Suasana kantin saat jam makan siang sangatlah ramai. Para karyawan yang telah memeras tenaga dan pikiran mulai butuh asupan makanan. Termasuk Meggly dan Gisel. Tenaga mereka berdua seolah diforsir karena ada anggaran dana yang tak sesuai dan harus mereka cari tahu ke mana perginya dana itu.
Meggly duduk sambil menatap cangkir berwarna cokelat dengan cairan hitam yang mengisi. Satu tangannya mengangkat cangkir dan menyeruput kopi pahit itu perlahan. Matanya kemudian terpejam, merasakan rasa pahit yang memenuhi lidahnya.
“Lo minum kopi?”
Gisel bergabung sambil membawa nampan. Gadis berhidung mungil itu menatap sahabatnya dengan bingung. “Kalau maag lo kambuh gimana?” ucapnya mengingatkan penyakit Meggly.
Diingatkan seperti itu Meggly hanya bisa menghela napas. Dia butuh kopi agar matanya kuat bertahan hingga jam empat sore nanti. Meggly semalam tak bisa tidur. Dia ingat saat menonton film horor bersama Andreas. Saat terjaga, Meggly mendapati dirinya sudah di ranjang, bukan sofa di ruang tengah.
Saat itu sebenarnya Meggly ingin memastikan apakah Andreas masih di apartemen atau tidak. Namun, ketakutan yang menyerangnya mengurungkan niatan itu. Gadis itu akhirnya hanya berdiam diri di kamar dan kembali ketakutan karena sesekali adegan di film memenuhi pikirannya. Hingga dia lelah sendiri dan terlelap.
“Minum sedikit nggak apa-apa kok,” jawab Meggly beberapa detik kemudian.
Kening Gisel berkerut. Dia memajukan tubuh, melihat mata Meggly yang memerah dengan kantung hitam yang menghiasi. “Emang semalem lo ngapain sama Andreas?”
Gisel tahu semalam Andreas ke apartemen. Dia juga tahu kalau lelaki itu bisa masuk apartemennya. Hal itu membuat Gisel jadi curiga. Siapa yang telah memberi pin apartemennya ke Andreas hingga Meggly begitu ketakutan?
“Cuma nonton film. Nggak ada yang lain,” jawab Meggly sedikit kesal.
Meggly menarik mangkuk di depannya dan mulai memakan soto ayam yang mulai mendingin itu. Di tengah makan, dia ingat kebodohannya semalam, saat dia memeluk Andreas begitu erat. Meggly sontak meletakkan sendok dan berdecak pelan. Nafsu makannya mendadak hilang.
“Ck!”
“Kenapa?” tanya Gisel mendengar decakan Meggly.
“Gue semalem meluk Andreas. Gue yakin dia cari keuntungan.”
Gisel geleng-geleng, Meggly masih saja memikiran hal yang sudah terjadi. “Nggak usah dipikirin, Meg. Cuma pelukan doang.”
“Cuma? Bagiku bukan cuma, Sel!” protes Meggly.
“Iya, deh, iya. Tapi suka nggak pelukan sama Andreas?”
Tubuh Meggly seketika menegang. Tanpa diminta pikirannya berputar ke kejadian semalam. Saat Meggly merasakan d**a keras Andreas. Serta aroma citrus yang maskulin menusuk hidungnya.
Melihat Meggly yang terdiam, Gisel tersenyum menggoda. Apalagi pipi Meggly berubah merah. “Seneng, ya, pelukan sama Andreas? Atau sekarang mikirin Andreas?”
Buru-buru Meggly menggeleng, mengenyahkan apa yang berputar di pikirannya. “Lo ngomong apa, sih? Ngapain juga mikirin Andreas.”
“Jadi lo mikirin gue, Sayang?”
Suara berat itu membuat Meggly dan Gisel tersentak. Mereka menoleh ke sumber suara, hingga melihat lelaki berkemeja biru tanpa dasi berdiri dengan seulas senyum. Meggly sontak menutup wajahnya.
“Ngapain sih lo ke sini?” tanya Meggly tanpa menatap lawan bicaranya itu.
Andreas terkekeh pelan lalu duduk di samping Meggly. Dia menarik tangan gadis itu yang masih berusaha menutupi pipi. “Nggak usah malu-malu gitu. Semalem juga berani peluk-peluk.”
Meggly menurunkan kedua tangan dan menatap Andreas memohon. “Jangan bahas semalem.”
“Why? Malu?” tanya Andreas pura-pura tak tahu. Tangannya lalu terulur ke pipi Meggly, mengusap pipi merah itu dengan punggung tangannya. “Ngapain, sih, malu-malu? Sama gebetan sendiri juga.”
Mendengar lanjutan kalimat Andreas, Meggly dan Gisel kaget. Meggly menatap sahabatnya itu sambil menggeleng tegas. Seolah meminta agar tak percaya ucapan player di sampingnya itu.
“Nggak usah mengelak. Gue tahu kok jantung lo berdetak lebih cepat,” kata Andreas menggoda.
Meggly seketika terdiam, merasakan jantungnya yang memang berdetak lebih cepat. Dia menggeleng tegas, tak mungkin dia memiliki perasaan lebih ke Andreas. Gue cuma malu!!
“Nggak usah ngomong aneh-aneh. Lo balik, deh. Tempat lo bukan di sini!” usir Meggly sambil mendorong lengan Andreas.
Refleks Andreas mencekal pergelangan tangan Meggly. Lelaki itu menatap tepat ke manik mata Meggly, kemudian tersenyum. “Oke gue pergi. Tapi nanti malem jalan sama gue.”
“Ish!” Meggly menarik tangannya. Andreas selalu memberinya pilihan yang tak menguntungkan.
“Iya atau enggak? Kalau nggak mau, ya, udah gue di sini.” Andreas mengancam.
Akhirnya Meggly terpaksa mengangguk, demi lelaki itu pergi dari kantin. Dia mulai tidak tenang ditatap beberapa karyawati, lebih tepatnya mereka semua menatap Andreas.
Melihat Meggly yang diam tak berkutik, sudut bibir Andreas tertarik ke atas. Dia mendekat dan mencium pipi Meggly dengan gemas. Lelaki itu sangat tak peduli dengan suasana kantin yang ramai. Bahkan banyak wanita yang menatapnya. Kedatangan Andreas ke mari memang sengaja untuk menggoda Meggly, dan dia berhasil.
Tindakan Andreas itu membuat pikiran Meggly seolah lumpuh. Gadis itu hanya bisa diam tanpa memberi respons berupa makian, tamparan atau bahkan tonjokan.
“Bye, Sayang. Jangan coba-coba kabur, ya,” pesan Andreas setelah memberi ciuman di kedua pipi Meggly.
Andreas perlahan berdiri lalu menatap Gisel yang terbengong itu. “Titip gebetan gue, ya. Jangan sampai dia kenapa-napa.”
Setelah mengucapkan itu Andreas berbalik. Sambil berjalan dia melirik ke para karyawan yang menatapnya tak percaya. Andreas seolah tak peduli. Ditatap banyak wanita sudah makanan sehari-hari.
Beberapa detik setelah kepergian Andreas, Meggly mulai sadar. Dia menoleh ke kanan dan kiri dan mendapati karyawan lain menatapnya dengan seulas senyum. Meggly sontak berdiri, malu ditatap seperti itu. Kenapa gue sial sejak ketemu Andreas?
***
Setelah Meggly dari kantin, dia kembali ke kubikelnya dan mendapati buket bunga matahari di atas keyboard. Dia menoleh ke kanan dan kiri, tapi tak ada seorangpun di ruangan divisinya.
“Dari siapa?” gumamnya.
Meggly mengambil buket itu, kemudian duduk sambil menatap bunga favoritnya itu. Perhatiannya kemudian tertuju ke notes yang tertempel di tangkai bunga. Meggly menarik notes itu dan membaca isinya.
Semangat kerjanya, Cantik. Nanti malem kita dinner. -Andreas-
Tanpa diminta bibir Meggly tertarik ke atas. Dia meletakkan bunga matahari itu di samping tempat pensil dan kembali mengamati bunga indah itu.
“Ngapain, Meg, senyum-senyum?”
Sontak Meggly menegakkan tubuh. Dia mendongak menatap Sofia yang berdiri bersandar di kubikelnya itu.
“Nggak apa-apa kok. Inget kejadian lucu di film yang semalem aku tonton,” jawabnya. Padahal jika mengingat semalam, tentu tak ada yang membuatnya tersenyum. Meggly menggaruk tengkuk yang tak gatal, tak bisa menjawab jujur.
Sofia manggut-manggut, percaya saja dengan jawaban itu. Dia lantas mendekat, hingga melihat buket bunga di ujung meja. “Lo baru beli bunga?”
Perhatian Meggly kembali ke buket bunga dari Andreas itu. “Iya.”
“Bagus. Bunga kesukaan lo banget.”
Mata Sofia kemudian memindai meja kerja Meggly yang terlihat rapi dengan tatanan map di samping komputer. Dia lalu menyandarkan punggung di samping printer. Membuat Meggly memutar kursinya ke belakang hingga bisa menatap Sofia.
“Lo makin deket, ya, sama Andreas?”
Satu alis Meggly terangkat, bingung dengan topik yang cepat berubah ini. “Enggak. Gue nggak ada apa-apa sama Andreas.”
Sofia menanggapi dengan senyuman sinis. “Gue tadi liat kalian mesra-mesraan di kantin.”
Sontak Meggly menggeleng tegas. “Itu nggak seperti yang lo lihat. Andreas tiba-tiba nyium gue.”
Kalimat Meggly membuat Sofia menegakkan tubuh. “Emang lo secantik apa sampai Andreas nyium lo?”
“Gue emang nggak cantik, tapi Andreas selalu ganggu gue.”
“Gak usah percaya diri, deh!”
Meggly tersenyum kecut. Dia sadar diri dirinya tak cantik, tak modis dan tak kekinian, bahkan tanpa perlu diingatkan seperti itu. “Gue sadar diri kok, Sof.”
Sofia menjentikkan jari. “Bagus. Seperti yang pernah lo bilang lo nggak mau sama Andreas. Jadi gue yang deketin dia.” Setelah mengucapkan itu Sofia menjauh, membuat Meggly menghela napas panjang. Dia sama sekali tak peduli kalau Sofia mendekati Andreas. Justru Meggly berharap Andreas tak lagi mendekatinya.
***
“Kok dia nggak hubungi gue, sih? Bilang terima kasih gitu!”
Andreas duduk di kursi kebesarannya dengan kedua kaki terangkat ke pinggiran meja. Tangan kanannya menggenggam ponsel yang sejak tadi tak menyala itu. Dia lalu melipat kedua tangan di depan d**a, lama-lama sebal sendiri.
“Apa dia belum tahu bunga yang gue kasih?” gumamnya.
Dia kembali mengangkat ponsel, mencari nomor Meggly dan hendak melakukan sambungan. Namun, otaknya seolah menolak tindakan itu. Andreas lantas berdecak kesal.
“Segitu frustrasinya gue tinggal?” Tiba-tiba suara itu terdengar.
Andreas sontak menoleh ke pintu melihat gadis berkaus hitam, celana jeans senada dengan rambut dicepol. Andreas menurunkan kedua kakinya dari pinggiran meja, menarik laptopnya mendekat lalu pura-pura kembali mengerjakan pekerjaannya.
“Andreas. Emang lo nggak kangen gue?”
Zizi melangkah mendekat. Dia berdiri di belakang kursi dan memeluk leher lelaki itu. Membuat Andreas bergerak, lalu menjauhkan tangan Zizi dari lehernya.
“Siapa yang kangen? Biasa aja,” jawab Andreas apa-adanya.
Selama tiga hari Zizi ada fashion show di Manila. Wanita itu sudah mengabari Andreas, tapi tak ada respons apapun dari lelaki itu. Saat melihat Andreas tadi frustrasi, Zizi menyimpulkan jika lelaki itu merindukannya.
“Oh, ya, gue punya oleh-oleh buat lo,” ucap Zizi sambil membuka tas slempangnya.
Dia melangkah ke kursi depan meja lalu mengeluarkan kotak berwarna orange ke Andreas. “Dasi buat lo.”
Andreas menerima barang itu, lalu meletakkan di atas berkasnya yang tertumpuk. “Makasih, padahal gue nggak minta.”
Zizi menarik napas panjang, mulai emosi mendapati Andreas yang acuh tak acuh seperti ini. Zizi perlahan bangkit dari posisinya, memutar kursi yang diduduki Andreas lalu naik ke pangkuan lelaki itu.
“Apa-apaan sih lo!!” teriak Andreas tak suka.
Wanita itu seolah menulikan pendengarannya. Justru dia melingarkan lengan ke leher Andreas dan mendekatkan wajah. “Apa kita nggak bisa kayak dulu?”
Mata Andreas tertuju ke wajah cantik di depannya itu. Jantungnya berdetak normal, respons tubuhnya tak ada yang berlebihan. “Sifat kita terlalu sama, Zi. Kita nggak cocok.”
Mendengar kalimat itu Zizi menggeleng tegas. Dia memajukan wajah hingga berjarak beberapa centi dari Andreas. “Apanya yang nggak cocok? Bukannya kalau sifat kita sama kita makin klop?”
Andreas manggut-manggut. Dia pernah berpikiran seperti itu, tapi kenyataannya tidak seperti itu. Dia tak terima melihat Zizi bersama lelaki lain. Memberi kesan jika Andreas bodoh karena diduakan.
“Udahlah, Zi. Itu semua cuma masa lalu.”
“Tapi lo bilang mau serius sama gue!!”
“Mungkin waktu itu gue khilaf.”
Sontak Zizi turun dari pangkuan Andreas. Dia menatap lelaki yang masih dicintainya itu dengan napas naik turun. Lalu perlahan tangan kanannya terangkat dan menampar pipi Andreas keras.
Plak!
“Lo emang b******k, Dre!!”
Refleks Andreas menyentuh pipi kanannya yang terasa panas itu. Dia mendongak menatap Zizi penuh amarah. “Kalau gue b******k terus lo mau apa? Sesama b******k nggak usah ngatain!”
Zizi berdecak lalu berjalan keluar ruangan. Selepas kepergian Zizi, Andreas mengusap pipinya. Tamparan barusan begitu kencang hingga rasa yang ditimbulkan bertahan hingga beberapa menit.
“Sialan!!”