BAB 14

2207 Words
MENELUSURI JEJAKNYA   "Jangan takut jatuh cinta sendirian, di sini masih ada aku yang siap memperjuangkan kamu dalam penantian." —Rega Algatama—   ***   "Lo serius mau ngebatalin surat perjanjian ini?" Renata menatap selembar kertas yang dibubuhi tanda tangan di bawahnya. Di hadapannya, Anin mendekap benda itu dengan perasaan mendua. Setelah pulang sekolah, Anin langsung pulang ke rumahnya menjemput surat perjanjian yang dulu ditandatanganinya. Setelah itu, masih berseragam sekolah lengkap dengan ransel yang menggantung di punggungnya, Anin pergi ke rumah Rega, berniat menemui Tika dan membatalkan semua perjanjiannya. Namun kedatangannya malah disambut oleh Renata yang kebetulan sedang duduk di teras rumah. Surat pernjanjian itu adalah syarat dari mendiang Tama untuk membantu Rega membawa Anin kembali ke sekolah setelah dikeluarkan karena sebuah kesalahan fatal. Menjadi titik awal hubungannya dengan Rega yang sekarang menjadi kian rumit. Surat ini adalah jaminan hidup Anin dan adiknya—Farel. Jika Anin membatalkan perjanjiannya, Renata tidak tahu lagi bagaimana sahabatnya itu akan bertahan hidup. Mata Anin yang indah itu menjadi layu setelah pertengkaran hebat yang terjadi di jembatan, Renata menduga hal tersebut ada kaitannya dengan pihak ketiga. "Anin, lo berhasil membuat Rega berubah. Lo berhasil membuat Rega perlahan keluar dari kenangan pahit di masa lalunya, rasa bersalahnya yang teramat dalam untuk Kak Tania perlahan mulai berkurang. Lo tau ‘kan, Rega menyalahkan dirinya atas kematian Tania?" Bagaimanapun juga, Renata akan tetap teguh pada keputusannya untuk menyatukan Rega dan Anin, seperti permintaan dan harapan mendiang ayahnya beberapa waktu lalu. Tama memang selalu mengatakan bahwa Anin membawa pengaruh besar terhadap Rega. Selain memiliki kesamaan sifat dengan Tania, Anin juga begitu mencintai Rega, itulah mengapa Tama bersikeras untuk menjododohkan Anin dan Rega. Karena itu, untuk menjerat Anin agar tidak berpaling dari Rega, Tama membuat surat perjanjian. Namun hari ini harapan itu berada diujung tanduk, siapa yang bisa mencegahnya? "Gue tau penyebab Rega menjadi dingin dan ketus sama siapapun. Berkat lo, gue tau semua hal tentang Rega. Gue tau dia mulai berubah, tapi gue nggak tahan sama sikapnya yang nggak pernah menghargai kehadiran gue. Di dalam hatinya cuma ada Tania, Tania dan Tania. Gue nggak pernah dianggap ada, Ren." Renata merasa serba salah. Percuma meminta Anin bertahan, sementara kakaknya sendiri enggan menerima kehadiran gadis lain di hatinya. Jika terus dipaksakan, justru Anin yang akan semakin terluka. "Iya, gue paham maksud lo, Nin. Tapi, gue mohon sama lo, jangan mengecewakan Rega sama seperti Tania, jangan lari sama orang ketiga yang tersesat dalam hubungan kalian. Karena kalau sampai masalah itu terjadi lagi, mungkin hidup Rega nggak akan bertahan lama." Sebenarnya Anin tidak rela membatalkan surat perjanjian ini, mengingat rasa cintanya yang masih begitu besar untuk Rega, juga pengorbanan Tama kepadanya untuk membuat Rega berubah. Namun kenyataannya Rega membuat Anin ragu-ragu dalam mengambil tindakan, setiap usahanya selalu saja dipatahkan. Anin lelah bertahan tanpa diperjuangkan. Untuk itu, dengan membatalkan surat perjanjian ini, Anin berharap Rega akan berinisiatif untuk membuktikan rasa cintanya kepada Anin seperti yang akhir-akhir ini sering ia katakan. Karena sejujurnya Anin merasa bahwa Tania masih mendiami hati Rega. Kepala Anin mengangguk pelan, sungguh berat rasanya melepas hati yang telah terikat kuat. "Gue akan selalu ada buat Rega. Gue cuma mau membuktikan sesuatu yang selama ini mengganggu pikiran gue, membuat gue berharap terlalu tinggi sama Rega. Gue harap lo menerima keputusan gue ini, Ren," ucap Anin sambil menatap mata Renata berkaca-kaca. Sebenarnya sulit, tapi Renata memaksa tersenyum. Ia tidak bisa egois dalam masalah ini. "Gue percaya sama lo," balasnya. Keduanya saling berpelukan dan meneteskan air mata, terlalu menyayat hati. "Gue juga percaya Rega bakalan gila kalau jauh-jauh dari lo." Setelah menghapus jejak air matanya, Renata melepas pelukannya. "Yuk, masuk. Mama lagi bikin kue buat lo, padahal hari ini lo ada jadwal jadi tutor Rega," kata Renata kemudian menarik Anin masuk ke rumahnya. "Sayang banget gue harus ngebatalin ini," sesal Anin kemudian duduk di sofa ruang tengah bersama Renata. Rasa sedihnya tak bisa ia sembunyikan seberapa keras pun ia berusaha. Hingga kemudian, seseorang muncul entah dari mana, dengan cepat merampas surat perjanjian tersebut dari tangan Anin, membuat Anin tersentak kaget dan menemukan laki-laki berperawakan tinggi sedang menatapnya penuh emosi. "Nggak akan ada pembatalan!" Laki-laki itu membentak, matanya melotot pada Anin yang masih terkejut di tempatnya. "Kita berjuang sama-sama, untuk saling jatuh cinta. Gue nggak akan biarin lo jatuh cinta sendirian lagi, jangan bikin semua usaha lo selama ini terbuang sia-sia. Gue suka sama lo!" Ruangan itu masih dalam keadaan sepi. Di dapur, diam-diam sang ibu menguping percakapan yang terjadi, lewat tatapan matanya, Tika yakin Rega benar-benar serius dengan ucapannya. Tika percaya bahwa kali ini Rega tidak main-main, seperti yang telah dia ucapkan sebelumnya, dia menyukai Anin. Tidak mau terpengaruh, Anin melirik kertas itu di tangan Rega, kemudian menyambarnya. "Balikin!" pintanya tegas, namun kini tangan Rega terangkat tinggi ke udara. "Ga, balikin surat itu sekarang!" Renata yang masih bingung dengan kejadian ini segera berlari ke dapur, menemui Tika dan mengatakan bahwa ada keributan besar di ruang tengah. Namun ketika Renata ingin kembali dan melerai keributan, Tika menarik tangannya dan meminta untuk membiarkan Rega bersama Anin beberapa saat. Biarkan mereka menyelesaikan masalah yang terjadi diantara mereka. Mengerti maksud ibunya, Renata menurut. Lantas keduanya menyibukkan diri dengan alat-alat dapur, tidak mau menguping percakapan lebih lama. "Apa?" Rega menantang, tangannya terangkat semakin tinggi. "Lo mau surat ini? Nih, ambil, tapi peluk gue dulu. Berani, nggak?" Anin mengernyit, bingung dengan sikap Rega hari ini. Pertama, Rega datang pagi-pagi ke sekolah hanya untuk berbicara dengannya. Kedua, hanya karena melihat sudut luka di bibir Anin, Rega melabrak Ziva dan mengancam senior itu habis-habisan. Lalu ini? Rega berusaha bersikap sok akrab dengannya. "Modus!" "Tapi lo mau ‘kan, gue peluk?" "Najis mau dipeluk sama Beruang Kutub kayak lo!" Anin menggaruk pelipisnya, diperlakukan seperti ini membuatnya kurang nyaman. Di depan Anin, Rega masih berdiri sambil menaik turunkan sebelah alisnya, tersenyum lebar tanpa peduli kebingungan Anin. Ah, membuat Anin tenggelam dalam pesonanya. "Udah, balikin sini suratnya, jangan ngerusuh!" "Kalau mau, ambil sendiri. Kalau nggak mau, ya, udah." Beberapa saat mata Anin terpejam, dadanya naik turun menjaga kemarahan yang hampir meluap. Hingga akhirnya Anin memilih bangkit kemudian menatap Rega dengan kesal. Kenapa juga manusia es sejenis beruang kutub ini dikasih tinggi kayak tiang listrik, gue jadi nggak bisa ngambil surat itu ‘kan, gerutunya sebal. "Udah sini gue peluk, mikirnya kelamaan!" "Eh?!" Melihat Anin yang menatapnya kesal, Rega jadi semakin ingin menjaili gadis berambut hitam panjang tersebut. Laki-laki berkulit putih itu menyentak Anin ke dalam dekapannya. Anin yang tidak menyangka jika Rega akan benar-benar memeluknya membelalak lebar, kedua tangannya berhasil menyentuh d**a bidang Rega, menjadi pembatas antara tubuhnya dan laki-laki itu. Sementara tangan kanan Rega berada di pinggang Anin, mata keduanya bertatapan tanpa kemarahan, namun sebuah harapan jelas tergambar di sana. "Biar gue yang pegang surat ini," ujar Rega, berbisik di telinga Anin. "Kalau lo batalin surat ini, gue bakalan nuntut lo. Menuntut rasa cinta yang dulu lo kasih buat gue." "Dasar aneh!" Tanpa berkata apa-apa lagi, Anin berlari meninggalkan Rega. Bibirnya yang tadi mengerucut kini melengkung sangat dalam, membentuk senyuman yang keindahannya mengalahkan keindahan bulan. Anin keluar dari rumah Rega tanpa pamit kepada pemilik rumah, dirinya terlalu malu nenampakkan diri setelah apa yang Rega lakukan. Di tempatnya, Rega tersenyum tanpa henti. Hal yang sama juga ia rasakan. Bahkan perasaan itu jelas lebih besar dari rasa yang pernah ia berikan kepada Tania. Bukankah ini pertanda bahwa ia benar-benar menyukai Anin? Lalu mengapa Anin tidak bisa memercayainya dan memberinya kesempatan kedua? Apa karena Anin telah memberikan sekeping hatinya pada Dante? Tidak bisa. Rega tidak bisa tinggal diam jika memang itu yang terjadi. Bibir lo nggak bisa membohongi perasaan yang udah lo tanam buat gue, Nin. *** Malam harinya, Anin duduk di lantai kamarnya. Bersama Nata dan Renata yang katanya ingin menginap di malam Minggu ini. Sebenarnya bukan itu niat keduanya, kedatangan Nata dan Renata sudah jelas ingin membongkar hadiah-hadiah misterius yang terus bermunculan di loker Anin, seperti yang sudah mereka sepakati sebelumnya. Mencari titik terang siapa secret admirer yang selama ini memata-matai Anin. Apakah orang itu benar-benar secret admirer, atau hanya penguntit m***m yang harus segera ditangkap dan dilaporkan ke polisi. Tanpa banyak menunggu, Nata langsung meraih hadiah pertama yang sudah Anin tandai dengan spidol hitam. Kotak berpita itu dibalut dengan kertas kado berwarna biru laut, ukurannya cukup besar. Ketika kotak itu dibuka, setiap pasang mata tertuju pada benda bening tersebut. Pasalnya benda itu berkilau, lampu memantulkan cahayanya pada benda itu. "Sepatu kaca yang harganya bisa puluhan juta dikasih ke lo secara cuma-cuma, Nin," ujarnya tidak percaya, terkagum-kagum melihat hadiah yang Anin dapatkan. "Secret admirer lo pasti orang kaya." Anin yang tidak sanggup melihat benda mahal itu tepat berada di hadapannya sontak ketakutan. "Tu-tujuan dia ngasih gue sepatu kaca ini apa, ya?" "Karena dia suka sama lo," sambar Renata. "Ini membuktikan dugaan sementara gue, Nin." Gadis itu menyodorkan selembar kertas kepada Anin. Pantas saja Pangeran tersesat di dunia dongeng, ternyata Cinderella-nya sedang berkelana di dunia nyata. Betah-betah, ya, selama di samping saya. Jangan lari, karena mengejar itu sangat melelahkan. -Unknown- "Ini pasti ulah Rega!" "Kok bisa? Lo tau dari mana?" Nata bertanya tidak suka pada Renata. Gadis itu tidak percaya bahwa pemuda berhati beku seperti Rega mampu bersikap sedemikian romantisnya pada Anin. Setiap hari, Nata hanya melihat keketusan Rega terhadap Anin, ia sama sekali tidak melihat sisi romantis dari lelaki itu, karena itu ia tidak bisa percaya. Meski sebenarnya ia tidak yakin, tetap saja hati kecil Renata bilang kalau Rega yang melakukannya. "Gue pernah liat Rega diam-diam ke ATM, ke toko bunga, toko parfum dan toko boneka. Dan beberapa waktu lalu, gue mergokin Rega lagi nyari-nyari sepatu cewek di online shop. Gue yakin ini kerjaan Rega," tandas Renata bersikukuh. Kening Nata mulai mengerut tidak setuju. "Enggak! Bisa aja ‘kan, barang-barang yang Rega beli bukan buat Anin, mungkin buat cewek lain," sanggahnya. "Menurut gue, ini bukan Abang lo, Ren." Melihat kedua sahabatnya beradu pendapat, Anin sedikit meringis di tempatnya. Niat baik untuk mencari jejak si misterius itu, malah pertengkaran yang mereka dapatkan. "Eh, udah-udah!" Anin melerai, matanya menatap Renata dan Nata bergantian. "Nggak perlu diributin, nanti kita cari tau sama-sama. Itu Rega, atau bukan." "Menurut lo siapa yang ngelakuin ini semua, Nat?" tanya Renata, tanpa bertatap muka. "Kayak yang tau aja lo." "Ya, emang gue tau, lah!" balas Nata sombong, Anin hanya bisa menghela napas di tengah-tengah sahabatnya. "Emangnya lo, pengen banget ngejodohin abang lo sama Anin, sampe ngaku-ngaku segala kalau Rega itu secret admirer-nya. That's impossible, Ren!" Kini wajah Renata berubah dongkol. "Eh, lo kok nyolot, sih? Gue’ kan, ngomong baik-baik. Kalau lo nggak percaya ya udah, kenapa harus dipermasalahin. Lo punya masalah apa sama Bang Rega, hum?" ujar Renata kelewat emosi. "Bilang, biar gue selesaiin di sini." "Gue nggak suka Rega ngejar-ngejar Anin. Abang lo pengecut. Mantannya kalau udah mati ya mati aja, ngapain harus diinget lagi? Lagi pula, dia itu ‘kan anak diluar nikah, nggak pantes aja Anin ngemis-ngemis cinta sama dia. Apalagi sampe jadi asisten segala. Diperbudak sama rasa cinta dia buat abang lo." "NATA, STOP!" "Sorry, Nin, tapi kenyataannya—" "Gue bilang, stop! Jaga ucapan lo!" Di sebelahnya, Renata sudah menangis menatap barang-barang misterius itu. Mata coklatnya tak mau memandang wajah Nata yang hari ini telah membuatnya kecewa. Hati Renata tergores begitu saja. Tanpa rasa bersalah, Nata menghina Rega tepat di wajah Renata. Sebenarnya tangan Renata sudah gatal ingin menampar mulut Nata, tapi ia urungkan karena masih memiliki rasa segan pada Anin. "Gue pulang dulu, Nin. Nginapnya lain kali aja, permisi!" "Ren, mau ke mana? Tunggu, Renata!" "Maaf, Ren. Abang lo juga salah di sini, dia memperbudak Anin karena rasa cinta Anin yang begitu besar buat dia. Gue nggak suka," ucap Nata seperti orang bodoh melihat kepergian Renata yang berusaha dicegah oleh Anin. "Pokoknya Anin nggak boleh jadian sama Rega, titik!" "Nata, lo ngapain, sih, pake ngomong kalau Rega itu anak diluar nikah? Emang apa yang salah dari itu semua? Lo mau bilang dia anak haram? Gue tegasin, itu cuma kesalahan yang nggak disengaja!" Tidak berselang lama setelah Anin menyusul kepergian Renata, gadis itu kembali ke kamar tanpa Renata di sisinya, marah-marah pada Nata yang merasa tidak bersalah atas ucapannya yang sangat keterlaluan kepada Renata. Mendengar Anin marah-marah, Nata semakin terbawa emosi. Gadis itu bangkit dengan perasaan kesal. "Gue cuma nggak suka dia bersikap semena-mena sama lo. Emang salah kalau gue belain sahabat gue sendiri, lo nggak usah belain mereka lah," kata Nata menggebu-gebu. "Tapi lo udah keterlaluan, Nata! Secara nggak langsung, lo menghina Renata dan keluarganya. Lo mikir, nggak, gimana sedihnya Rega, dia juga nggak mau kali lahir di luar nikah," balas Anin tak mau kalah. Perihal status Rega, dirinya tidak bisa tinggal diam. "Terserah lo, deh," putus Nata akhirnya. Gadis berparas imut itu terlalu malas berdebat dengan orang yang sudah diperbudak sama cinta. "Yang jelas, itu bukan Rega. Semua petunjuknya ada di sini. Lo pasti bisa menemukan titik terang tentang orang misterius itu." Mata Anin tiba-tiba menyipit, jantungnya tiba-tiba berdesir mendengar pernyataan spontan yang Nata katakan. "Lo tau ‘kan siapa orangnya?" seru Anin mendadak, membuat Nata tidak berkutik dan sedikit terkejut. Bibir Nata yang tipis itu mengatup rapat, matanya bergerak ke kiri dan kanan, pandangannya tak menetap pada satu objek di depannya. Membuat Anin curiga, hal apa yang tengah gadis itu sembunyikan darinya. Apa benar dia tahu siapa dalang di balik hadiah dan surat misterius itu?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD