BAB 16

2837 Words
REMUK DAN RAPUH BERSISIAN   "Remuk membuat orang-orang terluka, sementara rapuh membuat orang-orang tidak berdaya." —Dante Abraham—   ***   "Lo tau darimana kalo gue mau ketemu sama Pak Arman dan Farel masuk rumah sakit?" Sekembalinya Rega dan Anin dari sekolah lamanya untuk menemui Pak Arman, keduanya berjalan bersisian di koridor rumah sakit. Menuju ruangan yang saat ini ditempati oleh Farel setelah menjalani operasi. "Soal Renata itu...." "Jangan dipikirin." "Maaf." Mengingat kejadian malam itu, Anin sampai tidak berani bertatapan dengan Rega. Perkataan kasar Nata masih terngiang di telinganya, belum lagi terbayang wajah sedih Renata, membuat Anin semakin tidak tenang dan terus merasa bersalah. Dan secara tidak langsung, Anin dapat menebak siapa yang memberitahu Rega perihal Farel masuk rumah sakit. Sudah jelas Renata yang memberitahunya, Renata sendiri pasti mendapat kabar dari Dewa. Seiring kaki melangkah, tiba-tiba tangan Rega melesat cepat merangkul tubuhnya, membuat Anin tersentak lalu menoleh pada Rega yang sedang menatapnya sambil tersenyum. "Jangan rusak kebahagiaan lo sama hal-hal nggak penting. Cukup dengerin. Masuk kuping kiri, keluar kuping kanan. Jangan biarin omongan nggak penting itu ditransfer ke hati lo dan akhirnya jadi penyakit." Mata Anin mengerjap beberapa kali, langkahnya semakin lama semakin pelan, hingga akhirnya terhenti. Anin terlalu terkejut akan perubahan sikap Rega terhadapnya, apalagi sampai mengeluarkan kata-kata bijak. Tanpa diminta, Anin mengeluarkan senyum indahnya. "Gue pikir langit akan terus mendung," gumamnya, menyiratkan sebuah kekaguman. Setelahnya, kedua remaja itu sama-sama melanjutkan langkah. Sesampainya mereka di depan pintu, Anin mencubit pinggang Rega karena rangkulannya tak kunjung lepas. Laki-laki itu tak marah, ekspresinya tetap datar. Hanya Anin yang memelotot tajam padanya, sementara Rega terlihat cuek dan tampak tidak ambil pusing, namun beberapa kali pemuda jangkung itu terlihat mengelus pinggangnya. Jelas sedang kesakitan. "Ngapain lo buang-buang air mata, gue nggak kenapa-napa." Ketika keduanya masuk ke dalam ruangan, suara Farel yang bernada kesal menyambut kedatangan Anin dan Rega. Mereka terus melangkah masuk lalu berdiri di samping Dewi yang tersedu-sedu, menyesali perbuatannya. Sementara Farel tidur dalam posisi membelakangi Dewi. Adik kandung dari Dewa Pramudya Ataric itu terus meminta maaf, tapi Farel tetap cuek padanya, seolah tidak peduli. Lagi pula Farel tak menyalahkan Dewi atas kecelakaan yang menimpanya. Anin mengelus puncak kepala Dewi, kasihan melihatnya diabaikan. "Farel, omongan lo, kok, kasar banget sama Dewi?" tegurnya pada Farel yang kini terkejut akan kehadirannya. Farel berbalik, menatap Anin dengan memasang wajah kesal. "Wi, mendingan lo pulang, deh. Gue butuh istirahat yang banyak, gue nggak bisa tidur karena lo nangis mulu dari tadi. Panas kuping gue dengernya," pungkasnya tanpa peduli pada teguran Anin. "Farel!" "Apalagi, sih, Kak. Perasaan, gue salah mulu, dah," rutuknya. Anin tak menggubris perkataan Farel yang begitu pedas, tatapannya kembali diantarkan pada wajah khawatir Dewi. "Wi, kamu pulang dulu, ya. Nanti balik lagi ke sini setelah kamu merasa baikan. Farel ‘kan udah bilang, dia nggak nyalahin kamu atas apa yang terjadi, itu murni kecelakaan," ujar Anin lembut. Dewi mendongak lalu tersenyum tipis, kemudian matanya melirik Farel jengkel. "Aku maunya Farel nggak bangun aja sekalian, Kak. Habis masuk ruang operasi dia makin ngeselin," papar gadis itu, kembali bergurau saat Anin membelanya. Tentu saja, Anin memang akrab dengan Dewi, bahkan melebihi keakraban Dewa dengan dirinya. Candaannya sukses membuat Farel kesal, sebuah jitakan pun kontan melesat di kepala Dewi. "Anjir lo!" "Apa?" "Bukannya didoain cepet sembuh, malah disumpahin!" "Biarin, doa orang teraniaya cepat dijabah sama Tuhan. Semoga aja pas gue balik ke rumah, gue dapet kabar lo masuk ruang mayat!" tandas Dewi semakin membuat Anin tersinggung, walau ia tahu bahwa gadis itu hanya bergurau, tetap saja itu sedikit menggores hati Anin. Ketika raut wajah Anin berubah karena tidak senang dengan perkataan Dewi, Rega segera berseru. "Wi, biar gue yang anterin lo," katanya menawarkan. Sontak saja kedua alis Anin bertaut bingung, pun dengan Farel yang menyorot Rega dengan tatapan curiga. Pasalnya Dewi itu mantan kekasihnya dulu, bisa bahaya kalau Dewi pulang bersama Rega. "Di sini ‘kan ada abang sama nyokap lo tadi, ke mana mereka?" sambar Farel. "Mereka udah pulang, katanya cuma sebentar. Kak Renata juga nanti balik lagi ke sini sama Tante Tika," jelas Dewi biasa. Tak lagi merasa canggung pada Rega, seolah keduanya sudah mengubur kisah mereka dalam-dalam. Setelah mendapat jawaban itu, Farel hanya membalas dengan anggukan. "Yaudah, Ga. Anterin Dewi," pinta Anin. Rega mengangguk. "Ayo, Wi," ajaknya. Berjalan duluan tanpa peduli dengan Dewi. Gadis itu belum beranjak, hatinya resah jika diantar pulang oleh orang yang disukai oleh Anin. "Kak, aku udah nggak punya rasa apa-apa sama Kak Rega. Jangan khawatir," ujarnya lalu memeluk Anin erat. "Hati lo belum tentu!" tukas Farel. "Sirik, ya, karena belum pernah pacaran? Kasian, jomblo seperempat abad," balas Dewi disusul tawa mengejek di ujung kalimatnya, membuat Anin tersenyum tipis. Sementara Farel terlihat ingin muntah melihat kepedean teman sekelasnya itu. "Udah, gue pulang dulu. Bye, Kak Anin." Setelah kepergian Dewi dan Rega, tak lama berselang terdengar dua perempuan yang mengucapkan salam ketika memasuki ruangan. Anin tentunya menyahut, lalu menoleh dan mendapati Renata dan Tika yang sudah tersenyum ramah ke arahnya dan Farel. "Tante," sapa Anin riang. Kemudian menyalim tangan ibu satu anak itu dan memeluknya dengan tangisan penyesalan. "Maafin Anin." Sadar gadis itu menangis karena perbuatan teman barunya yang bernama Nata, Tika kemudian menepuk-nepuk pelan pundak Anin. Mencoba membuatnya tenang, sementara Farel langsung tersenyum menyambut Renata. "Udah, nggak apa-apa, Nin. Mungkin teman kamu itu sedang kesal, Renata juga nggak marah sama kamu, kok. Dia cuma sedikit kecewa sama Nata," ungkap Tika, masih dengan senyumnya. Wanita itu masih berhati malaikat, masih menjadi wanita mulia yang mencintai banyak orang. Renata kemudian ikut mengelus lengan Anin, ikut sedih dan kasihan padanya. "Iya, Nin. Mama bener, gue cuma agak kecewa sama Nata, sama lo nggak ada apa-apa, kok. Tenang aja," tambahnya. Anin melepas pelukannya, lalu mengusap air matanya. "Beneran?" Suaranya terdengar serak. "Beneran," sahut Renata singkat, kemudian menyodorkan sekantong plastik. "Nih, Farel katanya mau buah. Jadi, pas lagi di jalan gue sama mama beliin ini buat dia." Tiba-tiba Anin merengut dan melirik Farel dengan kesal, sementara yang dilirik hanya cengengesan di ranjangnya. "Makasih, Ren, Tante. Tapi, nggak usah repot-repot, palingan Farel cuma becanda, kok." Anin memasang ekspresi tidak enak, menolak plastik putih dalam genggaman Renata. Farel memang keterlaluan. Renata menyenggol bahu Anin sambil tersenyum. "Ih, apaan, sih! Nggak apa-apa kali, udah kayak sodara juga," putusnya. Mendengar hal itu, Anin merasa sedikit lega. Renata dan keluarganya memang selalu memedulikan dia dan Farel. Ketika Tika dan Renata sibuk berbincang dengan Farel, ponsel yang ada di tangan Anin bergetar. Menampilkan nomor tidak dikenal yang masuk. Mungkin karena ada kepentingan, menurut Anin ia harus menjawabnya. Setelah menggeser tombol hijau dan panggilan itu tersambung, benda pipih itu segera Anin tempelkan di telinga. Tak disangka suara panik dari laki-laki menyapu pendengaran Anin. "Nin, si Dante jatuh dari tangga, kau paham ‘kan maksud aku? Sekarang dia pasti babak belur setelah menghantam anak tangga," katanya dengan logat khas kampung halamannya. Anin jelas tahu siapa itu, Bonar. Salah satu dari dua sahabat Dante yang tadi siang Anin lihat bersama laki-laki itu di dalam mobil. "Ini penipuan?" Laki-laki itu berdecak. "Hei, yang betul saja mulut kau itu bicara. Mana mungkin orang ganteng macam aku ini penipu, aku serius. Kalau tidak percaya kau datang saja lah ke sana. Tolong kau urus si bodoh itu, aku sedang bersama ayahku, ada keperluan." "Di mana alamatnya?" "Nanti aku kirimkan kau alamatnya," ujar Bonar. Memang sepertinya dia sedang di luar rumah, suasananya terdengar berisik. "Dapat nomor gue dari mana, Kak?" Anin mendadak curiga. "Nyolong dari Dante, Nin!" teriak seseorang, kali ini suara itu terdengar lembut, seperti suara khas milik Eros. "Ah, kurang ajar kau, Ros! Macam nggak pernah nyolong aja kau itu, habis ini kita berantem aja, lah!" Setelah itu, Anin terdiam. Dua laki-laki itu ribut dan akhirnya Anin mematikan sambungannya sepihak, kepalanya pusing mendengarkan cekcok antara Bonar dan Eros. Sejenak, Anin menatap Farel yang sedang berbincang dengan Renata. Tidak ada cara lain kalau begitu, ia harus menitipkan Farel sebentar pada ibu dan anak itu. *** "Jadi, luka di tubuh lo ini karena diserempet motor, bukan jatuh dari tangga?" tanya Anin usai membersihkan luka yang menganga di beberapa bagian tubuh Dante. Setelah mendapat kabar dari Bonar bahwa Dante terjatuh dari tangga dan tidak ada yang bisa menolongnya, tanpa banyak berpikir Anin langsung mendatangi alamat rumah yang Bonar kirimkan melalui ponselnya. Meninggalkan Farel di rumah sakit dan menitipkannya sebentar pada Renata. Untung saja sahabatnya itu mengerti dan tidak banyak bertanya, hingga kini posisi Anin sudah berada satu atap dengan Dante. Pemuda yang selalu berpakaian rapi itu tersenyum lebar tanpa maksud. "Lo dikerjain sama Bonar," ujarnya dengan tatapan lurus menatap foto keluarga yang terpajang di dinding. "Itu anak emang kurang kerjaan." Selesai mengobati luka-luka itu, Anin mengikuti arah pandang Dante, sambil meringis karena berhasil ditipu oleh Bonar. Ketika manik hitam matanya bertemu dengan foto tersebut, pupil matanya ikut melebar. Pasalnya dua laki-laki berpakaian formal yang tengah mengapit wanita berhijab itu, Anin merasa tak asing dengan sosok keduanya. "Bonar dan Pak Wirya—" "Keluarga kecil yang mau menampung gue setelah kabur dari rumah," potong Dante cepat, menjawab segala praduga Anin. "Pak Wirya itu om gue, Nin. Intinya gue sama Bonar sepupuan." Usai menerka-nerka, Anin mengangguk seolah paling mengerti. Dirinya masih dilanda kebingungan, tapi enggan bertanya lebih jauh. Di sekolah, tiga manusia itu menjalani perannya masing-masing. Sebagai orang asing sebatas guru dan murid. Namun apabila di rumah, mereka menjadi sebuah keluarga yang hangat dan harmonis. Bahkan jika dibandingkan dengan rumah Dante, rumah milik Bonar ini jauh terasa lebih berwarna. "Makasih. Kedatangan lo bikin gue kangen sama rumah." "Kenapa harus lari kalau lo lebih merasa bahagia di rumah lo sendiri?" Pertanyaan Anin yang spontan itu sukses membuat Dante tertegun beberapa detik. Mata keduanya bertatapan, bertemu dalam sebuah titik harapan. "Justru karena gue udah nggak bisa bahagia di rumah itu, makanya gue lari. Menjauh, mencari titik bahagia yang gue idamkan." Melihat tatapan Dante yang menaruh sebuah harapan besar kepadanya, Anin mendadak khawatir dan tidak tahu harus berbuat apa. Dirinya tentu tahu kalau masalah yang dihadapi Dante bukanlah masalah sepele yang tidak perlu dirisaukan. Itu masalah yang rumit, karena itu Anin tidak mau mengungkitnya lebih dalam. Untuk mengurangi rasa cemasnya, Anin membereskan obat-obat di atas meja. Bola mata Dante yang meneduhkan bergerak mengikuti pergerakan Anin, ia pasti tahu Anin tidak mau mendengarkan kisah hidupnya lebih jauh. Tapi, berhubung Dante bisa berduaan dengan Anin, ia harus memanfaatkan kesempatan ini untuk menceritakan semuanya. Termasuk menceritakan alasan mengapa dulu ia hampir mengotori Anin, membuat Anin terjebak dalam kebodohan yang ia ciptakan sendiri. "Hari ini hari peringatan kematian mantan pacar gue." Anin langsung terkejut dan mematung di tempatnya. Tangannya yang sedang bersentuhan dengan kapas ikut membeku, matanya tak berani menatap pemuda itu. Entah bagaimana, ingatan tentang Rega terlintas begitu saja di benaknya. Seolah merasa ada persamaan luka yang membuatnya hancur dan kecewa. "Pagi-pagi tanggal dua puluh Mei, gue diputusin sama pacar gue. Namanya Elsa, adik kandung Eros. Gue nggak tau kenapa Elsa mutusin gue tiba-tiba, gue bingung. Ketika gue tanya sama Eros apa alasannya, dia nggak mau ngasih tau, Bonar juga. Semua orang diam. Tanpa ada pilihan lain, akhirnya kita putus disaat gue bener-bener cinta sama Elsa, tanpa alasan yang jelas." Tak tahu harus berkomentar apa, yang bisa Anin lakukan hanya diam, mendengarkan baik-baik cerita pemuda itu. Namun hatinya mulai sakit ketika mendengar kata putus, sungguh memilukan kisah asmara yang Dante lalui. Dante menatap Anin dengan tatapan kosong, matanya mulai berair dan memerah. Anin cemas, sebab tatapan itu begitu dingin menusuk sampai ke hati. "Siangnya, setelah kita putus, gue dapet kabar dari Eros kalau Elsa meninggal. Saat itu, Eros cerita kalau Elsa menderita kanker otak," sambung Dante dengan air hangat yang satu-per satu mulai jatuh berderai. Laki-laki itu menghela napas, mencari sumber kekuatan. "Ternyata, Elsa mutusin gue karena hal itu. Dia mau pergi karena lelah bertahan di bumi. Pantes nggak ada yang mau cerita. Mau nggak mau gue harus merelakan Elsa. Sorenya, gue dan yang lain nganterin Elsa ke tempat peristirahatan terakhirnya. Gue kayak orang gila marah-marah di makam, kalau bukan karena sahabat gue, gue nggak akan mau hidup lama di dunia ini. Lebih baik gue nyusul Elsa." "Kenapa lo ceritain semua ini ke gue, Kak?" Anin mulai merasakan kepedihan yang sama, dirinya diseret ke dalam suasana duka terlalu jauh. Sampai-sampai matanya ikut menitikkan air mata. "Gue harus balik ke rumah sakit!" Ketika tubuh Anin bangkit, langkah kakinya ditahan oleh Dante. Laki-laki itu menyentak tangannya, seakan tidak mengizinkan kepergian Anin. Mata teduh Dante dipenuhi kesedihan, entah seberapa besar kesedihan itu menelan kebahagiaannya, Anin juga tidak tahu. Yang jelas di mata Dante hanya terlihat kesedihan dan kesedihan, begitu larut. "Lo harus tau semuanya. Gue mohon dengerin penjelasan gue dulu." Melihat Dante memohon kepadanya, Anin juga tidak tega meninggalkannya dalam duka ini. Dengan berat hati, Anin bertahan di tempat ia berpijak. Sesekali tangannya bergerak mengusap air yang meluncur deras di pipinya. Masih dengan posisi menggenggam tangan Anin, Dante kembali bercerita. "Pukul delapan malam, gue pulang dari makam. Hati gue hancur, gue kecewa sama dunia. Dan sampe rumah, gue malah denger mama sama papa ribut karena mama ngaku selingkuh sama mantan pacarnya waktu SMA dulu. Detik itu juga gue langsung ngamuk, gue berantem sama selingkuhan mama. Bahkan gue berani bentak-bentak mama, ngusir dia dari rumah. Karena kejadian itu, gue langsung kabur dari rumah. Ninggalin rumah yang lagi kacau-kacaunya. Sampe akhirnya gue berpikir untuk mencari pelampiasan. Malam itu tanpa sepengetahuan Eros sama Bonar, gue pergi ke club terus ketemu sama Ranti dan dua temennya. Cewek itu bersikap sok akrab sama gue, seolah dia yang paling mengerti keadaan gue." Sesungguhnya hati Anin tak kuat mendengar semua penjelasan Dante, tetapi ia harus tahu apa yang sebenarnya terjadi. Apakah benar Dante memang tidak sengaja melakukannya, atau dia juga sama seperti Ranti? Laki-laki itu menahan tangisannya, seolah tidak mau terlihat lemah di hadapan Anin. "Lagi asik ngobrol, gue ditawarin minuman sama dia. Tanpa mikir dua kali, gue langsung neguk minuman itu. Karena terlalu banyak, minuman itu berhasil membuat gue ngerasa pusing banget. Dengan keadaan pusing, gue ditarik ke sebuah kamar sama Ranti dan dua temennya. Sesampainya di dalam, gue ngeliat lo tidur pulas di atas ranjang dengan pakaian yang sedikit terbuka. Pakaian itu mengekspos punggung mulus lo." Dante meneguk salivanya susah payah, lidahnya memberat ketika bercerita tentang kelakuan bodohnya pada Anin. Dengan tatapan tajam Anin, Dante kembali melanjutkan kata-kata. "Entah kenapa, ngeliat lo dengan kondisi kayak gitu, tubuh gue mulai bereaksi aneh. Gue ngerasa panas dan mulai kehilangan kendali, bahkan gue nggak peduli sama tiga cewek yang lagi sibuk fotoin gue sama lo. Gue berusaha untuk nahan diri gue, tapi gue cowok normal yang nggak akan bisa menahan diri gue melihat—lo tau apa maksud gue. Setelah Ranti dapetin apa yang dia mau, dia sama temen-temennya pergi dan ninggalin gue sama lo di kamar itu. Untungnya ada Rega yang tiba-tiba muncul dari dalam lemari dan membawa lo pergi dari hadapan gue. Gue juga inget kalau gue sempet berantem sama dia. Kalau Rega nggak buru-buru bawa lo pergi dari hadapan gue, gue nggak tau apa yang akan gue perbuat sama lo, Nin. Gue sadar kalau malam itu gue dipengaruhi sama obat perangsang, dan lo tau siapa pelakunya." "Lo bodoh, Kak," bentak Anin marah. "Lo bener-bener bodoh!" Pemuda itu memilih mengangguk, menerima dengan lapang d**a makian Anin. "Ya, lo bener. Gue bodoh karena berubah jadi anak berandalan yang suka bolos dan menantang peraturan, bahkan akhir-akhir ini gue lebih sering mampir ke tempat biadab itu dan mencari objek pelampiasan, itu semua gue lakuin supaya lupa sama masalah yang sedang gue hadapi. Gue pikir dengan mengundurkan diri jadi Ketua OSIS, menjadi murid bebal di sekolah, mama sama papa bakalan peduli sama gue. Ternyata gue salah, mereka semakin menjauh, mungkin malu punya anak kayak gue. Yang ada mereka malah makin sibuk sama dunia mereka sendiri, karena itu gue lari dari rumah. Gue udah nggak betah tinggal di sana, hidup gue hancur." Mengingat semua kejadian pahit yang membuat kehidupannya hancur, detik ini hati Dante serasa ditikam ribuan belati. Wajahnya tak lagi mampu berhadapan dengan Anin, malu, gengsi, tapi inilah yang sudah terjadi. Kepedihan itu tak lagi sanggup ia sembunyikan. "Orang bilang, remuk dan rapuh itu satu paket. Ketika remuk membuat lo kecewa, detik itu juga kerapuhan meminta lo untuk berduka tanpa bisa berbuat apa-apa. Remuk dan rapuh itu bersisian. Remuk membuat orang-orang terluka, sementara rapuh membuat orang-orang tidak berdaya. Itu yang gue rasain dulu, jauh sebelum lo masuk ke dalam ruang kosong dalam hidup gue. Beruntung sebelum Ranti pergi ke Yogyakarta, dia pamit sama gue dan menceritakan semua hal yang terjadi. Membuat gue lega karena lo nggak sampe gue apa-apain. Juga membuat gue perlahan jatuh hati sama lo." Tangan Anin mengepal di sisi tubuhnya, matanya yang berlinang air mata menatap vas bunga dengan kegetiran. Tak seharusnya laki-laki itu jatuh hati padanya setelah bertindak kurang ajar, namun dilain sisi, ada cara bagi Anin untuk melupakan Rega dan menyusun lembaran kisah yang baru bersama Dante. "Gue suka sama lo." Satu tarikan cepat membuat tubuh Anin melesat cepat ke dalam pelukan Dante. Tubuh Anin berbenturan dengan tubuh Dante tanpa bisa dikendalikan, hingga tangisan keduanya sama-sama memecah kerapuhan. "Meskipun gue udah nggak ada, cinta gue nggak akan pernah ikut mati. Dia seperti waktu, selalu berdetak dan akan hilang jika kehidupan sudah tak lagi ada."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD