti. Eros yang baru saja tiba berseru marah pada laki-laki berjambul keriting, sementara Anin langsung berlari memeluk tubuh memar Dante yang kehilangan setengah kesadarannya. "Kenapa lo ngelakuin ini, anjing!" maki Eros pada Dante yang sedang bernapas terengah-engah. "Lo mau bikin sahabat kita mati?" Satu pukulan berhasil membuat Bonar tersungkur. Tatapannya nanar, penyesalan menyelimuti dirinya. Tenaganya terkuras habis karena beradu otot dengan sepupunya yang tidak waras itu, sehingga baru dipukul sekali oleh Eros, badannya langsung ambruk ke tanah. Sambil terbatuk-batuk, Bonar menatap Dante dalam pangkuan Anin. "Anjing kalau nggak dipukulin dulu nggak bakalan bisa diam," ujarnya lemah, tanpa logat Medan seperti biasanya. "Seharusnya lo berterimakasih karena gue udah bikin si b**o itu kembali waras!" "Lo berdua sama-sama t***l!" cerca Eros geram. "Bubar lo semua!" teriak Eros begitu menoleh pada kerumunan yang masih belum ingin membubarkan diri. "Bubar, nggak, sebelum gue penyokin lo satu-satu!" Usai mendapat sorakan dan kerumunan itu menghilang, barulah Eros menarik kerah baju Bonar dan menyeret pemuda itu ke dalam mobil Pak Wirya. Tanpa banyak berkata, setelah membawa Bonar masuk mobil, Eros langsung membopong tubuh Dante dan meminta agar Anin mendampinginya. Selepas kejadian itu, Eros langsung mengemudikan mobil menuju rumah sakit terdekat. "Dante nggak mau papa sama mama pisah. Dante nggak mau pengorbanan Dante berubah jadi anak nakal sia-sia," ucap Dante dalam keadaan setengah sadar. Matanya terpejam seperti orang pingsan, namun bibirnya malah berucap banyak hal. "Ma, jangan tinggalin Dante sama papa." "Papa nggak mungkin bisa hidup tanpa mama." "Mama segalanya buat kita." Masih banyak hal lagi yang keluar dari mulut Dante perihal orangtuanya. Ternyata hidup Dante tak seenak yang Anin bayangkan selama ini. Punya orangtua, hidup mewah dalam artian berkecukupan, punya Bi Arung dan Pak Satpam yang sudah dianggap seperti orangtua kedua. Anin pikir Dante tak pernah mengalami hal-hal seburuk ini, terlebih lagi menurut pengamatan Anin, Dante dan ayahnya saling mendukung dan memberi perhatian meski keduanya kerap kali berselisih paham. "Gue nggak akan biarin pengorbanan lo sia-sia, Kak. Lo harus bahagia meski mama sama papa lo pisah," ucap Anin sambil menitikkan air mata. "Perceraian nggak akan membuat lo kekurangan kasih sayang. Meski kedua orangtua lo pisah, gue pastiin kasih sayang mereka akan tetap lengkap buat lo. Gue janji." Berbekal kesadaran yang setengah, Dante mampu mendengar suara Anin. Bahkan juga mampu merasakan sesuatu yang kenyal menempel di keningnya. Dante yakin gadis itu mengecup dahinya. "Cepat sembuh dan jangan terluka lagi." Gue makin nggak mau lepasin lo, Nin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD