8-Gagal Total

1786 Words
“Stt!!” Gadis yang mengenakan setelan kantor berwarna kuning kunyit itu mengangkat ibu jari. Seketika gadis lain yang bersembunyi di balik pilar keluar dari persembunyiannya. Gisel segera menarik Meggly, sebelum Andreas datang. “Duh!! Tuh, orang bikin kita berangkat lebih pagi,” gerutu Gisel. “Sabar, pasti dia nggak kayak gini lagi.” Meggly dan Gisel berjalan menuju mobil yang terparkir di paling pojok. Saat melangkah, tiba-tiba ada lampu mobil yang menyorot. Refleks, keduanya menoleh sambil satu tangan menghalau mata. Saat melihat siapa yang keluar dari mobil itu, Meggly seketika kaget. “Mau kabur?” tanya Andreas. “Lari!!” Meggly menarik tangan Gisel dan mengajak sahabatnya itu berlari. Andreas yang melihat kejadian itu geleng-geleng. Lelaki itu sudah menebak kalau Meggly pasti akan menghindar, dan sekarang terbukti. “Kalian tahu kan, menghindarpun percuma,” ucap Andreas sambil berjalan mendekati mobil paling pojok. “Cepet, Meg!!” Gisel segera masuk mobil, pun Meggly. Saat Gisel hendak tancap gas, tiba-tiba Andreas berdiri di tengah. Lelaki itu seolah tak peduli kalau sewaktu-waktu Gisel menginjak pedal gas. “Nih orang, ya!!” geram Meggly. Tin. Tin. Kedua tangan Meggly menekan klakson dengan kasar. Gisel sendiri hanya terkekeh pelan melihat lelaki yang super nekat itu. “Gue nggak bakal pergi!!” teriak Andreas. Andreas berdiri sambil memperhatikan Meggly yang terlihat sebal itu. Dia mengedipkan mata, menggoda Meggly. “Meg, kayaknya kita nggak bisa kayak gini terus,” ucap Gisel, tahu Andreas pasti akan berdiri di situ sampai Meggly keluar. “Terus gimana? Tabrak aja deh dia.” Meggly terlihat frustrasi. Dia heran mengapa Andreas justru mendekatinya, dengan cara yang membuatnya ketakutan. “Gue harus ngomong ke dia!” Seketika Meggly turun dari mobil. Dia berjalan ke Andreas lalu bertolak pinggang. “Mau lo apa, sih?” Senyum Andreas mengembang. Dia memajukan tubuh, tapi Meggly langsung mundur. Andreas mendengus pelan lalu mencium pipi Meggly dengan cepat. “Kan udah gue bilang, hari ini gue anterin lo.” Meggly melotot, berani-beraninya disaat genting seperti ini Andreas mencium pipinya. Kini, Meggly menegakkan tubuh sambil tetap menjaga jarak. “Gue mau berangkat sama Gisel.” “Ya gue nggak peduli, Sayang.” “Ish!!” Andreas semakin gemas melihat Meggly yang marah-marah ini. Lelaki itu melirik ke arah mobil, Gisel terlihat memperhatikan. Andreas lalu menghadap Meggly. “Berangkat sama gue, atau gue rusakin mobil temen lo.” Ancaman itu membuat Meggly hampir tersedak ludahnya sendiri. Andreas senekat itu? Seketika Meggly menoleh ke belakang, melihat Gisel yang duduk di balik kemudi. Tak mungkin Meggly setega itu membiarkan Andreas merusak mobil Gisel. Meggly tahu, mobil itu hasil jerih payah Gisel sejak kerja paruh waktu semasa kuliah. “Fine!” kata Meggly menyerah. Senyum Andreas mengembang lalu mengulurkan tangan ke arah Meggly. Namun, gadis itu hanya melirik dan berjalan lebih dulu. Andreas tersenyum kecut, lalu berjalan mengikuti Meggly. Di dalam mobil, Gisel kaget melihat Meggly yang tiba-tiba menurut itu. Seketika Gisel ingat jika Andreas itu orangnya pemaksa. “Pasti dia habis ngancem Meggly. Gue harus ikutin.” Di mobil lain, Meggly duduk terlalu dekat dengan pintu mobil. Bahkan dia sedikit memunggungi Andreas. “Nggak mau ngucapin selamat pagi ke gue?” tanya Andreas sambil melajukan mobil keluar basement. “Gak!” Andreas terkekeh pelan. Satu tangannya terangkat, menyentuh pundak Meggly dan segera ditepis oleh gadis itu. “Nggak usah modus!” ucap Meggly sambil mengusap pundak yang baru saja dipegang Andreas. “Nggak modus, Sayang. Cuma ingetin duduknya jangan mepet pintu. Ada cowok ganteng gini malah dipunggungin.” Bola mata Meggly membulat. Ganteng? Benar sih Andreas ganteng, hanya saja lelaki itu menyeramkan. “Semalem mimpi apa?” tanya Andreas membuka percakapan lain. “Gue inget ciuman kita loh,” lanjutnya. Tentu saja kalimat itu bohong, karena Andreas sama sekali tak mimpi apapun semalam. “Lo bisa diem nggak, sih?” Seketika Meggly memutar tubuh dan melotot ke Andreas. Inilah yang paling Meggly hindari, Andreas membahas ciuman kemarin. Karena ciuman itu Meggly sampai tak bisa tidur. Bayangan saat bibirnya bersentuhan dengan bibir Andreas terus menyeruak. Namun, Meggly tak akan mau mengakui itu. “Sayang, emang gue kurang apa sih sampai lo selalu hindarin gue?” tanya Andreas sambil melirik Meggly yang kembali duduk memunggunginya itu. “Lo itu aneh.” “Gue tahunya gue ganteng.” Jawaban itu membuat bibir Meggly tertarik ke atas. Dia ingin tertawa, bisa-bisanya lelaki itu begitu percaya diri. “Lo ngapain sih tiba-tiba deketin gue?” Karena gue taruhan, jawab Andreas dalam hati. Dia hanya diam dan terus mengemudi. “Eh!! Kantor gue bukan ke arah sana!” teriak Meggly. “Gue laper. Makan dulu, ya.” Meggly lagi-lagi mendengus. Tentu Andreas memiliki seribu rencana yang membuat Meggly kesal. Gadis itu duduk bersandar lalu mengurut sisi kepala. Dia pusing sendiri menghadapi Andreas. “Kok nggak ngomel-ngomel lagi?” tanya Andreas heran. Lelaki itu menoleh sekilas, melihat Meggly yang sedang mengurut kening itu. Refleks, tangan kirinya terangkat dan mengusap puncak kepala Meggly. “Pusing karena ulah gue, ya?” “Udah tahu nanya.” “Makanya ikutin aja. Jangan banyak protes.” Selanjutnya Meggly memilih diam, bukan karena menuruti pekataan Andreas. Namun, dia ingin melihat sejauh mana Andreas mendekatinya. Tak lupa, Meggly harus mencari tahu penyebab keanehan Andreas ini. “Gue harus tanya Sofia,” gumamnya. “Apa, Meg?” Meggly menepis tangan Andreas yang masih saja mengusap kepalanya itu. Dia kembali memunggungi Andreas. Membuat Andreas terkekeh geli, pesonanya tak berlaku ke Meggly.   ***   Jam istirahat, Meggly bergegas ke kubikel Sofia. Meggly ingin tahu penyebab keanehan Andreas. Selama ini yang tahu banyak tentang Andreas hanyalah Sofia. Meski Meggly sendiri ragu menanyakan hal itu ke teman kantornya yang sangat angkuh itu. “Sofia, gue pengen tanya sesuatu.” Sofia yang sedang memoles lipstick seketika mengangkat wajah. Dia mendengus pelan melihat temannya yang sok polos itu. “Tanya apa?” “Soal Andreas.” Seketika Sofia menghentikan kegiatannya. Dia menatap Meggly dengan memicing. “Lo ngapain tanya-tanya? Lo naksir ke Andreas? Ngaca! Nggak mungkin dia ngelirik lo.” Tanggapan yang seperti itu membuat Meggly hampir ingin pergi saja. Namun, dia sudah membulatkan tekad daripada dia semakin terjebak dengan Andreas. “Gue pengen tahu, kenapa Andreas tiba-tiba deketin gue?” tanya Meggly to the point. Perlahan Sofia berdiri lalu kedua tangannya terlipat di depan d**a. Dia memperhatikan Meggly yang mengenakan celana longgar berwarna hitam dan kemeja polos berwarna putih. Di bagian bibir Meggly, hanya terpoles lipgloss yang mulai luntur. “Lo percaya banget Andreas deketin lo?” “Tapi kenyatannya gitu.” Sofia menggeleng tegas, enggan mengakui kalau Andreas sedang mendekati Meggly. Bahkan tadi pagi, Sofia melihat dengan mata kepalanya sendiri jika Andreas mengantar Meggly. Tentu Sofia marah dan sangat meragukan selera Andreas kali ini. “Gini, ya. Ada dua kemungkinan,” kata Sofia menggantung. “Apa?” “Pertama, selera Andreas aneh makanya dia ngejar-ngejar lo. Kedua, mungkin Andreas cuma pengen nyakitin lo doang.” Perkataan Sofia membuat mata Meggly berkaca-kaca. Gadis itu seketika berbalik dan keluar dari ruangannya. Sedangkan Sofia tersenyum puas, berharap Meggly tak sok kepedean. “Meg!!” Gisel yang sejak tadi memperhatikan dari kejauhan, segera mengejar Meggly. Gadis itu tak begitu mendengar apa yang diucapkan Sofia. Namun, Gisel yakin pasti perkataan Sofia melukai hati Meggly. “Lo kenapa?” tanya Gisel setelah berhasil mengejar langkah Meggly. Meggly menoleh sambil menghapus air matanya dan menemukan Gisel yang menatapnya khawatir. “Lo tahu nggak, gue makin bingung kenapa Andreas deketin gue.” Perlahan Gisel mulai paham, soal Andreas. “Mungkin dia suka lo.” “Enggak. Kalau lo tahu Kak Zizi itu mantan Andreas.” Bibir Gisel seketika terbuka. Selama ini dia tak tahu kehidupan percintaan Zizi. Tetangganya itu jarang terlihat datang bersama seseorang. Gisel hanya tahu jika Zizi seorang model dan sebentar lagi akan tinggal di Aussie. “Lo yakin?” tanya Gisel. Meggly mengangguk, ingat kejadian semalam saat Zizi menatapnya dengan tatapan merendah, padahal saat pertama kali bertemu wanita itu terlihat sopan. “Gue harus tahu kenapa tiba-tiba Andreas deketin gue,” ucap Meggly dengan mata yang berkaca-kaca. “Gue salah apa sih ke dia? Karena dia deketin gue jadi ngerasa dimusuhi cewek-cewek.” Melihat sahabatnya yang seperti ketakutan itu, Gisel langsung menarik Meggly ke dalam pelukan. Meggly mengeratkan pelukan itu. Dia mulai menangis, sebuah tangis yang sebenarnya tak begitu penting karena ini soal Andreas.   ***   Demi mendapat jawaban mengapa Andreas mendekatinya, Meggly sampai rela ke kelab. Dia datang bersama Gisel, mana mungkin dia ke tempat itu seorang diri. Sekarang saja, Meggly tengah ketakutan terlebih dengan tatapan lelaki yang mulai terarah ke tubuhnya. “Kenapa juga kita harus pakai baju gini?” tanya Meggly. Gadis itu memperhatikan gaun berpotongan kemben berwarna pink tua. Dia lalu memperhatikan Gisel yang mengenakan gaun dengan model yang sama berwarna ungu muda. “Kalau kita pakai baju biasa, mereka nggak ada yang mau jawab pertanyaan kita,” ucap Gisel dengan suara pelan. “Kalau ada yang berniat jahat gimana? Gisel, gue takut.” Gisel meletakkan telunjuk di depan bibir. Dia sebenarnya juga tak nyaman di tempat ini, tapi ini semua demi membantu Meggly. “Halo, Cantik!” Tiba-tiba seorang lelaki berambut cokelat mendekati meja mereka. Gisel dan Meggly seketika waspada. Namun, Gisel mengubah ekspresinya menjadi biasa saja, demi lancarnya strategi ini. “Lo kenal sama Andreas?” Lelaki itu tampak mengernyit tak suka, kemudian mengangguk. “Emang kenapa? Lo dicampakin sama dia?” “Enggak!” Gisel menggerakkan kedua tangan. “Maksud gue, dia itu gimana? Oh, ya dia punya pacar nggak?” “Playboy. Pacarnya Zizi.” Gisel dan Meggly sontak berpandangan. Jika, Andreas masih pacaran dengan Zizi kenapa lelaki itu mendekati Meggly? Seketika Meggly menarik tangan Gisel, merasa jika misi ini harus segera dihentikan. “Makasih infonya. Bye!” Setelah mengucapkan itu Gisel berjalan mengikut Meggly. Gisel masih tak percaya jika Zizi berpacaran dengan Andreas. Kenyataan itu membuat Gisel tak bisa berpikir jernih. Pun Meggly, dia semakin bingung kenapa Andreas mendekatinya. “Halo, Cantik!” Saat hendak keluar, Gisel dan Meggly dihadang oleh lelaki dengan penuh tato di tangan. Meggly dan Gisel seketika mundur beberapa langkah. Namun, lelaki itu menarik tangan Meggly dan menggenggamnya erat. Gisel refleks menarik tangan lelaki itu. “Jangan jauh-jauh,” ucap lelaki itu sambil mendekatkan wajah ke wajah Meggly. Meggly berusaha memberontak, tapi lelaki itu terus mendekatinya. Tangan lelaki itu merangkak naik ke langan Meggly, sedangkan tangan yang lain berusaha mendorong Gisel. “Jangan dekat-dekat,” pinta Meggly sambil berusaha melepaskan cekalan lelaki itu. “Nggak bisa. Lo cantik banget malam ini.” Lelaki itu memiringkan wajah, hendak mencium pipi Meggly. Namun, yang dia dapat justru pukulan di rahang. Bugh!! “Jauhin tangan lo!!” Meggly segera menarik tangannya. Dia mendongak dan melihat Andreas dengan wajah memerah. Seketika Meggly menarik Gisel, dan berlari ke pintu keluar. “Dia milik gue!!!” Samar-sama Meggly mendengar teriakan itu, teriakan Andreas yang menyeramkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD