RASA YANG SEMPURNA
"Bergulat dengan hati merupakan hal paling melelahkan, terlebih lagi didukung oleh pikiran, diperteguh oleh perasaan, lalu direalisasikan oleh tindakan."
—Rega Algatama—
***
"Kak, maaf udah ngerepotin lo. Harusnya sekarang lo udah istirahat di kamar."
"Gue yang harusnya minta maaf. Karena gue, si Eros sampe nyulik lo segala, dan lo juga harus melihat kondisi gue yang menyedihkan ini."
Setelah melepas seatbealt yang melilit tubuhnya, Anin memiringkan badannya menghadap Dante, lelaki itu memaksa tersenyum, menyembunyikan hatinya yang remuk dihantam kasus perceraian orangtuanya. Lagi-lagi ini tentang masa lalu yang menyakitkan, membuat Anin harus menghela napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya pelan.
Perlahan, tangan mungil Anin bergerak menggenggam tangan Dante. Tatapannya benar-benar menyiratkan duka yang mendalam perihal apa yang sudah terjadi pada kehidupannya. "Sudah sepatutnya yang bersedih dirangkul dalam dekapan bahagia, bukan diabaikan seperti sampah nggak berguna. Jika merasa terluka, jangan sembunyikan, utarakan pada seseorang yang pantas dipercaya, jangan memendam luka yang nggak akan pernah mengering kalau kebahagiaan itu selalu terkontaminasi dengan kesedihan."
Melihat Anin banyak bicara padanya hari ini, membuat Dante semakin tidak ingin kehilangan gadis itu. Dirinya ingin berjuang, walau ia sudah tahu pasti jawabannya, siapa yang akan menjadi pemenangnya. "Pura-pura bahagia adalah hal yang sering gue lakukan. Salah satu cara gue berdamai dengan semesta, wajar kalau bahagianya terlampau sering bergelut dengan kesedihan," balas Dante dengan tatapan berkaca-kaca. Cintanya pada Anin benar-benar sedang diuji.
Mendengar pengakuan Dante, Anin tersenyum kecil. "Sudah saatnya lo jujur sama semesta kalau selama ini lo terluka sama setiap permainannya," ujar Anin lagi, tangannya masih menggenggam tangan pemuda itu. "Sudah saatnya lo mewujudkan bahagia yang sesungguhnya."
"Sulit. Lo nggak usah khawatir, karena gue udah profesional dalam bidang ini."
"Ya, bidang yang selalu membuat lo terjebak dalam lara. Kenapa sulit?"
Anin menarik tangannya, cukup bingung dengan jawaban lelaki di sebelahnya. Namun tetap saja, tidak peduli bagaimana Dante menolak kebahagiaannya, Anin akan tetap memaksa dengan caranya. Anin membulatkan tekad untuk membahagiakan lelaki itu dengan caranya. Anin ingin Dante lebih jujur pada dirinya sendiri, mengenai apa yang sedang ia rasakan sesungguhnya.
"Karena lo sendiri adalah kebahagiaan gue. Nggak usah heran kenapa selama ini bahagianya selalu tercampur sama kesedihan."
"Kak, jangan memilih terluka dalam kurun waktu yang lama. Cari kebahagiaan lo yang lain, yang pantas untuk lo dapatkan, yang tempatnya bukan ada dalam genggaman gue."
Penolakan yang halus.
Dante tersenyum tipis, tak tahu lagi harus mengutarakan apa. Sebab Anin sudah menjelaskan semuanya, dia tidak akan berpaling dari Rega. Sebenarnya pilihan yang sulit berada di tengah-tengah mereka yang saling mencinta, keduanya memiliki perasaan yang sama, hanya saja karena salah satu dari mereka tak pernah menyadari hal tersebut, kisah mereka malah menjadi rumit. Meski begitu, Dante tak akan menyerah, ia akan terus di samping Anin, menunggu saat-saat yang tepat untuk melepaskan.
"Udah sana turun, nanti gue semakin nggak mau lepas dari kebahagiaan gue," ujar Dante sambil tersenyum lebar, dirinya senang sekali menggoda gadis itu.
Lengkungan di bibir Anin juga semakin dalam. "Iya, lo hati-hati. Kalau nanti ada apa-apa langsung kabarin gue," ucapnya sambil mendorong pintu mobil agar terbuka.
Udara dingin menusuk kulit Anin sampai ke tulang, rembesan hujan berhembus ke arahnya ketika gadis berparas cantik itu mengembangkan payungnya. Setelah benar-benar turun dari mobil, Anin memandang si pengemudi dengan senyuman lebar. Mencoba menguatkan hati pemuda yang sedang berdusta pada keadaan, pemuda yang berhasil menyadarkan Anin bahwa semesta ada bukan hanya untuk disalahkan.
Rambut hitam Anin terombang-ambing persis seperti perasaannya yang tidak tahu akan berlabuh di mana, payung yang melindungi Anin bergoyang dihempas angin kencang. Tangan Anin melambai, lalu berkata pada Dante yang sedang memperhatikan. Kelihatannya pemuda itu belum berniat untuk pergi sebelum Anin tiba di pintu depan.
"Makasih, Kak, selamat malam dan hati-hati di jalan. Terimakasih atas semua pelajaran kehidupan yang lo berikan untuk gue hari ini."
Seperti ingin berpisah saja, pikir Dante. Pemuda itu merasa kalau Anin akan memperlebar jarak dengannya, namun ia buru-buru menepis pemikiran itu, Dante paham kalau dirinya juga takut kehilangan. "Seharusnya lo berterimakasih sama Tuhan, karena udah menciptakan manusia tampan kayak gue," guraunya sambil terkekeh kecil. "Tapi, gue yang lebih berterimakasih, karena Tuhan mepersilahkan salah satu bidadari bumi untuk mengambil peran dalam kehidupan gue."
"Apa, sih, Kak. Sana pulang!"
"Lo masuk dulu, baru gue pulang. Selamat malam bidadari bumi, sana masuk!"
Tanpa ingin mendebat karena yang sedang berdebat tidak ingin mengalah, mau tidak mau Anin melangkah meninggalkan pijakan setelah dirinya membanting pintu mobil Dante dengan kesal. Rintik hujan masih setia jatuh ke bumi, seperti Anin yang masih menunggu kepastian Rega, walau ia harus tersungkur berkali-kali pada hati yang sama.
Sesampainya Anin di teras, matanya membelalak hebat melihat Rega tersandar lemah di kursi. Wajah datar itu memucat, rahang tegasnya tak lagi mengeras, rambut serta pakaiannya terlihat basah, tubuhnya terkulai lemah di sandaran, perasaan Anin langsung kacau melihatnya. Di depan rumah Anin, ternyata Dante masih belum beranjak dari posisinya, dirinya memperhatikan Anin dari dalam mobil.
"Astaga, Rega, lo kenapa?"
Tanpa berpikir panjang, Anin langsung menghampiri Rega, menjatuhkan kedua lututnya yang lemas di hadapan pemuda itu setelah payung di tangannya jatuh ke lantai. Kedua tangannya bergetar menyentuh pipi Rega yang panas. "Ga, lo sakit?" tanya Anin khawatir sambil memindahkan punggung tangannya dari dahi menuju pipi Rega.
Sentuhan dingin Anin yang mengalir di pipi Rega berhasil membangunkan lelaki itu, membawa Rega kembali pada dunia nyata. Perlahan tubuhnya tegak kembali, rasa sakit itu dipastikan menyeruak di tubuh Rega, bibir keringnya yang membiru karena dingin hanya menyebut lirih nama Anin, kemudian Rega langsung berhambur ke pelukan perinya.
Anin merasakan sensasi dingin begitu tubuhnya bersentuhan dengan tubuh Rega yang dibungkus oleh pakaian yang basah, bisa ditebak lelaki ini habis kehujanan. Bukannya pulang ke rumah, Rega malah menunggu Anin di depan rumahnya, Anin benar-benar tak tahu apa yang ada di pikiran sosok jangkung di hadapannya. "Rega, lo pasti demam habis kehujanan. Ayo, masuk dulu, ganti baju lo dan gue bikinin teh hangat buat lo."
Ketika Anin ingin melepas pelukan, berniat ingin mengobatinya, Rega malah buru-buru menahan pergerakan Anin dengan semakin mempererat dekapannya. Sepasang mata Rega terpejam, dagunya sengaja dijatuhkan di pundak Anin. "Kenapa rasanya menyakitkan, Nin. Lebih sakit ketika Tania benar-benar pergi dari bumi, ninggalin gue dalam penyesalan yang semakin membuat gue tertekan," ungkap Rega, mulai rewel dengan keadaan yang sudah tak sanggup ia lawan.
Semakin ingin Anin menahan tangis, semakin besar pula air itu menggenang di pelupuk matanya, hingga akhirnya merosot turun sewaktu Rega mengatakan bahwa ia merasa sangat sakit. "Sakitnya biarin melebur dulu dalam kenangan pahit yang melelahkan, setelah itu lupakan dan sambut kebahagiaan baru yang sejatinya sudah ada dalam genggaman. Sudah waktunya lo berbahagia sama kesempatan yang Tuhan berikan, jangan sia-siakan apa yang sudah menjadi ketetapan, apalagi sampai melawan apa yang sudah ditetapkan. Mulai sekarang, bahagialah sama keputusan lo sendiri," ujar Anin sambil mengelus lembut punggung Rega.
"Gue pikir gue akan kehilangan peri gue juga. Kepergiannya yang cuma sebentar membuat gue gila, sampai nggak memikirkan diri gue sendiri. Gue takut kehilangan, gue takut semua yang ada dalam pikiran gue menjadi kenyataan. Seharusnya peri gue itu sadar dengan apa yang dia lakukan, kalau sebenarnya dia membunuh gue secara perlahan."
"Kesalahan yang sama nggak akan terulang, Rega. Sekarang peri lo di sini, sudah kembali dan nggak akan pergi lagi. Keinginannya cuma satu, lo sembuh dan jangan menoleh lagi pada masa lalu, dia tau itu menyakitkan, peri lo ini juga bingung apa obat yang mujarab untuk menyembuhkan hati yang sudah lama ditinggalkan. Yang dia tau, semuanya masalah waktu, atau mungkin lo membutuhkan peri lo ini untuk terbebas dari rasa penyesalan."
Kelopak mata Rega yang terpejam perlahan terbuka, tatapannya yang sayu sudah menjelaskan keadannya saat ini. Meski begitu, bibirnya malah melengkung sangat dalam. Merasa sangat senang akan sebuah hal. "Hari ini adalah hari terberat dalam hidup gue. Sejarah paling mengagumkan, tentang perjuangan gue untuk mempertahankan lo agar tetap di samping gue. Meyakinkan hati lo yang mulai lelah bertahan dengan cara gue sendiri, gue mau menghalau kemungkinan buruk itu. Gue mau kita sama-sama berjuang mempertahankan perasaan masing-masing."
"Maksud lo?"
"Gue mau lo bantu gue untuk sembuh, Nin."
"Sembuh dari hal apa?"
Rega baru saja mengurai pelukannya, matanya berhasil menyoroti tatapan bingung gadis di depannya. "Sembuh dari rasa bersalah gue terhadap Tania. Sebelumnya lo berhasil menarik perhatian gue, berhasil membuat hati gue terikat sama lo, sekarang bantu gue untuk melupakan Tania," jawab Rega.
"Gue mau lo menunggu sampai saat itu tiba, sampai semesta memberikan jawaban atas semua perjuangan lo selama ini. Sekarang keadaan gue udah jauh lebih baik semenjak kehadiran lo, Nin. Lo berhasil mengobati hati gue yang sedang terluka, lo berhasil memulihkan keadaan yang paling buruk."
"Udah nggak usah ngomong lagi, gue nggak mau lo makin sakit. Mengenai perasaan lo, atau mengenai jawaban lo terhadap perjuangan gue selama ini, gue rela kalau misalkan lo lebih memilih Tania ketimbang gue. Rasa cinta, rasa suka atau sejenisnya, memang nggak bisa dipaksakan, sekarang gue mulai mencoba untuk merelakan jika memang lo nggak ditakdirkan untuk gue."
Tatapan Rega menajam, sorot matanya tak lagi meneduhkan. Ini akibatnya jika Anin berkata ingin merelakan, selalu saja Rega menentang. "Yang berjuang harus mendapatkan kemenangan. Yang bertahan di tengah jalan harus tetap di pijakan, menunggu seseorang menghampiri dan mengutarakan keseriusan. Gue mau hati lo untuk tetap sama gue, nggak ada penolakan."
"Ga, lo kenapa, sih?! Gue nggak suka lo jadi cowok posessive gini. Lo bukan Rega yang gue kenal, lo kenapa?"
"Gue sayang sama lo."
"Udah lah, masuk dulu. Gue nggak mau lo makin sakit mikirin hal ini."
Enggan menanggapi pernyataan Rega yang sebenarnya membuat harapan Anin menggantung lebih tinggi, Anin segera memapah tubuh Rega masuk ke rumah. Mengantarnya ke kamar Farel lalu meminta agar Rega segera mengganti pakaiannya yang basah, sementara Anin langsung berlari ke dapur untuk menyiapkan sesuatu.