PENYELAMAT MISTERIUS
“Bukan siapa-siapa, hanya seorang pelindung yang terlahir dari sebuah penyesalan. Pelindung yang rela mati hanya untuk membungkam keadaan yang menyakitkan perasaan.”
—unknown—
***
"Anin, kamu masih di dalam?"
Anin tersentak begitu mendengar suara berat seorang laki-laki, buru-buru gadis itu berdiri dan mendekat pada pintu. "Ga, itu lo, ya? Ga, bukain pintunya sekarang, Kak Enzy butuh bantuan kita, dia harus dibawa ke rumah sakit secepatnya, gue nggak mau dia kenapa-napa, Ga."
"Kamu tenang, dia akan baik-baik aja, percaya sama saya."
Anin tertegun mendengar kalimat kedua dari laki-laki itu. Itu bukan Rega, batin Anin berujar takut. Tanpa sadar, ia memundurkan langkahnya, tatapannya tiba-tiba saja kosong. Sosok misterius yang selama ini mengusik ketenangan Anin, tiba-tiba saja hatinya berdetak pada sosok itu. Semakin Anin memikirkan, ia menjadi semakin takut untuk menerima kenyataan bahwa sosok itu benar-benar ada di sekitarnya. Memantau Anin setiap waktu.
Perlahan, terdengar decitan dari pintu toilet yang dibuka secara pelan oleh orang yang selama ini meneror Anin dengan hadiah-hadiah misterius. Ketika pintu itu benar-benar terbuka, Anin mengangkat pandangan dan menemukan sosok tinggi dan tegap itu tengah menatapnya.
Mata Anin memandang lekat lelaki itu. Pakaiannya aneh, benar-benar aneh. Semua benda yang tengah laki-laki itu kenakan berwarna hitam, sebagian wajahnya ditutup menggunakan masker, sedang matanya ditutup menggunakan kacamata hitam. Ada topi hitam yang menutupi rambutnya, jaket hitam yang tebal, sebelah tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Sampai akhirnya Anin benar-benar yakin kalau orang itu penguntit ulung yang patut dihindari.
Setelah menatap Anin lama, laki-laki misterius itu berjongkok, meletakkan surat berbentuk burung serta kotak berpita berukuran sedang di depannya. Kebetulan, hari ini ketika Anin membuka lokernya, tak ada hadiah misterius yang ia temukan seperti biasa. Anin kira lelaki itu sudah berhenti menekuni tindakan pengecutnya, ternyata ia salah, lelaki itu memilih untuk mengantarnya sendiri ke hadapan Anin, semakin berani tentunya.
"Lain kali hati-hati, saya nggak mau kamu kenapa-napa. Jangan takut, karena sudah ada orang yang sedang bergerak menuju ke sini. Hubungi saya jika kamu merasa butuh pertolongan, saya selalu ada di sekitar kamu."
"Siapa lo sebenarnya, kenapa lo ngelakuin ini semua?"
Laki-laki itu bangkit, Anin menatapnya tajam, takut jika laki-laki itu akan berbuat macam-macam. Namun dugaan Anin kembali dipatahkan, setelah melirik Enzy yang masih tak sadarkan diri di lantai, pemuda itu berlari pergi. Anin tergerak untuk menyusulnya, semakin Anin berlari kencang maka semakin lelaki itu menambah kecepatan larinya. Sampai akhirnya lelaki itu menghilang di bawah tangga, membuat Anin harus menghentikan langkahnya sebab teringat bahwa Enzy membutuhkan bantuannya.
Anin segera kembali ke toilet, sesampainya ia di sana Enzy sudah tidak ada di tempat tersebut. Anin khawatir, air bercucuran dari pelupuk matanya. Anin mendadak kalut, kemudian berlari menuju kelas sesaat setelah menyambar kotak dan surat misterius itu.
"Ah, Kak Enzy," isak Anin ketika tubuhnya bertabrakan dengan seseorang. Gadis itu terjatuh ke lantai, kotak berpita dan surat misterius itu terpental ke depan, kemudian Anin mulai menangis dalam sesal. "Kak Enzy, maafin gue."
Anin terus menangis, tidak peduli dengan siapa sosok yang tadi bertabrakan dengannya. Lelaki itu berjongkok, memeluk Anin tanpa persetujuan dari gadis tersebut. "Lo tenangin diri lo dulu. Dia baik-baik aja, tadi Dante yang udah bawa dia."
Anin mendongak, terkejut sekaligus tak menyangka. "Bukannya Kak Dante lagi di rumah sakit sekarang?" tanyanya dengan suara parau.
Rega segera menyeka air mata di kedua pipi Anin, menatap dalam gadis di depannya. "Dia kabur dari rumah sakit demi lo, Nin. Dia bener-bener sayang sama lo dan berniat untuk ngerebut lo dari gue," ujar Rega lembut.
"Anterin gue ke rumah sakit sekarang, gue mau ketemu sama Kak Enzy." Permintaan Anin membuat Rega terdiam, berpikir baik-baik agar tidak salah tanggap. Mau tidak mau ia harus mengiyakan permintaan gadis itu, sebab Rega tahu Anin merasa khawatir dengan semua kejadian yang ia alami. Terlebih dahulu Anin pernah kehilangan sahabat terbaiknya karena mengidap penyakit yang sama.
"Gue mau pastiin kalau Kak Enzy baik-baik aja, Ga," ujar Anin disela tangisannya yang semakin menyelusup ke dalam telinga Rega.
Rega buru-buru mengelus punggung Anin, mencoba menenangkan gadis itu. "Anin, dia akan baik-baik aja, lo tenang."
"Gimana gue bisa tenang Rega, Kak Enzy punya penyakit yang sama dengan Rendy, sahabat gue yang sekarang udah nggak bisa gue temui."
***
Setibanya di rumah sakit, Anin segera berlari menelusuri lorong rumah sakit. Ketika berpapasan dengan seorang wanita yang pucat karena menahan sakit, Anin menghentikan langkah. Memandang wanita itu lekat, hingga akhirnya ia tersadar siapa yang tengah ia tatap panjang.
Sebelum Anin menghampiri Friska, ia meminta Rega untuk pergi mencari kamar di mana Enzy dirawat terlebih dahulu, lalu Anin segera menyusul wanita yang tampak hilang keseimbangan itu. Kni, Anin berdiri sambil merangkul tubuh Friska yang limbung, yang tak lain adalah ibu kandung Dante.
"Tante, Tante, Tante Friska gapapa?" tanya Anin sembari membantu wanita itu menopang tubuhnya yang mendadak hilang keseimbangan.
Kulit wajah yang sudah mengendur itu memucat, keringat dingin meluncur di dahinya. Sepasang matanya segera melirik ke sebelah, Anin tampak mencemaskan keadaannya, membuat Friska berpikir, bagaimana jika putranya mengetahui hal ini, maka kehidupannya pasti akan bertambah buruk. Friska menggeleng, menepis pikiran buruknya.
"Terimakasih. Kamu baik banget sama Tante," ujar Friska sambil menyentuh tangan Anin, wanita itu tersenyum senang.
"Tante, aku Anin temannya Kak Dante. Aku mau bicara sesuatu sama Tante Friska, bisa minta waktunya sebentar?"
***
"Tante terpaksa melakukan ini, Anin. Tante nggak punya pilihan lain. Semakin hari, penyakit Tante semakin bertambah parah, keadaan Tante memburuk seiring waktu berjalan, Tante harus menjalani pemeriksaan setiap minggu, sering pingsan, sering kesakitan, wajah pucat, persis seperti mayat hidup. Tante nggak bisa jadi istri dan ibu yang baik lagi setelah setahun lalu didiagnosa oleh dokter mengidap penyakit ini."
Anin meremas kuat rok abu-abunya, air yang berusaha untuk jatuh menggenang di pelupuk matanya. Hatinya ikut teriris mendengar ungkapan Friska yang tidak pernah ia duga.
Walau bagaimana pun, dari luar Tante Friska tampak baik-baik saja. Jika diperhatikan sekilas, bahkan wanita itu bisa dikatakan tidak menderita penyakit apa-apa. Namun sebenarnya, Tante Friska menderita penyakit kanker darah. Friska memang pintar sekali menipu orang.
"Kamu." Friska menggenggam tangan Anin, menatap gadis di depannya baik-baik. "Beruntung sekali Dante bertemu dengan bidadari seperti kamu. Setelah Tante tiada, Tante percayakan Dante sama kamu, ya, Anin. Bahagia lah bersama Dante, buat Dante melupakan hari-hari terburuk yang pernah ia lalui bersama Tante. Jaga Dante baik-baik dan pastikan dia hidup bahagia."
Di tempat ia duduk, Anin menyeka air matanya dengan cepat, sebelum laki-laki di sebelahnya tahu kalau Anin sedang menangis.
"Dokter bilang, Tante punya waktu tiga bulan untuk bertahan hidup kalau menjalani cuci darah dengan rutin. Selama itu, Tante ingin menebus semua kesalahan Tante sama Dante, juga sama papanya. Tante tau, sejak dulu Tante menjalani kehidupan dengan terpaksa, tapi, sejujurnya setelah Dante lahir, semuanya berubah. Tante tulus mencintai Papa Dante. Dan setelah tujuh belas tahun berlalu, Tante harus pergi dengan pilihan yang menyakitkan ini."
Tak ada lagi yang bisa ia tahan, kedua pundak Anin berguncang hebat, dunianya seakan runtuh dan air matanya berderai menimpa lantai. Rega yang terduduk di sebelah Anin segera menoleh, menatap gadis yang sedari tadi melamun panjang.
Rega menyentuh pundak Anin, gadis itu menunduk sambil menangis tersedu-sedu. "Anin, lo kenapa? Ada sesuatu yang terjadi saat gue ninggalin lo tadi di lorong rumah sakit?" tanyanya penuh selidik. Tahu kalau sejak ia meninggalkan Anin di lorong, gadis itu lebih banyak diam dengan tatapan kosong.
Anin menggeleng. "Dia nggak boleh pergi, dia harus bertahan kalau memang sayang sama anaknya. Gue harus bantu dia, Ga," kata Anin dengan suara serak dan bergetar.
Kedua alis Rega hampir saja bersatu, perkataan Anin membuatnya sangat bingung. "Siapa yang pergi? Anin, lo takut kehilangan siapa, cerita sama gue, gue bakalan bantuin lo."
Tiba-tiba Anin berhambur ke pelukan Rega, pelukannya sangat erat, seakan-akan takut menghadapi sebuah hal. Rega tentu membalas pelukan Anin, menepuk pelan punggung gadis itu sambil menduga-duga apa yang tengah Anin takutkan sampai membuatnya seperti ini.
"Sejak kecil, Dante kurang perhatian dari saya dan papanya. Tidak usah heran kenapa sekarang sikap Dante malah bertimbal balik. Itu karena saya dan papanya terlalu sibuk mengurus pekerjaan masing-masing. Sampai akhirnya ketika saya sadar dengan perbuatan saya, cobaan ini yang harus saya tanggung. Saya nggak mau menyakiti anak saya lagi dengan mengetahui kalau hidup mamanya nggak akan lama lagi, dia pasti sedih dan nggak bisa menerima keadaan."
"Prestasi Dante menjadi acuan saya untuk bekerja keras mewujudkan semua impian anak itu. Dante pernah bilang, dia ingin sekolah di Paris, untuk itu saya berjuang mati-matian. Ternyata, saya salah, bukan itu yang dibutuhkan oleh Dante, melainkan kasih sayang kedua orang tuanya. Sekarang saya menyesal, bodoh sekali saya waktu itu."
Perkataan Friska terus terngiang di telinga Anin, kalimat itu terus berputar di kepalanya, membuat Anin semakin merasa sesak dan ketakutan. "Gue harus apa, Ga, gue bingung sama keadaan yang gue hadapi sekarang," ucap Anin, masih terisak dalam tangisnya.
"Lupain semuanya, anggap lo nggak pernah denger apapun. Anggap kalau lo nggak mengetahui apapun, lo cuma ingat kalau lo punya Farel yang harus lo lindungi dan lo jaga dengan sebaik mungkin," papar Rega, terus berusaha menenangkan Anin.
"Gue nggak bisa tenang. Gimana kalau dia beneran pergi, gue nggak tau apa yang akan terjadi. Dunianya bisa hancur Rega, hancur."
"Anin, sebenarnya lo itu kenapa? Siapa yang udah bikin lo kayak gini?!"
"Akhir-akhir ini saya sering lihat kamu dekat dengan Dante, tidak seperti Ziva, kamu berbeda, Nin. Dante terlihat nyaman sama kamu, dia merasa punya dunia kalau bersama kamu, dia menjadi Dante yang Tante harapkan jika selalu bersama kamu. Sampai akhirnya Tante sadar, Dante menyukai kamu, Nin. Orang yang tepat untuk menggantikan posisi Tante dalam hidupnya."
Bentakan keras Rega tak membawa pengaruh apa-apa untuk Anin. Gadis itu tetap tenggelam dalam pikirannya mengenai ibu kandung Dante.
Gue harus apa, keadaan ini benar-benar menyakitkan. Rega, orang gue cinta sekarang udah mulai peduli sama gue. Sedangkan Dante, orang yang hampir merenggut kehormatan gue ternyata benar-benar tulus cinta sama gue. Kalau gue nolak dia, gue nggak yakin hidupnya akan baik-baik aja.
***
Sepulangnya Anin dari rumah sakit, kedatangan gadis itu disambut oleh Farel dan Dewi dengan kecemasan. Anin yang masih terkejut dengan keadaan langsung menjatuhkan tubuh di sofa, membiarkan pikiran tentang Friska menguasai kepalanya.
"Kak, lo gapapa?"
"Kalau gue bikin lo khawatir, gue minta maaf."
Farel segera mendekati Anin, memeluk kakaknya dengan penuh penyesalan. Beruntung luka di punggung pemuda itu sudah mulai mengering, jadi, bisa ia pastikan ke Dela kalau Farel akan baik-baik saja tinggal di rumahnya. "Kak, jangan kayak gini, lo bikin gue khawatir."
"Rel."
Rega memasuki rumah setelah berdiri beberapa menit di luar, bahkan Anin tak mepersilahkan Rega masuk ke rumahnya, membuat Rega semakin bingung.
"Lo apain Kakak gue?" Farel berdiri menghadang Rega, menodong Rega dengan pertanyaan bernada tuduhan. "Lo, ‘kan, yang bikin dia kayak gini?"
Ini lah yang tidak Rega suka dari sifat Farel, anak itu akan menyalahkan siapa saja yang berani menyakiti kakaknya. Sekarang, Farel dengan berani menunjuk wajah Rega penuh kemarahan.
Masih berusaha tenang, Rega menjatuhkan tangan Farel di sisi tubuhnya. "Nggak usah nunjuk-nunjuk bisa ‘kan lo, Anin syok sama apa yang udah terjadi seharian ini," jelas Rega kemudian duduk di samping Anin.
Dewi yang sejak tadi terdiam segera menarik Farel untuk mundur, kalau dibiarkan berdekatan dengan Rega, bisa terjadi perkelahian. "Rel, lo nggak usah nyolot kalau nggak tau apa-apa. Orang gue tau Kak Rega sayang banget sama Kak Anin, dia nggak mungkin nyakitin Kak Anin," ujar Dewi sembari menarik tangan Farel untuk duduk.
"Lo nggak usah ikut campur," bentak Farel pada Dewi, membuat gadis itu terlonjak kaget saking kerasnya bentakan Farel. "Kalau bukan karena mama lo, gue nggak akan ninggalin Kak Anin dan sekarang kondisinya malah kayak gini. Lo emang nggak becus jagain Kakak gue!"
"Lo bisa diem nggak anjing!" maki Rega ketika Farel mulai menyalahkan semua orang, mata lelaki itu mulai memancarkan gejolak amarah. "Ada atau pun nggak adanya lo di samping Anin, kejadian di sekolah tadi akan tetap terjadi, ngerti lo. Jadi lo nggak perlu nyalahin Dewi atau siapapun, karena yang terjadi udah kehendak yang di atas. Ada baiknya lo menerima keadaan."
"Maafin gue," sesal Farel kemudian. Kepalanya menunduk, merasa malu dengan perbuatannya. "Bisa lo jelasin kenapa Kak Anin jadi kayak sekarang?"
***
Malam harinya, Anin terduduk diam sambil menyandarkan punggung di kepala tempat tidur. Matanya menatap kotak berpita serta surat yang dilipat menyerupai burung, juga ada catatan penting mengenai semua hal yang ingin Anin selidiki tentang sosok misterius itu.
"Siapa lo sebenarnya? Kenapa lo ada di sekitar gue?" gumam Anin kemudian meraih catatannya. Membuka halaman buku pertama menuju halaman selanjutnya, hingga ia menemukan 12 digit angka yang Anin yakini sebagai nomor telepon si pemuda misterius itu.
Nomor tersebut Anin temukan di salah satu kotak pemberian orang itu, kemudian mencatatnya untuk berjaga-jaga kalau ada sesuatu yang darurat. Anin buru-buru meraih ponselnya, mencari kontak si laki-laki misterius itu.
Misterius
+628136868××××
Tanpa sadar, Anin menekan icon berbentuk telepon, hingga panggilan pun tersambung pada seseorang. Anin tidak terkejut atau pun ketakutan, justru ia malah semakin penasaran. Hendak memastikan bahwa nomor itu benar-benar milik laki-laki yang selama ini membuntutinya atau bukan.
Di lain tempat, seorang laki-laki duduk tersandar di dinding kamarnya. Membiarkan dirinya terkurung dalam kegelapan, menjadikan cahaya bulan yang minim sebagai penerangnya. Laki-laki itu tersentak begitu salah satu ponselnya bergetar di atas nakas, buru-buru ia menggapainya. Sebab ia tahu, bahwa hanya Anin yang mengetahui nomor tersebut.
"Halo, Nin. Sekarang sudah percaya kalau saya nyata dan memang ada di sekeliling kamu?"
Anin terkejut, tertegun sebentar hingga akhirnya membalas sahutan dari seberang. "Lo siapa, kenapa selalu ngikutin gue?"
"Saya ada hanya untuk menebus kesalahan yang sudah saya perbuat sama kamu, tidak lebih dari itu. Saya manusia, sama seperti kamu. Saya juga bisa terluka, saya bisa kecewa, saya bisa menyesal dan yang terpenting saya mencintai kamu, Anin."
Lagi-lagi Anin terkejut, tidak menyangka sosok itu benar-benar akan seagresif itu saat berbicara padanya. Seakan-akan sosok tersebut sudah akrab dengan Anin, sehingga tak ada rem jika ia sudah mulai berkata-kata.
"Seperti yang saya bilang, saya sedang berusaha memperbaiki kesalahan saya. Untuk itu, mulai sekarang kamu nggak usah takut sama saya, hubungi saya jika kamu butuh pertolongan saya."