BAB 25

1799 Words
SIAGA TIGA TITIK AKHIR   “Kejahatan akan berakhir seperti debu, tanpa sisa, juga tanpa rasa. Dengan satu embusan, kejahatan berterbangan, hilang ditelan awan.” —Ziva Oktaviana—   ***   Keesokan harinya—sepulang sekolah—Anin menyempatkan diri untuk mampir ke rumah Nata. Sahabat pertamanya di SMA Cemerlang yang sudah ia diamkan selama berhari-hari, tepat setelah konflik antara Nata dan Renata terjadi. Sungguh, Anin merasa kacau saat itu, terlebih lagi Nata bilang ia membantu sosok misterius itu dalam melakukan aksinya, dan lebih mengejutkan lagi Nata ternyata menyukai orang tersebut. Setelah semalam berbincang dengan sosok misterius itu, Anin merasa ada sesuatu yang perlu ia tanyakan pada Nata. Tentang siapa orang itu sebenarnya, juga apa motif yang membuat lelaki tersebut menjadi penguntit Anin. Kini, keduanya duduk bersebelahan di teras rumah, sebab Anin menolak untuk berbincang di dalam. Kecanggungan membelenggu keduanya, rasa tak enak hati sama-sama muncul sewaktu keduanya saling bertatap muka. "Maaf karena selama ini gue diemin lo, Nat." Anin mengawali percakapan dengan penyesalan. "Hari ini gue ketemu sama lo, pasti gue keliatan jahat banget karena mencari lo saat gue lagi membutuhkan bantuan." Lengkungan tipis di bibir Nata mendamaikan hati Anin, rasanya lega melihat sahabatnya mampu tersenyum disaat-saat seperti ini. "Hari yang kemaren udah tinggal cerita, sementara hari ini adalah kisah baru pada lembaran baru. Anin, sikap acuh lo memang bikin gue sakit selama tiga hari, untung aja ada Galuh yang selalu support gue. Dia bilang sama gue kalau lo akan maafin gue, dan hari ini semuanya terbukti. Lo nggak akan nyari gue kalau seandainya lo masih belum maafin gue," ujar Nata. "Ya, lo bener. Gue sengaja diemin lo berhari-hari, Nat. Gue kesel karena lo berpihak sama sosok misterius itu, belum lagi akhir-akhir ini masalah selalu nyamperin gue. Nggak di rumah, nggak di sekolah, ada aja masalah yang harus gue hadapi. Dan saat itu kerasa banget beratnya tanpa ada lo di samping gue, Nat. Gue menyesal pernah diemin lo," ungkapnya jujur. "Jadi, tujuan lo datang ke sini apa?" "Semalam gue telponan sama sosok misterius itu." "Oh... jadi dia udah bergerak secepat itu." Melihat reaksi Nata yang biasa saja, Anin mengernyitkan dahinya penuh tanya. Sepertinya Nata memang sudah mengetahui hal tersebut sejak awal. Ya, tidak perlu heran, karena Nata memang kaki tangan sosok misterius itu. Namun anehnya, Nata tak mau memberitahu Anin siapa orang itu sebenarnya, padahal waktu itu Nata bilang kalau dia menyukai sosok tersebut. Anin memiringkan tubuhnya pada Nata, menatap Nata penuh harap. "Lo masih belum mau cerita siapa sosok misterius itu sebenarnya? Keadaannya sudah semakin memburuk, Nat, dia bilang dia suka sama gue. Katanya berawal dari penyesalan, tapi malah berakhir dengan sebuah perasaan. Perasaan dimana dia ingin memiliki, berharap kalau gue juga akan mempunyai perasaan yang sama terhadapnya." Kepala Nata ikut menoleh, menatap wajah kecemasan Anin. "Bukannya dari awal dia memang udah suka sama lo?" balasnya singkat. "Nata, gue serius. Apa bisa lo bantu gue untuk menyelidiki siapa orang itu sebenarnya?" "Bisa, gue bisa bantu lo. Karena saat itu udah hampir tiba, saat dimana sosok misterius itu sendiri yang akan memberitahu jati diri dia yang sebenarnya sama lo. Melalui kotak berpita serta surat misterius yang mengejutkan kita waktu itu." Anin terdiam, mencerna kata demi kata yang keluar dari bibir Nata. "Saat itu hampir tiba?" beo Anin tanpa sadar. "Sosok itu sebenarnya begitu dekat sama lo, cuma karena hati lo memang sepenuhnya tercurah buat Rega, lo sampai mengabaikan orang-orang di sekeliling lo, Nin. Lo bahkan tega mendiamkan gue selama berhari-hari, karena itu lo nggak bisa menebak siapa dia sebenarnya." "Lo bener, gue terlalu fokus mengejar Rega. Dan lo tau, usaha gue itu nggak sia-sia, buktinya sekarang Rega udah mulai perhatian sama gue, mulai menabung rasa untuk gue." Kali ini ada raut bahagia yang terpancar, Anin terlihat senang sekali Rega mau berusaha menyukai dirinya. Sulit dipercaya memang, namun balik lagi pada kenyataannya, Rega sudah sampai di tahap itu, berbalik menyukai Anin seperti yang sejak dulu Anin harapkan. Nata menundukkan pandangannya, lagi-lagi tersenyum. "Gue bersyukur lo bisa tersenyum lebar hari ini, Nin. Terlepas dari siapa pun pilihan lo, gue udah nggak punya hak untuk ikut campur. Dan lo tau, dua hari yang lalu Galuh nembak gue," kata Nata malu-malu. Sejak awal Anin memang sudah curiga dengan kedekatan mereka, mungkin pula saat itu Nata masih menaruh rasa pada sosok misterius itu. Sehingga Galuh yang jelas-jelas memberi perhatian lebih terhadapnya jadi terabaikan. "Gue emang udah curiga sejak awal, Galuh ada rasa sama lo. Dan hari ini malah kebukti, kalian udah jadian?" tanya Anin sambil tersenyum lebar, berbinar menatap Nata. "Baru tadi gue terima." "Baguslah, gapapa, sih, telat jawabnya daripada lo nolak dia. Eh, tapi, lo sayang ‘kan sama dia?" "Iya, gue sayang sama dia. Melebihi batas kemampuan gue untuk menyayangi diri gue sendiri." Keduanya terkekeh menikmati pembicaraan sederhana yang mampu mendekatkan mereka kembali. Baik Nata atau pun Anin, keduanya sama-sama sudah melupakan kejadian itu. Toh semuanya sudah baik-baik saja, Renata sudah memaafkan Nata, sementara Rega juga tidak ambil hati perkataan Nata. Jadi, untuk apa lagi Anin marah, sepertinya tidak perlu. Detik berikutnya Nata merubah raut wajahnya, menatap Anin dengan wajah tegang. "Perlu lo ketahui, Nin. Gue cuma bisa mengarahkan lo pada sosok misterius itu, gue nggak bisa menyebut dengan gamblang siapa dia sebenarnya. Lo yakin mau gue bantuin?" Pertanyaan Nata yang sudah jelas bagaimana topiknya membuat Anin sedikit berpikir. "Yakin!" balas Anin setelah beberapa saat. Kemudian gadis itu mengeluarkan buku kecil dari ranselnya, buku tentang sosok misterius itu. Catatan kecil berisikan hal-hal yang perlu Anin selidiki. "Kita mulai penyelidikan ini setelah gue siap untuk menghadapi segala situasinya." "Ya, nggak masalah. Karena dia sendiri benar-benar dekat sama lo, sangat dekat." *** "Anin!" "Anin, gue perlu bicara sama lo!" Sayup-sayup Anin mendengar namanya dipanggil oleh seseorang, karena penasaran akhirnya ia menoleh ke belakang, mendapati Ziva yang sedang berlarian ke arahnya bersama Vani. Anin yang posisinya masih tidak jauh dari rumah Nata langsung gemetar ketakutan, cemas kalau Ziva akan berbuat macam-macam padanya. Seharusnya tadi ia mendengarkan nasihat Nata untuk mau menunggu jemputan Farel di rumahnya. Buru-buru Anin berbalik dan mempercepat langkahnya, namun sentakan di lengannya membuat Anin terhenti. "Mau kemana lo?" tukas Ziva setibanya ia di dekat Anin dengan napas tidak beraturan. Vani ikut menarik sebelah lengan Anin, tatapannya berubah nyalang. "Jangan coba-coba kabur dari kita," ucapnya memperingatkan. "Anin, gue mau minta maaf sama lo soal kejadian kemarin. Tepatnya ketika gue sama Vani dengan sengaja mengurung lo di toilet sekolah." Ziva mengumbar maaf, namun yang terlihat di bibir merahnya adalah senyuman penuh kepuasan. Bahagia di atas penderitaan orang lain merupakan hal yang paling Ziva sukai. Mata Anin menatap marah sosok di depannya yang sedang tersenyum puas. "Lo sakit jiwa, Kak. Lo hampir bikin temen lo meninggal, sementara lo nggak menyesali perbuatan lo sama sekali. Lo emang udah nggak waras, sakit jiwa tau, nggak?!" bentak Anin, memancing amarah Ziva. Perempuan di hadapan Anin malah terkekeh, lalu menarik dagu Anin dengan keras. "Siapa suruh penyakitan, udah sewajarnya pengkhianat berteman baik sama cewek murahan kayak lo!" pungkasnya sambil menunjuk wajah Anin dengan emosi. "Gue bukan orang yang lo maksud!" "Cih, bodo amat." Hati Anin berkecamuk tak karuan, perlawanannya yang tak ada apa-apanya dibandingkan Ziva dan Vani akan berujung dengan kesia-siaan alias gagal. Memberontak juga sudah Anin coba untuk melepaskan diri dari dua perempuan gila yang saat ini memegangi kedua tangannya, sekarang Anin sudah pasrah mengenai apa yang akan terjadi. Yang perlu ia lakukan hanya bertahan, bertahan sampai seseorang datang menyelamatkan. "Lo pernah tidur 'kan sama Dante?" Anin menggeleng cepat. "Tenang, hari ini gue akan bikin lo tidur untuk selamanya. Bersama laki-laki yang paling lo takuti di sekolah lama lo." "Varon, Ketua Bastar. Lo inget 'kan dia siapa?" Mendengar nama itu, kejadian mengerikan langsung menyelusup ke otak Anin. Sebuah mobil berwarna hitam juga menepi, seorang pemuda berpenampilan acak-acakan keluar sambil tersenyum lebar. Menyambut Anin dengan rentangan tangan dan berakhir dengan memeluk gadis itu. Anin berusaha menolak, namun ia tak bisa berbuat banyak karena tangannya masih dicengkeram oleh Ziva dan Vani. "Senang bertemu dengan lo, Anindita Maheswari," ujarnya sambil melepas pelukan itu. Anin merasa jijik dekat-dekat dengan berandalan seperti Varon. Kalau sampai dirinya benar-benar tidak bisa lolos hari ini, maka tamatlah riwayat Anin. "Pergi lo b******k, gue nggak sudi ngeliat wajah lo!" teriak Anin, memberontak kembali agar terlepas dari manusia-manusia yang mempunyai sikap seperti setan tersebut. Dari kejauhan, tampak seseorang yang sedang mengamati. Pakaian hitamnya sudah jelas menandakan bahwa ia adalah sosok misterius yang melindungi Anin setiap hari. Sosok yang mengacaukan pikiran Anin tiap kali surat dan kotak misterius ditemukan di dalam lokernya. Sosok yang sudah menduga sejak awal hal buruk apa yang akan menimpa Anin kalau ia memaksakan diri untuk mendekat. "Lepasin gue, gue nggak punya urusan sama lo, Varon!" teriak Anin lagi, matanya menatap Varon penuh benci. "Karena lo adalah bagian dari SMA Gemilang, salah satu anggota terpenting di Destroyer, lo pasti udah tau risiko apa yang akan lo terima." Varon menyunggingkan senyumnya. "Urusan lo sama Destroyer bukan sama gue, dan jangan pernah melibatkan gue dalam masalah ini," papar Anin memperingatkan. "Lagipula, bukannya lo harusnya di penjara? Kenapa sekarang bisa berkeliaran lagi, toh, di SMA Mentari udah nggak ada lagi yang mau menerima kehadiran lo. Sekarang lo bukan siapa-siapa!" Sebuah tamparan keras melayang di pipi Anin, begitu keras sampai sebelah wajah Anin memerah membentuk telapak tangan laki-laki b******n itu. Anin tak kuasa membendung air mata, tubuhnya sudah lemas dan serasa mau pingsan. Varon memang gila, tidak peduli pada siapa, dia akan berbuat sesuka hatinya. Varon menunjuk wajah Anin, laki-laki itu tampak marah sekali. "Gue bisa bebas karena gue punya uang, bahkan lo pun bisa gue beli dengan uang yang gue punya," ucap Varon merendahkan. "Tapi, uang nggak bisa menghidupkan kembali orang yang udah mati, dan uang juga nggak bisa membeli cinta sejati. Sarah, sampai detik ini lo masih mengincar Sarah ‘kan, sayangnya Sarah udah nggak mau sama lo, karena dia jijik sama cowok berengsek yang nggak punya sikap manusiawi macam lo!" "Lo nggak perlu bawa-bawa Sarah, sialan! Bawa cewek ini ke mobil gue sekarang!" Tiba-tiba ponsel Ziva bergetar singkat, membuatnya buru-buru merogoh kantong. Saat sebuah ponsel ia keluarkan, pesan singkat dari peneror misterius yang selama ini mengusiknya membuat Ziva berpikir dua kali. Juga ada keterkejutan yang membuat Ziva mengedarkan pandangan ke segala arah. Sayangnya ia tak bisa menemukan apa-apa. Saya pastikan kamu membayar semua kelakuan kejam kamu Ziva. Saya nggak pernah main-main dengan ucapan saya. Kamu akan hancur kalau sampai terjadi sesuatu dengan Anin. "Ancaman lo nggak akan membuat gue ketakutan," gumam Ziva lalu tersenyum semakin dalam. Karena Ziva terlihat jelas mengabaikan peringatannya, sosok misterius itu kembali mengirimkan pesan. Kali ini sebuah foto yang menampakkan dirinya terlibat membuat Ziva harus berpikir ulang. "Lepasin Anin. Gue batalin perjanjian kita." "Gue berubah pikiran." Kekehan Varon membuat Ziva tertegun, perasaannya mendadak kacau. "Terus gue harus peduli gitu sama lo? Apa yang udah gue dapatkan, nggak bisa ditarik lagi. Anin tetap jadi tawanan gue, terserah apa yang akan gue perbuat sama dia."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD