TEROR BERKELANJUTAN
"Sekali hati memilih, selamanya tak ‘kan beralih. Hati ini memilihmu sebagai pelabuhan terakhir yang akan ia tempati setelah lama berkelana mencari yang berarti.”
—Rega Algatama—
***
Nata dan Anin berjalan gontai menuju kelas mereka. Disidang habis-habisan oleh Pak Wirya selaku guru BP membuat keduanya terkulai lemah—kecewa.
Bagaimana tidak? Yang salah saja tidak dapat dipersalahkan, Ziva menolak mentah-mentah semua tuduhan yang mengacu padanya. Senior yang hobi membuat masalah itu pintar sekali melakon dan membalikkan kata-kata. Buktinya Pak Wirya percaya kalau Anin yang memulai pertengkaran, padahal Bonar dan Eros—sang penyelamat—sudah bersikeras mengatakan bahwa bukan Anin yang mengawali pertengkaran. Pak Wirya tetap tidak mau mendengar dan termakan kebohongan Ziva. Akan tetapi, catatan panjang mengenai sejarah pelanggaran yang Ziva lakukan membuatnya terjebak dalam kebohongannya sendiri.
Persidangan itu berakhir dengan surat panggilan orangtua untuk Ziva. Sementara Anin, hanya diberikan peringatan kecil atas keslahannya, pun dengan Nata yang diminta untuk tidak merusak fasilitas sekolah. Kemudian keduanya dipersilahkan memasuki kelas, begitu juga dengan Ziva.
Sesampainya di kelas, langkah Anin tercekat, matanya melebar, sama halnya dengan Nata yang sudah mematung di sampingnya. Pasalnya guru Bahasa Inggris bernama Ambar sudah berdiri di depan kelas sambil menulis materi yang berjudul conditional sentences di papan tulis.
Bibir Anin bergerak ragu-ragu. "E-excuse me, Miss. Boleh kita masuk?"(Permisi)
Miss Ambar berhenti menulis, menoleh ke sumber suara, hingga matanya yang terhalang kacamata menemukan Anin dan Nata. "Kalian dari mana?" tanya Miss Ambar horor, matanya tertuju pada Anin. "Kenapa baru masuk?"
"Tadi saya—"
"I know (saya tau), kamu yang membuat keributan sama Ziva, ‘kan?" Tanpa ingin membantah, keduanya mengangguk serentak. "Okay (baiklah), kembali ke tempat duduk kalian," putus Miss Ambar mempersilahkan muridnya untuk duduk. Setelah itu Miss Ambar melanjutkan kembali kegiatannya.
Selang beberapa detik setelah Anin duduk di kursi, suara berat menyapu pendengarannya. "Lo gapapa?"
Jika kalian menebak itu suara Rega, maka kalian menebak dengan benar. Tepat sasaran. Itu suara bariton milik Rega yang membuat bulu kuduk Anin meremang. "Lo nggak diapa-apain, ‘kan, sama Ziva?" tanyanya lagi ketika Anin tak memberi sahutan.
Anin bergeming, tatapannya lurus ke depan, mengabaikan Rega yang sedang mencemaskan keadaannya, Anin yakin itu. Namun karena luka di sudut bibirnya terlalu mencolok, sebisa mungkin Anin menahan diri untuk tidak bertatapan dengan Rega, takut kalau Rega berbuat macam-macam saat tahu Ziva bertindak kasar padanya. Tetapi Rega kembali bersuara, "Kenapa diam? Apa yang udah dilakuin Ziva sama lo?"
Ucapan Rega kali ini bernada tinggi, menimbulkan suara berisik namun samar-samar terdengar oleh Miss Ambar. Guru itu membalikkan badan cepat, pandangannya menyapu seluruh murid. "Yang di belakang, do'nt be noisy," tegurnya dengan tatapan lurus kepada Rega. Setelah Rega memberi anggukan, barulah guru itu kembali sibuk dengan kegiatannya. (Jangan berisik.)
Anin yang sudah gemas akan pertanyaan bertubi-tubi dari Rega lantas menoleh dongkol. Di balik matanya ada kemarahan yang terpendam. "Lo bisa diem nggak, sih? Gue gapapa!" bentaknya dengan suara pelan dan kemarahan yang tertahan.
Setelah Anin menolehkan kepala, garis wajah Rega yang datar berubah kaget tatkala menemukan bekas luka dengan gumpalan darah yang sudah membeku di bibir Anin. Detik berikutnya air muka Rega kembali berubah, kali ini memperlihatkan kemarahan. Kedua alisnya menekuk dalam, keningnya mengerut dan kedua tangannya mengepal kuat di atas meja, kemudian berdesis, "Sialan!"
Sadar Rega telah mengetahui lukanya, gadis itu segera membuang muka, merutuki kebodahnnya. Namun Rega juga tak tinggal diam, tangannya sontak bergerak menarik dagu Anin lalu menatp luka itu lekat-lekat.
"Apaan, sih, ini bukan masalah besar!" sentak Anin sambil menepis tangan Rega. "Lagian nggak ada hubungannya juga sama lo, nggak perlu ikut campur!"
Karena Anin begitu menyulut emosinya, Rega menyentak earphone putih yang menyumbat kedua telinganya. "Iya, emang nggak ada hubungannya sama gue, tapi sama si berengsek Dante!" bentak Rega pada Anin, membuat murid di sekitarnya menoleh dengan mata melebar. "Karena hati lo udah menjadi milik gue seutuhnya, mulai sekarang setiap masalah yang menimpa lo akan jadi masalah gue juga. Karena gue suka sama lo, nggak ada alasan lagi buat gue untuk membiarkan lo terluka."
Anin tersenyum kecut mendengarnya, lalu memutar tubuh menghadap Rega, mengabaikan tatapan tajam yang mengarah padanya. "Nggak usah ngasih gue harapan lewat kata-kata manis lo itu, basi tau, nggak! Kalau emang lo suka sama gue, jangan cuma modal bacot, buktiin," ujar Anin berapi-api.
"Oke!"
"Terserah lo," balas Anin tidak peduli.
Rega bangkit dari duduknya. Suaranya yang besar dan berat mampu mengalihkan seluruh perhatian penghuni kelas. Tak terkecuali Miss Ambar yang tidak lagi menulis di depan kelas, guru itu berjalan mendekati Rega, membuat jantung Anin berdegup kencang karena ketakutan.
Miss Ambar membuka kacamatanya, terlihat bingung. "What are you doing, Rega, are you okay?" tanyanya lembut. Suasana kelas kembali sepi dan menegangkan. (Apa yang kamu lakukan, Rega, kamu baik-baik saja?)
Rega menelan ludah sebelum bertatapan dengan Miss Ambar, pemuda itu kembali memperlihatkan wajah datarnya. "Saya permisi ke toilet, Miss," ujar Rega dingin.
Guru itu bernapas lega. "Saya pikir ada apa," balasnya. "Ya sudah, kamu boleh ke luar tapi tidak boleh lebih dari lima menit."
Setelah mendapat izin, Rega berlalu ke luar kelas. Dengan langkah terburu-buru laki-laki itu menyusuri setiap koridor, matanya menyapu seluruh tempat, namun sosok yang sedang ia cari-cari tak juga nenampakkan batang hidungnya.
Memang tidak perlu diragukan lagi, sudah jelas Rega mencari keberadaan kakak kelas yang bernama Ziva itu untuk memberinya peringatan. Rega meilirik jamnya, lalu mengusap tenggorokannya karena haus. Pemuda itu memutar langkah lalu memasuki area kantin. Sebotol air mineral dan dua bungkus roti berhasil ia dapatkan dari ibu kantin, sementara matanya menemukan Ziva yang sedang mengobrol bersama dua temannya.
"Bu, saya titip minuman sama rotinya sebentar, ya."
Setelah membayar, tanpa menunggu jawaban ibu kantin, Rega berjalan menghampiri Ziva dan teman-temannya. Kedua tangannya tenggelam dalam saku, sedang ekspresinya dibuat sedingin mungkin.
Rega mendaratkan bokongnya di samping Ziva, berhadap-hadapan dengan dua temannya—Enzy dan Vani—yang menatap Rega cengo. Sementara Ziva sendiri kebingungan melihat orang yang tidak ia kenal mendekat padanya dengan tingkat percaya diri setinggi itu.
Puas menatap raut kebingungan gadis-gadis itu, Rega bersuara. "Happy banget abis ngebuli orang," sindirnya halus. (Bahagia)
Ziva terusik. "Maksud lo apa?" balasnya tidak suka. "Nggak usah bertele-tele!"
Tiba-tiba Rega menggebrak meja begitu keras, membuat jantung siapapun yang mendengarnya hampir copot. Kini setiap pasang mata tertuju pada mereka, menatap dengan tatapan kagum karena ada orang yang berani berurusan dengan Ziva selain Dante dan kawan-kawannya.
"Lo sakiti Anin, gue kubur lo hidup-hidup!" teriak Rega lantang, suara beratnya menyapu penjuru kantin yang dalam kondisi hening. "Gue Rega Algatama, nggak pernah takut sama siapapun kecuali sama Tuhan. Jangan karena rasa suka lo terhadap Dante lo sampai mencelakai orang lain, itu salah."
"Gue nggak butuh nasehat lo, simpen aja kata-kata itu buat lo. Karen sebentar lagi, lo juga akan melakukan hal yang sama untuk mendapatkan Anin."
"Gue sama lo beda," balas Rega sambil tersenyum remeh. "Gue punya otak untuk mempertimbangkan segala tindakan yang akan gue ambil. Sementara lo, gue rasa lo nggak punya otak, karena segala cara lo halalkan untuk mendapatkan apa yang lo mau."
"Gue nggak pernah takut sama lo!"
"Gue nggak minta lo takut sama gue."
"Terus ini maksudnya apa?!" geram Ziva.
Rega bangkit dari duduknya, Ziva yang mulanya menantang berubah ciut seketika. "Lain kali pake otak lo, jangan pake dengkul. Lo usik ketenangan Anin, gue hancurin hidup lo. Gue nggak pernah main-main sama apa yang gue ucapkan. Take care of yourself. You touch my girl,i kill you!" (Jaga diri lo baik-baik. Lo sentuh cewek gue, gue bunuh lo!)
Kemarahan memang membuat siapapun lupa akan kelemahan yang ia miliki, seperti halnya Rega yang selalu lemah ketika masa lalu menghantui pikirannya. Berkat Anin semuanya mulai berubah, perlahan-lahan Rega mulai keluar dari jeratan masa lalunya, Rega mulai mengekspresikan dirinya terhadap hal-hal yang membuatnya kesal, juga, Rega telah membuka diri untuk bersosialisasi pada lingkungannya. Seperti yang diharapkan oleh Renata.
Setelah meluapkan emosinya, tanpa peduli Rega berjalan meninggalkan area kantin setelah sebotol air mineral dan dua bungkus roti miliknya ia ambil. Rega tersenyum puas melihat ketidakberdayaan Ziva saat berhadapan dengannya. "Semoga lo orang yang tepat yang dikirim Tuhan untuk mengakhiri kekosongan dalam hidup gue, Nin," gumam Rega sambil tersenyum bahagia. Berharap pada langit bahwa takdir akan berpihak padanya kali ini. Jujur, Rega tidak bisa lagi menyinggahi banyak hati. Karena kini Rega telah menemukan pelabuhannya yang baru, sekaligus pemberhentian terakhir yang membuatnya menemukan tujuan hidupnya. Tempat dimana ia bisa benar-benar merasa hidup dan bernapas.
***
Jeritan bel pertanda jam pelajaran telah berakhir menggema hingga ke penjuru sekolah, menimbulkan kehebohan yang diwarnai aksi spontan memukul meja sebagai ritual rutin yang harus dilakukan oleh beberapa murid nakal di setiap kelas. Tidak peduli seberapa banyak murid pintar yang berkumpul dalam kelas tersebut, paling tidak dua orang sudah cukup membuat kelas tersebut berada dalam situasi yang buruk.
Untuk beberapa murid yang pulang menggunakan angkutan umum, setelah selesai berkemas mereka langsung meluncur ke halte yang berada di dekat sekolah, supaya tidak ketinggalan bus dan harus menunggu selang satu jam kedepan. Bagi murid yang membawa kendaraan pribadi ke sekolah, mereka langsung bergegas menuju area parkiran. Seperti Ziva, Enzy dan Vani yang sudah berjalan beriringan. Memastikan sesuatu yang selama sepekan terakhir membuat Ziva sangat ketakutan—teror dari sosok yang tidak dikenal.
Enzy mengambil langkah, berdiri di depan kaca mobil Ziva. Matanya mulai bergerak, memantau keadaan mobil Ziva yang keliatan baik-baik saja. "Nggak ada yang aneh," kata gadis itu memberitahu. "Biasanya kaca depan mobil lo selalu dilemparin kotoran, tapi kali ini nggak ada. Bersih!"
Mendengar keadaan mobilnya baik-baik saja, Ziva buru-buru membuka pintu mobil lalu memeriksa bagian dalam kendaraan roda empat tersebut. Seperti yang Enzy katakan, semuanya baik-baik saja. "Syukur, deh, baik-baik aja, capek kali tu orang," ucapnya lega. Akhirnya peneror misterius itu berhenti mengusik ketenangan hidupnya.
"Lo yakin nggak ada apa-apa, Zy?" Vani yang sibuk memeriksa bagasi mobil berseru tidak yakin. "Coba lo periksa lagi, kali aja ada jebakan lain."
Sesuai perkataan Vani, Enzy menurut. Gadis itu mengelilingi badan mobil dua kali putaran sambil memastikan memang tidak ada sesuatu yang mencurigakan. Lelah berjalan, Enzy memilih berhenti sambil berkacak pinggang, menatap Vani yang jengkel. "Beneran nggak ada apa-apa, kalau lo nggak percaya ya udah, lo tinggal pulang pake angkot aja. Rempong banget lo."
Melihat dua temannya ribut tidak jelas, Ziva memutar malas bola matanya. Kemudian memasuki mobil diikuti oleh Enzy yang sudah tidak tahan berdebat dengan Vani yang keras kepala. Dengan berat hati, pada akhirnya Vani tetap memilih menuruti perkataan dua temannya.
Benar saja, ketika Ziva baru saja memundurkan mobilnya, sesuatu yang tak terduga terjadi. Ban mobil Ziva terasa tidak nyaman untuk digunakan, sampai sebuah opini tentang ban mobil bocor singgah di kepala mereka. Vani yang duduk di belakang memekik histeris.
"Tuh, kan!" Gadis itu membuka jendela mobil lalu mengeluarkan sedikit kepalanya, melihat salah satu ban mobil sudah tidak sepadat biasanya. "Gue bilang juga apa, sekali peneror itu bertindak selamanya dia akan tetap bergerak. Apalagi lo masih nge-bully cewek-cewek yang deket sama Dante. Bisa aja peneror itu salah satu dari cewek-cewek yang lo bully selama ini."
Ziva marah dan memukul stir mobil, tubuhnya ia putar ke belakang. Menatap Vani dengan wajah kesal. "Daripada lo ngomel-ngomel nggak jelas, mendingan sekarang lo pesan taksi online, lebih berguna!" tukasnya pada gadis itu. "Gue nge-bully karena gue punya alasan untuk ngelakuin itu ke mereka, lagi pula ini adalah bentuk pembalasan dendam gue buat orang-orang yang dulu pernah ngebuli gue. Jadi, lo nggak perlu nasehatin gue, nggak guna!"
Vani yang tidak berani menentang perkataan Ziva segeramengeluarkan ponsel, memesan taksi online melalui benda pipih di tangannya, seperti yang Ziva perintahkan. Sementara Enzy yang benar-benar kesal mau bersuara, takut memperburuk keadaan.
Masih dilanda kekesalan, Ziva tidak mau turun dari mobilnya. Otaknya yang encer bekerja menganalisis sesuatu, sorot matanya berubah tajam menatap sekumpulan laki-laki yang sedang bersenda gurau. Sampai sebuah panggilan masuk membuyarkan lamunan Ziva, gadis itu cepat-cepat mengeluarkan ponsel, nomor pribadi langsung menghiasi layarnya.
Karena panik, Ziva melirik Enzy yang menatapnya khawatir. "Nomor pribadi," ujarnya memberitahu. Perasaannya mengatakan kalau panggilan ini berasal dari peneror misterius. Maka dengan ragu, Ziva mengangkatnya.
"Peringatan saya terlalu kamu remehkan," ujarnya di seberang telepon sebelum Ziva bersuara. "Lain kali pikirkan, jangan diabaikan. Karena saya tidak pernah main-main dengan ucapan saya. Perempuan seperti kamu tidak layak untuk lelaki manapun, maka tolong berubah. Jadi diri kamu sendiri, Ziva Oktaviana."
Ziva yang masih terdiam mendengarkan perkataan laki-laki itu tidak sadar kalau si peneror sudah memutuskan sambungannya. Pikirannya bekerja keras mencerna semua perkataan orang misterius itu, hingga laki-laki yang ia temui di kantin menjadi sasaran dugaannya.
"Gue yakin peneror itu anak baru yang deket sama Anin. Dia udah menyatakan perang sejak awal, harusnya gue sadar." Ziva bergumam dengan sorot mata menajam, membuat dua sahabatnya bergidik ngeri. "Kita liat siapa yang bakalan menang, karena lo udah bermain api sama Ziva Oktaviana."
Senyuman licik tampak tersungging di bibir merah muda Ziva, pikirannya mulai bekerja menyusun sebuah rencana. Entah itu bertujuan untuk menyakiti Anin, atau mengungkap siapa pelaku di balik teror yang ia dapatkan. Hanya Ziva yang mampu memilihnya.