BAB 21

1902 Words
BISIKAN KETULUSAN   “Yang terlepas dari genggaman, bisa ditarik kembali ke dalam pelukan. Yang diperlukan hanyalah kejujuran, mengenai perasaan yang telah lama disembunyikan.” —Anindita Maheswari—   ***   Bel sekolah selalu berhasil menggemparkan penjuru SMA Cemerlang, membuat setiap penghuninya memberengut kesal karena harus berjemur melaksanakan upacara bendera setengah jam kedepan. Hari Senin adalah hari terberat beberapa umat, tak terkecuali bagi Anin yang sekarang sudah tertidur pulas di atas meja. Mengabaikan suara riuh yang sebenarnya tak mengusik sedikit pun tidur pulasnya. Ditemani oleh manusia es bernama Rega yang betah sekali memperhatikan wajah Anin pagi ini. Sebelum laki-laki berpakaian rapi di depannya beranjak ke lapangan, Rega segera mengulurkan tangan lalu menepuk pundaknya dua kali berturut-turut. Ketika laki-laki itu menoleh, Rega langsung berucap dengan nada memaksa. "Gal, titip absen gue sama Anin." Galuh langsung mengerutkan kening, tidak yakin akan berhasil. "Lo gila apa, gue bisa dimarahin Bu Melda kalau sampai ketahuan. Kenapa nggak ke lapangan aja, sih, malah ngerepotin orang," ujar Galuh mengoceh, tidak mau mengambil risiko, sebab nama baiknya sebagai ketua kelas akan tercoreng karena terlibat dalam hal ini. "Gue semalam sakit, terus malah ngerepotin Anin. Pokoknya gue mau nitip absen sama lo. Kalau gue sama Anin ketahuan nggak ikut upacara, gue akan cari lo untuk tanggung jawab." "Biar gue aja nanti yang sampein ke Bu Melda kalau lo berdua lagi sakit!" Dua pemuda yang sedang beradu argumen segera menoleh ke sumber suara. Mata mereka berhasil menemukan Nata, gadis berambut pendek, kulit putih dengan wajah imut dan senyum manis sedang berdiri di pintu kelas. Menunggu Galuh ke luar dan bersama-sama menuju lapangan. Namun begitu Nata menyusul Galuh ke kelas, malah kejadian ini yang ia lihat. Rega langsung membuang pandangannya, malas mencari ribut dengan Nata yang menganggap dirinya selalu benar. Setelah mengatakan itu, Nata dan Galuh tak lagi bicara, hingga kemudian ia berlalu meninggalkan Rega dan Anin di kelas. Membiarkan keduanya tidak mengikuti upacara bendera. "Maaf untuk semua hal yang menyakitkan." "Maaf membuat lo menunggu dalam ketidakberdayaan." Satu kata paling berat ia ucapkan berhasil lolos dari bibir Rega. Kata maaf. Tatapan rasa bersalah itu tak dibiarkan lepas begitu saja, Rega tak mau menjeda sedetik pun pandangannya dari wajah Anin yang sedang berdamai dengan mimpinya. Tangan kekar Rega bergerak, menyelipkan rambut yang menutupi wajah Anin di balik daun telinganya. Lagi-lagi Rega memperhatikan dalam diam, pandangannya tetap tertuju pada objek yang sama. "Sekarang gue yang akan memperjuangkan lo, Nin. Membawa lo kembali pada hati yang seharusnya sejak lama lo miliki. Karena kebodohan gue, gue malah sering melukai hati lo yang sudah sepenuhnya lo curahkan untuk gue. Berkat kesabaran itu, lo berhasil mendapatkan tempat paling tinggi di hati gue, berhasil menyadarkan gue banyak hal tentang perjuangan, pengorbanan, ketulusan, dan kesetiaan. Lo memang peri bumi yang Tuhan ciptakan untuk gue miliki, lo pantas untuk diperjuangkan," papar Rega panjang lebar, sengaja berucap pelan agar Anin tak terbangun dari tidur pulasnya. Begitu merepotkannya Rega selama ini, tetapi Anin tak pernah mengeluh saat dirinya direpotkan, Anin hanya bilang sudah lelah dan ingin menyerah. Walau kenyataannya, apa yang Anin ucapkan selalu bertolak belakang dengan apa yang dia lakukan, sebagai bentuk pertanda bahwa gadis itu tidak benar-benar ingin menyerah pada rasa lelah. Rega membawa sebelah tangan Anin ke dalam genggamannya, lalu mengecup punggung tangan Anin dengan lembut penuh ketulusan. "Kemarin gue udah kayak orang gila nyariin lo, gue pikir gue akan kehilangan lo dalam sekejap. Makanya, tanpa mikir apa-apa lagi, gue langsung pergi dari rumah nyariin lo. Tanpa ada tujuan yang jelas, gue malah memaksakan perjalanan, sampai akhirnya gue pun memilih untuk menunggu untuk lo temukan. Gue pikir menunggu itu menyenangkan, ternyata lebih menyakitkan daripada kematian. Tau kenapa? Karena semua kemungkinan buruk terus mencoba mematahkan semangat gue untuk bertahan, memaksa genggaman untuk melepaskan, memaksa hati untuk memutuskan perpisahan. Sampai benar-benar tenggelam dalam keadaan paling menyakitkan." Sedikit pun Anin tak merespons perkataan Rega, namun dari balik jendela ada tiga sosok perempuan yang sedang memperhatikan. Bibirnya menyunggingkan senyum penuh dendam, setelah mendapat apa yang ia inginkan, sepasang kakinya melangkah pergi meninggalkan pijakan. "Demi membawa lo kembali ke pangkuan gue, gue rela menempuh hujan lebat tanpa memikirkan akibat. Pun kalau diminta untuk mati, gue siap mati untuk lo. Itu ‘kan yang namanya cinta sejati? Gue udah merasakan itu sejak lama, Nin, kira-kira setelah kita pindah ke SMA Cemerlang. Kedekatan antara lo dan gue semakin kuat, perasaan lo yang tulus berhasil membuat gue terjerat. Papa menemukan pendamping yang tepat untuk gue, seperti dia yang menemukan Dewa untuk Renata. Gue rasa dia juga mempertemukan Anin dan Rega." Masih dalam keadaan menggenggam tangan Anin, kini sebelah tangan Rega mengelus puncak kepala gadis yang sedang terlelap itu. "Oh iya, gue mau bilang kalau beberapa hari ini Farel bakalan tinggal sama Tante Dela. Semalam gue mau bilang, tapi, lo udah tidur duluan. Anin, terimakasih atas semua perjuangan lo untuk mendapatkan tempat di hati gue. Terimakasih udah mau menjadi penyempurna hidup gue," ujarnya. "Rega, lo ngapain berdua sama Anin di sini?" Pertanyaan lantang itu membuat Rega terlonjak kaget, saking kerasnya suara, Anin sampai terbangun dari tidurnya, kemudian dua manusia itu langsung menghunus lelaki berpakaian rapi yang sudah berdiri di depan kelas dengan tatapan tajam. Sebuah benda persegi panjang ada di genggamannya. Anin segera mendelik pada Rega. "Ga, lo nggak bangunin gue?" tanyanya, terbesit kecurigaan yang amat besar. "Gue nggak tega bangunin lo." "Halah, banyak alasan lo," potong Dante. "Modus!" Tanpa peduli dengan wajah pucat Anin, Rega menarik kerah seragam Dante yang berstatus sebagai kakak kelasnya. "Urusan lo emang? Terus maksud kedatangan lo ke sini apa?" tanya Rega penuh tekanan, rahangnya mulai mengeras, tatapannya tertuju pada ponsel di tangan Dante. Begitu keduanya membuat keributan, kepala Anin langsung berdenyut. Jika ia tidak segera menengahi perdebatan, beberapa menit kemudian dia dan kedua pemuda itu akan berakhir di ruang BP bersama Pak Wirya. Apalagi kalau melihat wajah lebam Dante, bisa-bisa sekali pukul laki-laki itu langsung tumbang dan segera dilarikan ke rumah sakit terdekat, merepotkan bukan? "Ribut mulu, nggak capek apa? Damai sekali emang nggak bisa, kayak bocah lo berdua. Lo juga, Kak, itu muka udah kayak kaleng penyok, ntar gantengnya hilang tau rasa." "Gue tau kok gue tampan, makanya lo nggak bisa nolak pesona Dante Abraham yang gantengnya nggak ketulungan." "Aduh, salah ngomong gue," gumam Anin sambil melirik Dante yang sedang tersenyum ke arahnya. Tidak peduli dengan apa yang akan lelaki itu lakukan terhadap ponselnya. Melihat kontak mata antara Anin dan Dante, Rega jadi semakin panas, namun niat untuk berkelahi dengan Dante seketika ia urungkan. Memilih duduk ke tempatnya karena lawan sedang dalam kondisi yang lemah, pantang bagi Rega untuk menyerang. "Lain kali bakal langsung gue hajar lo. Caper banget sama peri gue," desis Rega. Setelah Anin berdiri, sebelah tangannya segera menarik tangan Dante untuk menjauh dari Rega. Tepatnya gadis itu membawa Dante untuk duduk di kursi guru, supaya nanti tidak ada kesalahpahaman, Anin sendiri akan duduk di barisan paling depan sambil membaca novel kesukaannya. "Jangan ada yang berisik kalau nggak mau hatinya gue patahin!" tuntut Anin dengan tatapan horor ketika dua manusia itu masih saling mendebat. *** "Pak, mereka mau berbuat aneh-aneh di kelas, Pak Wirya juga udah liat buktinya ‘kan, keluarin aja langsung!" "Kita tidak boleh berprasangka buruk, dan jangan pikir bukti ini akan memperkuat dugaan kalian." Beberapa pasang kaki berjalan terburu-buru di koridor, hendak menuju ke kelas yang letaknya paling ujung. Selepas upacara bendera selesai dilaksanakan, sebuah foto yang terdapat dalam ponsel Ziva membuat geger satu sekolah. Para guru mengecam keras tindakan dua pelaku yang terpotret dalam gambar tersebut. Ziva, salah satu gadis yang berjalan beriringan dengan Pak Wirya mengerutkan dahi. Tentu tidak setuju. "Berprasangka buruk kata Bapak? Jelas-jelas Enzy sama Vani saksinya, saya juga udah fotoin mereka. Bukti apalagi yang kurang?" tuntutnya pada guru tertampan di SMA Cemerlang ini. Enzy mengangguk setuju. "Betul itu, Pak. Saya mau mereka berdua dikeluarkan dari sekolah, nggak tau malu banget jadi manusia," ujarnya menimpali. "Bapak masih inget ‘kan, kejadian Anin sama Dante yang dulu juga bikin geger SMA Cemerlang? Jadi, Pak Wirya nggak usah heran kenapa mereka mau berbuat m***m di sekolah kita." Vani ikut menambahkan. Pak Wirya tak lagi menanggapi perkataan ketiga muridnya, sesampainya di kelas, Pak Wirya melihat ada beberapa murid yang sedang melepas penat setelah melaksanakan upacara. Kebetulan, sepasang matanya langsung bisa mendeteksi keberadaan dua remaja yang sedang ia cari. "Siapa yang namanya Anindita Maheswari dan Rega Algatama di kelas ini?" tanya Pak Wirya tenang, namun manik matanya menjelaskan kemarahan. "Saya, Pak. Saya Anin." "Saya Rega." Keduanya langsung bangkit dari kursi, ada Dante juga yang masih belum beranjak dari kursi guru. Lelaki itu tampak tenang, tidak peduli bagaimana orang-orang menatap aneh wajah lebamnya. Namun, Dante seperti tengah menyiapkan sesuatu, gerak-geriknya menjelaskan kalau ada sebuah permainan yang akan ia mainkan. "Kalian berdua ikut saya!" "Salah kita apa, Pak, ‘kan udah izin," balas Rega, menghentikan langkah Pak Wirya yang hendak berbalik. "Nggak usah membantah, kalian cuma perlu menuruti perkataan saya!" Ketika suara Pak Wirya menggema di kelas, barulah Rega menurut. Sementara tiga perempuan yang tadi melapor langsung tersenyum senang di balik punggung Pak Wirya, berharap Rega dan Anin dikeluarkan dari sekolah. Makanya, jangan macam-macam sama Ziva Oktaviana, desis Ziva sambil tergelak dalam hati. Pandangannya tak mau lepas dari raut ketakutan Anin, seolah sedang menikmati penderitaan yang Anin rasakan. *** Pagi-pagi sudah ada yang menginterogasi Rega dan Anin, bahkan mereka tak tahu apa kesalahan yang telah mereka perbuat sampai-sampai para guru mengecam keras tindakan mereka. Keduanya berusaha berpikir keras, hanya saja semakin dipikirkan mereka malah semakin bertambah bingung. Sebab yang mereka tahu, kesalahan mereka hanya tidak mengikuti upacara bendera, lagi pun sudah izin kepada Bu Melda selaku wali kelas mereka. "Kalian masih belum mau mengakui kesalahan kalian?" Pak Wirya kembali bertanya setelah memberikan Anin dan Rega waktu untuk berpikir. Pertanyaan Pak Wirya membuat Rega tersenyum remeh. "Yang bener aja dong, Pak, kita nggak tau letak kesalahan kita dimana, terus kita mau mengakui apa," ucapnya. Tanpa berpikir panjang dan merasa cukup kewalahan menghadapi sikap dingin dan ketus Rega, akhirnya Pak Wirya menyodorkan foto yang terpampang jelas di layar ponsel milik Ziva. "Jelaskan ini sama saya." "Ini foto saya sama Anin." Pak Wirya menghela napas, benar juga jawaban pemuda bertubuh tinggi itu. Anin yang duduk bersebelahan dengan Rega segera memperhatikan foto itu baik-baik. Apa yang Rega lakukan ketika Anin tertidur di kelas, Anin segera melempar tatapan tajam. Pemuda itu mengangkat tangan, tersenyum seolah tidak perlu khawatir akan semua yang terjadi. "Tenang, Nin. Gue nggak ngapa-ngapain lo, kok," jelasnya pada Anin. "Terus ngapain lo cium tangan gue, ngelus puncak kepala gue segala lagi," omel Anin panjang lebar. "Loh, kok, malah jadi kalian yang ribut," gumam Pak Wirya heran. Matanya memerhatikan dua remaja yang sedang bertengkar. "Loh, gue 'kan sayang sama lo, lo juga sayang sama gue. Kalau gue bersikap kayak gitu, wajar dong, ‘kan itu bentuk rasa sayang gue terhadap lo, Nin. Salahnya dimana?" "Salahnya ada di otak kamu," potong Pak Wirya segera. "Masih pagi sudah pacaran di sekolah, bikin malu." "Kalian berdua saya hukum membersihkan toilet sekolah!" "Nggak bisa! Mereka nggak terbukti bersalah, Pak. Ini cuma salah paham." Seseorang baru saja menerobos masuk ke ruang BP yang dijaga oleh Bu Melda di depan pintu. Kedatangan yang tiba-tiba itu mengejutkan semuanya, tak terkecuali Pak Wirya yang sudah melotot melihat siapa yang sedang menentang keputusannya. "Saya punya buktinya, kalau ini cuma salah paham. Ziva aja yang niatnya salah, mau fitnah Anin sama Rega. Pokoknya, saya mau Rega sama Anin bebas dari hukuman, kalau nggak, nanti saya nggak jadi pulang ke rumah." "Kak Dante!" bentak Anin marah, menyentak tatapan siapa saja yang sedang bingung dengan keadaan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD