4-Orang Baru

2020 Words
Sesuai rencana, Andreas berhasil membawa Meggly berkencan dengannya. Tadinya, tentu Meggly menghindar dengan cara mengenakan kain untuk menutupi sebagian wajahnya. Namun, Andreas dengan mudah menemukan. Tak sulit mencari Meggly di kantor bonafit, cukup lihat pakaiannya yang cenderung kaku. “Mau pesan apa? Tentu lelah setelah mikirin kabur,” kata Andreas membuka percakapan. Meggly hanya melirik sekilas. Sejak tadi dia enggan menatap Andreas. Dia marah sekaligus takut dengan lelaki di depannya itu. Dia berusaha menghindar tapi Andreas seperti punya ribuan mata-mata hingga akhirnya dia terperangkap. Memikirkan itu membuat Meggly seketika waspada. Dia menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari sosok pria berbadan besar yang siapa tahu dikerahkan Andreas jika dia memberontak. Namun, sejauh mata memandang, dia hanya menemukan wanita dengan gaun indah dan pria berjas rapi. “Nyari siapa, Sayang?” Pertanyaan itu membuat Meggly menghentikan kegiatannya. Dia menatap Andreas dan tersentak melihat lelaki itu menatapnya dengan sorot mata tajam. Meggly buru-buru membuang muka, jengah karena ditatap begitu intens oleh Andreas. “Mau disuapi?” tanya Andreas setelah pesanannya sampai. Tanpa Andreas bertanya, dia tahu gadis di depannya itu sedang marah. Kadal kok dikadalin, batinnya dengan senyum puas. “Oke kalau nggak mau disuapi. Gimana kalau kita ciuman aja?” Sontak Meggly menoleh. Wajahnya memerah mendengar ucapan tak sopan Andreas. Bagaimana bisa dia berkata seperti itu? Oh tentu bisa, mungkin udah jadi kebiasaannya, batin Meggly.  “Lelaki sepertimu hanya ciuman yang dipikirkan.” “Kenapa? Itu kebutuhan biologis.” Meggly melihat senyum miring Andreas. “Gue pulang!” Akhirnya Meggly memilih beranjak. Beberapa menit mengobrol saja lelaki itu sudah mengajak ciuman. Bagaimana kalau tiga puluh menit ke depan? Satu jam ke depan? Meggly tak bisa membayangkan dirinya akan jadi apa. Melihat Meggly berdiri, Andreas ikut berdiri. Dia langsung menyentuh pundak Meggly bermaksud menghalangi. “Oke maaf kalau omongan gue bikin lo marah.” Nggak cuma omongan lo, tapi semua tentang lo bikin gue marah, Meggly menjawab dalam hati. Meggly tak serta merta percaya. Seorang player pasti bermulut manis, tapi dusta semua. Dia lalu menjauhkan tangan Andreas dari pundaknya. “Sebenarnya kenapa lo ngajak gue pergi?” tanyanya ingin tahu. Andreas membimbing Meggly agar kembali duduk. Bodohnya, Meggly menurut. Gadis itu merutuki kedua kakinya yang berkhianat. Atau Andreas yang memiliki pesona begitu kuat? Entah. “Emang kenapa kalau gue ngajak lo pergi? Ada seseorang yang mungkin cemburu kalau gue pergi sama lo?” tanya Andreas basa-basi, padahal dia tahu Meggly tak memiliki pacar. “Apa harus pergi? Gue nggak suka cara kayak gini.” “Tapi gue suka, dan gue mau ngenalin hidup gue ke lo.” Ngenalin? Ucapan Andreas membuat Meggly bergidik. Ngenalin hidup? batin Meggly sekali lagi. Dia tak mau tahu kehidupan Andreas yang bebas dan tak jauh-jauh dari kelab. Dia tak mau tahu setiap pagi dan malamnya Andreas berbuat apa. Dia tak mau tahu semua hal tentang lelaki tampan itu. Memikirkan itu membuat wajah Meggly memucat. Melihat Meggly yang ketakutan, Andreas sadar terlalu agresif. Ini tidak baik untuknya. Meggly adalah satu-satunya cara agar Andreas memiliki kelab di Bali. Buru-buru Andreas mengubah wajahnya menjadi lembut, tak ada sorot mata tajam seperti beberapa menit yang lalu. “Hei. Mikirin apa?” tanyanya saat Meggly masih saja terdiam dengan wajah memucat. Tak ada respons apapun. Seketika Andreas beranjak dan bersimpuh di samping kursi yang di duduki Meggly. Satu tangannya menggengam tangan yang terasa begitu dingin itu. Sedangkan satu tangannya menyentuh pipi Meggly. “Jangan pernah sekalipun ngajak gue ke kehidupan lo!” tekad Meggly dengan tubuh bergetar. Satu alis Andreas terangkat. Selama ini Meggly selalu ketakutan, tapi barusan gadis itu tampak menyeramkan. Ternyata gadis sepolos Meggly bisa juga mengintimidasi. Kenyataan itu membuat Andreas tersenyum, sepertinya Meggly gadis yang asyik. Banyak teka-teki yang disimpan. “Tenang aja, pasti gue jagain lo,” jawab Andreas dengan seulas senyum. Dalam hati dia memaki dirinya sendiri. Menjaga? Bahkan lelaki itu hanya menjadikan Meggly taruhan. “Apa kita hanya terus seperti ini? Nggak makan?” tanya Meggly kala merasakan perutnya keroncongan. Tak seperti itu juga, sebenarnya dia risih Andreas terlampau dekat dengannya. Aroma parfum lelaki itu, membuat Meggly rasanya ingin memeluk dengan erat sekaligus menendang jauh-jauh. “Haha, ah, ya kita belum makan.” Andreas terkekeh. Dia berdiri dan mencium puncak kepala Meggly gemas. “Jadi udah terima keadaan?” tanyanya setelah kembali ke kursinya. Meggly memilih diam, mulai memotong steak di depannya dan mulai makan. Tadi siang dia hanya makan sedikit karena dikejar deadline. Jadi, sekarang Meggly makan dengan lahap. Apalagi dia diajak ke restoran berbintang, membuat sisi dirinya yang suka makan muncul. Berbeda dengan Andreas, lelaki itu sibuk menatap Meggly dengan intens. Di pikirannya sibuk membayangkan saat nanti menang taruhan. Mungkin dia akan membuat party, atau memberi diskon ke setiap pengunjung yang datang. Diam-diam Andreas senyum tipis. Dia tak sabar menjadikan Meggly miliknya, setelah itu kelab milik Jimi akan menjadi miliknya juga. “Besok pagi gue anter ke kantor, ya.” Kalimat itu membuat gerakan tangan Meggly terhenti. Gadis beralis rapi itu menatap Andreas tak suka. “Lo bukan sopir gue yang harus nganterin gue ke kantor.” “Jadi sopir lo pun gue terima,” jawab Andreas sambil mengerling. “So, besok gue anter. Jangan menghindar kayak tadi.” “Kenapa lo ngelarang gue?” “Karena sekarang kita teman kencan. Sebagai teman kencan mengantar jemput, bertukar komunikasi, dan makan bareng itu hal wajib,” jawab Andreas beralasan. Meggly mengangkat bahu tak acuh. Dia tak tahu sebagai teman kencan harus seperti itu. Dia sendiri juga tak menganggap Andreas teman kencannya. Dia hanya menganggap Andreas lelaki menyeramkan yang tiba-tiba mendekatinya. “Lo cantik, Gly,” kata Andreas saat tak ada yang membuka percakapan. Bukannya tersenyum, Meggly justru memutar bola matanya. Dia memilih melanjutkan makan steak daripada menanggapi rayuan gombal Andreas. “Coba kalau lo pakai make up pasti lebih cantik,” lanjutnya. Menurut Andreas, Meggly memiliki kecantikan yang cukup. Hidung gadis itu kecil dan mancung, alis yang lebat dan melengkung, selain itu Meggly memiliki bibir bulat penuh. Andreas merasa jika bibir Meggly akan terlihat sensual jika memakai lipstick menyala. Sayang saja kalau paras Meggly yang sempurna itu harus tertutup oleh penampilan kaku. Terlebih gadis itu kurus dan berkulit pucat, seperti orang sakit. “Percaya, deh, sama gue, lo pasti makin cantik.” Meggly sontak meletakkan pisau dan garpu ke atas piring. Dia menatap Andreas jengah. Awal pembicaraan lelaki itu begitu frontal, sekarang mulai menilai penampilannya. Memang ada yang salah kalau dia tak memakai make up? Jalanan yang macet dan membutuhkan waktu yang lama untuk sampai ke kantor cukup menyita waktu istirahat Meggly. Dia tak ingin semakin mengurangi jam tidurnya, karena harus bangun pagi demi memakai make up. Tidak. Dia lebih baik tampil apa adanya tapi kondisi fisiknya sehat dan cukup tidur. “Sejak kapan player beralih profesi jadi pengamat fashion?” Andreas mengulas senyum. Dia memajukan tubuh dan menjawil dagu Meggly gemas. “Kok tahu banget gue player? Merhatiin, ya?” Bola mata Meggly memutar, Andreas sepertinya pintar memutar keadaan. “Gak! Cuma denger dari anak-anak aja.” “Bilang aja merhatiin,” goda Andreas lalu mengedip genit. Sebenarnya dia tahu kalau orang di luar sana mengenal dirinya sebagai player. Hanya saja dia ingin mengerjai Meggly. Rasanya Andreas tak pernah melihat gadis itu tersenyum, selalu menampilkan wajah serius seperti ibu-ibu kos menghadapi mahasiswa yang telat bayar. Beberapa menit kemudian, Meggly menyelesaikan makan malamnya dan segera berdiri. “Udah selesai, kan, ngajak gue pergi? Gue mau pulang!” Andreas melirik piring Meggly yang telah kosong itu. Dia lalu melirik ke piringnya sendiri yang masih penuh. Andreas tak sempat makan karena terlalu sibuk mengamati Meggly. Diam-diam dia tersenyum, mempertimbangkan akan mengulur waktu atau menuruti kemauan gadis itu. Walau enggan, Andreas akhirnya memilih berdiri. Dia menarik tangan mungil Meggly untuk digenggam. “Meski sebenarnya gue pengen habisin malam sama lo, tapi nggak apa-apa. Gue hargain keputusan lo,” ucap Andreas. Biasanya saat berkencan, dia akan lanjut ke kelab, hingga pulang menjelang pagi. Namun, sepertinya malam ini pengecualian daripada Meggly makin lari terbirit-b***t dan membuatnya kalah taruhan. Andreas emang perayu ulung, batin Meggly. Gadis itu memilih diam, daripada meladeni Andreas yang membuatnya naik darah. Dalam hati Meggly bersyukur bisa melewati cobaan ini. Sungguh dia ingin segera sampai apartemen Gisel dan menutup hari ini dengan tidur. Ah ya, sekaligus ngelupain makan malam ini.   ***   Lelaki berambut pirang dengan dua kancing kemeja yang tak dikancing itu berjalan masuk ke sebuah ruangan. Dia geleng-geleng melihat si pemilik ruangan yang duduk di balik meja dan terlihat sibuk itu. Sangat kontras saat malam hari yang selalu bersenang-senang seolah tak memiliki masalah sama sekali. “Ehm!” Dehamannya membuat temannya itu mengangkat wajah. Jimi duduk di depan Andreas dan tatapannya menjelajah ke meja kerja yang penuh dengan kertas-kertas itu. “Ngerjain apa lo?” tanyanya penasaran. Andreas merapikan kertas-kertas yang berserakan di meja lantas bersandar sambil menatap Jimi. “Lagi evaluasi, nih.” “Pendapatan naik?” “Tentu dong. Andreas!” Mereka terkekeh pelan. Saling menyombongkan diri seolah hal biasa bagi mereka. Andreas kemudian menatap Jimi yang mengenakan pakaian rapi itu. “Kok tumben lo pakai kemeja? Habis meeting?” Jimi merapikan kemeja hitamnya, meski dia gerah dengan pakaian seperti itu. “Gue mau buka cabang kelab. Barusan meeting buat fix tempat.” Mendengar jawaban itu Andreas geleng-geleng. Dia memajukan tubuh, menggapai pundak Jimi dan memukulnya pelan. “Buka cabang terus. Gue aja belum punya.” “Ya udah, sih, tinggal buat. Duit ada, kan?” Jimi mengejek padahal dia tahu Andreas tidak diizinkan memiliki kelab. “Ngapain buat? Bentar lagi kelab lo juga punya gue,” jawab Andreas dengan seulas senyum. Jimi sontak menegakkan tubuh. Dia mulai penasaran tentang perkembangan Andreas mendekati gadis bernama Meggly itu. “Emang lo udah jadian sama dia?” Andres menyatukan kedua tangannya di atas meja. Bibirnya lalu tertarik ke atas. “Bentar lagi.” “Bentar lagi itu kapan? Inget tinggal tiga minggu lagi.” “Lo tenang aja. Gue semalem udah ngajak dia dinner. Bentar lagi dia juga jadi pacar gue.” Jimi manggut-manggut. Percaya saja dengan apa yang diucapkan sahabatnya itu. “Tapi kalau nggak berhasil, lo tahu, kan, apa balasan buat gue?” “Lo tenang aja. Andreas nggak mungkin ingkar janji.” Setelah mendengar jawaban seperti itu Jimi berdiri dan mengulurkan tangan ke Andreas. “Gue balik dulu. Selamat berjuang, Bro.” Andreas hanya menepuk tangan Jimi dan menatap sahabatnya itu dengan senyum meremehkan. “Siap-siap kehilangan kelab lo, ya!” “Sialan!” jawab Jimi sambil melangkah keluar dari ruangan. Setelah kepergian Jimi, Andreas terdiam. Lelaki itu mendongak menatap langit-langit ruangan. Dia ingat kejadian semalam saat mengantar Meggly pulang. Gadis itu lebih banyak diam, dan cenderung menjauhi sentuhannya. Hal yang baru Andreas rasakan, padahal gadis lain berebut untuk bersentuhan dengannya. Andreas lalu menghela napas. Dia mengangkat tangan kiri melihat jam tangan hitam yang melingkar. Sadar jika waktu telah menunjukkan pukul dua belas, dia segera merogoh ponsel dari saku jas. Dia mencari kontak Meggly dan mulai melakukan sambungan. Tut. Deringan pertama mulai terdengar. Andreas memutar kursi menghadap ke jendela, menatap langit Jakarta yang begitu terang itu. Tut. “Halo.” Senyum Andreas terbit. Dia mendengar suara bisik-bisik, sepertinya teman Meggly penasaran. “Halo, Sayang. Udah makan siang?” tanya Andreas perhatian. Andreas menjauhkan ponsel. Dia hanya mendengar suara grusak-grusuk. Lalu kembali mendekatkan ponsel ke telinga, berharap mendengar suara Meggly. “Ini gue lagi di jalan mau cari makan.” Mendengar suara lembut itu, Andreas mendesah lega. Dia beranjak, berdiri di depan jendela menatap jalan raya di bawah yang padat merayap. “Gue sebenernya pengen ngajak lo makan siang bareng. Tapi kerjaan gue masih banyak,” ucapnya. “Nggak perlu repot-repot. Gue makan sama yang lain.” Suara Meggly terdengar panik. Tentu Andreas tahu gadis itu tak mau makan siang dengannya. “Nanti sore gue jemput ya,” ucapnya kemudian. “Jangan!!” Andreas terkekeh pelan, gadis itu sangat antipati dengannya. Lama-lama dia jadi penasaran apa Meggly juga antipati kepada lelaki lain? “Pokok nanti sore gue jemput. Gue ajak ke tempat baru.” Tut. Tut. Tut. Sambungan diputus sepihak oleh Meggly. Andreas menggeleng pelan. Hanya Meggly yang berusaha menghentikan percakapan dengan lelaki setampan Andreas. Tindakan itu justru membuat Andreas kian penasaran. Jangan buat seorang lelaki penasaran. Itu nggak baik buat dirimu sendiri, Meggly.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD