MY GIRL | 9

2804 Words
Dewa terlihat sedang merapihkan mejanya yang berantakan sebelum ia berangkat pulang. Hari ini ia tidak akan lembur, ia akan menyelesaikan pekerjaannya besok. Pria itu menyimpan beberapa file ke dalam lacinya disaat pintu ruangannya diketuk. Ia pun menginterupsi tamunya untuk masuk. Edo datang dengan membawa map berwarna merah kemudian menyerahkan pada Dewa. “Ini yang kemarin bapak minta” Dahi Dewa mengernyit, ia bahkan tak ingat kemarin meminta apa pada sekertarisnya itu. Tangannya pun membuka lembaran map dan begitu melihatnya ia langsung mengingat kalau sekitar seminggu yang lalu ia meminta Edo untuk membuatkannya proposal taaruf. “Ya, terimakasih” Setelah itu Edo langsung pamit kembali ke mejanya sementara Dewa meletakkan map tersebut di meja. Ia kemudian memakai kembali jasnya, menyambar ponsel dan kunci mobil. Saat langkahnya akan menjauh dari meja kerjanya ia berhenti lalu menoleh. Pandangannya tertuju pada map berwarna merah yang tadi diberikan Edo. Dalam beberapa detik ia menatap map tersebut, seakan bingung harus membawanya atau tidak. Sampai akhirnya ia pun menyambar map tersebut kemudian berjalan keluar. Pria itu sekarang sudah berada dalam perjalanan pulang. Seharusnya ia buru-buru pulang agar bisa cepat bertemu dengan Bianca. Tetapi Dewa malah menghentikan mobilnya di sebrang toko kue Mayra. Sejak beberapa menit yang lalu ia hanya berdiam diri di dalam mobil memperhatikan bayangan gadis itu yang sedang sibuk melayani pengunjung. Dewa menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi kemudian melirik ke arah map merah yang tergeletak di kursi penumpang sampingnya. Haruskah ia menyerahkan proposal taaruf tersebut pada Mayra? Jujur saja sebenarnya Dewa belum begitu yakin jika harus menyerahkan proposal tersebut. Ia memang hanya dibuatkan saja proposal itu pada Edo tetapi hatinya masih ragu. Ia memang masih ragu, hatinya bimbang. Dewa jelas tahu bagaimana sosok Mayra, ia gadis yang begitu sholehah. Gadis seperti itu masih menginginkan seseorang yang sholeh sebagai imam dalam rumah tangganya kelak. Seorang pria yang memiliki ilmu agama yang cukup, iman yang tebal dan pandai mengaji. Dewa sadar akan dirinya sendiri, ia jauh dari semua kriteria itu. Ilmu agamanya hanya standar-standar saja, ia memang bisa mengaji tetapi kemampuannya masih di bawah rata-rata. Dewa bahkan menyadari bahwa dirinya jauh dari sebutan laki-laki sholeh. Hal itu yang membuatnya ragu untuk menyerahkan proposal taarufnya pada Mayra. Ia takut kalau kelak Mayra akan kecewa karena telah memilihnya. Lagipula sepertinya banyak laki-laki sholeh di luar sana yang lebih pantas dengan Mayra. Bersamaan dengan itu ponselnya berdering, Dewa tersadar dari lamunannya. Ia mengambil ponselnya yang terus berbunyi nyaring dengan menampilkan nama Bianca di layar ponsel sebagai si penelepon. Ia menggeser ikon berwarna hijau kemudian menempelkan benda pipih tersebut ke telinga. “Ya halo?” “Kamu dimana? Barusan mamah kamu telepon katanya saya diminta ke rumah kamu” “Ngapain?” “Ya saya nggak tahu. Mamah kamu bilang gitu. Saya nggak tahu rumah kamu dimana makanya saya diminta buat telepon kamu” Dewa mengusap wajah dengan sebelah tangan. Sebenarnya mamahnya sedang berencana melakukan apa. “Yasudah kamu dimana sekarang?” “Di rumah sakit” “Tunggu di situ, saya jemput sekarang” Sambungan telepon terputus setelahnya. Dewa meletakkan kembali ponselnya kemudian menyalakan mesin mobil dan siap melajukan mobilnya menuju rumah sakit menjemput Bianca. Ia sendiri tidak tahu apa yang ingin dilakukan sang mamah, kenapa juga harus meminta Bianca datang ke rumah. Dan seharusnya mamahnya bilang pada Dewa terlebih dulu. Bianca sudah berada di depan rumah sakit selama lima belas menit. Begitu tadi ia selesai menelpon Dewa ia langsung keluar ruangan dan menunggu pria itu. Matanya tak berhenti menatap ke arah gerbang masuk rumah sakit begitu terlihat mobil yang datang. Namun sudah berapa banyak mobil terlihat mobil Dewa belum juga datang. Tak lama berselang terlihat mobil pajero hitam milik Dewa, Bianca yakin sekali itu milik Dewa karena ia hafal dengan nomor platnya. Bianca melangkah maju seraya menyelipkan rambutnya yang tertiup angin ke belakang telinga. Kemudian ia membuka pintu penumpang, saat ia akan masuk Bianca melihat map merah di kursi penumpang bagian depan. “Ini apa?” Dewa menoleh dan langsung mengambil map tersebut. “Bukan apa-apa” jawabnya kemudian menyimpan map merah itu dibalik kursinya. Bisa gawat jika Bianca membacanya. Gadis itu pun sudah duduk di kursi penumpang dan sudah selesai memasang seatbelt. Dewa melajukan mobilnya keluar rumah sakit. Dalam perjalanan menuju rumah orang tua Dewa, sesekali Bianca melirik ke arah pria itu. Sebenarnya ia ingin menanyakan sesuatu. Tadi pagi ia terbangun di kamar tidurnya masih dengan menggunakan pakaian kantor bahkan ia belum menghapus make up-nya. Setelah berusaha mengingatnya, ia ingat kalau tadi malam ia ketiduran setelah menceritakan masa lalunya pada Dewa. Terakhir ia mengingat saat ia merebahkan kepalanya di bahu pria itu. Kemudian ia tak ingat lagi. Tetapi bagaimana ia bisa berpindah ke kamar? Apa mungkin Dewa yang memindahkannya? Untuk menghilangkan rasa penasaran Bianca bermaksud ingin bertanya namun terlebih dulu ia berdehem pelan. “Tadi malam—saya ketiduran ya?” tanyanya basa-basi Dewa menoleh sekilas. “Iya. Padahal sebelumnya lagi cerita tapi bisa-bisanya ketiduran” Gadis itu menyengir. “Tapi kok saya bisa ada di kamar, kamu yang pindahin saya?” “Menurut kamu? Selain saya di rumah itu ada siapa lagi” Senyuman lebar tercetak jelas diwajah cantik Bianca. “Makasih ya. Maaf merepotkan” “Saya tidak merasa direpotkan” Dewa menoleh sekilas sambil tersenyum yang juga menular pada Bianca. Lima belas menit kemudian mobil Dewa berhenti di depan sebuah rumah besar nan mewah bercat putih. Sebuah pagar tinggi bercat hitam terlihat dibuka oleh seorang satpam yang berseragam. Dewa melajukan mobilnya memasuki pekarangan rumah kemudian memarkirkan mobilnya di sana. Bianca masih terus memperhatikan rumah tersebut dengan dua pilar besar di bagian terasnya. Halamannya juga luas dengan rerumputan yang hijau dan beberapa tanaman di sana. Bianca tidak pernah menyangka kalau Dewa berasal dari keluarga kaya raya seperti ini. Ia jadi merasa sedikit tidak masuk akal saat seorang anak dari keluarga kaya, pemilik perusahaan besar ternyata menyewa sebuah kamar di rumahnya yang sederhana. Bukankah itu sedikit terasa janggal? Saat Bianca masih sibuk dengan pikirannya sendiri ia langsung tertarik ke dunia nyata begitu kaca jendelanya diketuk oleh Dewa. Sontak ia menoleh dan sudah tidak menemukan Dewa di kursi kemudi. Sejak kapan pria itu keluar dari mobil? Apa karena dirinya yang terlalu terlarut dengan pikirannya sendiri membuatnya tidak sadar kalau Dewa sudah keluar terlebih dulu? Buru-buru gadis itu melepaskan seatbelt kemudian keluar dari mobil. Ia menahan matanya untuk tidak menjelajah lebih detail lagi rumah mewah tersebut. Tidak, Bianca tidak ingin terlihat norak. Ia harus tetap terlihat keren dan stay cool. Walaupun sebenarnya dalam hati ia tak berhenti berdecak kagum melihat kemewahan rumah tersebut. “Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga” Utari yang sebelumnya berada di ruang tengah yang begitu luas menolehkan kepalanya begitu menyadari ada seseorang yang masuk ke dalam rumah. Ia langsung bangkit berdiri begitu melihat kehadiran Dewa dan juga Bianca. Wanita paruh baya itu menghampiri Bianca, mencium kedua pipi gadis itu lalu memeluknya singkat. Setelahnya barulah Bianca mengambil tangan wanita itu untuk dicium punggung tangannya. Kemudian Bianca diajak duduk di sofa ruang tengah yang terlihat mahal. Sebuah televisi berukuran besar terdapat dihadapan mereka. Dewa yang sepertinya terlupakan oleh sang mamah sudah mendudukkan tubuhnya di sofa single yang ada di sana dan tengah memperhatikan kedua wanita tersebut. “Hari ini tante sengaja masak banyak karena mau ajak kamu makan malam di sini. Tadi tante udah telepon Barry buat ke sini juga tapi katanya Gina lagi nggak enak badan. Kasihan sih Gina juga lagi hamil. Jadi nggak apa-apa ya kita-kita aja?” Bianca menganggukkan kepala seraya tersenyum. “Iya tante” “Kamu udah pulang kerja kan? Berarti tante nggak ganggu waktu kamu” “Udah kok tan, kebetulan yang tadi tante telepon aku udah selesai kerja” Utari tersenyum. “Bagus kalo gitu, yaudah tante ke dapur dulu mau siapin makanannya” Bianca menganggukkan kepala Sepeninggal Utari pria yang masih mengenakan jas kerjanya itu berpindah menjadi di samping Bianca. Dulu saat mereka baru pertama kali kenal, mereka tak pernah duduk bersama di sofa yang sama. Keduanya saling merasa canggung. Tetapi sekarang mereka bahkan tak sungkan untuk duduk di sofa yang sama, bersampingan pula. Tubuh Dewa sedikit menghadap ke Bianca dengan satu siku tangannya yang bertumpu pada sandaran sofa kemudian menopang kepalanya. “Mamah saya heboh ya?” Gadis itu menoleh. “Heboh apanya? Nggak kok. Emang abang kamu nggak tinggal di sini?” “Bang Barry tinggal di rumahnya sendiri begitu menikah” “Kamu nggak mau ikutin jejak abang kamu? Menikah maksudnya” Dewa tersenyum menatap Bianca. “Kamu udah siap belum?” Mendengar ucapan Dewa membuat Bianca tertawa. Ia tahu pria itu hanya bercanda tetapi candaannya barusan berhasil membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Ya, katakan saja Bianca baper dengan hal itu. Namun secepat mungkin ia harus sadar diri akan dirinya, Dewa tak mungkin menyukainya atau pun memiliki perasaan padanya. Walaupun sepertinya Bianca merasa kalau ia sendiri memiliki perasaan itu. Tetapi entahlah ia sendiri belum terlalu yakin dengan perasaannya. Demi untuk menutupi salah tingkahnya, Bianca memilih bangkit dari sofa. “Mau kemana?” tanya Dewa “Bantuin mamah kamu. Dapurnya dimana?” Tangan pria itu terangkat kemudian jari telunjuknya menunjuk ke sebelah kanan. Bianca pun langsung melangkahkan kakinya ke sana. Dan senyuman terlukis diwajah tampan Dewa seraya memandangi gadis itu sampai akhirnya bayangan Bianca tak terlihat lagi karena terhalang tembok. *** Beberapa hari kemudian, Bianca baru salah keluar dari lift dan berniat untuk langsung pulang. Entah kenapa hari ini ia merasa begitu lelah dan ingin segera tiba di rumahnya. Mungkin dengan merebahkan tubuhnya di ranjang akan menjadi pilihan yang terbaik untuk dirinya saat ini. Gadis itu berjalan di lobby rumah sakit menuju pintu utama sebelum akhirnya terdengar sebuah suara yang memanggilnya. “Bianca” Gadis dengan rambut yang dijepit setengah dengan jepitan itu menoleh. “Tante Utari?” Utari yang sebelumnya terlihat duduk di kursi tunggu antrian kasir langsung bangkit berdiri dan menghampiri Bianca. Wajahnya langsung sumringah begitu melihat Bianca. Ia memegang kedua lengan gadis itu. “Kamu kerja di sini?” Bianca menganggukkan kepala mengiyakan. “Tante ngapain di sini?” “Tadi tante abis ketemu dokter buat check up. Kamu mau pulang?” “Iya aku mau pulang” “Kalo gitu bareng tante ya, tante dianter sama supir. Nanti kamu bareng aja” Bersamaan dengan itu terdengar suara speaker yang memanggil nomor antrian. “C-212” Wanita paruh baya itu melirik secarik kertas digenggaman tangannya kemudian langsung menuju kasir dengan sebelumnya meminta Bianca untuk menunggunya sebentar. Sambil menunggu Utari membayar di kasir, Bianca memperhatikan wanita itu. Bianca belum lama mengenal wanita paruh baya itu tetapi Bianca sudah terlihat akrab dengannya. Utari sosok wanita yang begitu baik, ucapannya selalu lembut, masakannya pun lezat dan tentunya ia sangat keibuan. Persis sepertinya mamahnya, dulu. Bianca yang sangat merindukan sosok seorang ibu dalam hidupnya tentu merasa sangat nyaman bila berada dengan Utari. Setelah urusan Utari selesai, ia langsung mengajak Bianca menuju dimana mobilnya terparkir. Dan sekarang di sinilah mereka berada, di dalam mobil dalam perjalanan pulang menuju rumah Bianca. Utari bilang ia ingin tahu rumah gadis itu sehingga ia meminta Bianca untuk pulang bersamanya. Sepanjang perjalanan keduanya larut dalam obrolan mereka. Utari menanyakan begitu banyak hal pada Bianca, terkadang pertanyaannya diselingi dengan cerita masa kecil Dewa. Sungguh Bianca sangat senang bisa mengenal Utari. Sejak tadi senyuman selalu menghiasi wajahnya membuktikan kalau ia memang sangat senang berada di sisi Utari. Bahkan saking senangnya Bianca ingin terus berada di sisi Utari. Karena saking asiknya dengan obrolan mereka, perjalanan yang biasanya terasa lama kini terasa begitu cepat. Mobil yang membawa mereka sudah berhenti tepat di depan rumah Bianca. Gadis itu mengajak Utari untuk mampir ke rumahnya dan wanita paruh baya itu pun menyetujuinya. Bianca berdiri di sisi mobil menunggu Utari yang akan turun dari mobil. Kemudian mereka bersama-sama memasuki pekarangan rumah sederhana itu. “Itu bukannya mobil Dewa?” Bianca yang memang belum menyadari keberadaan mobil itu menoleh. Benar, itu mobil Dewa. Apa pria itu sudah pulang? Bianca melirik jam tangan di pergelangan tangannya. Tak biasanya pria itu sudah pulang dijam segini. Dan bagaimana ini jika Utari melihat Dewa di dalam rumahnya. Seketika Bianca merasa panik. “Dewa ada di rumah kamu?” tanya Utari lagi Gadis itu bingung harus menjawab apa. Ia tersenyum kaku ke arah Utari. “Masuk dulu yuk tan” Ia membuka handle pintu dengan perasaan ketar ketir. Apa yang akan terjadi jika Utari melihat Dewa di rumahnya? Ya Tuhan, Bianca benar-benar tidak bisa mundur lagi sekarang. Ia tidak mungkin meminta Utari untuk pulang saja agar wanita paruh baya itu tak mengetahui bahwa Dewa tinggal bersama dengan dirinya. Pintu sudah terbuka Bianca meminta Utari untuk masuk. Jantung Bianca berdetak lebih cepat dari biasanya. Utari terus melangkah masuk dengan matanya yang diedarkan ke sekitar seperti mencari seseorang. Bianca sendiri yang mengekori Utari di belakangnya berharap Dewa tak keluar kamar sehingga ia bisa mencari alasan lain. Namun semuanya hanyalah tinggal harapan saat terdengar suara pintu yang dibuka diiringi dengan sebuah suara. “Kamu udah pul—“ Bagaikan pencuri yang tertangkap basah. Dewa begitu terkejut melihat mamahnya sama halnya dengan Utari yang terkejut melihat Dewa yang keluar dari salah satu kamar dengan pakaian santai. Bagaimana bisa mamahnya berada di rumah Bianca? Dewa melirik ke arah Bianca yang berada di belakang Utari. Terlihat kalau wajah gadis itu begitu panik, begitu takut. “Dewa, kamu kok di sini dan keluar dari kamar?” Tanpa menunggu jawaban dari putranya, Utari langsung menghampiri Dewa kemudian membuka handle pintu kamar Dewa. Ia melihat isi kamar yang semakin membuatnya terkejut. Utari kembali menatap Dewa. “Ini semua barang-barang kamu. Kamu tinggal di sini?” “Mah, Dewa bis—“ “Kalian sudah menikah secara diam-diam, hah?” ia melirik ke arah Bianca dan Dewa Sontak Bianca mengangkat wajahnya kemudian menatap Utari seraya menggelengkan kepala. “Dewa, kamu pulang sekarang!” Setelah mengatakan itu Utari langsung pergi meninggalkan rumah Bianca dan berjalan melewati gadis itu begitu saja. Bianca benar-benar tidak tahu harus bagaimana, ia menatap ke arah Dewa yang masih berdiri di posisinya. Mereka benar-benar tidak menyangka kalau semuanya akan seperti ini. Mungkin kalau hari ini Dewa tidak memilih untuk pulang cepat semuanya tidak akan seperti ini. Atau mungkin jika Bianca tidak mengajak Utari untuk mampir ke rumahnya semuanya tidak akan seperti ini. Entahlah ini semua salah siapa. Dewa masuk ke kamarnya mengambil kunci mobil. Kemudian ia menghampiri Bianca ia memegang kedua bahu gadis itu. “Kamu tenang aja, saya yang akan menyelesaikan semuanya” Anggukan kepala menjadi jawaban Bianca. Kemudian Dewa langsung pergi meninggalkan gadis itu. Ia harus menyelesaikan semuanya. Entah apa yang harus ia katakan nanti pada mamahnya. Karena tak mungkin juga ia menyinggung soal Mayra, dengan ia mengatakan soal Mayra maka mamahnya akan tahu kalau Dewa sedang memanfaatkan Bianca. Dan Dewa tak ingin mamahnya mengetahui hal itu. Memang tidak ada cara lain, Dewa harus mencari jalan lain dengan mencari sebuah alasan baru. *** “Kamu punya apartemen, kamu juga bisa tinggal di rumah mamah. Kenapa kamu harus menyewa kamar di rumah Bianca?” Saat ini Dewa sudah berada di rumah mamahnya, mereka berada di ruang tengah. Dewa duduk di sebelah mamahnya yang terlihat begitu emosi. Sementara pria itu duduk di samping mamahnya dengan punggung yang bersandar pada sandaran sofa. “Karena aku mau deketin Bianca mah” Kedua alis Utari hampir menyatu mendengar jawaban putra bungsunya. Dewa menoleh ke arah mamahnya. “Selama ini aku dan Bianca belum pacaran, kita nggak punya hubungan apa-apa. Aku menyewa kamar di sana untuk bisa mendekati Bianca karena aku suka sama Bianca” Pria itu memang memutuskan menggunakan alasan itu untuk menjelaskan semuanya pada Utari. Sedikit pun ia tak akan menyinggung soal Mayra. Ia berbohong dengan mengatakan tujuan utamanya menyewa kamar di rumah Bianca untuk mendekati gadis itu. Padahal tujuan utamanya adalah Mayra. “Yaampun Dewa. Kenapa sih kamu sampe bisa menggunakan cara konyol kayak gini buat deketin Bianca?” Gemas dengan putranya Utari menyubit lengan Dewa membuat si empunya mengaduh kesakitan “Ya namanya suka jadi akan ngelakuin apa aja” cicitnya pelan “Kamu beneran suka sama Bianca?” Dewa menganggukkan kepala. Ia sedang tidak berbohong. Walaupun ia belum begitu yakin dengan perasaannya tetapi ia merasakan itu. Entah sejak kapan ia sendiri tidak tahu. Karena sebagian hatinya pun terkadang masih memikirkan Mayra. “Kenapa kamu nggak nyatain cinta kamu ke Bianca?” Tangan Dewa bergerak mengambil bantal sofa kemudian memangkunya. “Tunggu waktu yang tepat” “Kenapa kamu nggak bilang dari awal kalau Bianca bukan pacar kamu?” “Mamah nggak pernah kasih kesempatan Dewa buat ngomong kan” Utari menganggukkan kepala. “Bener juga sih. Ya walaupun begitu mamah setuju kalau kamu sama Bianca. Bianca itu anaknya baik, manis, cantik, sopan, dewasa juga. Udah buruan kamu bilang cinta ke Bianca, tunggu apalagi sih” “Iya” “Tapi sebelum kamu menikah dan belum sah, mamah nggak akan izinin kamu tinggal bareng Bianca. Kamu harus pindah dari sana” Sontak Dewa menoleh. “Kok gitu?” “Itu namanya menghindari fitnah. Udah sana bawain barang kamu ke sini” Utari kemudian bangkit dari duduknya menuju dapur “Ck!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD