“Hiks!!” Langkah Meggly terus diiringi oleh tangis. Dia masih ketakutan atas insiden di dalam. Entah bagaimana jadinya kalau tak ada yang menolongnya, mungkin lelaki mabuk tadi sudah menciumnya atau bahkan berbuat lebih. Memikirkan itu membuat dadanya kembali sesak. “Meg... .” Di samping gadis itu, Gisel terus menemani. Dia tak menyangka kejadiannya akan seperti ini. Jika, dia tadi tak mengusulkan untuk ke kelab, mungkin Meggly tak akan sesedih ini. “Maaf, ya. Ini semua gara-gara gue,” ucap Gisel dengan suara serak. Meski lelaki tadi lebih mengincar Meggly, tapi tetap saja Gisel juga ketakutan. Seketika Meggly tersadar dengan kehadiran Gisel. Dia menoleh, memperhatikan sahabatnya yang sama-sama ketakutan itu. “Gisel. Bukan salah lo.” “Salah gue.” Meggly mengusap pundak Gisel lalu me

