“Jadi kemarin gimana diacara ulang tahun perusahaannya Dewa?” tanya Ocha
Saat ini Bianca, Ocha dan Mayra sedang berada di cafe yang jaraknya berdekatan dengan toko kue Mayra. Selepas dari tempat kerja tadi Bianca langsung menyempatkan untuk menemui dua sahabatnya. Karena mereka pun sudah lama tidak menghabiskan waktu bersama dan kalau tidak dengan mencuri-curi waktu seperti sekarang mereka tidak akan bisa bertemu karena sibuk dengan rutinitas masing-masing.
Bianca yang menopang kepalanya yang dimiringkan dengan tangan membuka suaranya. “Ya gitu, acaranya meriah banyak pengusaha-pengusaha muda yang datang. Dan gue merasa asing diacara itu”
“Pasti ada keluarganya Dewa kan? Lo dikenalin nggak?”
Mayra melirik ke arah Bianca menunggu jawaban gadis itu. “Kenalin. Ada mamahnya, papanya, abang dan kakak iparnya”
“... Keluarga mereka tuh keluarga harmonis banget, keliatan hangat gitu. Gue merasa nyaman aja ada di tengah-tengah keluarga mereka”
Ocha langsung melirik ke arah Mayra yang juga melirik ke arahnya. Mereka berdua cukup sangat mengerti kalau Bianca memang selalu akan menjadi seperti ini jika sudah membahas mengenai keluarga. Dan mereka berdua pun sangat paham dengan hal itu karena biar bagaimana pun mereka sangat-sangat mengetahui bagaimana keluarga Bianca yang sebenarnya.
“Nggak usah mellow gitu, kita juga kan keluarga kamu” Mayra merangkul bahu Bianca kemudian tersenyum. Bianca pun menolehkan sedikit kepalanya lalu ikut tersenyum.
Sementara itu di rumah, Dewa baru saja tiba di rumah. Ia yang baru keluar dari mobil mengernyitkan dahi saat melihat keadaan rumah yang gelap. Biasanya tiap kali ia pulang rumah sudah terang karena sudah ada Bianca yang menyalakan semua lampu. Dewa pun membuka pintu utama yang masih terkunci kemudian masuk ke dalam. Ia menekan saklar lampu membuat rumah yang awalnya terlihat gelap langsung menjadi terang.
Pria itu melepaskan jas lalu menyampirkannya di lengan sofa ruang tengah. Kemudian ia beralih menuju kamar Bianca, mengetuk pintunya beberapa kali namun tidak ada sahutan dari dalam. Ia pun memegang handle pintu kemudian membuka pintu, tidak ada siapa-siapa di dalam kamar bahkan ranjangnya masih terlihat rapih seperti belum disentuh. Apa mungkin Bianca belum pulang? Tapi kemana perginya gadis itu? Tak biasanya ia pulang terlambat.
Dewa menuju dapur kemudian membuka kulkas, ia mengambil botol minuman lalu menuangkan air ke gelas. Ia mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan lalu meneguk air dinginnya sampai setengah. Pikirannya masih menerawang kira-kira kemana perginya Bianca sehingga tak biasanya gadis itu pulang terlambat seperti ini. Dewa melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan, hampir pukul tujuh malam. Kemana gadis itu?
Lima belas menit berselang, Dewa sudah terlihat lebih segar setelah membersihkan tubuhnya yang terasa begitu lengket. Ia juga sudah mengganti pakaiannya dengan celana pendek selutut berwarna hitam dan kaus berwarna putih. Saat ini ia sedang menonton tv di ruang tengah seorang diri. Untuk kesekian kalinya pria itu melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh lewat dua puluh lima menit.
Tetapi sampai detik ini tak ada tanda-tanda kepulangan Bianca. Ingin menelepon tetapi ia takut akan mengganggu gadis itu. Tetapi tidak bisa dipungkiri kalau Dewa merasa sedikit khawatir dengan Bianca karena tak biasanya ia pulang terlambat. Apa gadis itu baik-baik saja? Semoga saja.
Bosan dengan tontonan tv Dewa bangkit dari duduknya dan memilih keluar rumah. Di teras depan ia terlihat memperhatikan beberapa tanamannya. Ia berjongkok mengambil sebuah pot kecil berwarna putih, tanaman baru miliknya yang dibelikan Bianca untuk mengganti tanamannya yang mati. Tanaman tersebut tanaman paling kecil diantara miliknya yang lain tetapi Dewa paling menyukai tanamannya itu. Entah kenapa setiap kali melihat tanaman mungilnya itu ia jadi teringat dengan sosok Bianca.
Meletakkan kembali pot tanaman tersebut Dewa memasukkan kedua tangan ke saku celana pendeknya kemudian menuruni undakan anak tangga. Ia berjalan keluar pekarangan rumah dan berdiri di dekat pintu pagar, tubuhnya menghadap ke jalanan berharap dari kejauhan ia melihat sosok Bianca. Ya, ia memang sedang menunggu kepulangan gadis itu sekarang. Sesekali Dewa memainkan kerikil di jalan dengan ujung sendalnya diselingi dengan menatap lurus ke arah jalanan.
Dewa sendiri tidak mengerti kenapa dirinya harus menunggu Bianca sampai seperti ini karena yang ia rasakan saat ini ia hanya ingin bersama dengan gadis itu. Ada yang kurang saat tak ada Bianca disisinya, seperti sekarang contohnya.
Karena merasa pegal menunggu seseorang yang tak kunjung datang, Dewa memutuskan duduk di undakan anak tangga paling atas teras rumah. Kedua tangannya ia luruskan ke belakang menopang tubuhnya dengan kedua kakinya yang ia luruskan. Kepalanya sedikit ia dongakkan ke atas memandangi cantiknya sang rembulan yang ditemani dengan jutaan bintang. Indah sekali. Ditambah dengan semilir angin malam yang membuat suasana malam semakin indah.
Sedang asik menikmati langit malam Dewa menoleh saat melihat ada bayangan seseorang dari ekor matanya. Rupanya itu Bianca yang baru saja pulang. Gadis itu masih memakai setelan kerjanya dengan rambut yang sudah dikuncir kuda dengan anak rambut yang membingkai wajah cantiknya.
“Ngapain?”
Dewa menegakkan tubuhnya seraya menekuk lututnya. “Nggak, lagi cari angin aja. Bosen di dalam, tumben baru pulang”
Bianca pun mendudukkan tubuhnya di samping Dewa dan ikut meluruskan kakinya. “Tadi ketemu dulu sama Ocha dan Mayra”
Pria itu hanya mengangguk-anggukkan kepala mengerti. Kenapa sebelumnya ia tidak terpikirkan kalau Bianca bersama dengan dua sahabatnya. Mungkin karena sebelumnya Bianca tidak pernah seperti ini sehingga membuatnya tidak memiliki pemikiran seperti itu.
“Sepi ya kalo sendirian di rumah” sambung Bianca lagi
Mendengar ucapan Bianca, Dewa menoleh. “Hmm” gumamnya seraya menganggukkan kepala
“Ya kira-kira itu yang saya rasakan selama tujuh tahun ini. Tinggal sendirian di rumah ini”
Bianca mulai membuka sebuah topik pembicaraan. Dan sepertinya topik tersebut membuat Dewa tertarik. “Orang tua kamu?”
Tidak langsung ada jawaban dari Bianca, gadis itu menoleh ke arah Dewa kemudian tersenyum. Ia perlu meyakinkan dirinya terlebih dulu untuk menceritakan semuanya pada Dewa. Dewa orang baik, ia juga percaya pada pria itu. Jadi tak ada salahnya ia menceritakan semuanya pada Dewa. Namun Bianca juga perlu menyiapkan dirinya dulu untuk menceritakan semuanya. Karena menceritakan semuanya sama saja seperti membuka kembali lukanya dahulu.
“Orang tua saya memiliki kehidupan masing-masing. Mereka bercerai secara diam-diam tanpa sepengetahuan saya”
Jawaban Bianca membuat dahi Dewa berkerut bingung. “Maksud kamu?”
Dan Bianca pun mulai menceritakan semuanya. Semua bermula saat Bianca duduk di kelas satu SMA, ia yang merupakan anak semata wayang selalu mendapatkan kasih sayang yang melimpah dari kedua orang tuanya. Mereka selalu memanjakan Bianca membuat gadis itu merasa seperti orang paling bahagia dan beruntung di dunia karena memiliki orang tua seperti mamah dan ayahnya.
Namun rupanya ia salah besar setelah suatu hari ia memergoki ayahnya berselingkuh dengan wanita lain. Ia melihat ayahnya bersama dengan wanita lain di mall. Bianca gadis pemberani langsung menemui ayahnya dan meminta ayahnya pulang bersama dengan dirinya. Dan ternyata dihari itu ia baru mengetahui semuanya.
Begitu di rumah Bianca marah-marah pada ayahnya dan memberitahu mamahnya mengenai semuanya. Winda—mamahnya hanya menangis melihat Bianca kemudian memeluk putri semata wayangnya. Namun tak berselang lama Aryo—ayahnya yang sebelumnya diam pun membuka suara. Ia mengatakan bukan hanya dirinya saja yang berselingkuh namun mamahnya juga. Winda diam-diam memiliki pria lain tanpa sepengetahuan Bianca. Tentu Bianca tak langsung mempercayai itu, ia menanyakan langsung pada mamahnya. Dan anggukan kepala menjadi jawaban Winda saat itu.
Bianca tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan keluarganya. Kenapa kedua orang tuanya seperti ini. Siapa yang salah di sini dan siapa yang memulai ini semua. Bianca tidak mengatakan apapun selain hanya menangis tergugu. Orang tua yang selama ini selalu bersikap manis dan harmonis di depannya ternyata semua itu hanyalah kebohongan belaka. Mereka berakting kalau hubungan mereka baik-baik saja di depan Bianca.
Belum cukup sampai disitu, fakta besar akhirnya terbongkar. Ayahnya mengatakan kalau sudah dua minggu sejak hari itu ia telah menalak istrinya. Ayahnya menceraikan mamahnya dan saat itu mereka sedang mengurus perceraian mereka. Dan semua itu tanpa sepengetahuan Bianca. Ayahnya juga menambahkan kalau hubungan keduanya sudah tidak baik sejak lama, mereka sering kali bertengkar tanpa sepengetahuan Bianca. Dan selalu bersikap semuanya baik-baik saja di depan Bianca.
Gadis itu merasa kalau semuanya hancur, ia merasa gadis paling bodoh di dunia ini. Ia telah dibohongi oleh kedua orang tuanya. Bianca adalah anak kandung mereka, kenapa untuk hal penting seperti perceraian mereka tidak memberitahu atau mungkin tidak berdiskusi dulu dengannya. Walaupun Bianca tahu mereka melakukan semua ini karena tidak ingin melihat Bianca bersedih. Namun Bianca merasa kalau cara mereka seperti ini justru membuatnya sangat sedih.
Bianca merasa dibohongi dan merasa tidak dianggap sebagai anak. Mungkin, mungkin Bianca akan mengerti dan berusaha memahami jika kedua orang tuanya harus bercerai. Tetapi Bianca tidak suka dengan cara mereka yang seperti ini. Mereka berbohong kalau semuanya baik-baik saja padahal faktanya mereka telah bercerai. Sungguh, Bianca sangat membenci itu.
Dua bulan setelah orang tuanya bercerai Bianca mendengar kabar kalau ayahnya telah menikah lagi dengan wanita yang pernah ia temui di mall. Sejak hari dimana semuanya terbongkar ayah Bianca tidak lagi tinggal bersama dengan mereka. Bianca hanya tinggal bersama dengan mamahnya dan bi Asih—ART di rumah. Sejak saat itu juga hubungan Bianca dan mamahnya merenggang, Bianca berubah menjadi gadis yang pendiam dan selalu mengurung diri di kamar. Ia hanya berbicara pada mamahnya jika memang itu penting.
Mamahnya pun jarang berada di rumah ia selalu sibuk dengan segala rutinitasnya setiap hari. Beberapa kali ia melihat mamahnya pulang dengan diantar oleh seorang pria yang Bianca yakini sebagai pacar mamahnya. Sampai akhirnya satu bulan kemudian mamahnya menikah dengan pria itu. Bianca kembali merasa hancur untuk yang kedua kalinya. Yang saat itu bisa ia lakukan hanya menangis dipelukan bi Asih. Setelah itu mamahnya meminta Bianca untuk tinggal bersama dengannya di rumah suami barunya. Tentu Bianca menolak, ia lebih memilih tinggal di rumah bersama dengan bi Asih.
“... Bi Asih sudah seperti orang tua bagi saya. Satu bulan lebih saya tinggal bersama dengan bi Asih tidak sekalipun ayah atau pun mamah saya menelepon menanyakan kabar saya. Mereka seakan lupa dengan saya, mereka tidak peduli lagi dengan saya. Setiap malam saya terus menangis merasa semuanya tidak adil. Saya merasa Tuhan mengambil semua kebahagiaan yang sebelumnya saya miliki”
Bianca menyeka air mata yang jatuh ke pipinya. “... Hari hari saya lalu dan saya merasa itu menjadi titik terendah dalam hidup saya. Sampai akhirnya suatu hari disaat bi Asih sedang pergi keluar, saya berniat untuk mengakhiri hidup saya dengan memotong pergelangan tangan saya dengan pisau”
Mendengar hal itu sontak Dewa langsung menoleh. “... Saya merasa tidak ada gunanya lagi saya hidup kalau dua orang yang begitu penting, yang begitu saya banggakan, begitu saya sayangi dan berarti dalam hidup saya justru tidak peduli lagi dengan saya. Tapi ternyata Tuhan masih menolong saya, saat itu Ocha dan Mayra datang. Melihat saya seperti itu Ocha langsung merebut pisau di tangan saya sementara Mayra langsung memeluk saya erat. Mayra terus meminta saya untuk beristighfar membuat saya hanya bisa menangis sejadi-jadinya”
“... Setelahnya saya menjalani hidup seperti biasa. Sampai akhirnya saya bertemu dengan seseorang di f*******:, dia yang kemudian mengenalkan saya pada dunia malam. Beberapa kali saya datang ke club, mencicipi alkohol, merokok dan bersenang-senang agar bisa melupakan semua masalah yang ada. Tapi satu malam bi Asih kelimpungan mencari saya yang belum pulang saat tengah malam. Bi Asih menelepon Ocha yang kemudian menelepon saya”
“Tak lama setelah itu Ocha datang ke club dan langsung menyeret saya keluar dan ternyata ada Mayra yang menunggu di luar. Ocha tidak mengatakan apapun, dia hanya langsung menampar saya berusaha membuat saya sadar. Mayra yang sudah menangis melihat saya memeluk saya erat kemudian membawa saya pulang. Setelah dua kejadian itu Mayra mencoba meminta saya untuk shalat dan mengaji. Dan benar hidup saya lebih tenang setelah saya melakukannya, saya sudah tidak lagi melakukan hal-hal gila itu”
Bianca mengakhiri ceritanya dengan senyuman seraya menoleh ke arah Dewa. “Dimana bi Asih?”
“Bi Asih pulang ke kampung setelah memastikan hidup saya lebih baik dan saya berjanji tidak akan melakukan hal itu lagi. Bi Asih merasa sudah tua, mudah lelah dan memutuskan untuk pulang ke kampung”
Dewa menolehkan kepalanya ke depan, menatap lurus dengan tatapan menerawang. Ia seperti kehabisan kata-kata mendengar cerita Bianca barusan. Dewa benar-benar tidak menyangka gadis itu memiliki masa lalu yang begitu menyakitkan. Walaupun hanya mendengar ceritanya tadi tapi Dewa bisa merasakan perasaan gadis itu. Terlihat jelas dari raut wajah sedihnya diiringi dengan air mata yang terus turun ke pipinya saat bercerita tadi.
Pria itu menoleh ke arah Bianca yang nampak sedang memandangi langit malam. Ia tahu gadis itu sedang berusaha terlihat baik-baik saja setelah menceritakan semuanya. Tetapi mana ada orang yang baik-baik saja setelah menceritakan masa lalu yang begitu menyakitkan. “Kapan terakhir kali kamu bertemu orang tua kamu?”
Bianca menatap ke depan kemudian tersenyum tipis. “Mungkin saat lebaran kemarin”
Lebaran. Dewa menghitung yang itu artinya sudah lima bulan berlalu. Lama sekali. Kalau saat Bianca masih sekolah saja mereka terlihat seperti tidak peduli dengan Bianca bagaimana dengan saat ini dimana Bianca sudah dewasa dan bekerja.
“Kamu nggak kangen sama orang tua kamu?”
Mendengar pertanyaan Dewa membuat gadis itu menarik nafasnya dari mulut kemudian menghembuskannya melalui mulut pula. Berusaha menguatkan dirinya. “Bohong kalau saya bilang saya tidak merindukan mereka. Sebenci apapun saya pada mereka, mereka tetap ayah dan mamah saya”
“... Mamah saya yang pintar memasak, pintar membuat kue, jago mengikat rambut saya dan juga cerewet. Mamah saya selalu akan marah besar jika melihat saya pulang sekolah dengan basah kuyup karena main hujan-hujanan, mamah akan marah jika melihat ulangan saya jelek, melihat saya berkelahi dengan anak komplek dan melihat saya memanjat pohon”
Dewa bisa mendengar dengan jelas suara gadis itu yang bergetar, air mata juga nampak di pelupuk matanya seakan siap turun tanpa perlu diminta. “Tapi beda dengan ayah, ayah seperti pahlawan bagi saya, dia yang selalu membantu saya jika dimarahi mamah. Ayah tidak marah setiap kali melihat saya main hujan-hujanan, dia bilang sesekali boleh main hujan-hujanan tapi jangan terlalu sering nanti sakit. Ayah juga tidak marah saat ulangan saya jelek, ayah selalu bilang kalau ayah nggak suka angka lima puluh, empat puluh, tiga puluh, dua puluh dan sepuluh. Ayah suka angka seratus dan sembilan puluh. Kalau ingin membuat ayah senang saya harus mendapatkan angka itu dan saya berhasil”
“... Ayah juga tidak pernah marah saat melihat saya berkelahi atau pun memanjat pohon. Dia selalu bilang jadilah anak perempuan yang pemberani, tidak boleh cengeng atau pun penakut. Kalau memang saya benar saya harus berani tidak boleh kalah. Itu sebabnya saya sering kali berkelahi karena saya merasa benar”
Lagi, gadis itu menghembuskan nafasnya melalui mulut. Berusaha menahan rasa sesak di dadanya. “Saya tidak tahu apa dan siapa yang akhirnya berhasil membuat mamah dan ayah saya menjadi seperti ini. Saya yang sebelumnya selalu diperlakukan seperti putri kecil mereka semuanya berubah setelah hari itu, saya seperti bukan lagi putri mereka. Saya dilupakan dan saya dibuang” air mata luruh ke pipi putihnya begitu ia mengakhiri ucapannya
Dewa menggeser tubuhnya kemudian menarik tubuh Bianca dalam dekapannya. Ia sudah tidak bisa lagi melihat gadis itu yang sejak tadi berusaha tegar dengan menahan tangisnya. Dewa tahu bagaimana rasa sesak yang dirasakan Bianca dan ia ingin gadis itu menghilangkan rasa sesaknya dengan menangis. Dan benar tangis Bianca langsung pecah dalam dekapan Dewa, tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya lepas saat Dewa memeluknya. Ia sudah tidak mampu lagi menahan semuanya, ini terlalu sesak menurut Bianca.
Pria itu masih terus memeluk erat Bianca yang masih menangis dalam pelukannya. Dewa menempatkan dagunya di atas kepala Bianca dengan gerakan tangannya yang naik turun mengelus punggung gadis itu. Ia bisa merasakan kausnya pada bagian d**a yang basah karena air mata. Ia juga merasakan cengkraman kuat tangan Bianca pada kausnya di kedua sisi pinggangnya. Namun Dewa tak mempermasalahkan itu semua, ia hanya ingin Bianca melepaskan semua rasa sesak dalam pelukannya.
Setelah merasa lebih baik Bianca mengurai pelukan itu, ia merapihkan rambut dan juga menghapus air mata di wajahnya. Bianca menoleh ke arah Dewa dan berusaha tersenyum pada pria itu. Bahkan disaat seperti ini gadis itu masih berusaha untuk tersenyum. Hati mu terbuat dari apa Bianca, batin Dewa. Dan sekarang gadis itu sudah merebahkan kepalanya pada bahu Dewa dengan kakinya yang diluruskan dan ujung kakinya yang ia goyang-goyangkan.
Suasana hening diantara mereka berdua karena baik Dewa atau pun Bianca tidak tahu harus membahas apa setelah mendengar semua cerita Bianca tadi. Hanya debaran jantung mereka saja yang terdengar tak biasa diantara mereka berdua.
Beberapa menit berselang Dewa baru menyadari kalau gadis itu sudah tak lagi menggerak-gerakkan kakinya. Ia juga merasakan bahunya yang sedikit pegal. Dewa menolehkan sedikit kepalanya dan mengernyitkan dahi saat menyadari nafas Bianca yang teratur. Kemudian ia sedikit memiringkan kepala melihat wajah Bianca yang ternyata tertidur. Sebuah senyuman terlukis diwajah tampan Dewa, mungkin karena terlalu lelah menangis hingga membuatnya tertidur.
Dewa merebahkan Bianca dengan sangat hati-hati di ranjang tidur gadis itu. Karena Bianca yang tertidur dan ia tidak tega membangunkannya ia pun menggendong Bianca dengan ala bridal style dan membawanya ke kamar Bianca. Kemudian Dewa meletakkan tas kerja gadis itu di atas sebuah meja lalu melepaskan sepatu yang masih digunakan gadis itu.
Setelahnya Dewa duduk di tepi ranjang memperhatikan wajah damai Bianca saat tertidur. Mata gadis itu terlihat sembab, bekas air mata pun terlihat jelas diwajahnya. Namun semua itu tak menghilangkan kecantikan Bianca. Dewa tidak pernah menyangka kalau gadis yang sehari-harinya selalu tersenyum ceria, banyak tertawa ternyata memiliki masa lalu yang begitu menyakitkan.
Bahkan ia hampir saja mengakhiri hidupnya karena merasa tidak mampu lagi menghadapi semua yang terjadi pada dirinya. Tetapi akhirnya Dewa merasa bersyukur karena Bianca memiliki dua sahabat yang begitu peduli dan menyayanginya. Ocha dan Mayra sahabat terbaik Bianca yang selalu berada disaat suka dan duka gadis itu bahkan disaat Bianca berada di titik terendah pun mereka selalu berada di sisinya. Menurut Dewa persahabatan mereka begitu erat.
Jemari tangan Dewa bergerak menyingkirkan helaian rambut yang jatuh pada dahi Bianca. Kemudian tangannya lancang menyentuh pipi mulus Bianca. “Kamu wanita terkuat yang pernah saya kenal” lirihnya pelan
Kemudian Dewa pun menyelimuti Bianca, menatap wajah Bianca sekali lagi dengan satu tangan yang menyentuh kepala gadis itu dan ibu jarinya mengelus dahi Bianca. Setelahnya Dewa berjalan keluar kamar dengan sebelumnya tak lupa ia mematikan lampu kamar Bianca. Good night Bianca!