BAB 15

1751 Words
HARI BERSAMANYA   "Bahagiaku adalah kamu, kesedihanku juga kamu. Memilih antara bahagia dan sedih terasa tidak ada bedanya ketika kamu bersama yang lain." —Dante Abraham—   ***   "Farel, lo udah seminggu nggak masuk sekolah!" "Farel, gue dobrak pintunya kalau lo nggak ke luar sekarang!" "Farel, gue nggak mau dititipin surat terus sama Pak Arman!" Pukul 06.00 pagi, seperti biasa, Dewi Kerusuhan telah membuat keributan di depan rumah Anin. Menggedor-gedor pintu rumah sambil berteriak memanggil nama Farel, membuat tetangga keluar dari rumah mereka dan menatap tajam sosok gadis berambut ikal itu. Padahal gadis itu tahu pasti kebiasaan buruk lelaki bernama Farel yang sejak tadi ia panggil, tetap saja ia bersikeras membangunkannya. Tidak peduli walau harus mendapat kecaman dari warga kompleks. Anin dengan tergesa-gesa meluncur ke pintu depan, membukakan pintu untuk seseorang yang membuat rusuh di luar. "Aduh, Dewi, kamu jangan bikin keributan di sini. Malu sama tetangga, dikira Farel udah ngapa-ngapain kamu nanti," tegur Anin ketika sudah berhadapan dengan Dewi—adik perempuan Dewa yang kebetulan satu kelas dengan Farel. Tidak heran jika Pak Arman—guru BK SMA Gemilang—selalu menitipkan surat panggilan orang tua kepadanya. Lantaran Dewi dikira memiliki hubungan baik dengan keluarga Farel, padahal kenyataannya Farel dan Dewi selalu bertengkar dimana pun mereka bertemu. Di depannya, Dewi cengengesan sambil bersikap malu-malu. "Maaf, Kak. Habisnya aku kesel dititipin surat terus sama Pak Arman, aku selalu dipanggil ke ruang BK, image aku sebagai siswi baik-baik ‘kan jadi jelek. Nanti nggak ada cowok yang naksir sama aku," ungkapnya sambil tersenyum. Ya, Dewi sama keras kepalanya seperti Dewa. Gadis itu juga nakal, tetapi bedanya Dewi cukup pintar di bidang akademik. Tidak seperti Dewa yang hanya menguasai bidang non akademik saja. Mendengar pengakuan Dewi, Anin hanya bisa geleng-geleng kepala. "Lain kali jangan kayak gitu lagi, ya, malu tau," ujarnya. "Masuk, Wi. Kayak biasa, Farel masih molor di kamarnya. Kakak udah 5 kali bolak-balik bangunin dia, eh, taunya dia tidur lagi." Sambil melangkah masuk, Dewi memberi hormat pada Anin. "Siap, Kak, aku janji kalau bangunin Farel nanti pake petasan." Anin tertawa mendengarnya, kemudian berkata, "Jangan! Bisa-bisa Kakak diusir dari sini." "Becanda, Kak," ucapnya kemudian. "Kakak punya es batu, nggak?" Kening Anin mengernyit, bingung. "Ada, sih, tapi buat apa?" "Ada lah pokoknya." Setelah menyahut, gadis itu berlari menuju kulkas, dan kembali lagi sambil membawa es batu di tangannya. "Kak, boleh, nggak, aku ke kamar Farel? Mau bangunin dia, hari ini dia harus masuk sekolah!" Sambil berkata begitu pada Anin, walau sedikit kesulitan, Dewi tetap mengeluarkan amplop putih dari ranselnya, surat panggilan sekolah untuk Anin selaku walinya Farel. Dengan cepat Anin membaca surat tersebut, hatinya kecewa saat tahu Farel tidak belajar dengan baik di sekolah. Padahal setiap hari Anin selalu membangunkan Farel. Tetapi saat di sekolah, hal apa saja bisa terjadi sebab Farel sudah lepas dari pengawasannya. "Boleh. Tapi, inget ya. Kakak selalu ngawasin kamu, jangan berbuat macam-macam." "Siap, Kak. Paling nanti aku cuma ngecup jidatnya orang ganteng. Lumayan, ahahaha...." "Dewi!" Sebelum terkena amukan Anin, Dewi segera berlari kencang menuju kamar Farel. Dirinya sudah terbiasa bersenda gurau dengan Anin, sudah dianggap seperti kakaknya sendiri, mengingat hubungan baik antara keduanya telah terbentuk sejak Dewi masih kelas 2 sekolah menengah pertama (SMP). Melangkah sambil mengendap-endap ke kamar Farel seperti maling membuat kehadiran Dewi tidak terdeteksi. Pintu kayu berwarna putih itu bahkan tidak berdecit ketika Dewi menarik gagangnya. Secara pelan-pelan, Dewi berhasil masuk ke kamar Farel, namun ketika pandangannya tertuju pada ranjang, pupil matanya melebar. Laki-laki itu tidur bertelanjang d**a di depannya, sementara sebagian tubuhnya lagi ditutupi oleh selimut tebal berwarna abu-abu. Dewi tersenyum-senyum memikirkan rencana liciknya. Sesampainya gadis itu di samping Farel, Dewi sudah siap dengan es batu di tangan kanannya. "Maafin gue, Rel. Gue jadi perempuan terlalu pinter, makanya nggak ada yang naksir, eh? Salah, ya, omongan gue?" gumamnya pelan kemudian terkekeh geli. Di dalam hati, Dewi menghitung mundur, jarinya bahkan ikut menyertai. 3 2 1 "Anying! Dingin banget anjir, ahk, b*****t!" "Bwahahah... mampus lo, Rel!" Berhasil. Tawa Dewi menyembur lepas begitu saja. Dewi tertawa puas. Dirinya berhasil membuat Farel terkena sial pagi-pagi, yang mengartikan bahwa kekesalannya pada Farel tersalurkan dengan sangat baik. Dengan menempelkan es batu ke pipi pemuda bermata sayu itu, Dewi akhirnya berhasil membangunkan Farel dengan wajah kusut dan mata memelotot lebar. Masih belum berniat beranjak dari tempat tidurnya, Farel menoleh pada Dewi yang masih berdiri di sampingnya, lantas menatap gadis itu nyalang. "Dewi, sialan, lo ngapain di kamar gue?" "Dasar kebo lo, bangun, udah pagi! Sekolah woi, sekolah!" Mata besar Farel melirik es batu yang mencair telah menetes ke lantai. "Itu buat apa?" tanyanya pada Dewi yang pagi ini sudah merusak suasana hatinya. "Sial banget hidup gue harus ketemu cewek kayak lo." "Ini cara ampuh buat bangunin lo yang tidurnya kayak orang mati," sahut Dewi sambil terkikik. Membalasnya dengan memperlihatkan wajah songong dan begitu berani pada Farel. "Siniin, biar gue bales lo!" "Kejar gue kalo bisa, aaahk...." "Dewi, awas!" Ketika Farel turun dari kasurnya, hendak menyambar es batu yang berada di tangan Dewi kemudian membalas perbuatannya, kejadian nahas justru menimpa mereka. Saat Dewi ingin kabur, gadis itu tidak sadar jika es batu yang telah mencair menetes di dekat kakinya. Alhasil, gadis itu tergelincir dan tubuh mungilnya hilang keseimbangan. Beruntung, dengan sigap Farel menarik tubuh Dewi ke dalam pelukannya, sialnya malah laki-laki itu yang terkena imbasnya. Tubuh Farel tumbang membentur nakas, sedang Dewi terlihat terkejut dengan apa yang terjadi. Wajah mungil itu memucat melihat wajah kesakitan Farel dari jarak yang sangat dekat. Jantungnya pun mulai berdetak tidak beraturan, rasanya Dewi ingin menangis karena rasa bersalahnya. "Rel, punggung lo berdarah." Setetes air mata jatuh dari kelopak mata Dewi ketika ia melihat darah segar mengalir di punggung Farel. Cukup banyak, tapi kejadian itu membuatnya sangat terkejut dan ketakutan. "Ma-maafin gue...." *** Karena kecelakaan pagi itu, Farel dan Dewi tidak jadi masuk sekolah. Keduanya harus berakhir di rumah sakit. Dewi memang tidak dirawat, tetapi karena terlalu terkejut tubuhnya menjadi lemas tak bertenaga. Sementara Farel, punggungnya yang robek karena gagang nakas yang runcing harus dijahit. Siang nanti laki-laki itu akan menjalani operasi. Selama di sekolah, Anin terlihat murung. Hari-hari yang dijalaninya terasa sangat suram, belum lagi mengingat hubungannya yang merenggang dengan Rega, untungnya Ziva tidak lagi datang untuk membulinya. Anin bersyukur di sekolah tidak ada yang mencari masalah dengannya. Jika ada, bisa-bisa ia bolos perdana hari ini. Sepulang sekolah, Anin terburu-buru menuju halte. Dikarenakan takut terlambat menemui Pak Arman yang meminta bertemu dengannya melalui surat panggilan, Anin memacu langkah tanpa memedulikan Dante beserta dua temannya yang sejak tadi menyerukan namanya. "Anin! Lo mau ke mana, kenapa menghindar dari gue?" "Jangan ganggu gue, Kak!" Langkah Anin tidak berhenti hingga ia tiba di tempat tujuannya, begitu pula dengan Dante yang tidak berhenti mengejar menggunakan mobil sporty hitam miliknya. Setelah memakirkan mobilnya di tepi jalan, barulah Dante turun dan langsung menghampiri Anin, sedang kedua temannya, Bonar dan Eros menetap di dalam. Wajah laki-laki itu terlihat sangat khawatir. "Mau ke mana? Kenapa hari ini lo beda banget, ada sesuatu yang terjadi?" tanya Dante bertubi-tubi. "Nggak ada, gue cuma pengen sendiri, minggir!" jawab Anin ketus, pelupuk matanya mulai digenangi air mata. Tahu jika gadis di hadapannya berbohong, Dante menyentuh pundak Anin. Menatap gadis itu lebih dekat dengan perasaan cemas. Sayangnya Anin terus menunduk, menghindari tatapan Dante. "Lo kenapa?" Tidak puas dengan jawaban ketus Anin, Dante kembali bertanya. Wajah pucat Anin seolah mengartikan bahwa ada kejadian yang membuatnya tidak bersahabat. Lagi-lagi gadis berambut hitam itu terdiam, tidak merespons. "Jawab, Nin!" bentak Dante sambil mengguncang pundak Anin, membuat air mata gadis itu jatuh berderai ke tanah. Anin menangis tepat di hadapannya, tatapan orang-orang di sekelilingnya mulai berubah. Mata mereka menajam, menyangka bahwa Dante yang telah membuat Anin menangis. Tidak tega melihat Anin menangis, Dante memeluknya. Mengelus punggung Anin pelan-pelan, sementara tubuhnya bergetar karena Anin menangis sampai tersedu-sedu dalam dekapannya. Suara gadis itu tertahan, tangisnya tidak pecah membelah keramaian, sebab terlalu banyak mata yang memandang di halte ini. Setelah membiarkan gadis itu menangis dalam pelukannya, hingga kondisi Anin terasa jauh lebih baik, keduanya duduk bersisian di kursi panjang yang tertera di sana. Mata Anin membengkak, pandangannya hanya tertuju pada satu titik, jalanan beraspal. "Jadi, adik lo bernama Farel masuk rumah sakit karena kecelakaan, dan siang ini dia bakalan dioperasi?" Setelah menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, Dante memberi respons yang sangat baik untuk Anin. Gadis itu lantas mengangguk, wajahnya hari ini penuh kesedihan dan kekecewaan. "Nin, air mata lo terlalu berharga untuk ditumpahkan," ucap Dante sambil menoleh pada Anin, pun dengan gadis itu yang sekarang sudah menyunggingkan senyumnya. "Keceriaan di wajah lo terlalu banyak ditelan kesedihan. Dan hati lo terlalu lemah untuk memilih bahagia atau terluka." Anin mengembalikan tatapannya pada jalanan. "Lo bener, Kak. Gue terlalu lemah untuk memilih bahagia atau terluka. Karena sejak dulu, meskipun gue memilih untuk bahagia, takdir terus-menerus minta gue untuk terluka dan kecewa, seperti yang gue rasain sekarang," ungkap Anin dengan wajah termangu. Melihat gadis di sebelahnya menyendu, Dante ikut bersedih dalam waktu sekejap. Kemudian laki-laki itu menarik pundak Anin agar saling berhadapan dengannya. "Cantik lo bisa hilang kalau sedih-sedihan terus," ujar Dante sambil mengelus wajah Anin dengan kedua telapak tangannya. "Gue anterin, ya, ke rumah sakit. Sekalian mau jenguk adik lo." "Nggak perlu! Gue masih bisa, kok, nganterin Anin, lo urus aja diri lo sendiri!" Beberapa hari terakhir, Rega hobi sekali muncul tiba-tiba diantara kebersamaan Anin dan Dante. Seperti hari ini, dia memasang raut tidak suka terhadap laki-laki yang masih bersebelahan dengan Anin. Pantas saja Rega tidak menemukan Anin di sekitar sekolah, ternyata gadis itu sudah duduk berdampingan dengan Dante di halte. Kalau Rega terlambat menemukan posisi Anin, bisa kecolongan dia hari ini. Tidak bisa! Itu tekadnya. "Jangan maksa!" bentak Dante, dirinya tidak bisa berbicara baik-baik dengan orang itu, Rega. "Biarin Anin menentukan pilihannya sendiri." Melihat Dante telah bangkit dari duduknya, membuat Anin menelan salivanya susah payah. Tiba-tiba saja ia merasa kekurangan oksigen, hawa di halte mendadak menjadi panas. Anin cepat-cepat berdiri dan melerai perdebatan itu. "Gue naik bus aja, nggak usah dianterin." "Lo pergi sama gue, Nin," sambar Rega penuh tekanan. "Nggak ada waktu lagi buat ketemu Pak Arman." Anin mengernyit kebingungan, pun dengan Dante yang berdiri menahan amarahnya. "Kok lo bisa tau?" "Permisi Tuan Dante Abraham yang terhormat," ucap Rega dingin, kemudian berlalu membawa Anin pergi menuju motornya yang diparkir tidak jauh dari halte. Hati Dante berkecamuk melihat Anin bersama Rega. Sebelum naik ke atas motor, gadis itu sempat menoleh padanya, melambaikan tangan kemudian tersenyum seperti tidak ada beban. Melihat itu, hati Dante menjadi sangat lega. Akhirnya Anin bisa bersikap lebih baik padanya. Dante membalas lambaian Anin, kemudian pergi menuju mobilnya. "Gue yakin bisa dapetin hati lo, Nin."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD