Tet!!
Meggly memencet bel apartemen itu dengan tidak sabaran. Sambil menunggu, dia menoleh ke kiri dan ke kanan, memastikan keadaan aman. Dia kemudian mengusap lengan yang mulai terasa meremang. Di luar hujan dan dia rela menembus derasnya hujan demi ke apartemen Gisel.
“Loh, Meg. Kok lo ke sini nggak ngasih kabar dulu?”
Gisel kaget setelah membuka pintu dan melihat kehadiran Meggly. Perhatiannya kemudian tertuju ke rambut Meggly yang sedikit basah itu. Tatapan Gisel lalu teralih ke sebuah koper yang berada di samping pintu.
“Lo kok bawa koper?”
Refleks Meggly menunduk, menatap koper yang berisi pakaiannya. Dia lalu mengangkat wajah, menatap Gisel dengan pandangan memohon. “Gue boleh tinggal sini? Gue bakal bayar uang sewa kok,” pintanya.
Mendengar itu Gisel menggeleng tegas. “Ini apartemen gue. Lo nggak perlu bayar. Justru gue seneng akhirnya lo mau tinggal sama gue.”
Sejak mengenal Meggly, Gisel memang meminta agar tinggal bersama. Gisel tinggal di apartemen seorang diri dan dia sering merasa kesepian. Namun, Meggly menolak karena tak ingin merepotkan.
“Makasih, Gisel. Lo emang sahabat terbaik gue,” jawab Meggly senang.
“Sama-sama. Masuk, yuk!”
Meggly menarik kopernya dan berjalan mengekori Gisel. Saat mencapai dapur, Meggly kaget karena ada perempuan berkaus putih sedang duduk sambil menyesap kopi.
“Eh, maaf sepertinya ada tamu,” ucapnya tak enak.
Gisel menatap Meggly dan Zizi—tetangga barunya—bergantian. Gisel menarik tangan Meggly hingga mengikutinya mendekati meja makan.
“Kenalin ini Kak Zizi tetangga gue,” ucap Gisel mengenalkan Zizi ke Meggly.
Sudut bibir Meggly tertarik ke atas. Dia mengulurkan tangan sambil tersenyum ramah ke Zizi. “Meggly, Kak. Teman sekantornya, Gisel,” ucapnya memperkenalkan diri.
Zizi pun menjabat uluran tangan Meggly. “Zizi. Ah, gue seneng kalau si penakut ini ada temannya.”
“Apaan sih, Kak,” jawab Gisel tak terima.
Meggly dan Zizi terkikik. Mereka berdua tahu, Gisel memang penakut akut.
Melihat ada orang lain di apartemen Gisel, Zizi langsung beranjak. “Gue balik ke apartemen, ya. Kan, sekarang lo udah ada temennya,” pamitnya.
Gisel mengulas senyum. “Tapi sering-sering ke sini ya, Kak.”
“Siap! Tapi nonton film horor, ya! Haha.”
Tatapan Meggly mengikuti kepergian Zizi hingga menghilang dari apartemen. Selepas kepergian Zizi, Meggly menoleh ke Gisel. “Dia cantik, ya.”
Gisel mengangguk “Iya. Ah, tapi gue sedih, deh. Bentar lagi Kak Zizi ke Aussie, padahal baru dua bulan dia tinggal di apartemen samping. Keluarganya menetap di sana.”
“Yah, sedih banget jadinya.”
“Iya. Kak Zizi orangnya asyik .Gue jadi sedih kalau nggak ada dia,” jawab Gisel dengan raut sendu.
Tatapan Gisel lalu tertuju ke baju Meggly yang sedikit basah itu. Dia sontak berlari ke kamar. Meggly yang tak tahu niatan Gisel hanya menghela napas panjang sambil menunggu sahabatnya itu.
“Ini, keringin dulu pakai ini. Atau mau langsung mandi aja?” tawar Gisel sambil menyerahkan handuk ke Meggly.
Meggly menerima handuk berwarna putih itu dan mengusapnya ke rambut.
“Eh, gue jadi penasaran apa yang bikin lo tiba-tiba mau tinggal sama gue?” tanya Gisel tiba-tiba.
Tanpa diminta pikiran Meggly tertuju ke kejadian beberapa jam yang lalu. Dia bergidik dan menatap Gisel ketakutan. “Dia tadi datang lagi.”
“Dia siapa?” Gisel menarik satu alisnya ke atas.
“Andreas.”
“Andreas? Dia ke kosan lo lagi? Ngapain?”
Meggly mengangkat bahu, sama sekali tak mengerti maksud Andreas. Selain itu dia heran mengapa Andreas bisa masuk ke kamarnya. “Dia udah masuk kamar gue, Sel. Gue takut dia macem-macem.”
Bola mata Gisel membulat, tak menyangka Andreas bisa berbuat seperti itu. “Kosan lo nggak aman sekarang.”
“Iya. Makanya gue milih pergi,” jawab Meggly sambil mengusap wajah. “Gue takut sama dia. Maksudnya apa coba dia deketin gue?”
Gisel mengusap punggung Meggly menenangkan. “Lo aman kok di sini.”
Meggly juga berharap seperti itu. Dia tak tahu harus ke mana lagi kalau persembunyiannya diketahui Andreas.
***
Pukul sebelas malam Andreas baru sampai rumah. Setelah tadi dari indekos Meggly, lelaki itu pergi ke apartemen Jimi. Andreas menceritakan tindakannya yang masuk ke kamar Meggly tanpa izin lalu nongkrong sebentar.
Setelah puas bercerita, Andreas memutuskan pulang. Dia ingat besok pagi ada meeting dengan papanya. Dia harus berangkat cukup pagi, karena ingin mampir dulu ke tempat Meggly.
Sampai di dalam, keadaan rumah telah sepi lengkap dengan lampu-lampu telah padam. Papa dan mamanya sepertinya sudah terlelap di alam mimpi. Andreas naik ke lantai dua tanpa menimbulkan suara. Sampai di tempat tujuan, dia membuka kamar dan tersentak saat ada seseorang yang langsung memeluknya.
“Sialan!!”
Andreas mendorong seseorang yang memeluknya itu dan langsung menghidupkan lampu. Saat melihat siapa sang pelaku, Andreas seolah tak kaget. Zizi sering nekat masuk lewat jendela samping dan menyusup ke kamar Andreas.
“Lo ngapain sih, Zi?” tanya Andreas sebal.
Zizi berlalu dan tidur di ranjang Andreas. “Gue nggak ada temen. Jadi gue langsung ke sini.”
“Ngapain? Lo bisa ke kelab atau ke teman lo lainnya. Jangan ke sini!”
Sontak Zizi terduduk. “Emang kenapa? Gue pacar lo.”
“Mantan! Gue udah mutusin lo tiga hari yang lalu.”
Andreas mendekat, menarik Zizi hingga wanita itu bangkit dari ranjang. Tak puas sampai di situ, dia menyeret Zizi keluar dari kamar. “Sekarang lo pergi. Jangan ngerusuh di rumah gue!”
Zizi berontak. “Gue nggak terima lo putusin. Kita udah cocok, Andreas.”
“Cocok menurut lo. Menurut gue nggak cocok!” jawab Andreas. “Udah, ya. Gue mutusin lo baik-baik. Jadi mending lo juga menyingkir baik-baik.”
Jawaban itu membuat Zizi mengerjab. Haruskah dia seperti itu? “Lo mutusin gue karena gue mau balik ke Aussie? Gue bisa kok tetep stay di sini demi lo.”
Andreas menggeleng pelan, bahkan dia lupa dengan kenyataan itu. “Udahlah, dari awal kita juga tahu kalau ini bakal terjadi. Kita terlalu cocok, jadi nggak saling melengkapi,” ucapnya.
Kedua tangan Zizi terkepal. Sungguh dia marah karena ditolak Andreas. Zizi lalu mengangkat dagu. Baiklah kalau seperti itu, dia yakin bisa mendapatkan lelaki yang lebih tampan dan segalanya dari Andreas.
“Oke gue pergi! Jangan sampai lo nyesel!” kata Zizi sambil menunjuk lelaki di depannya itu.
“Sekarang lo keluar!”
Zizi menghentakkan kaki dan berjalan keluar dari rumah Andreas. Percuma dia tadi menyusup masuk ke rumah Andreas kalau ujungnya diusir.
“Siapa, Bang?”
Andreas tersentak lalu menoleh dan mendapati adiknya itu berdiri dengan wajah mengantuk. “Bukan siapa-siapa,” jawabnya tenang. Dalam hati dia khawatir adiknya itu mendengar percakapannya dengan Zizi.
“Jangan bawa cewek ke kamar, Bang. Gue bilangin mama lo,” ingat Auryn lalu menutup pintu.
“Untung nggak ketahuan,” Andreas mengusap d**a lega.
***
Tok. Tok. Tok.
“Meggly!!”
Andreas mengetuk pintu kamar Meggly pelan. Dia berharap Meggly menyambutnya dengan seulas senyum. Tak seperti tadi pagi, saat Andreas mendapati kamar Meggly telah kosong. Malam ini Andreas kembali ke indekos Meggly berharap gadis itu mau diajak jalan.
“Meggly!!” teriaknya kala pintu di depannya itu tak kunjung terbuka.
“Meggly belum pulang.”
Jawaban itu membuat Andreas menoleh. Dia melihat wanita mengenakan tank top dan celana super pendek berdiri di depan pintu samping kamar Meggly. Andreas mendekat dan berdiri di hadapan wanita itu.
“Ke mana?”
Wanita itu menggeleng. “Pergi dari semalam. Mungkin keluar kota ada kerjaan.”
Setelah mendengar jawaban itu Andreas berbalik tanpa mengucapkan terima kasih. Dia merasa Meggly menghindarinya, pasti itu. Meggly yang polos dengan mudah ditebak oleh Andreas.
Sampai di mobil, Andreas berdiri di samping pintu kemudi. Dia mengeluarkan ponsel, mencari kontak Meggly dan melakukan sambungan.
“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.”
“Sial!!”
Andreas menendang kerikil di bawah sepatu mahalnya. Dia semakin yakin Meggly menghindarinya. Andreas lalu masuk ke mobil, hari ini gagal total.
“Jangan harap lo bisa lari dari gue Meggly,” gumam Andreas dengan senyum miring.
Lelaki itu tahu di mana Meggly bekerja beserta jabatannya. Andreas juga tahu sahabat Meggly siapa saja. Bukan, Andreas bukan membuntuti Meggly ke manapun gadis itu pergi seperti yang dia katakan. Andreas sedikit memanfaatkan pesonanya dengan mencari informasi ke Sofia dan Heida, sepupu Jimi. Dua teman sekantor Meggly yang selalu mengencani lelaki berduit.
“Tunggu gue, Baby Gly.”
***
Pukul tujuh pagi Meggly telah siap dengan setelan kantornya. Rok span di bawah lutut berwarna hitam dengan kemeja putih polos. Sangat khas dengan Meggly, penampilan yang kaku bahkan terkesan monoton.
“Sudah siap?” tanya Meggly setelah melihat Gisel keluar dari kamar.
Gisel merapikan rok sepahanya lalu mengangkat wajah. Pandangannya meneliti setelan kantor yang dikenakan Meggly. “Gue ingetin, sytle lo harus ganti.”
Mendengar kalimat itu Meggly memutar bola matanya malas. “Lo udah bilang berapa kali? Jawaban gue tetep sama, gue suka kayak gini. Lebih aman.”
“Iya, deh, iya. Yuk, berangkat!” ajak Gisel tak ingin berdebat.
Meggly membuka daun pintu dan keluar lebih dulu. Saat mengangkat wajah dia tersentak melihat lelaki berjas hitam berdiri bersandar di tembok.
“Halo, Cantik.”
Meggly sontak menghindar, tapi aksesnya terhalang oleh Gisel yang baru keluar itu. Gisel yang tak tahu siapa pemilik suara akhirnya menoleh, hingga tatapannya tertuju ke wajah tampan Andreas.
“Lo ngapain ke sini?” tanyanya.
Tubuh Meggly seketika keringat dingin. Dia menatap Andreas dengan wajah pucatnya. Meggly tak tahu dirinya sedang berhadapan dengan siapa. Mungkinkah hantu tampan? Karena lelaki itu selalu menemukannya. Baru semalam dia merasa tenang, tapi paginya lelaki itu muncul di depannya.
“Ketemu Meggly,” jawab Andreas.
Andreas menegakkan tubuh lalu maju selangkah. Kedua matanya meneliti penampilan Meggly. Penampilan yang menurut Andreas sangat kaku.
“Lo bisa pergi dulu ke kantor. Biar Meggly sama gue,” ucap Andreas ke Gisel.
Dua wanita itu menatap Andreas tak suka. Meggly lantas mengeluarkan protesnya. “Gue berangkat sama Gisel. Bukan sama lo!”
“Ya udah kalau gitu kalian nggak akan berangkat.”
“Apaan, sih, lo? Dateng-dateng ganggu!” ucap Gisel tak suka.
Satu tangan Gisel mencekal tangan Meggly, menarik sahabatnya pergi daripada meladeni player di depannya itu. Meggly tentu menurut, dia bergerak ke samping hendak melewati Andreas. Namun, Andreas tentu tak mudah melepas targetnya begitu saja.
“Bareng sama gue. Atau kalian nggak bakal berangkat ke kantor dan kena marah bos kalian yang kejam itu!” bujuk Andreas dengan seringainya.
Andreas memang tak main-main dalam hal apapun. Saat dia bertekad mendekati Meggly, dia sudah mencari tahu kehidupan gadis itu. Mulai dari di lingkungan kerja hingga lingkungan di indekos Meggly.
“Udahlah lo buang-buang waktu!” Gisel mendorong d**a Andreas dengan penuh kekuatan.
Dua wanita itu lalu berjalan cepat menunju lift. Andreas yang melihat itu segera berlalu dan berdiri menghalangi pintu. “Nggak bisa pergi gitu aja,” jawabnya sambil menggeleng tegas.
Meggly menarik napas panjang. Bingung dengan lelaki pemaksa di depannya itu. Diam-diam Meggly melirik Gisel yang mulai terlihat kesal. Meggly lalu mengedarkan pandang, melihat arah panah tangga darurat. Gadis berkemeja putih itu menarik Gisel menuju ke arah panah itu dengan cepat.
“Pilih pakai tangga? Gue jamin kaki kalian pegal setelah turun tangga dari lantai sepuluh ke lantai satu,” ucap Andreas setelah itu terkekeh geli.
Andreas menyusul dua orang itu dengan langah lebar. Dia lalu berdiri menghalangi di dekat tangga, membuat dua gadis itu menghela napas panjang. Di benak Meggly dan Gisel, ingin mendorong lelaki di depannya itu biar jatuh dari tangga sekalian.
“Gue salah apa sama lo?” tanya Meggly lelah.
Sudut bibir Andreas tertarik ke atas. Satu tangannya terulur menyentuh pipi Meggly, yang langsung ditepis oleh gadis itu. “Lo nggak ada salah, Cantik. Gue cuma mau lo berangkat sama gue.”
Gisel berdecak, kesal dengan lelaki pemaksa di depannya itu. Dia lalu berbisik ke Meggly, tak mungkin dia meladeni Andreas sedangkan waktu terus berjalan cepat. “Kita harus gimana? Balik badan ke lift, yuk!”
Meggly mengangguk. Dia melirik Gisel, lalu balik badan sambil berlari menuju lift. Melihat itu Andreas buru-buru mengejar. Dia menarik tangan Meggly hingga gadis itu berbalik dan menubruk dadanya.
“Aw!!” Meggly menggerutu karena keningnya menabrak d**a keras Andreas.
“Rupanya lo mau main-main dulu, ya?” bisik Andreas.
Tubuh Meggly menegang. Dia menghirup aroma citrus yang menguar itu. Namun, bukannya terbuai, justru dia semakin ketakutan. Dia lalu mundur, meski tangannya masih dicekal erat oleh Andreas.
“Oke gue biarin kalian pergi,” ucap Andreas membuat Meggly dan Gisel menatap heran.
“Tapi nanti malam lo harus kencan sama gue,” lanjut Andreas sambil menatap Meggly intens.
Meggly sontak membuang muka. Dia dihadapkan dengan pilihan tak masuk akal. Mana ada ancaman seperti itu? Sama sekali tak berbobot. Meggly menarik tangannya dan Andreas langsung melepas genggaman itu.
Refleks, Meggly mundur dua langkah lantas menjawab. “Oke.”
Gisel hendak protes, tapi tarikan Meggly mengurungkan niatnya. Meggly mengedipkan mata, seolah memberi kode. Perlahan Gisel mulai paham, kalau itu hanya trik saja. Mereka buru-buru menuju lift dan segera pergi dari hadapan Andreas.
Sedangkan Andreas masih berdiri di posisinya, menatap dua orang yang telah menghilang itu. Dia tersenyum, tentu dia akan menagih janji Meggly, bagaimanapun caranya. Lelaki itu kemudian mengeluarkan ponsel, mengirimkan pesan ke Jimi.
Andreas: Siap-siap lo kalah!