GEMURUH YANG TAK TERLEWATKAN
"Kalau kamu memilih mundur, ku pastikan selamanya aku akan terkubur dalam hancur."
—Rega Algatama—
***
"Makasih, Mbak, kembaliannya ambil aja. Sebagai gantinya, saya minta doanya untuk kesembuhan adik saya."
"Baiknya adek ini, terimakasih, ya. Semoga keluarga adek yang sedang sakit cepat disembuhkan, aamiin...."
Setelah membayar kopi yang ia beli di emperan rumah sakit, Rega langsung memboyong tubuhnya menuju parkiran. Hujan deras yang mengguyur ibu kota sejak setengah jam yang lalu membuatnya perlahan kedinginan. Untuk menghangatkan tubuh, Rega berniat mengambil jaket yang ia simpan dalam mobil berwarna abu-abu miliknya.
Baru terhitung beberapa langkah, Rega melihat Anin dipayungi oleh seorang laki-laki. Cukup lama Rega memperhatikan, sampai akhirnya ia sadar siapa yang sedang bersama Anin saat ini. Detik itu, tingkat kecemburuannya lebih parah lagi, dadanya bahkan membusung naik tanpa bisa terkendali. Kopi yang Rega beli sontak ia lemparkan begitu saja, payung di tangannya juga ia buang seperti tak berguna. Laki-laki itu berlari kemudian menghantam pelipis laki-laki yang ada di sebelah Anin sampai tersungkur ke aspal.
"Rega!" Anin memekik kencang, payung yang melindungi kepalanya terhempas entah ke mana. "Lo apaan, sih. Gue nggak suka, ya, lo kayak gini!"
Kejadiannya begitu cepat, Anin tak sempat melerai, juga tak memberikan Dante kesempatan untuk menghindar. Kini Rega mematung di tempatnya, menatap Dante yang terduduk di aspal seperti orang bingung. Bingung mengapa dirinya semarah ini ketika melihat Anin tersenyum bersama Dante. Dengan rasa marah dan kecewa yang bercampur jadi satu, Anin membantu Dante untuk bangkit.
Setelah Dante berdiri kokoh di sampingnya, Anin kembali menatap Rega yang masih berdiri seperti orang bodoh di bawah rintikan hujan yang menderas. "Lo kenapa? Kalau punya masalah sama gue, jangan libatin orang lain. Apalagi sampai mukulin orang kayak gini," tuturnya dengan berusaha menyetarakan suaranya dengan hujan.
"Lo masih asisten gue ‘kan?"
Pertanyaan aneh itu tiba-tiba terlontar, membuat kedua alis Anin melengkung cukup dalam. Tatapannya menyorot lelaki itu tajam. "Lo kenapa, sih, aneh banget dari kemaren gue perhatiin?"
"Gue butuh lo!"
"Sejak kapan? Bukannya Anin lo anggap sebagai pelampiasan?"
Sahutan ketus bernada sindiran Dante berhasil mengambil alih perhatian. Dua laki-laki itu bertarung dalam tatapan kemarahan. Tidak peduli badannya akan remuk ketika hujan semakin keras menghantam tubuh. Sementara Anin harus berdiri dengan perasaan heran. Memangku tubuhnya dalam derasnya hujan yang menusuk kulitnya.
Tatapan Rega kembali nyalang. "Sejak kapan, itu bukan urusan lo! Yang jelas, gue butuh dia sekarang. Lo nggak ada hak buat nahan Anin supaya nggak pergi sama gue," ujarnya bernada emosi.
Dante tak mau kalah, laki-laki itu tersenyum remeh menanggapi perkataan Rega. "Jangan membuat hidup Anin semakin rumit karena perasaan lo yang nggak pasti itu, dia udah cukup menderita selama berada di sisi lo. Sekarang biarin dia mengambil keputusan sendiri," pintanya setelah mengusap wajah. Hujan lebat yang menerpa wajahnya membuat Dante kesulitan menatap objek di depannya.
"Nggak akan ada pilihan!" teriak Rega lantang, mengalahkan suara hujan. "Sebagai tokoh sampingan harusnya lo tau diri! Ingat batasan lo, karena yang berperan sebagai pangeran di sini adalah gue."
"Apa?" Dante tertawa ringan, Anin semakin merasa tidak tenang. Cemas. "Posisi lo sebagai pangeran nggak menjamin kebahagiaan. Mendingan sama tokoh sampingan yang sudah jelas akan membahagiakan."
"Peduli setan! Intinya, Anin asisten gue, terserah gue mau bawa dia kemana. Itu semua jelas bukan urusan orang asing yang suka ikut campur macam lo."
Kalimat yang Rega ucapkan itu berbarengan dengan aksi spontan menggenggam tangan Anin, gadis itu sudah menggigil di tempatnya dan tersentak ketika Rega menggapai tangannya. Rega sadar dirinya keterlaluan, tapi salah Anin juga kenapa lelah bertahan saat dirinya sudah membalas perasaan. Kenapa pula semesta membawa orang asing terjebak dalam hubungan mereka, membuatnya rumit saja.
"Rega, apaan sih, lepasin tangan gue. Kasian Kak Dante," pinta Anin ketika Rega menariknya pergi.
Laki-laki itu berjalan di depan tanpa membalas perkataan Anin, menyeret gadis itu dengan paksa. Di belakang, Anin melihat Dante menatap kepergiannya. Jika diingat-ingat lagi, cobaan yang Dante terima lebih buruk dari apa yang Rega dapatkan. Disaat Rega mendapatkan banyak kepedulian dari saudara, serta perhatian dari Anin, justru Dante tak mendapatkan satu pun hal itu. Entah bagaimana Dante bertahan, namun Anin yakin dua sahabatnya berperan besar dalam kehidupan laki-laki itu.
"Hari ini hari peringatan kematian pacar Kak Dante!"
Susah payah Anin memberontak, langkah Rega terhenti juga dengan kalimat Anin yang terakhir. Jantung Rega bahkan berdesir dan segera membeku di tempatnya. Anin pandai sekali mengendalikan diri Rega, membuat laki-laki itu tak berkutik.
"Bukan tugas lo untuk menghibur dia," balas Rega datar setelah menarik diri dari lamunan panjangnya.
"Jangan egois Rega, kehilangan itu menyakitkan."
"Maka dari itu, gue capek kehilangan orang yang gue sayang. Jangan heran kenapa gue memilih egois. Lagi pula lo masih terikat perjanjian sebagai asisten gue. Nggak etis aja lo menghibur orang lain tanpa memikirkan kecemburuan gue."
Percuma Anin meminta untuk dilepaskan, nyatanya Rega tak membiarkan dia pergi. Rega yang dulu Anin kenal telah berubah, Anin berhasil membawanya kembali pada dunia yang seharusnya Rega tempati. Akan tetapi, situasinya sudah berubah. Hati Anin yang dulu bersikeras bertahan kini perlahan ingin menyerah. Terlebih setelah kehadiran Dante dalam hidupnya, dunia Anin menjadi tak melulu tentang Rega.
Wajah Anin yang memucat itu menunduk sedih, kecewa dan bahagia menyelimuti hatinya. Jika saja Rega berubah sebelum dia mengenal Dante, semua tak akan menjadi serumit ini. Jika saja Rega melegalkan perasaannya pada Anin, juga menjadikan Anin sebagai kekasihnya, mungkin Dante tak akan mengambil peran terlalu jauh. Namun kini semua itu tak berguna, semuanya semakin menjadi abu-abu berkat jantung Rega yang terus berdetak menyebut nama Tania.
"Saat ini dia butuh gue. Sama seperti lo dulu, ketika lo kehilangan sosok ayah dalam hidup lo." Anin kembali berucap kata.
"Dan melupakan semua perjuangan lo untuk mendapatkan tempat di hati gue?"
Balasan kata Rega sukses membungkam bibir Anin, sekilas ada kekecewaan yang terselip di balik mata lelaki itu, karena Anin.
"Gue menyerah, Rega. Perjuangan itu sia-sia, gue memilih mundur dari pada harus gugur dalam lumpuh."
"Kalau lo memilih mundur, gue pastiin selamanya gue akan terkubur dalam hancur."
Usai mengutarakan perasaan masing-masing, entah mau ditanggapi seperti apa, semuanya sudah terlalu jelas untuk dipertanyakan. Hati Anin yang kemarin-kemarin ikut membeku kini menghangat kembali, walau diguyur hujan deras, sabit di bibirnya terus terlihat seiring tatapan tulus yang Rega hunuskan.
***
Pukul 22.15 malam. Rega menyerah melawan kegelisahannya. Memilih tidur di atas ubin beralas selimut ternyata bukan pilihan yang bagus. Berharap Anin dapat tidur lebih nyaman, Rega mengalah untuk tidak tidur di sofa panjang yang ada di dekat jendela. Namun pengorbanannya sia-sia, tahu-tahu gadis itu terlelap di dekat tubuh Farel yang terbaring lemah. Melihat itu, Rega mendesah. Pikirannya diracaukan oleh kedekatan Anin dan Dante beberapa jam setelah laki-laki itu pamit pulang usai menjenguk Farel.
Mata Rega tak henti-hentinya menatap punggung Anin, ada keresahan yang tak bisa diungkapkan di sana. Ada ketakutan yang tak bisa ia utarakan melalui kata-kata, juga ada beban yang tak bisa ia bagi dengan siapa pun. Lelah bertahan dalam kekacauannya, Rega memutuskan untuk ke luar ruangan. Meninggalkan Anin dan Farel setelah mengirim pesan singkat kepada Dante, yang berisikan kalimat perintah untuk bertemu di tengah dinginnya malam.
Tidak enak menyusahkan orang yang hidupnya sudah susah seperti Dante, akhirnya Rega dan Dante bertemu di depan sebuah kedai kopi yang buka 24 jam, terletak tidak jauh dari kediaman Dante. Setelah bertatap muka, keduanya saling melempar tatapan sinis yang berlangsung cukup lama. Hingga percakapan diawali oleh Rega.
"Kenapa lo suka sama Anin? Apa karena rasa bersalah lo, atas kejadian yang hampir merenggut kehormatan Anin dulu, makanya lo suka sama dia?"
Kalimat bernada interogasi itu sukses mengawali pertengkaran yang sudah reda beberapa jam yang lalu. Seperti sedang diwawancara, Dante tergelak dalam hati. Rasa cintanya untuk Anin tentu lebih besar dari rasa cinta yang baru Rega dapatkan beberapa hari yang lalu. Ah, apa benar baru didapatkan? Mengingat perlakuan Rega, rasanya tidak mungkin. Pasti laki-laki itu baru menyadari perasaannya.
"Lebih dari pada itu," jawab Dante yakin. Pandangannya terpusatkan pada secangkir kopi yang masih mengepulkan asap. "Rasa bersalah gue berubah menjadi pelabuhan asmara yang memaksa hati gue untuk berlabuh pada satu nama. Anindita Maheswari. Tak peduli seberapa besar rintangan, gue siap menghadang sekalipun nyawa yang akan dipertaruhkan. Saat ini, dia menjelma sebagai sumber kehidupan di hidup gue. Tanpa dia, gue akan hidup dalam keadaan mati."
"Lebay lo," komentar Rega usai mendengar penjelasan Dante. "Jatuh cinta sebegitu lebay-nya, ya, sampe bikin otak lo dipenuhi tentang Anin, kalau dia nggak ada, lo ikutan nggak ada?"
"Jangan membohongi perasaan lo. Sebagai laki-laki sejati, itu merupakan tindakan pengecut yang nggak bisa dimaafkan. Jangan karena masa lalu, lo selalu dikepung rasa bersalah, harusnya lo berjuang sama-sama melawan rasa bersalah itu kalau memang yakin suatu saat lo akan jatuh cinta sama Anin. Keputusan itu jauh lebih baik daripada lo harus mengekang dia dalam ketidakpastian yang lo ciptakan."
Mendengar jawaban spontan Dante barusan, Rega tak diberi kesempatan membalas. Rasanya ada yang menyentil hatinya untuk mempertahankan Anin agar tetap berada di sisinya. Astaga Tuhan, Rega diminta untuk seegois ini sekarang. Hatinya juga berkecamuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang suatu hari akan ia sesalkan karena sudah melepaskan Anin bersama orang lain.
Kepala Rega terangkat, memandang lurus objek di depannya yang juga ikut serius ketika panggilannya menyapu pendengaran Dante. Dalam beberapa detik, Rega meyakinkan dirinya bahwa ia mampu mempertahankan Anin agar tetap disisinya, apalagi gadis yang didamba Dante itu sudah memberikan seluruh hatinya untuk Rega, lalu apa yang perlu dikhawatirkan? Ada, satu hal. Ia tidak ingin memberi kesempatan kepada lelaki manapun untuk mendekati gadisnya, tak terkecuali laki-laki bernama Dante itu.
Bibir Rega terbuka, ragu-ragu ia jelas mengungkapkan. "Gue nggak mau kita saling memperebutkan Anin. Tanpa tindakan yang dapat merugikan Anin sendiri, gue mau lo berhenti mengejar Anin."
"Lo serius?" balas Dante kaget, matanya ikut melotot saking terkejutnya. Ternyata laki-laki di hadapannya sudah cukup berani sekarang, terlepas dari sikap pengecutnya yang tak mau menerima kenyataan. "Anin bukan barang yang harus diperebutkan. Mana mungkin gue menjadikan dia barang taruhan."
"Tapi siapa pun pantas berjuang dan akhirnya mendapatkan. Seperti Anin yang gue kasih kesempatan dan akhirnya dapat memenangkan kesempatan. Lo mungkin akan mempergunakan kesempatan itu, siapa tau ‘kan? Gue hanya berusaha memukul mundur kemungkinan buruk tentang lo."
Laki-laki itu malah tersenyum kecil. "Itu bukan kesempatan. Yang lo kasih buat Anin adalah sebuah keraguan, lo lupa sering minta dia untuk menyerah setelah lo bujuk dia untuk bertahan? Kecemasan lo berlebihan, padahal lo yakin hati Anin udah seutuhnya menjadi milik lo."
Iya. Rega melupakan satu kekonyolan itu, kebodohannya yang entah mengapa mengacaukan segala perjuangan Anin. Namun apa mau dikata, sekarang Rega hanya perlu mengikuti alur. Seberapa besar dukungan semesta untuk laki-laki seperti Dante.
"Jadi, keputusan lo?"
"Gue rasa lo akan kecewa sama keputusan gue," jawab Dante, kemudian menyeringai dengan maksud mengejek.