MENDAMBA PELUKAN
“Nyatanya sebagai tempat persinggahan, kita hanya bisa mendambakan. Kita yang berjuang, malah dia yang jadi pemenang.”
—Dante Abraham—
***
Di ruang BP terjadi keributan besar antara Pak Wirya dan Dante yang bernotabene sebagai keponakannya. Perlawanan Dante akan keputusan Pak Wirya mengundang perdebatan, membuat Ziva beserta dua temannya tak mau tinggal diam, namun di satu sisi mereka juga tidak mau melibatkan diri dalam masalah Dante. Jika itu terjadi, maka jangan harap Dante akan peduli lagi dengan Ziva atau pun dua temannya.
Tatapan tajam Dante masih menghunus Pak Wirya dengan sengit, sementara tangannya bergerak merogoh kantong celana, lalu mengeluarkan benda pipih dengan percaya diri. "Ini bukti yang lebih konkret. Kalau memang mereka mau berbuat m***m, silahkan Bapak mengeluarkan mereka tanpa perlawanan dari saya."
Keyakinan Dante berhasil memadamkan amarah Pak Wirya, laki-laki itu kembali tenang dan menyambar ponsel Dante.
"Durasi videonya kurang dari sepuluh menit. Saya sudah merekam kegiatan Rega sama Anin dari awal Ziva dan dua temennya memoto mereka, Pak," ucap Dante. "Sejak awal saya memang sudah curiga, dan sialnya kecurigaan saya malah benar terjadi. Jadi, untuk jaga-jaga, saya merekam video ini, sampai akhirnya saya berada di kelas itu sama Rega dan Anin, hingga upacara bendera selesai dilaksanakan. Kalau Bapak nggak percaya, tanya langsung sama Galuh, karena dia yang pertama masuk kelas."
"Dan, lo nuduh gue memfitnah Rega sama Anin?" sambar Ziva, memulai dramanya. "Nggak nyangka gue, lo lebih memilih cewek murahan itu ketimbang gue."
Plak!
Tamparan gratis itu nyaris membuat Ziva tersungkur ke lantai. Sebelah pipinya berdenyut sakit, jejak telapak tangan Dante sudah dipastikan tertinggal di wajah Ziva.
Semua orang terperanjat hebat ketika Dante melayangkan tamparan kepada Ziva. Rasa tak percaya mendominasi kepala mereka, sebab semua orang di sekolah ini tahu bahwa Ziva dan Dante sangat dekat, saking dekatnya bahkan Ziva sering menginap di rumah Dante.
"Dasar cowok berengsek, lo berani main tangan sama gue, Dan!"
"Va, gue nggak niat, sumpah. Gue kelewat marah sama lo dan gue—"
"Diem! Lo diem! Gue nggak butuh bacotan lo!" bentak Ziva, air mata langsung jatuh dari pelupuk matanya. "Jangan ikutin gue, lo lebih memilih cewek murahan itu ‘kan dari pada gue yang kenyataannya memang lebih baik dari dia? Silahkan, Dan. Gue bener-bener benci sama lo, terutama cewek itu. Dan urusan kita belum kelar, Anin. Gue bener-bener akan mengusik ketenangan hidup lo, inget itu baik-baik!"
Kemudian Ziva melangkah meninggalkan ruangan, disusul oleh Enzy dan Vani yang sudah pucat menyaksikan pertengkaran ini. Suasana semakin memanas, Dante kalut dan yang bisa ia lakukan hanya menyesali perbuatannya.
"Kak, nggak seharusnya lo melakukan ini," lirih Anin setelah sebelah tangannya mendarat di pundak Dante. "Lo nyakitin Kak Ziva, lo bikin hatinya hancur berkeping-keping."
Dante menunduk lesu, menyembunyikan genangan air mata yang hampir saja lolos dari pertahanannya. "Dia terlalu kejam jadi manusia, Nin. Karena dendam, dia menghalalkan segala cara untuk memenuhi kepuasan hatinya sendiri. Dia mau semua perempuan bertekuk lutut sama dia, dan gue nggak mau itu terjadi. Gue nggak mau Ziva hancur dalam sesal yang berkepanjangan."
Setelah mengatakan hal tersebut, Dante segera berlari menyusul kepergian Ziva yang tidak ia tahu ke mana. Disusul oleh Anin walau Rega sudah berusaha mencegahnya, sementara Pak Wirya hanya bisa menghela napas menyaksikan kekacauan yang ditimbulkan oleh Ziva dan keponakannya, Dante.
***
Sepasang kaki terus berlari menyusuri koridor, mengabaikan tatapan aneh dari setiap pasang mata yang memandang. Air mata terus bercucuran tanpa bisa ditahan, jejak telapak tangan yang memerah di wajah berdenyut secara perlahan. Penghargaan yang luar biasa Ziva dapatkan dari laki-laki yang amat dicintainya, Dante Abraham.
Sesampainya Ziva di kelas, gadis itu memutuskan untuk duduk di kursinya. Merebahkan kepalanya di atas meja, menyembunyikan rupa dari keingintahuan dunia. Isak tangis mengundang tanya, yang tak perlu mereka ketahui jawabannya. Ziva mengepal tangan sewaktu sentuhan hangat mengejutkan pundaknya.
"Gue minta maaf," bisik seseorang di telinganya.
Suara riuh yang mempertanyakan keadaan Ziva perlahan menghilang setelah bisikan itu terdengar. Yang kini jelas terdengar hanya isakannya yang mati-matian disembunyikan. Ziva tahu siapa yang sedang berada di sebelahnya.
"Gue nggak butuh lo!" desis Ziva, enggan berbalik pada Dante yang sedang mencoba menenangkannya. "Pergi sana!"
"Kalau gue pergi, mungkin gue nggak akan kembali." Ziva langsung tertegun, Dante kembali melanjutkan kalimatnya. "Dendam itu nggak akan memberikan apa yang lo inginkan, Va. Lo mau cinta, persahabatan, keluarga, perhatian, apalagi kebahagiaan. Kalau masih ada dendam di hati lo, semua hal itu nggak akan bisa lo wujudkan."
Ziva muak dinasihati, sehingga kepalanya kembali tegak dan menatap Dante dengan sinis. Matanya memerah, rambutnya terlihat berantakan. "Gue nggak butuh lo, atau pun nasehat lo," ujar Ziva sambil menunjuk bahu Dante dan menekankan telunjuknya.
"Yang gue mau, mereka semua harus merasakan apa yang dulu gue rasain. Gue benci semua orang, gue benci lo dan gue benci sama diri gue sendiri!"
"Kenapa dulu gue cupu, kenapa dulu gue nggak berani melawan mereka yang nyakitin gue, kenapa dan kenapa terus berputar di kepala gue!"
Teriak kemarahan Ziva berhasil membuat Dante merasa semakin iba. Karena tidak mau Ziva semakin merasa tertekan dengan masa lalunya, Dante menarik Ziva dalam pelukannya. Gadis itu pun meronta dalam dekapan Dante yang semakin kencang. Ziva berteriak, memukul lengan Dante, atau menarik rambutnya sendiri, Ziva ternyata belum seutuhnya melupakan masa lalunya.
"Karena dulu lo masih punya gue, Va. Lo percaya, gue mampu melindungi sahabat gue yang paling gue sayang, lo percaya gue nggak akan tinggal diam kalau cowok-cowok itu mempermainkan perasaan lo. Tapi, kalau sekarang? Lo punya semuanya, yang mengartikan bahwa lo udah nggak membutuhkan gue. Yang lo butuhkan itu sederhana, cukup berdamai dengan diri lo sendiri. Gue yakin, lo akan hidup bahagia, Va."
Ziva mendongak, masih dalam pelukan pemuda itu. "Lo nggak sayang lagi sama gue karena perempuan itu?" tanya Ziva.
Dante balas menatap tatapan tajam Ziva. "Gue akan tetap sayang sama lo, sebagai sahabat, nggak lebih. Dan perjuangan lo untuk mendapatkan tempat di hati gue akan semakin nggak berguna kalau caranya serendah ini, Va."
"Dan, jangan bilang kalau Anin hamil karena kejadian waktu itu?"
"Gue nggak pernah nyentuh Anin! Lo inget itu baik-baik, dia bukan cewek murahan seperti yang lo maksud!"
Dante memekik kencang, mendorong Ziva agar menjauh darinya. Tatapan laki-laki itu menyiratkan kemarahan yang luar biasa, mukanya merah padam melihat gadis di hadapannya. Kedua tangan Dante mengepal kuat di kedua sisi tubuhnya. Tatapan kecewa juga tak luput ia perlihatkan kepada Ziva, membuat Ziva merasa bersalah dengan apa yang tadi ia ucapkan.
***
Langkah gontai Dante berhasil mengantarnya ke toilet sekolah, berdiri di depan kaca yang ukurannya cukup besar dalam keadaan kesal. Dante membasuh tangannya di wastafel, kemudian mengusapkan sisa-sisa air yang menempel di tangan ke rambutnya. Tak berselang lama, laki-laki itu berteriak kencang dan memecahkan kaca toilet dengan pukulannya.
Darah segar segera mengalir melalui robekan di punggung tangan Dante. Kepalan tangannya masih bersentuhan dengan kaca yang sudah retak tersebut, tatapan penuh amarah itu masih tertuju pada pantulan dirinya di cermin. Keadaan Dante cukup kacau, bukan hanya wajah dan tubuhnya yang terluka karena keadaan, tetapi hatinya juga. Hatinya merasa hancur, semuanya semakin tak terkendali.
“Dante, lo ngapain di dalem, Dan?”
“Dan, kau jangan berbuat macam-macam, atau ku habisi kau, ya!”
“Kak, lo nggak kenapa-napa ‘kan?”
Teriakan serta gedoran yang berasal dari Eros dan Bonar berhasil mengejutkan Dante, juga suara seorang gadis yang saat ini ia butuhkan pelukannya. Pelukan hangat yang menenagkan bagai terapi yang selalu ia perlukan untuk merasa lebih baik.
Entah mengapa, Dante memilih untuk menjauh dari tempat semula, bergerak menuju pintu toilet dan membuka pintu yang tadinya ia kunci. Pandangan Dante langsung bertemu dengan manik mata Anin.
Anin yang sedang khawatir sontak membulatkan matanya melihat darah menetes dari tangan Dante. Darah segar itu berceceran di lantai, laki-laki di depannya pucat dan tatapannya seperti orang linglung. Bergegas Anin memeluknya, sedang yang dipeluk tak bertindak apa-apa.
“Lo gila, Dan!” tandas Eros, hampir memukul Dante kalau Anin tak segera memeluk sahabat lelaki itu. “Apa, sih, yang ada di otak lo, heran gue!”
Bonar menyentuh pundak Eros, meminta agar tetap tenang. “Percuma kau mukulin orang yang sudah gila karena cinta. Kenyataanya, kau cuma bisa bersabar sampai Dante bisa menerima kenyataan kalau Anin bukan ditakdirkan buat dia. Tapi, untuk Rega.”
Bonar berhasil menemukan keberadaan Dante diantara gerombolan laki-laki yang sedang menyaksikan keributan di belakangnya. Banyak yang berbisik dan bertanya-tanya apa yang terjadi, namun seorang Rega memilih untuk diam. Entah apa yang sedang laki-laki itu pikirkan. Di belakang Rega juga ada Ziva yang sedang terbakar cemburu, dua temannya tak banyak bicara sebab takut membuat Ziva mengamuk.
“Gue sayang sama lo, Nin.” Dante membalas pelukan Anin, lebih kuat, seakan tidak mau Anin pergi. “Ternyata semesta membenci gue, gue pun membenci diri gue sendiri. Gue nggak punya siapa-siapa selain papa tapi, sekarang papa udah berubah. Mama memilih kembali sama masa lalunya. Semuanya hancur, Nin.”
Anin menyeka air mata yang terus berjatuhan di pipinya. Menepuk-nepuk pelan punggung Dante sambil menyembunyikan tangisnya. “Lo masih punya gue, sahabat lo, Pak Wirya. Kita semua sayang sama lo, Kak,” balas Anin dengan suara bergetar.
“Gue mau lo tetap ada di sisi gue.”
“Gue akan mencoba bertahan untuk tetap di sisi lo.”
Menyaksikan hal tersebut, Rega menahan kesal di tempatnya. Galuh yang sedang berdiri di sebelahnya segera menahan agar pemuda itu tidak salah bertindak, juga ada Nata yang merasa kecewa di samping Galuh. Gadis itu kemudian pergi meninggalkan kerumunan yang belum membubarkan diri.
“Gue mempertanyakan tentang perasaan lo sama gue, Nin.”
“Lo pun udah tau jawabannya, Kak. Gue sayang sama lo, tapi, nggak setara dengan rasa sayang gue terhadap Rega.”
“Dante! Papa kecewa sama kamu!”
Teriakan hebat dari seorang laki-laki berhasil mengalihkan seluruh perhatian. Lantas perlahan Dante mengurai pelukannya, menatap ayahnya yang berdiri seperti orang asing. Iya, orang asing yang tak Dante kenal sejak pertengkaran hebat itu terjadi antara ayah dan ibunya.