“Apa lagi, sih, ini?”
Meggly menunduk, memungut buket bunga matahari yang berada di depan apartemen. Gadis itu mengedarkan pandang dan tak menemukan siapapun di lorong. Dia lalu memencet pin dan buru-buru masuk. Meggly berharap bunga ini bukan dari Andreas, seperti yang dia dapat tadi siang.
Perlahan Meggly memutar buket bunga itu mencari notes yang mungkin tertempel. Namun, dia tak mendapatkan jawaban atas rasa penasarannya itu. “Nggak ada pesan apapun.” Gadis itu meletakkan buket bunga itu begitu saja lalu berjalan ke kamar.
Tet!!
Baru melangkahkan kaki di kamar, suara bel apartemen berbunyi. Seketika Meggly memutar tubuh, keningnya mengernyit dalam. Apakah tamu itu adalah Andreas? Dia menggeleng pelan. Tapi apa mungkin Andreas menagih janjinya?
Tet!! Bel apartemen kembali berbunyi.
Meggly seketika berjalan cepat menuju pintu apartemen. Dia membuka pintu dan mengintip di celahnya. Saat melihat seorang gadis berambut pendek, Meggly langsung membuka lebih lebar.
“Gisel!! Gue kira siapa!!!”
“Hahaha.” Gisel tertawa terbahak, melihat bagaimana wajah Meggly yang ketakutan itu, sangat menghibur. “Lo kira gue Andreas, ya?”
“Jangan ngomongin, tuh, orang, deh!”
Meggly kembali masuk apartemen, di belakangnya Gisel mengekor. Gisel lalu melihat buket bunga matahari tergeletak di atas meja. “Lo dapet bunga lagi, Meg?”
“Ya!!”
“Dari Andreas?”
“Tanpa pengirim.”
Meggly tak tahu buket bunga itu dari siapa. Ingin berasumsi itu dari Andreas rasanya enggan sekali. Jika, lelaki itu tahu pasti besar kepala.
Drtt!!
Meggly tersentak atas getaran ponsel di saku celananya. Dia mengambil benda itu dan melihat video call dari Andreas. Gadis itu mendengus, lalu mengangkat panggilan itu.
“Halo, Cantik,” sapa Andreas.
Meggly bisa melihat, lelaki itu sedang mengemudi sambil sesekali melirik ponsel. “Gue matiin, yah!”
“Loh, kenapa?”
“Lo lagi nyetir.”
Setelah mengucapkan itu Meggly menyesal. Peduli amat dia ke Andreas? Sekarang, lelaki itu tengah tersenyum menggoda. Meggly seketika membuang pandang.
“Peduli banget, ya, ke gue. Jadi, pengen gue cium.”
“Diem, deh!”
“Lo ngapain hubungin gue?”
“Belum terima buket bunga dari gue? Kan, gue mau ajak lo dinner.”
Bahu Meggly tertarik ke atas, lalu dia menurunkan pundaknya pelan. “Dua hari yang lalu lo ngajak gue dinner.”
“Ya lagi. Atau lo mau shopping?”
“Gue mau tidur!”
“Sama gue? Ayo! Gue nggak nolak!”
“DIEM!!!”
Setelah mengucapkan itu Meggly mematikan sambungan secara sepihak. Berbicara dengan Andreas harus ekstra hati-hati, bisa jadi ucapannya malah menjadi bumerang. Meggly sedikit melempar ponsel itu ke ranjang, lalu dia membuang napas pelan.
“Bete gue!!”
***
Sebenarnya Andreas bisa saja membuka pintu apartemen di depannya. Namun, dia memilih untuk menjadi lelaki sopan, setidaknya untuk sekarang. Dia maju selangkah dan memencet bel berwarna gold itu. Andreas terbayang wajah sebal Meggly yang menyambutnya, membuatnya tanpa sadar terkekeh geli.
“Lo ke sini lagi?”
Suara itu mengejutkan Andreas. Dia menoleh dan melihat Gisel yang berdiri di hadapannya, bukan Meggly. “Kok lo ada di sini?”
“Ya ini apartemen gue,” jawab Gisel tak terima.
Andreas menggeleng pelan, merasa salah menanyakan hal itu. Dia menegakkan tubuh lalu memasukkan kedua tangan di saku celana. “Meggly udah siap-siap?”
Gisel mengernyit. Seingatnya, temannya itu sedang bersiap-siap untuk tidur. “Kalian ada janji?”
“Dinner.”
“Lo tunggu sini bentar!!”
Brak! Pintu ditutup dengan kencang.
Tindakan itu membuat Andreas menggeram, bisa-bisanya Gisel tak mempersilakan masuk. Lelaki itu lalu memilih bersandar di dekat pintu, sambil melipat kedua tangan di depan d**a. “Nggak apa-apa gue diperlakuin gini!” gumamnya meski sebal.
Ceklek!
Beberapa menit kemudian, terdengar suara pintu dibuka. Andreas menoleh ke pintu samping apartemen Gisel dan menemukan wanita bertubuh tinggi tengah berdiri, dan menatapnya kaget. Seketika Andreas menegakkan tubuh, kenapa dia harus bertemu dengan Zizi?
“Andreas. Hai, Dear. Lo pasti kangen gue,” kata Zizi dengan senyum merekah.
“Lo salah besar. Gue nggak nemuin lo.”
Ceklek!
Terdengar suara engsel pintu. Andreas menoleh dan menemukan Meggly yang siap memarahinya itu. Andreas langsung menarik pinggang gadis itu, dan mencium Meggly dalam.
Tindakan itu membuat Meggly syok. Terlebih saat dia menyadari bibirnya sedang bersentuhan dengan bibir Andreas. Ini tindakan yang keterlaluan bagi Meggly, berani-beraninya lelaki itu menciumnya. Dia berusaha menarik diri, tapi Andreas justru memeluknya begitu erat.
Di depan dua orang yang sedang ciuman itu, Zizi berdiri dengan kedua tangan terkepal. Dia tak menyangka teman Gisel inilah yang menarik perhatian Andreas. Zizi lalu memperhatikan Meggly, gadis itu terlihat kurus, dan sama sekali tak modis.
“Ehem.”
Dehaman itu membuat Andreas melirik sekilas. Dia mengakhiri ciuman itu, dan menutupnya dengan kecupan di kening Meggly. “Hai, Sayang. Gue kangen banget.”
Meggly tak bisa bereaksi. Dia diam terpaku, masih belum percaya ciuman pertamanya diambil oleh Andreas. Meggly mengepalkan tangan lalu memukul d**a di depannya itu.
“Lo manas-manasin gue? Saingan gue ternyata, nih, cewek? Jelas cantikan gue ke mana-mana,” kata Zizi lalu berjalan menuju lift.
Seketika Meggly tersadar, ciuman tadi disaksikan oleh Zizi. Dia menoleh ke arah kepergian Zizi dan melihat wanita itu berjalan dengan angkuh. Meggly lalu mendongak menatap Andreas dengan mata memerah.
“Dia pacar lo?” tanyanya ingin tahu.
Andreas menggeleng tegas. Dia menarik Meggly mendekat, memperhatikan bibir gadis itu. “Bukan. Nggak usah cemburu.”
“Enak aja lo ngomong!”
Kedua tangan Meggly kembali mendorong d**a Andreas. Dia mundur beberapa langkah, takut lelaki itu akan menciumnya lagi. “Lo ngapain, sih, deketin gue? Kak Zizi lebih cantik dari gue.”
Emang, dalam hati Andreas menjawab. Dia mengakui kalau Zizi itu begitu cantik, tapi dia bosan dengan wanita itu. Terlebih, Andreas mendapat keuntungan lebih jika mendekati Meggly.
“Nggak usah bahas dia,” ucap Andreas. Dia menunduk, memperhatikan Meggly yang memakai baju tidur bergambar kepala kucing itu. “Kok lo belum siap-siap?”
“Emang kita mau ke mana? Gue capek banget! Mending lo pulang.”
“Tapi lo udah janji mau dinner sama gue.”
“Kapan gue bilang?”
Seketika Andreas terdiam. Benar sih, Meggly hanya memberi jawaban anggukan tak berarti. Namun, tentu bukan Andreas jika menyerah begitu saja. “Gue nggak butuh jawaban lo. Sekarang kita dinner.”
“Andreas!!”
Wajah Meggly sekarang berubah sendu, berharap bisa membujuk Andreas. Sungguh, Meggly sampai sekarang masih syok dan kakinya begitu lemas karena ciuman barusan.
Melihat Meggly yang memohon seperti itu Andreas mendesah. Dia tak bisa memaksa Meggly dan membuat gadis itu semakin menjauhinya. “Oke. Tapi besok gue anter ke kantor, ya.”
“Emm. Oke.” Menurut Meggly itu lebih baik daripada dinner. “Sekarang lo pulang!”
Andreas maju selangkah, refleks Meggly bergerak mundur. Tak ingin gadis itu semakin menjauh, Andreas menarik tangan Meggly dengan cepat. Lalu dia mencium kedua pipi Meggly bergantian.
“Good night. Jangan lupa mimpiin gue.” Setelah mengucapkan itu Andreas balik badan.
Kali ini dia memang tak berhasil mengajak Meggly dinner, tapi dia berhasil mencuri satu ciuman dari bibir gadis itu. Memikirkan itu Andreas senyum-senyum sendiri. Dia yakin Meggly pasti teringat dengan ciuman tadi.
“Huh!!” Selepas kepergian Andreas, Meggly mulai bisa bernapas lega.
Meggly kemudian masuk apartemen sambil menyentuh d**a. Selama ada Andreas dia tak bisa bernapas tenang, selalu saja ada hal-hal tak terduga seperti ciuman barusan. Refleks Meggly menyentuh bibir, masih tak percaya ciuman pertamanya telah diambil Andreas.
“Tuh cowok udah ambil kesempatan!!”
***
Suasana kelab terlihat ramai dari biasanya, atau Andreas saja yang kurang update? Setidaknya lelaki itu mengakui kalau beberapa waktu terakhir sama sekali tak tahu kondisi kelab langganannya.
“Andreas!!” Sapaan itu mulai terdengar.
Andreas berjalan menuju meja paling pojok, di sana Jimi sedang duduk dengan tiga orang wanita. Saat dekat dengan meja itu, Andreas menggerakkan jari telunjuk, meminta tiga wanita itu pergi.
“Ke mana aja lo?” tanya Jimi.
Andreas duduk di depan Jimi dan mulai menegak minuman yang ada di depannya. Lelaki itu lalu mengedarkan pandang ke penjuru kelab. “Rame banget.”
“Rame? Biasanya kayak gini kali,” ucap Jimi. “Lo aja yang udah jarang ke sini!”
“Ya gimana, gue fokus sama target gue.”
“Gimana perkembangannya?” Jimi memajukan tubuh. Saat melihat senyum miring Andreas, dia merasa kalau sahabatnya itu telah berbuat sesuatu. “Lo habis ena ena sama dia?”
Sontak Andreas terkekeh. Jika, Meggly seperti gadis lain, tentu kegiatan itu sudah tak bisa dihitung dengan jari. “Gue habis nyium Meggly. Gue rasa yang tadi itu ciuman pertamanya.”
“Oh, ya? Menang banyak dong lo!”
Andreas menepuk d**a dengan bangga. “Lo siap-siap kalah, Bro!!”
“Sial! Gue salah pilih lawan kayaknya!”
“Nyesel?”
Jimi menggeleng pelan tak pernah menyesal, toh kelabnya akan menjadi milik Andreas, dia lebih tenang. Sejak kecil Andreas bersahabat dengan Jimi, karena rumah mereka bersebelahan. Tak disangka, sifat keduanya sama. Kini, Jimi tak lagi tinggal di samping rumah Andreas, melainkan di apartemen yang lebih dekat dari kantornya.
“Terus si Zizi masih ngejar-ngejar lo?” tanya Jimi ingin tahu.
Bahu Andreas terangkat. “Gue tadi ketemu dia. Ternyata dia tetangga Gisel, nggak nyangka.”
“Zizi pindah apatemen lagi dan lo nggak tahu? Gue pengen ketawa,” ejek Jimi. “Terus? Zizi tahu kalau lo sekarang deketin Meggly?”
“Ck! Lo tahu sendiri gue udah males sama dia. Mau dia pindah apartemen baru gue juga nggak peduli,” kata Andreas. “Zizi tahu kalau gue deketin Meggly.”
Andreas ingat, Zizi tadi terlihat begitu marah. Namun, Andreas sama sekali tak peduli. Ketika dia memilih mengakhiri sebuah hubungan, maka dia tak akan mau terlibat lagi.
“Halo. Gue boleh gabung?”
Pertanyaan itu membuat Jimi dan Andreas menoleh. Mereka melihat gadis bergaun merah berdiri dengan satu tangan membawa gelas. Jimi menggerakkan mata, meminta Sofia duduk di sampingnya.
“Lo nggak sama Heida?” tanya Jimi ingin tahu.
Sofia menggeleng pelan lalu memperhatikan Andreas yang sedang berdiam diri itu. “Lo tadi habis ke kantor, ya?”
Andreas menoleh. “Kenapa? Lo ngelarang?”
“Bukan gitu maksud gue,” jawab Sofia lalu menyeruput minumannya. “Kenapa nggak temuin gue? Gue bisa, loh, temenin lo.”
Kelanjutan kalimat itu membuat Andreas dan Jimi menarik satu alis. Katakan dua orang itu player, tapi mereka paling anti dengan wanita yang terlalu agresif. Terlebih mereka tak suka wanita yang mendominasi.
“Gue balik dulu!”
Tanpa menjawab pertanyaan Sofia, Andreas berdiri dan menepuk pundak Jimi. Andreas sedang tidak ingin mencari teman kencan. Justru nanti akan merusak rencananya untuk mendekati Meggly.
Sedangkan Sofia yang melihat kepergian Andreas, mendengus pelan. “Emang gue kurang cantik sampai Andreas nggak mau ngelirik gue sedikitpun?”
Jimi menepuk pundak Sofia menenangkan. “Mungkin belum waktunya.”
“Lo bisa tolongin gue biar deket sama Andreas? Gue bayar apapun yang lo minta.”
Tawaran itu memang terdengar menggiurkan, tapi Jimi sama sekali tak tertarik. Lelaki itu berdiri kemudian menatap Sofia dengan tatapan tajam. “Lo ngaca dulu, deh, kalau minta tolong ke gue!” kata Jimi setelah itu melenggang pergi. Membuat Sofia seketika emosi.
“Awas aja! Gue bakal jadiin Andreas milik gue!”