5-Kucing-Kucingan

1954 Words
Gadis berkucir kuda dengan setelan kantor serba krem itu keluar dari lift. Dia berlari cepat menuju pintu apartemen paling tengah. Dia buru-buru memencet nomor pin, sebelum ketahuan. Setelah masuk, dia menyandarkan tubuh di balik pintu. “Huh!” Meggly mengusap dadanya yang naik turun. Dia lalu berjalan pelan ke sofa dan menghempaskan tubuh di sana. Kakinya terasa pegal karena harus berlari dari trotoar sampai depan lift. Dia tak mungkin seperti ini kalau lelaki bernama Andreas itu tak mengejarnya. Tet! Bel apartemen berbunyi, membuat tubuh Meggly seketika menegang. Dia sontak terduduk dan menyatukan kedua tangan. Dia yakin jika itu Andreas, membuatnya semakin ketakutan. Apalagi dia di apartemen seorang diri, sedangkan Gisel harus pulang ke rumah karena ada acara keluarga. Drtt!! Ponsel di saku celana Meggly mulai bergetar, membuatnya berjingkat kaget. Dia merogoh benda itu dan berharap bukan Andreas yang menghubunginya. Namun, saat melihat caller id, tubuh Meggly menegang melihat nomor baru yang akhir-akhir ini menghubunginya itu. “Hish!!” Buru-buru Meggly mematikan sambungan dan tak lupa menonaktifkan ponselnya. Gadis itu kemudian mendekati pintu, menintip dari lubang kecil untuk memastikan keadaan di luar. Saat baru mengintip dia dikejutkan dengan Andreas yang berdiri tepat di lubang itu. “Huh!!” Refleks Meggly berjalan mundur, lalu segera masuk ke kamar. Dia berjalan mondar-mandir di ruangan itu, sambil memikirkan cara mengusir Andreas. “Meggly!!!” Teriakan Andreas terdengar, membuat tubuh Meggly semakin menegang. Dia bergegas duduk di ranjang sambil menutup telinga. Berharap jika panggilan dari Andreas tak pernah dia dengar. Sedangkan di luar, Andreas berdecak. Dia tahu Meggly ada di dalam dan tentunya bersembunyi. Sejak dari kantor, Andreas memang membuntuti. Sebenarnya tak perlu seperti ini, Meggly hanya cukup menerima ajakan Andreas. Namun, sepertinya Baby Gly itu perlu main-main dulu. Andreas tersenyum miring lalu berdiri menjauh. Dia mengetikkan sebuah pesan setelah itu dia menatap pintu di depannya dengan senyum meremehkan. Drtt!! Tak lama, ponsel Andreas bergetar. Dia segera membuka pesan masuk itu. Sudut bibirnya tertarik ke atas membaca deretan angka yang tertera. Andreas kembali mendekati pintu dan memencet nomor sesuai dengan pesan yang masuk itu. Klik! Pin itu benar, buktinya pintu langsung terbuka. Andreas mendorong pintu itu sambil memasukkan ponsel ke dalam saku. “Andreas dilawan,” gumamnya penuh kesombongan. Sampai di dalam, suasana begitu senyap bahkan lampu pun belum ada yang menyala. Andreas melangkah masuk dan mendapati ruang tengah kosong. Lelaki itu lantas memilih duduk di sofa. Satu kakinya terangkat dan senyumnya tak pernah pudar dari bibirnya. “Meggly!” panggilnya dengan suara menggoda. Dalam kamar, Meggly tersentak. Dia merasa suara Andreas cukup dekat. Meggly menggeleng tegas, merasa jika itu hanya halusinasi. “Nggak mungkin dia bisa masuk.” “Meggly, Sayang!!” Panggilan Andreas kembali terdengar dan kali ini semakin kencang. Sontak Meggly berdiri, kekhawatirannya semakin bertambah. Dia merasa Andreas berada di balik pintu, tapi di sisi lain dia tak ingin mempercayai itu. “Nggak mau temuin gue, Sayang? Nggak kangen?” Andreas kembali bersuara. Dia berusaha menahan tawa karena menjaili gadis itu. Andreas menatap pintu kamar yang masih tertutup, yakin Meggly ada di dalam sana dan pasti gadis itu ketakutan. “Meggly,” panggil Andreas sekali lagi. Rasanya Meggly ingin menghilang. Dia berjalan mondar-mandir mencari cara untuk kabur. Namun, tak ada cara lain hanya bertahan atau memaksa keluar. Semuanya sama-sama berisiko dan membuat Meggly ketakutan. “Tenang. Semua nggak bakal terjadi,” ucapnya mengsugesti diri sendiri. Perlahan dia mendekat ke pintu, membukanya pelan lalu mengintip ke arah ruang tengah. Bibirnya terbuka saat melihat Andreas duduk santai di sofa panjang. Meggly lalu menutup pintu, syok dengan kehadiran lelaki itu. “Kok masuk lagi sih, Sayang? Sini dong. Nggak mau nemenin gue?” tanya Andreas. Lelaki itu sempat melihat raut Meggly yang pucat. Andreas terkekeh geli, lelaki setampan dirinya bisa membuat seorang perempuan langsung pucat? Padahal dia tidak menyeramkan sama sekali. “Kalau nggak mau keluar, gue yang masuk, nih!” godanya. Kalimat itu membuat Meggly semakin panik. Jika, seperti ini dia lebih baik keluar daripada membiarkan Andreas masuk kamar. Penuh tekad, Meggly membuka pintu lalu bertolak pinggang. “Pergi!! Lo ngapain sih di sini?” Andreas geleng-geleng, terkejut dengan keberanian Meggly. “Kan gue udah bilang, mau ngajak lo jalan.” “Gue nggak mau!” “Oke, kalau gitu gue temani di sini.” Jawaban itu membuat Meggly menghentakkan kaki. Dia lalu mendekat dan berdiri di depan Andreas. Tanggapan Andreas hanyalah tersenyum menggoda. Tak ingin melihat playboy tengik itu di depannya, Meggly lantas menarik lengan Andreas. Tentu Andreas mempertahankan posisinya. Dia tetap duduk dan tak bergerak sama sekali meski Meggly berusaha menariknya. “Nggak capek kucing-kucingan terus?” tanya Andreas dengan santai. Meggly menarik Andreas tapi tetap tak membuahkan hasil. Kini dia kehabisan tenaga dan napasnya mulai memburu. “Keluar!!” Andreas menyentuh tangan Meggly di lengannya, dan menarik gadis itu. Hingga Meggly duduk di pangkuannya. Kedua tangan Andreas dengan sigap melingkar ke tubuh mungil itu. “Stt.. Nggak capek menghindar, hmm? Mending kayak gini,” bisik Andreas. Tubuh Meggly menegang mendengar bisikan dan embusan napas itu. Dia takut sekaligus kaget karena Andreas tiba-tiba menariknya. Gue nggak boleh takut, batinnya. Meggly lantas menoleh, menatap wajah putih Andreas. “Gue nggak mau deket-deket sama lo!” “Tapi gue mau. Gimana dong?” tanya Andreas geli. “Udahlah jalanin aja. Sekeras lo menghindar, sekeras itu juga gue narik lo mendekat.” Meggly mengalihkan pandang. Jika seperti ini, dia pasrah saja, sudah berusaha menjauh tapi tak ada hasil. Selain itu dia lelah sendiri menghindar dari Andreas sedangkan lelaki itu memiliki seribu cara untuk mendekatinya. Melihat Meggly yang terdiam, Andreas mengalihkan pandang. Apartemen Gisel tampak sepi. “Lo di apartemen sendiri?” tebaknya. Meggly seketika waspada. Dia tak pernah hanya berduaan dengan lelaki di dalam rumah, kecuali hari ini. “Jangan macem-macem, ya!” katanya penuh ancaman. Andreas menghentikan kegiatan mengobservasi apartemen Gisel yang girly itu. Berganti menatap Meggly dengan seulas senyum. “Kalau lo mau gue macem-macem sih, gue ayo aja!” “Nggak usah ngomong aneh-aneh!” “Oke-oke,” ucap Andreas menyerah. Lelaki itu mengeratkan pelukannya, membuat Meggly dapat mencium parfum Andreas yang menguar. Refleks matanya terpejam. Dia tak pernah dekat dengan lelaki sampai sedekat ini. Bersentuhan saja hanya sebatas berjabat tangan, selebihnya tak pernah. Sedangkan sekarang? Refleks Meggly menunduk melihat dirinya duduk di pangkuan Andreas. Seketika Meggly berdiri, tapi belum sampai berdiri sepenuhnya Andreas kembali menariknya. Hingga Meggly kembali duduk di pangkuan Andreas lagi. “Diem bentar dong, Sayang. Capek hadepin lo yang kucing-kucingan,” pinta Andreas. Meggly memperhatikan wajah lelaki di depannya itu. Beberapa bintik keringat menghiasi wajah Andreas. Namun, Meggly sama sekali tak kasihan justru dia senang telah membuat Andreas lelah, syukur-syukur lelaki itu menyerah. “Main, yuk!” bisik Andreas. Sontak Meggly mengalihkan pandang, sadar terlalu lama menatap lelaki itu. Dia kemudian menggeleng tegas. “Gue nggak mau, Andreas!!!” Andreas tersenyum, geli sendiri melihat wajah ketakutan di depannya itu. Sepertinya Meggly sudah berpikiran yang tidak-tidak. Gadis itu terlihat sangat polos, membuat Andreas langsung mencubit pipi Meggly dengan gemas. “Nggak usah takut. Gue nggak bakal ngapa-ngapain lo kok.” Meggly menatap Andreas yang kali ini terlihat meyakinkan itu. Tak ada raut menggoda atau tatapan intens yang diperlihatkan Andreas seperti semalam. Namun, dia tetap saja parno. Bagaimanapun dia tidak boleh percaya begitu saja ke Andreas. Gue harus selalu waspada!   ***   “Aaa!!!” Suara isakan disusul sosok hantu wanita menyeramkan itu muncul. Membuat gadis yang duduk di sofa itu beringsut mendekat ke lelaki di sampingnya. Kedua tangan kurusnya melingkar ke lelaki berkemeja putih itu. Tak lupa, wajahnya bersembunyi ke d**a tegap nan hangat itu. “Nggak usah takut. Itu cuma film,” bisik Andreas sambil melirik ke televisi yang menayangkan film Kuntilanak 2 itu. Andreas menghela napas panjang kala melihat hantu menyeramkan itu tak lagi muncul. Dia memang bisa menenangkan Meggly, tapi dia juga kaget saat mbak kunti itu muncul. Di saat seperti ini Andreas bersyukur tidak mengikuti jejak sang papa yang penakut. Jejak papanya diikuti Auryn. Andreas secara sifat seperti mamanya. “Ganti!! Lo suka gue ketakutan kayak gini?” Andreas menunduk, melihat wajah Meggly yang tenggelam di dadanya. Sudut bibirnya tertarik ke atas. Tentu dia senang jika seperti ini, dia bisa dipeluk Meggly. Serta melihat bagaimana Meggly yang seolah tak risih dengannya. “Tuh, lanjut nonton. Hantunya udah nggak ada.” Meggly menggeleng tegas. Sejak kecil dia selalu ketakutan jika menonton film horor. Bahkan dia paling anti dengan hal-hal yang berbau horor. Meggly menggeratkan pelukannya dan menggeleng tegas kala wajah menyeramkan mbak kunti masih tergambar jelas di pikirannya. “Tadi siapa yang milih nonton daripada gue ajak keluar? Eh malah takut,” ucap Andreas mengingatkan pilihan gadis di pelukannya itu. Sebenarnya Andreas ingin mengajak Meggly jalan-jalan ke mal. Dia ingin memanjakan Meggly dengan membelikan barang belanjaan. Oh ayolah wanita mana yang tak suka shopping? Melalui cara itu Andreas berharap Meggly semakin dekat dengannya. Namun, siapa sangka justru Meggly ingin menonton film koleksi Gisel. Apesnya, semua koleksi film Gisel horor semua, padahal si pemilik juga penakut. “Meg. Lihat dong, Sayang,” kata Andreas menggoda. Mendengar panggilan sayang, alarm di kepala Meggly kembali bekerja. Dia menjauhkan wajah dari d**a Andreas, berganti mendongak hingga bertatapan dengan lelaki berkulit bersih itu. Meggly lantas menunduk dan tersentak menyadari posisinya terlalu dekat. Buru-buru Meggly menjauh, memilih duduk di pinggir sambil memeluk bantal sofa. Dia menyembunyikan wajah di bantal, malu dengan tindakan refleksnya barusan. Namun, dia juga sebal mengapa koleksi DVD Gisel horor semua. Berbeda dengan Meggly yang malu-malu, Andreas tersenyum puas. Dia bergeser mendekat dan melingkarkan lengannya ke pundak Meggly. “Telat banget malunya.” “Diam!” Satu tangan Meggly terangkat, berusaha menarik lengan Andreas dari pundaknya. Andreas tentu tak mau menyerah. Dia tetap melingkarkan tangannya di pundak Meggly. “Gue yakin bentar lagi suara mbak kunti muncul lagi. Yakin nggak takut?” tanya Andreas menakut-nakuti. Meggly mengangkat wajah, untuk pertama kalinya dia melotot ke Andreas. “Gak usah banyak omong! Matiin sekarang!” perintahnya sambil beranjak. Andreas berdiri, bergerak cepat mengambil remot dan memasukkan benda itu ke saku celana. Tindakan itu membuat Meggly menghela napas panjang. “Balikin!” pinta Meggly. “Hihihi!!!” Suara menyeramkan mbak kunti itu kembali terdengar. Meggly meloncat mendekat, lalu memeluk Andreas sambil menggeleng tegas. Tindakan Meggly tentu menguntungkan bagi Andreas. Lelaki itu menarik remot dari saku, melemparnya ke sembarang arah tanpa sepengetahuan Meggly. Kedua tangan Andreas lalu melingkar ke tubuh ramping itu. “Gue baru tahu, lo penakut parah. Bahkan adik gue nggak kayak gini,” ucap Andreas.. Jantung Meggly berdetak lebih cepat. Baginya dia lebih memilih naik wahana ekstrem daripada menonton film horor. Yah, meski dua hal itu menjadi ketakutannya. “Lo diem. Gue takut. Hiks,” ucap Meggly diiringi isakan pelan. Andreas mengusap punggung Meggly naik turun. Dagunya kemudian bertumpu di pundak Meggly. Seketika hidung mancungnya mencium aroma sampo yang wangi bunga, tapi aromanya tak berlebihan. Entah kenapa Andreas suka dengan aroma Meggly. “Nggak usah takut. Kan, ada gue,” bisiknya menenangkan. Meggly tak begitu mendengar ucapan Andreas. Dia hanya mampu memejamkan mata sambil mensugesti kalau dia tak pernah menonton film horor. Tindakan itu ternyata membuat kantuk Meggly datang. Usapan lembut di punggung seolah membuainya. Tak lama dia terlelap dalam pelukan Andreas. Sedangkan Andreas masih sibuk menonton film sambil kedua tangannya mengusap punggung Meggly. Andreas melihat bagaimana hantu wanita itu sesekali muncul, lalu menghilang. Tak lama film itu berakhir. Suasana hening membuat Andreas menguap. Dia mengurai pelukan, membuat kepala Meggly terkuai ke dadanya. “Eh!” gumam Andreas tak sadar Meggly telah terlelap. Andreas kembali memeluk gadis itu dengan erat. Dia mengusap rambut hitam Meggly yang terasa lembut itu. Andreas tersenyum, ingat dengan kejadian yang baru dialami barusan. Sebelumnya dia tak pernah hanya menonton film bersama seorang wanita di sebuah apartemen. Hanya Meggly yang membuat Andreas bertindak seperti ini. Perlahan Andreas mencium puncak kepala Meggly seraya berbisik. “Gue pasti dapetin lo, Baby Gly.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD